Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Penegasan


__ADS_3

"Aku tidak mau, Ma, maaf, sekali lagi aku tidak mau untuk memutuskan Gea karena aku baru merasakan bagaimana mencintai seseorang tulus dari hatinya, bahkan dia tidak pernah melihatku sebagai seorang yang sukses seperti sekarang ini."


"Zidane!!" hardik Nyonya Ami dengan suara lantang. Sampai pita suaranya pun ikut bergetar. Baru kali ini, Zidane membngkang perintahnya hanya gara-gara seorang wanita yang bukan dari kelas atas, ini yang membuat Nyonya Ami semakin kebakaran.


"Kamu berani menentang Mama?" Nyonya Ami memindahkan matanya dari wajah Zidane.


"Maaf Ma, bukan berarti aku tidak menghormati Mama tetapi aku memiliki pilihan sendiri." Tuan Zidane tetap teguh dengan pendiriannya ingin memperjuangkan Gea walaupun keluarganya menolak.


"Sampai kiamat tiba, Mama tidak akan setuju jika kamu menikahi gadis pelayan itu," ucap Nyonya Ami mendesis kesal. Tuan Zidane pasrah dengan mamanya. Tidak mungkin saat ini dia akan mendebat mamanya seperti orang lain tetapi dalam hati dia terus berjanji untuk mempertahankan Gea.


"Maaf, Ma, aku permisi kamar dulu." Nyonya Ami tidak menggubris perkataan dari anak sulungnya. Dalam hati beliau sangat merasa terpukul karena anaknya harus bersama dengan Gea tentu saja ia tidak akan rela, bagaimana nanti jika ditanya oleh kolega bisnisnya siapa menantunya dari kalangan apa, tentu saja Nyonya Ami merasa malu jika harus menjawab bahwa menantunya adalah pelayannya dulu.


"Bagaimanapun caranya aku harus memisahkan Gea dan juga Zidan agar tidak bisa bersatu." Nyonya Ami sudah bertekad untuk memisahkan mereka bagaimanapun caranya.


*


Merry kelihatan letih sekali sehabis pulang dari les piano. Bahkan mamanya saja lupa tidak dia siapa.


"Merry, sama siapa yang mengajarimu tidak sopan terhadap Mama?" Nyonya Ami menatap tajam anak perempuannya yang masih mengenakan seragam lengkap.


"Maaf, Mah aku lelah sekali hari ini." Wajah Merry pucat.

__ADS_1


"Lain kali kalau masuk rumah kamu harus mengucapkan salam," tegur Nyonya Ami melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.


Merry pun hanya melirik sekilas mamanya kemudian dia berlari ke kamarnya sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi kepada gadis tersebut, ya terus menelungkupkan tubuhnya di atas kasur kemudian badannya pun terlihat terguncang hebat pertanda dia sedang mengalami sebuah tekanan.


Tanpa sengaja Gea ingin mengantarkan jus untuk Merry karena permintaan Tuan Zidane melihat Merry menangis tersedu dia pun menghentikan langkahnya kemudian berjalan dengan pelan ke arah Merry.


"Nona Merry," kata Gea dengan lembut. Memegang pelan bahu Merry yang masih terguncang. Merry langsung menangkap tangan namun tanpa diduga Merry malah menangis sejadi-jadinya diperlukan Gea.


"Merry, ada apa denganmu?" Gea berusaha untuk menenangkan Merry yang menangis tersedu-sedu di dekapannya.


Dengan penuh kasih sayang dia pun mengelus kepala Merry perlahan.


"Merry, sudahlah kamu istirahat dulu dan aku sudah membawakan jus di meja itu." Dia mencoba menenangkan Merry menangis tanpa sebab. Gea juga tidak ingin tahu apa permasalahan Merry sebenarnya, sehingga dia pulang sekolah langsung menangis matanya sampai merah.


"Sudah ya aku melanjutkan pekerjaan dulu, jika nanti kamu masih sedih kamu bisa cerita sama aku aku siap mendengarkan apapun cerita kamu," kata Gea mengambil nampannya kemudian berlalu dari kamar Merry.


Tuan Zidane kebetulan ingin ke kamar Merry melihat Gea keluar dari sana ia mengurungkan sebentar. Setelah Gea sudah tidak tampak barulah Tuan Zidane masuk ke kamar Merry. Kembali ia melihat Merry kembali menangis. Buru-buru Tuan Zidane mendekap adik semata wayangnya tanpa berkata apapun lagi.


"Merry, jika lelah kamu istirahat saja," kata Tuan Zidane mengecyup puncak kepala adiknya.


Sepertinya Tuan Zidane juga ikut melaksanakan kesedihan yang dirasakan oleh Merry. Selain lelah menjalani tugas sebagai seorang siswa Merry harus menjalani seabrek les, Merry jugalah hanya seorang remaja biasa yang merasakan jatuh cinta.

__ADS_1


"Kak, apakah cinta itu memang selalu memandang sebuah kasta?" Pertanyaan Merry ini membuat Zidane langsung terperanjat pasalnya dia juga mengalami hal yang sama dengan adiknya saat ini hanya saja mungkin konteks percintaan mereka yang berbeda.


"Cinta itu suci,Mer, jangan pernah kau menodainya dengan sebutan cinta harus memandang kasta ataupun cinta itu ada penghalangnya. Sebenarnya Kakak tidak setuju dengan pernyataan seperti itu di mata Tuhan kita, semua sama hanya takdir kita yang berbeda tetapi cinta itu lahir dan suci dari hati," ucap Tuan Zidane dengan mantap membuat Merry merasakan sesuatu yang aneh dalam diri Tuan Zidane, pasalnya dia belum pernah berbicara sedetail ini terhadap dirinya apalagi masalah cinta.


"Sekarang mulai mengerti tentang cinta?" Merry malah mendelik merasa mungkin kakaknya ini baru belajar tentang cinta dari sebuah buku.


*


Makan malam di keluarga Tuan Zidane pun sudah selesai kini saatnya Gea dan Mbak Ranti membersihkan sisa makanan yang berada di meja makan. Tidak seperti biasanya Nyonya Ami langsung beranjak begitu saja ketika dia sudah menyelesaikan makan tanpa menunggu kedua anaknya. Padahal momen seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh keluarga tersebut untuk bercengkrama maka karena mereka jarang sekali bertemu kecuali di tempat makan tetapi agaknya Nyonya Ami masih marah dengan Tuan Zidane. Sebagai seorang pelayan Gea tentu saja tidak mengambil pusing bahkan dia senang sekali bisa beristirahat lebih awal.


"Gea, kamu dipanggil Nyonya ke kamarnya." Mbak Ranti menyenggol bahu Gea yang sedang sibuk mengemasi peralatan makan.


"Untuk apa? Apakah aku memiliki salah dengan pekerjaanku hari ini?" tanya Gea dalam hatinya.


Gea mengetuk pintu kamar Nyonya Ami.


"Masuk saja pintunya tidak dikunci," ucap Nyonya Ami tanpa mengalihkan pandangannya. Gea menunjukkan kepala kemudian menutup pintu tersebut perlahan.


Nyonya Ami menutup laptopnya dan menatap dia untuk beberapa saat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ya sama sekali tidak mengerti mengapa anak sulungnya bisa jatuh cinta dengan pelayan seperti Gea padahal di luar sana masih banyak sekali gadis-gadis dari kalangan menengah ke atas yang mengantri untuk menjadi pacar maupun tunangan Tuan Zidan.


"Sudah berapa lama kamu berpacaran dengan Zidane?" Pertanyaan yang terkesan mendadak ini membuat Gea langsung terperangah bagaimana mungkin Nyonya Ami sudah mengetahui perihal hubungannya dengan Tuan Zidane?

__ADS_1


"Maaf maksud Nyonya?" Gea menyipitkan matanya.


"Saya tahu kalian berdua memiliki hubungan khusus dan saya tahu jika Zidan anakku sangat mencintai kamu." Hati Gea sudah bergetar bahkan kini aliran darahnya deras seakan menyatu di wajah sehingga menimbulkan sensasi panas serta telinganya pun juga ikut memanas mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut Nyonya Ami.


__ADS_2