
Halo, Ma," kata Tuan Zidane menjawab telepon dengan nada yang rendah seakan dia tidak mau jika Gea ikut mendengarkan atau si penelpon tersebut mendengar suara Gea ada disana.
"Mama besok akan pulang." Mendengar pernyataan dari mamanya bukannya senang tetapi Tuan Zidane malah merasa sedikit bimbang. Dia terdiam beberapa saat.
"Zidane, kamu masih disana mendengarkan Mama 'kan?" tanya mama Tuan Zidane sambil mengunyah buah kiwi yang tersedia di mejanya. Rasanya bepergian keluar negeri selama kurang lebih tiga bulan sudah membuat hatinya rindu dengan negaranya tercinta.
"Iya Ma, Zidane mengerti kok, apa perlu Zidane jemput ke bandara?" tanya Tuan Zidane berbasa-basi, sebab bukannya tidak senang jika mamanya pulang kembali tetapi disisi lain dia langsung teringat dengan Grace. Pasti gadis itu selalu mengejarnya ditambah mamanya sudah pulang. Bisa jadi Grace menjadikan mamanya sebagai tameng.
"Iyalah, masak mamanya pulang tidak dijemput, mau jadi anak durhaka?"
"Bukan begitu, Ma, tapi Zidane belum bisa janji, siapa tahu ada meeting mendadak, lagipula Mama tinggal memerintah sopir saja sudah beres." Banyak sekali alasan Tuan Zidane untuk menghindari mamanya.
"No, Mama akan memberikan kejutan buat kamu dan Grace." Nah, benar dugaan Tuan Zidane.
"Ada apa dengan Grace?" Tuan Zidane langsung nyolot mendengarkan nama Grace disebut.
"Bukannya kamu sudah tahu jika Grace itu adalah calon tunanganmu, Zidane."
"Sudah lama Zidane mau pulang ini sudah malam." Tuan Zidane tidak mau berlama-lama menelepon dengan mamanya. Lebih baik dia segera mengakhiri pembicaraannya daripada nanti berdebat di telepon malah menjadi suasana tidak kondusif.
Gea terus menunggu itu masih dan selesai menelpon di pinggir mobil. Dia tidak mau kepo dengan apa yang menjadi urusan Tuan Zidane dan siapa yang menelponnya tadi.
"Mari kita pulang," ajak tuan Zidane membukakan pintu untuk Gea.
"Terima kasih," sambut Gea sambil melayangkan senyuman manis dari bibirnya.
__ADS_1
Keduanya sepakat untuk kembali pulang ke rumah Tuan Zidane namun sebelum itu mereka terlebih dahulu mengganti pakaiannya masing-masing. Mobil Tuan Zidane berhenti di sebuah gedung yang terlihat sepi.
"Kita mau ngapain kesini?' tanya Gea penasaran.
"Mau ganti baju memangnya kamu percaya diri dengan penampilanmu saat ini jika kembali pulang apalagi bersamaku," kata Tuan Zidane setengah memancing Gea. Jika memang ia setuju maka Tuan Zidane juga tidak akan mengganti bajunya.
"Memang bajuku yang tadi dimana?" tanya Gea penasaran.
"Itu, di belakang sana." Tuan Zidane menunjuk sebuah paper bag berwarna putih yang berisikan baju Gea sebelum menggantinya dengan dress tadi.
"Masuk saja ke gedung itu nanti di sana tidak sepi saat ini jangan takut jika ada hantu." Demikianlah pesan Tuan Zidane pada Gea.
"Sendiri?" Gea berdiri melihat ke area gedung tersebut apalagi harus mengganti baju di sana sendirian kelihatannya dia tidak berani. Tampilan luar saja seperti gedung yang lama tidak berpenghuni.
"Iya, masak aku harus lihat kamu ganti baju, nanti kalau ada yang bangun bagaimana?" goda Tuan Zidane mengerlingkan matanya.
"Oke, kalau begitu lebih baik kamu berganti di belakang sana dan aku berjanji akan melihat." Tuan Zidane segera membentangkan tirai pemisah antara kemudi dan penumpang. Hal ini bertujuan agar dia tidak melihat tubuh indah Gea sebelum waktunya. Baginya sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, tidaklah mudah menyentuh wanita yang belum halal menjadi istrinya. Meski kemarin dia memang sempat khilaf untuk mengec-up pipi dan bibir Gea tetapi dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak mengulangi lagi namun entahlah nanti siapa yang kuat setan atau imannya.
"Janji ya, jangan ngintip." Gea melototkan matanya dengan galak ke arah tuan Zidane.
"Astaga, aku sabar Sayang, lagi pula jika ada orang yang mengintip selain aku bakalan aku hajar dia disini." Tuan Zidane mengepalkan tangannya membuat Gea terbahak sebentar kemudian turun karena sudah merasa gerah dengan pakaian yang dia kenakan saat ini.
Begitu ya berpindah ke belakang Tuan Zidane segera membuka ponselnya sambil tengok kanan dan tengok kiri karena dia tadi merasa jika ponselnya bergetar artinya ada pesan yang telah ia terima.
Grace : Hai, aku tadi sudah mendapatkan kabar dari Mama katanya besok dia akan pulang, dia meminta aku dan kamu untuk menjemputnya besok.
__ADS_1
Tuan Zidan berdecak kesal. Sebenarnya dia juga tidak mengharapkan ada pesan dari Grace apapun itu. Ingin sekali Zidan memblokir nomor keris tetapi ia masih teringat dengan mamanya pasti akan murka jika melihat Tuan Zidan melakukan hal ini.
Zidane : Kalau begitu, kamu saja yang menjemput, sedangkan aku besok harus ada meeting dengan para pemegang saham dan kamu tahu itu tidak bisa dibatalkan secara sepihak apalagi mendadak.
Ia rasa jawaban seperti itu sudah membuat Grace tidak berani lagi untuk mengganggunya.
"Aku sudah selesai," kata Gea dengan semangat. Gea sengaja menghapus riasannya sebelum kembali ke rumah Tuan Zidanen karena tidak mau menimbulkan kecurigaan baik dari para asisten maupun koordinator.
10 menit kemudian Tuan Zidane pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia tidak mau terburu-buru berkendara di malam hari meski kondisi jalanan telah sepi.
"Gea, bagaimana menurutmu apakah kita harus turun bersama atau kamu besok saja kembali ke rumah?" tanya Tuan Zidane memberikan pertimbangan untuk Gea.
"Lebih baik aku besok saja pergi ke rumah karena takut jika mereka curiga," ujar Gea menarik seal beltnya.
Benar juga ucapan Gea saat ini tetapi bagi Tuan Zidane tidak masalah, malah dia sekalian ingin meresmikan hubungannya dengan Gea maksudnya supaya orang-orang di rumahnya tahu jika dirinya dan Gea memiliki hubungan spesial. Namun rupanya berbeda dengan Gea, dia pada posisinya dengan Tuan Zidane tidak akan mudah.
Gea segera turun dari mobil begitu pula dengan Tuan Zidane. Tidak mungkin juga mereka kembali ke rumah Gea. Maka akhirnya Gea mampir ke kosan salah satu teman kuliahnya.
"Mia, kamu belum tidur?" Gea mengetuk pintu kamar. Mia adalah teman seangkatan Gea, meski tidak seakrab Vina tetapi Mia sering membantu Gea.
"Eh, Gea, tumben ada apa?" Mia kelihatannya belum tidur. Terlihat matanya merah dan berair, ia mungkin baru menyelesaikan tugas kuliahnya yang menumpuk.
"Mi, aku boleh gak nginep disini semalam saja," ucap Gea penuh harap.
"Boleh saja, ya sudah ayo masuk," kata Mia menarik tangan Gea tanpa memperdulikan Tuan Zidane yang berdiri di sana. Ia takut ada sesuatu malam ini.
__ADS_1
Selepas Gea masuk, Tuan Zidane juga langsung menuju ke mobilnya. Ia menyalakan mesin mobil dan pulang.