Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Mulai Beraksi


__ADS_3

Nyonya Ami telah kembali ke rumahnya dan ini menjadikan semua pelayan di rumah itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing padahal jika nyonya besar mereka ini sedang berada di luar negeri seakan mereka bekerja dengan santainya karena Tuan Zidane tidak pernah mempermasalahkan cara kerja mereka, selama masih dalam keadaan baik-baik saja dan beres semuanya, Tuan Zidane pun tidak pernah komplain apa pun. Namun berbeda halnya jika ibu negara mereka itu sudah kembali pulang, apapun pasti akan dikomplain kurang dan selalu kurang. Bahkan para senior di sini sudah hafal dengan sikap Nyonya Ami yang terkesan sangat arogan dengan bawahannya termasuk dengan para pelayan di rumahnya ini.


Seperti pada siang ini Nyonya Ami sedang santai menikmati smoothies strawberry yang sambil membaca majalah kesayangannya. Mbak Ranti kebagian melayani Nyonya Ami sedangkan Gea memasak untuk makan siangnya.


"Ranti, bisakah kamu duduk sebentar di sini aku akan berbicara sesuatu yang penting untuk dirimu." Dengan sopan Ranti pun mengangguk dan duduk di samping bosnya.


"Aku ingin secepatnya kamu selidiki ada apa Gea dengan Zidane, aku sangat curiga mereka memiliki hubungan spesial." Nada bicara Nyonya Ami terdengar sangat rendah. Mbak Ranti hanya bisa mengganggu karena tidak ada jawaban yang tepat selain mengangguk dan mengiyakan apa saja pendapat dari majikannya tersebut.


"Baik Nyonya, saya permisi membantu Gea terlebih dahulu," kata Mbak Ranti berdiri sambil membawa nampan kosong bekas untuk menyajikan smoothies Nyonya Ami.


Gea masih terlihat sibuk memotong wortel dan brokoli. Mungkin saat inilah tepat waktunya untuk beraksi di kamar kayak begitu pikir Mbak Ranti.


"Gea, aku akan ke kamar terlebih dahulu kamu tolong ngupas bawang merah dan bawang putih nanti aku saja yang membuat bumbunya," kata Mbak Ranti seperti biasanya tidak ada yang berbeda bahwa dia menyimpan suatu misi dari Nyonya Ami.


"Baik Mbak, nanti saya akan mengupas dan langsung mencuci semua sayurannya." Jika untuk makan siang seperti ini karena Tuan Zidane dan Merry tidak ada di rumah maka hanya membuatkan untuk Nyonya Ami saja. Beliau ini senang sekali memakan makanan yang sehat seperti banyak serat dan anti dengan micin karena menurutnya bahan tambahan pangan satu ini tidak terlalu baik untuk kesehatan. Makanya tidak heran jika di usianya yang hampir setengah abad Nyonya Ami masih terlihat energik dan secantik karena beliau selalu menjaga pola makan dan hidupnya yang teratur selain itu suaminya juga sangat memanjakan Nyonya Ami.


Mbak Ranti berjalan dengan santainya tetapi kali ini bukan menuju ke kamar miliknya melainkan ke kamar Gea. Meski dia tidak begitu yakin apa yang akan dia lakukan di kamar Gea, tetapi dengan segenap hati Mbak Ranti pun membuka kamar Gea yang ternyata tidak terkunci.


Dia mulai mengendap masuk dan menutupnya perlahan agar tidak ada orang yang curiga jika dirinya berada di dalam kamar Gea. Tidak lupa Mbak Ranti segera menghubungi Nyonya Ami. Dia ingin meminta nyonya Ami untuk menemani dia di dapur sedang dirinya akan beraksi di sana.

__ADS_1


Nyonya Ami membaca pesan yang dikirimkan oleh Mbak Ranti kemudian dia pun menuju ke dapur berpura-pura mengamati Gea memasak.


"Gea, apa kamu sudah paham dengan selera makanku?" tanya Nyonya Ami sambil mengetes sampai di manakah ingatan Gea tentang selera masakan yang paling disukainya.


"Setahu saya nyonya tidak suka dengan masakan yang terlalu asin dan tidak menggunakan MSG selain itu Nyonya Ami juga anti dengan sayuran yang terlalu matang juga," kata Gea menundukkan pandangan. Dia hanya mengetahui hal itu saja yang sudah diterangkan oleh Mbak Ranti selebihnya tentang bagaimana selera Nyonya Ami, Gea belum tahu.


"Bagus sekali ingatanmu sekarang aku ingin kamu memasak untuk makananku siang ini," kata Nyonya Ami berjalan membuka kulkasnya. Ia mengambil satu cup yoghurt.


Gaya yang belum terbiasa memasak menjadi sedikit bingung dengan permintaan Nyonya Ami padahal tadi Mbak Ranti sudah berjanji untuk memasak namun hingga 5 menit lamanya dia tidak juga kembali lagi.


Di dalam kamar Mbak Ranti mulai membuka almari Gea yang kecil kemudian memeriksa satu persatu pakaiannya.


Mbak Ranti pun mulai mengangkat kasur Gea tetapi sama saja di sana juga tidak menemukan apapun. Sekarang pandangan Mbak Ranti tertuju kepada ponsel Gea yang masih tergeletak di nakas. Dia ingin mengetahui apa yang ada di dalam ponsel Gea tetapi sayang ponselnya sudah dikunci dengan password maka Mbak Ranti juga tidak berani untuk mengambil ponselnya Gea.


"Kalau begini aku tidak akan dapat tambahan dari Nyonya," ucap Mbak Ranti menggaruk kepalanya padahal tadi pagi dia sudah ditelepon oleh keluarganya, bila anak sulungnya membutuhkan uang sekolah secepatnya karena mereka sudah menunggak bayaran selama 3 bulan.


Tanpa sadar tangan Mbak Gea masih berada di lemari tadi yang belum sempat tertutup, dia menyenggol sesuatu.


"Apa ini?" Untung saja Mbak Ranti sudah bisa menguasai keadaan jadi dia tidak memekik terlalu kencang. Melihat ada kalung gemerlapan di sana mata Mbak Ranti langsung takjub.

__ADS_1


"Kelihatan sekali jika ini lalu yang sangat mahal," kata Mbak Ranti sambil menimang-nimang kalung bertahtakan liontin berlian itu.


Menurut Mbak Ranti bukan bermaksud merendahkan tetapi dia juga tidak mungkin bisa membeli kalung ini dengan uangnya mungkin jikalau mampus saja harus mengumpulkan sekitar 1 tahun gaji itu tanpa dibelikan apapun.


Mbak Ranti menahan nafasnya sebentar dan tangannya pun bergetar.


"Apakah Gea sebenarnya anak orang kaya?" Pikirnya ketika dia menutup kembali pintu lemari Gea.


Setelah mendapatkan kalung itu, Mbak Ratih langsung keluar dari kamar Gea dengan tidak lupa mengembalikan posisinya seperti semula dan kalung itu pun ia masukkan ke dalam baju kutangnya agar tidak ketahuan oleh siapa saja yang bermaksud untuk memeriksa.


Cukup lama Nyonya Ami menunggu bahwa Gea sedang memasak. Selain dia ingin mengetahui sampai di mana sikil memasak Gea, Nyonya Ami juga termasuk untuk menunggu agar dia tidak curiga jika Mbak Ranti sedang melakukan sesuatu di kamarnya.


*


Mbak Ranti keluar dari kamar dia mengantongi kalung tersebut untuk diberitahukan kepada Nyonya Ami. Melihat Mbak Ratih sudah menuju ke dapur Nyonya Ami pun berpura-pura berjalan menjauhi dapur. Sedangkan Gea masih asyik mengoda sayuran untuk makan siang Nyonya Ami.


"Maaf ya aku tadi malah ketiduran di kamar," ujar Mbak Ranti tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Seolah yang dia lakukan saat ini adalah semata-mata demi keluarganya.


"Ya sudah tidak apa-apa, Mbak."

__ADS_1


__ADS_2