
Kini Gea sendirian saja di ruang inapnya. Mungkin jika dia berada di kelas 3 yang satu kamar dua orang dia tidak merasa kesepian seperti ini. Namun semua itu kemauan Tuan Zidane agar dia merasa nyaman beristirahat.
Gea pun ingin membuka hadiah apa yang diberikan Tuan Zidane kepadanya. Tangannya berusaha untuk meraih paper bag yang masih bertengger di atas nakas.
Dengan hati-hati Gea mencoba untuk bangkit dari tidurnya agar tangannya bisa meraih paper bag tersebut dengan mudah. Benar saja, sekarang dia sudah bisa menggapai paper bag dan kini berada di genggaman tangannya.
Dengan hati berdekap kencang dan keringat dingin seketika membasahi punggung Gea. Perlahan-lahan tangannya mulai membuka paper bag tersebut. Rasa penasarannya sangat tinggi untuk bisa tahu apakah hadiah yang Tuan Zidane berikan kepadanya.
Begitu paper bag tersebut sudah terbuka, mata kia langsung terbelalak seolah tidak percaya dengan pemberian sang majikan. Sebuah kalung dengan liontin mungkin berasal dari berlian, Gea sendiri juga tidak tahu, karena cahayanya berkilauan dan sangat indah. Untuk beberapa detik dia sangat kagum dengan penampakan kalung tersebut.
"Betapa mahalnya kalau ini," gumam Gea dengan lirih sambil mengeluarkan kalung tersebut dari tempatnya.
*
Selesai mengurus administrasi, Tuan Zidane pun langsung bertandang ke kamar untuk memberitahukan jika hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Menerima kabar gembira itu Gea sangat bahagia akhirnya dia tidak tidur di rumah sakit ini dengan sendiri.
Sekitar 1 jam kemudian semuanya sudah beres kini saatnya Gea kembali pulang. Dengan diantar oleh Tuan Zidane. Selama menjadi asisten Gea sangat merasa sangat diistimewakan oleh Tuan Zidane.
Dengan mengendarai mobil mewahnya Tuan Zidane perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit. Dea duduk di samping kemudi.
"Gea, apakah kamu sudah membuka hadiah dariku?" Tiba-tiba mati dan menanyakan hal yang sangat Gea ingin hindari.
"Emm…." Gea bingung ingin menjawab apa dari pertanyaan Tuan Zidane tersebut.
Tuan Zidane tahu jika asistennya tersebut mungkin merasa canggung menerima hadiah yang begitu mewah darinya. Memang sejak dahulu tuan Zidan sudah terbiasa menjadi seorang yang dermawan kepada siapapun. Untuk masalah harga dia tidak pernah memperhitungkan berapa harga yang harus dikeluarkan untuk orang yang begitu spesial di dalam hidupnya. Namun baru kali ini dia membelikan seorang wanita hadiah yang terbaik menurutnya. Kalung rantai kecil berwarna silver dengan liontin berlian yang memancarkan cahaya berkilauan, tentu saja harganya tidak murah. Tuan Zidane harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Namun demi Gea dia tidak mempermasalahkan semua itu.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah benar-benar pulih?" Tuan Zidane segera mengalihkan pembicaraan yang agar tidak terdengar kaku.
"Sepertinya memang sudah, Tuan." Dia mengangguk kematian memalingkan wajah dari tatapan Tuan Zidane.
"Gea, aku ingin berbicara denganmu." Tiba-tiba saja entah secara disengaja atau tidak dengan situasi dan langsung menganggap tangan Gea dengan erat. Sontak hal ini membuat Gea kaget dan reflek dia memundurkan tangannya tetapi Tuan Zidane tetap kekeh menggenggam tangan tersebut dengan erat.
Tangan kanan Tuan Zidane masih bisa mengoperasikan setir dan memikirkan mobil tersebut.
"Gea, tolong dengarkan penjelasanku sedikit saja." Kini mobil Tuan Zidane pun sudah berhenti total di pinggir jalan.
"Silakan saja, Tuan."
Tuan Zidane tidak langsung berkata tetapi dia malah menatap bola mata Gea begitu lama hingga membuat Gea pun salah tingkah. Buru-buru dia menundukkan pandangan agar tidak beradu pandang dengan Tuan Zidane.
"Maafkan, jika aku selama ini mungkin lancang berbicara kepadamu." Merasa tidak tahu arah pembicaraan sang majikan, dia pun hanya mengangguk seakan dia sudah paham apa yang dimaksud oleh Tuan Zidane.
"Entahlah, mungkin ada tetapi itu tidak mungkin mereka bersatu."
"Mengapa?"
"Di dalam masyarakat yang mengenal sistem kasta, tentu saja kasta yang berada di atas tidak mungkin akan bersatu dengan kasta di bawahnya, kecuali jika mereka ingin melawan adat dan tentu saja memiliki efek akan dikucilkan atau dikeluarkan dari kastanya tersebut."menjawab demikian sesuai dengan kemampuan daya pikirnya.
"Jadi menurut kamu cinta di antara dua kasta yang berbeda ini tidak akan pernah bersatu?" Gea menggeleng lemah.
Kemudian Tuan Zidane pun melepaskan genggaman tangan dari Gea.
__ADS_1
"Bagaimana jika seorang bos jatuh cinta terhadap asistennya?"
Mendadak hati Gea pun berdegup sangat hebat. Ini bukan lagi sebuah perumpamaan tetapi Tuan Zidane secara langsung mengatakan hal yang sangat ingin Gea hindari meski dalam hatinya dia juga sangat tertarik dengan Tuan Zidane, baik dari sikap maupun dari paras wajahnya yang begitu tampan. Kaum hawa mana yang tidak jatuh cinta terhadap Tuan Muda Zidane satu ini. Dengan karakter yang hampir sempurna tanpa ada cacat dia sangat menjunjung tinggi cinta keluarga, tentu saja karir yang mentereng tentu menjadi daya pemikat bagi kaum hawa.
"Maksud Tuan?" Susah payah Gea berusaha menahan salivanya untuk membasahi tenggorokan yang mengering akibat pertanyaan tadi.
"Aku cinta kamu, Gea."
Bagaikan hujan pada musim kemarau, dia langsung menoleh dengan pandangan tidak percaya menghadap ke Tuan Zidane.
"Tuan, jangan mengada-ada." Meski hatinya begitu bergetar namun Gea harus bisa menguasai keadaan.
"Apa ini salah jika aku jatuh cinta denganmu?" Mata Tuan Zidane tidak pernah berpindah dari wajah Gea.
"Cinta itu tidak ada yang salah tetapi yang salah adalah rasa cinta yang tidak pada tempatnya.
"Bagaimana perasaanmu padaku?" Tentu saja Gea bingung harus menjawab bagaimana. Dia memang begitu tertarik tetapi mengakui jika dirinya jatuh cinta dengan sang majikan tentu akan membuat dia tidak nyaman, tetapi bukanlah Tuan Zidan mengungkapkan perasaannya? Sepertinya tidak salah jika dia juga mengungkapkan perasaan kepada Tuan Zidane.
"Sudah sudah sejak pertama kali aku bertemu dengan Tuan, aku merasa ada sesuatu yang berbeda." Gea mulai berbicara apa adanya. Karena memendam perasaan sama saja memendam masalah. Ini cukup sulit.
"Gea, kamu tidak perlu menjawabku sekarang, tetapi aku akan menunggu jawabanmu." Tuan Zidane pun menyadari jika Gea tidak mungkin akan menjawabnya saat ini, Ia perlu banyak pertimbangan di antara mereka berdua.
Sesampai di kamarnya dia pun langsung membaringkan diri dan terus memikirkan perkataan Tuan Zidane tadi. Bagaimana mungkin seorang CEO jatuh cinta dengan pembantunya? Inikah yang dinamakan dunia di dalam percintaan?
Tuan Zidane : Gea, semoga istirahatmu malam ini nyenyak, jangan lupa minum obatnya.
__ADS_1
Demikian bunyi pesan singkat dari Tuan Zidane untuk Gea. Namun Gea hanya membacanya kemudian hanya ingin membalas dengan emoticon yes, tetapi sayang dia salah menekan malah emoticon love yang terkirim. Gea kurang menyadari bahwa dia salah kirim emoticon.