
Mengetahui mood kekasihnya kurang mengenakkan hari ini, Tuan Zidane menjadi gemas sendiri melihat Gea terus menerus menekuk wajahnya dengan pandangan suram.
"Gea, kalau beli es krim kelihatannya enak banget kalau sore begini kita menikmati senja sambil makan es krim." Tuan Zidane memberikan saran untuk Gea.
"Tidak apa-apa kok jika kamu ingin silakan pilih saja." Gea mengacungkan jempolnya tetapi di wajahnya terlihat seperti senyum yang terpaksa. Sebenarnya Tuan Zidane sangat menyadari hal ini tetapi dia tidak ingin membuat Gea terus-menerus merasa bersedih.
Tuan Zidan langsung bangkit dari kursinya untuk membeli es krim yang dimaksud tadi. Kelihatannya dia sedang malas untuk berdiri, dia masih duduk termenung di atas bangku yang disediakan.
"Bang es krimnya yang rasa coklat dan strawberry digabung jadi satu dua ya," kata Tuan Zidane kepada Abang penjual es krim di tepi jalan.
"Siap Mas e, cone nya yang besar apa yang kecil?"
"Kalau ada yang sedang-sedang saja," jawab Tuan Zidane dengan santai. Selain memperhatikan Abang penjual es krim yang sedang memindahkan ke cupnya, pandangan lain Tuan Zidane tertuju kepada pedagang balon. Perintah di benaknya jika dia ingin memberikan kejutan untuk Gea, terlebih balon.
"Semuanya Rp.30.000, Mas," ucap penjual tersebut dengan menyerahkan kedua buah es krim dan Tuan Zidane tidak lupa memberikan uang lembar berwarna merah. Kemudian ia berjalan meninggalkan penjual tersebut.
"Mas, ini kembaliannya ngasih Rp. 70.000." penjual itu setelah berlari mengikuti Tuan Zidane pergi.
"Udah itu buat bapaknya aja, terima kasih sudah memberikan es krim sebesar ini untuk hari ini," kata Tuan Zidane melambaikan tangannya pertanda dia tidak mau menerima kembalian dari Abang penjual es krim tadi.
Sepeninggal Tuan Zidane dari sana, pedagang es krim itu pun langsung melakukan sujud syukur karena mendapatkan rezeki yang tidak bisa disangka untuk hari ini. Apalagi kemarin anaknya mau minta mainan yang terbilang cukup mahal dan hari ini apa hal tersebut sudah mendapatkan uang lebih.
Tuhan Zidan menyusul Gea yang ternyata masih duduk anteng di dekat pohon.
"Aku heran sama kamu dari tadi duduk di sini terus emang gak bosan." Tuan Muda Zidane pun menyenggol bahu Gea yang ternyata dia juga melamun.
"Aku ngantuk," ucap Gea menyandarkan kepala di bahu Tuan Zidane. Matanya sudah beberapa kali berair saking menahan kantuk dan kini sudah tidak kuat lagi. Ia sebenarnya juga lelah untuk hari ini. Namun demi bertemu dengan Tuan Zidan, Gea pun rela bahkan dia juga dengan senang hati dimarahi terlebih dahulu oleh Nyonya Ami sebelum berangkat ke sini.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Gea teringat akan begitu banyak cucian di rumah yang belum sempat dimasukkan sebelum pergi tadi. Tidak mungkin Mbak Ranti akan begitu perhatian terhadap cuciannya.
"Tuan Zidane, lebih baik kita pulang saja," kata Gea menyebut nama Zidan ke panggilan semula yang formal. Walaupun langit cerah tetapi kita takut jika sampai maghrib dia belum pulang dan cuciannya tidak ada yang memperdulikan. Panggilan yang demikian tentu membuat wasidan langsung mengharapkan penting padahal sudah beberapa bulan ini dia memanggilnya dengan sebutan 'sayang' jika tidak ada di rumah atau tidak sedang bertugas.
"Apakah aku salah dengar, Gea?" Tuan Zidane berusaha untuk menengahi apa yang terjadi kepada.
"Ah, tidak, aku terkadang masih keseleo ingin memanggil kamu seperti itu." Gea tersenyum menerima suapan dari Tuan Zidane.
"Mulai sekarang diterbitkan lagi supaya kamu tidak begitu kaku memanggil aku."
*
Hari ini adalah hari libur, sengaja Tuan Zidane bangun lebih siang daripada biasanya karena tidak ada jam kantor. Sudah seperti kebiasaan yang lalu jika tuan sidang tidak pergi ke ruang makan lebih dari jam 07.00 pagi maka dia pasti akan sarapan di kamarnya sendiri.
Mbak Ranti mempersiapkan semua barang yang akan dibawa ke kamar Tuan Zidane. kemudian Gea pun datang.
"Biar aku saja yang mengantar, Mbak." Ghea menawarkan dirinya untuk membantu Mbak Ranti mengantarkan sarapan ke kamar Tuan Zidane.
Dia mengangkat nampan yang berisi susu hangat dan juga oatmeal sebagai sarapan ringan untuk Tuan Zidane. Benar saja setibanya di sana Tuan Zidane masih meringkuk dibawah selimut dan matanya pun masih terpejam. Setelah meletakkan sarapan untuk tuannya sekaligus kekasihnya itu dia langsung berjalan menuju ke jendela paling besar di kamar tersebut dan menyingkapkan tirainya agar cahaya matahari dapat masuk.
Ternyata cahaya matahari sampai mengenai ke kepala Tuan Zidane hingga membuatnya menggelengkan kepala kemudian membuka matanya secara perlahan.
"Silau," kata Tuan Zidan menutupi selimutnya ke seluruh tubuh hingga kepalanya juga ikut tertutup.
"Lihatlah ini sudah jam 08.00 pagi,"kata Gea dengan berbohong karena dia tahu tuan Zidane sangat molor sekali. Jika diberitahukan berapa jam sekarang yang sebenarnya maka dia akan merasa santai.
"Heh, beneran?" Tuan Zidane langsung membuka matanya. Ekspresi tuansi dan yang mengundang bahwa membuat dia tersenyum melangsungkan bibirnya.
__ADS_1
"Ya ini memang sudah pagi dan sebaiknya kamu segera bangun kemudian sarapan sudah kebawakan ke kamar." Namun bukannya Tuan Zidane segera beranjak mandi malah menarik Gea ke dalam.
"Astaga, ini waktunya mandi." Ia berusaha menepis saat Tuan Zidane mencoba memeluknya.
"Dari kemarin kamu selalu menolak terus,"ucap Tuan Zidane menangkup pipi Gea hingga muncul kemerahan. Entah merah karena gugup ataukah tangan Tuan Zidane terlalu kencang memegang pipi Gea.
"Apakah kamu tidak ada rasa rindu dengan aku?"
"Tentu saja ada tetapi saat ini posisiku sedang bekerja dan tidak enak jika dilihat orang."
"Kenapa kamu melupakan sesuatu?" Tuan Zidane menatap ke arah Gea.
"Apa itu? tanya Gea berapi-api ingin tahu sesuatu.
Tidak ingin membuang kesempatan di dalam kesempitan situasi dan meluncurkan sebuah kecuypan pagi di kening Gea dengan penuh kasih sayang.
Bersamaan saat mereka sedang bermesraan, ternyata Nyonya Ami membuka pintu di kamar Tuan Zidane. Betapa kagetnya dia melihat anak sulungnya bersama dengan seorang pelayan tengah bermesraan di dekat ranjang.
"Kalian!!" hardik Nyonya Ami karena sudah bertemu dengan simbok terlebih dahulu.
Gea melepaskan pelukannya dari Tuan Zidane, demikian pula dengan Tuan Zidane. Mereka berdua kaget mendengar Nyonya Ami berteriak seperti itu.
Perlahan tapi pasti, Nyonya Ami berjalan menuju ke mereka berdua.
"Gea, Zidane," desisnya menahan segenap amarah yang menguasai dirinya. Baik Tuan Zidane maupun Gea hanya termangu di tempat mereka sendiri-sendiri.
Plak…
__ADS_1
Sebuah tamparan panas mendarat di pipi Zidane, dia hanya diam saja. Kemudian kini giliran Gea. Nyonya Ami sudah terlihat marah besar.
Baru saja mengayunkan tangan, Tuan Zidane sudah bersiap melindungi Gea.