Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Hadiah Tersweet


__ADS_3

Sudah dua hari ini Gea berada di rumah sakit. Sengaja dia tidak memberitahukan kepada keluarganya bahwa dia masuk rumah sakit agar ibu dan Nando tidak cemas. Mbak Ranti menengok Gea bergantian dengan Tuan Zidane. Karena Gea bercerita dia sebenarnya takut dengan rumah sakit. Dengan senang hati Mbak Ranti pun bersedia untuk menunggu Gea bergantian dengan Tuan Zidane yang merasa bersalah.


Seperti pada sore ini, Tuan Zidane yang sudah datang dari kantornya menyuruh Mbak Ranti untuk pulang masak makan malam di rumahnya.


"Baiklah jika begitu, Tuan, saya akan pulang." Mbak Ranti membawakan badan kemudian berpamitan dengan Gea dan Tuan Zidane.


Tuan Zidane pun meletakkan sesuatu yang dibawanya dari mobil. Sebuah paper bag berwarna biru lautan, entah isinya apa.


"Gea, bagaimana keadaan hari ini?" tanya Tuan Zidane sambil menarik kursi agar mendekat dengannya kemudian dia pun duduk.


Gea tersenyum meskipun bibirnya masih terlihat pucat tetapi ia merasa senang karena Tuan Zidane bersedia untuk menunggunya saat berada di rumah sakit ini.


"Tuan, terima kasih atas perhatian Anda." Gea sudah habis tidak bisa mengucapkan apapun kecuali berterima kasih kepada bosnya yang sudah sangat baik hati.


"Tidak Gea, seharusnya akulah yang meminta maaf dan berterima kasih kepadamu," ucap Tuan Zidane dengan serius. Gea memicingkan matanya karena tidak mengerti dengan ucapan Tuan Zidane yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Maksud Tuan?" tanya Gea penuh penasaran.


"Akibat kejadian malam itu, paginya kamu harus masuk rumah sakit." Gea melihat wajah Tuan Zidane yang menunduk sepertinya dia menyesal karena telah membuat secara tidak langsung Gea masuk rumah sakit.


"Ini juga bukan sepenuhnya salah Tuan, tetapi aku juga sudah merasa tidak enak badan sejak malam itu." Begitulah Gea memberikan penjelasan untuk tuannya.


"Sama saja, Gea, aku yang salah," kata Tuan Zidane masih dengan posisi menunduk.


Setelah itu suasana di kamar inap Gea mendadak hening karena Tuan Zidane dan Gea hanyut dalam pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Tiba-tiba Tuan Zidane pun teringat akan sesuatu. Lihat ke arah nakas. Di sana ada paper bag yang tadi ia bawa dari sebuah pusat perbelanjaan dan ingin sekali menghadiahkan untuk Gea.


"Gea," kata Tuan Zidane dengan lembut. Merasa namanya dipanggil dia pun menoleh kepada Tuan Zidane.


"Iya, ada apa, Tuan?" tanya Gea ingin bangun dari tidurnya tetapi Tuan Zidane mencegah agar Gea beristirahat saja.


Akhirnya dia pun menurut, dia tetap dalam posisi berbaring. Tuan Zidane pun berdiri dan meraih paper bag tersebut.


"Gea, ini aku ada hati kecil buat kamu." Mereka saling berpandangan. Terlebih dia merasa heran mengapa Tuan Zidane memberikannya hadiah dan jika dihitung dalam seminggu ini Tuan Zidane sudah memberikan dua kali hadiah.


"Tuan, mengapa Anda terlalu repot memberikanku hadiah sangat sering," tegur Gea merasa tidak enak karena Tuan Zidane sudah banyak berkorban untuk dirinya. Menerima penolakan dari Gea secara tidak langsung bukan berarti membuat Tuan Zidane putus asa.


Dengan penuh senyuman, Tuan Zidane memberanikan diri untuk meraih tangan Gea. Seketika wajah Gea pun berubah memerah karena malu dan jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan detaknya. Tangan Tuan Zidane begitu lembut ditambah tatapan matanya yang teduh membuat Gea terpana untuk beberapa saat. Mereka saling berpandangan dan diam tanpa mengucapkan satu patah kata apapun.


"Gea, aku tadi sempat mampir ke mall sebelum ke sini, aku langsung teringat dengan dirimu, jadi aku mohon terimalah hadiah ini sebagai permintaan maaf dariku karena telah membuatmu tidak nyaman di malam itu." Perkataan yang keluar dari mulut Tuan Zidane sangatlah tulus dan enak didengar oleh Gea. Terutama ucapan itu berkesan sangat membekas di hati Gea. Bisa dikatakan saat ini rasa kagum dia kepada Tuan Zidane sangatlah tinggi. Sikap Tuan Zidane yang selalu membuat dia semakin hari semakin jatuh cinta.


"Kenapa Gea? Kali ini aku mohon jangan menolak hadiah dariku." Gea pun hanya bisa mengangguk menurut itu di permintaan sang majikan sekaligus seorang pria yang mampu menggetarkan hatinya. Namun saat ini dia masih sadar diri jika tidak mungkin Tuhan Zidan memiliki rasa yang terlalu jauh kepada dirinya meski malam itu Tuan Zidane telah berani menyentuh Gea. Ia sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu seakan tidak pernah terjadi di antara dirinya dan Tuan Zidane.


Malam ini Tuan Zidane pamit dari rumah sakit sekitar pukul 06.30 malam karena tidak mau melewatkan makan malam dengan Merry. Ini Gea hanya sendirian.


Rasa penasaran Gea semakin memuncak ketika dia menoleh ke arah paper bag yang tadi karena belum sempat membukanya.


"Gea!!" Tiba-tiba saja dari arah pintu Vina dengan kencang memanggil nama Gea. Untung saja dia sudah terbiasa akan panggilan dadakan Vina dengan suara cempreng.


"Hai," balas Gea dengan mengukir senyum ceria meski masih terlihat lemah.

__ADS_1


"Kamu kok bisa sih masuk rumah sakit nggak bilang sama aku." Baru saja datang dan belum duduk Vina sudah mengomel demikian.


"Mungkin aku kelelahan, Vin."


"Makanya kalau pekerjaan itu kamu harus tahu jam istirahatnya kapan," kata Vina seolah-olah menasehati Gea karena dia merasa senior. Padahal dunia Gea dan Vina sangat berbeda jauh. Mendengar perkataan dari sahabatnya Gea pun hanya tersenyum.


Mata Vina tertuju kepada paper bag yang berada di atas markas.


"Itu hadiah dari siapa?" Pada dasarnya sikap Vina memang kepo tetapi masih bisa menghargai privasi orang lain. Gea ikutan menoleh.


"Oh itu tadi dari Tuan Zidane." Gea tidak bisa berbohong karena Vina sudah melihat Tuan Zidane tadi datang ke rumah sakit. Sebenarnya mengatakan yang Gea takut jika Vina marah.


"Waduh, bos kamu itu baik banget." Vina mengerjakan mata semakin kagum dengan Tuan Zidane.


"Ya begitulah, mungkin ke semua karyawannya juga begitu." Ini hanyalah akal-akalan dia saja agar Vina tidak kecewa.


"Benarkah?" Gea mengangguk seolah-olah dia sudah tahu semuanya tentang Tuan Zidane.


"Sungguh dia adalah malaikat yang tidak bersayap," puji Vina sambil mengerjapkan kedua matanya.


Mengingat hari sudah malam dan jam besuk sudah habis. Vina memohon izin kepada Gea untuk pulang karena dia tadi sudah berkata kepada ayahnya tidak akan pulang terlambat.


"Hati-hati ya di jalan," kata Gea memeluk erat sahabatnya dengan posisi berbaring.


"Oke, kamu juga cepet sembuh, hariku hampa di kampus tanpa kamu."

__ADS_1


"Hampa gak bisa berbagi tugas, lagian enak kalau gak ada aku, gak ada yang mengurangi uang kamu karena kamu sering membagi uang jajanmu untukku."


"Gea, kamu jangan membuatku malu."


__ADS_2