
Kedua sahabat tersebut langsung menuju ke gerai makanan untuk mengisi perutnya karena dia masih sedih kehilangan dompet yang berisi uang 500.000.
"Gea, kamu nggak usah sedih, sekarang pesan makanan yang kamu suka boleh dimakan di sini atau makan di rumah." Vina menjadi gemas karena sejak tadi dia hanya manyun memikirkan uangnya yang hilang.
"Aku tidak lapar, Vin." Masih saja ia kepikiran.
"Iya deh nih aku pinjemin kamu uang 500.000." Vina mengeluarkan uang lembaran merah berjumlah 5 kepadatan Gea.
"Beneran kamu mau minjemin aku tapi aku nggak kerja terus kayaknya dari mana nanti?" Ini yang bikin Vina gemas dengan kayak karena seperti apapun Gea ini termasuk orang yang tidak mau menyusahkan orang lain.
"Ya udah nanti lu kerja di rumah gue nyuci ngepel nyapu apalah itu buat gantiin Mbak yang baru libur."
"Aku boleh bekerja seperti itu di rumah kamu selama di kota ini?"
"Ya udah terserah kamu lah Gea yang penting sekarang kamu makan terus ini uang rp500.000 buat pegangan kamu." Vina meletakkan uang tadi di tangan dia karena di hadapannya juga tidak diambil begitu saja.
Akhirnya mereka hanya memesan makanan berupa mie goreng Aceh 2 porsi dan cemilan kue pukis kesukaan Gea dan Vina.
Rencananya mereka hari ini akan bermalam di rumahnya Vina.
"Aku pamitan dulu deh sama mamanya Grace biar nggak dicari," menekan tombol handphonenya untuk mengirimkan pesan suara kepada mamanya Grace.
Setelah selesai mengirimkan pesan Vina segera membawa Gea untuk ke rumahnya.
*
Begitu sampai di rumah ternyata suasana rumah masih sepi terlihat mamanya belum pulang dari bertugas di luar negeri begitu pula dengan papanya yang selalu setia mengikuti kemana mama Vina pergi.
"Gea kami mau makan atau mau tidur dulu?"
__ADS_1
"Aku makan terus tidur karena capek banget perjalanan jauh."
Gea langsung mah merebahkan dirinya di kamar Vina yang sangat besar.
*
Pagi menjelang.
Sengaja Vina sudah terbangun terlebih dahulu untuk membuatkan sarapan mereka berdua pagi ini karena dia tidak mau mengganggu Gea yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Sekitar pukul 05.00 pagi Vina sudah beringsut keluar dari kamar untuk menuju ke dapur. Dua buah susu hangat dan biskuit yang sengaja dia beli dari memesan online semalam saat dia sudah tertidur untuk sarapan mereka berdua.
"Sepertinya masih kurang aku ingin ma ceplok telur biar semakin lengkap proteinnya." Vina mengambil telur dari kulkas sebanyak 4 buah kemudian ia jadikan satu untuk sarapannya hari ini.
Pukul 06.30 pagi dia baru membuka matanya karena tidur diranjang Vina sangat nyaman dan empuk berbeda sekali saat tidur di rumahnya maupun di rumah nenek yang hanya beralaskan dengan kasur lantai yang sudah lapuk. Beruntungnya ia memiliki uang pesanan cukup sehingga bisa memberikan kasur yang empuk untuk nenek dan ibunya serta tidak lupa dengan Nando.
"Vina kamu sudah membuat sarapan semuanya ini?" Gea melihat tingkah laku Vina dengan ekspresi heran karena tidak biasanya sahabat yang satu ini beraksi di dapur. Biasanya hanya tinggal berteriak saja dalam waktu beberapa menit makanan dan minuman akan segera tersedia di meja makan maupun dibawa ke kamar seperti sekarang ini.
Vina dan Gea pun menikmati sarapan mereka berupa susu hangat biskuit serta masing-masing 2 buah telur ceplok.
"Kamu langsung mau kampus atau besok-besok aja?"
"Lebih cepat lebih baik Vin karena aku tidak mau meninggalkan ibuku terlalu lama." Vina mangut-manggut mengerti apa yang sedang berada di dalam pikiran Gea dia langsung menyeruput susu yang tinggal setengah hingga tandas.
"Oh gitu ya udah kita siap-siap nanti sekalian siang masih ada jam kuliah."
*
Akhirnya Vina pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada tuan Zidan.
__ADS_1
Vina : hari ini Gea akan ke kampus jika kamu ingin bertemu segera temui dia sebelum pukul 10.00 pagi aku sudah sampai di dalam kampus.
Tuan Zidane rupanya belum terbangun padahal jam sudah hampir pukul 07.00 pagi. Sampai ada sebuah notifikasi pesan yang masuk ke handphonenya sehingga menimbulkan suara nyaring.
Tuan Zidane membuka matanya langsung meraih siapakah yang menghubungi dirinya saat ini padahal ia masih lelap-lelapnya tidur.
Berkali-kali ia membaca pesan dari Vina. Sampai Tuan Zidane pun berusaha fokus karena memang selama dia pergi ya terus kepikiran dengan Gea. Membaca pesan dari Vina timbul sebuah semangat baru di dalam diri Tuan Zidan untuk segera berangkat dari rumah dengan tujuan untuk menemui giat terlebih dahulu.
"Presiden tidak sarapan hari ini?" tanya Mbak Ranti kehilangan melihat tuan Zidane yang langsung menyala nong pergi begitu saja tanpa berbelok ke arah tempat makan.
"Hari ini sarapanku, Mbak Ranti saja yang makan karena aku sudah kenyang." Presiden sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Gea dia segera merokok kunci mobilnya kemudian beranjak dari rumah tanpa memberikan salam untuk nyonya Ami serta papanya.
Baru setengah perjalanan, ponsel Tuan Zidane pun berbunyi kembali. Bisa dipastikan jika itu adalah telepon dari nyonya Ami.
"Nanti sekitar pukul 10.00 pagi tolong kamu beritahu ke mama jika ada hal penting yang harus Mama sampaikan ke kamu."
"Maksud Mama apa?" tanya Tuan Zidane tidak begitu paham dengan ucapan yang diberikan oleh ibunya tadi
"Mama ingin pergi ke toko perhiasan dan membelikanmu tunangan bersama dengan Grace."
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Tuan Zidane berusaha untuk menggoda ibunya terlebih dahulu.
"Kali ini tolong jangan ada penolakan lagi dan karena Mama sudah muak mendengar semua kalimat penolakan dan tidak pernah kamu mau menerima saran mama satu kali saja, untuk kali ini Mama tetap memaksa kamu." Minyak Ami langsung memutuskan percakapannya sepihak dan kemudian ia membanting ponselnya karena merasa Tuan Zidane begitu egois untuk dikendalikan.
"Arghh!!" Tuan Zidan meremas rambut depannya dengan kasar ia memukulkan beberapa kali ke dahinya.
Sudah diduga oleh presiden sebelumnya jika setelah nyonya Ani menelpon maka pasti Grace juga akan menelponnya beberapa menit kemudian.
Tuan Zidane langsung menonaktifkan ponselnya sebelum Grace menelpon karena dia sudah berfilling jika wanita itu pasti akan terus memburunya.
__ADS_1
Jika ia tidak berani menolak permintaan mamanya maka selamanya mungkin dia tidak akan bertemu lagi dengan. Tuan sidang pun mantap untuk memilih menemui dia daripada harus berbelanja cincin tunangan dengan Grace.
Sementara itu Gea masih berharap-harap cemas jikalau Tuan Zidan akan datang ke hari ini.