Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Grace Datang Tiba-tiba


__ADS_3

Tuan Zidane masih sibuk dengan seabrek pekerjaan yang menunggunya. Bahkan hingga saat ini dia belum bisa menghubungi Gea padahal adalah hatinya sudah sangat rindu dengan gadis yang selama beberapa bulan ini dia pacari dengan cara backstreet. Sejujurnya bila dalam waktu beberapa jam, Tuan Zidane belum mendengarkan suara Gea dia sudah merasakan rindu entah seperti itulah perasaannya untuk Gea.


Berbagai dokumen masih teronggok di meja Tuan Zidane hingga jam makan siang telah tiba tetapi Tuan Zidane masih asik dengan tumpukan dokumen tersebut.


"Selamat siang, Pak, ada yang ingin bertemu dengan Anda," kata sekretarisnya dengan senyuman yang terlukis di bibir.


Presiden tidak memperhatikan sekretaris wajah sekretarisnya kemudian ia hanya mengganggu tana mendengarkan siapa tamu yang akan datang ke ruangannya saat ini.


Grace yang menunggu di luar dengan perasaan tidak menentu. Dia pun berharap jika Tuan Zidane mengizinkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan. Setelah sang sekretaris itu keluar dari ruang aksi dan Grace pun segera bertanya dengan tidak sabar.


"Bagaimana? Aku boleh masuk?" tanya Grace begitu antusias.


"Boleh saja, silakan masuk, Nona," kata sekretaris itu langsung pergi meninggalkan Grace sendirian di depan pintu masuk ruang kerja Tuan Zidane.


Sengaja Grace membawakan makan siang untuk Tuan Zidane karena dia juga ingin makan bersama dengan Tuan Zidane atau misalkan jika tidak diperkenankan untuk makan bersama maka Grace memilih untuk tidak hadir di ruangan kerja calon tunangannya daripada dia harus melihat murkanya Tuan Zidan di depan.


Grace mengantuk pintu.


"Masuk saja," ucap Tuan Zidane masih menandatangani beberapa dokumen.


Seperti kebo yang sudah dicucuk hidungnya, Grace pun segera memasuki ruangan sidang dengan penuh percaya diri. Di sana memang belum ada orang lain selain dirinya saja.


"Selamat siang, Zidan," ucap Grace dengan berdiri tepat di depan Tuan Zidane. Mata Tuan Sate langsung mengalihkan pandangannya dari tumpukan kertas ke Gea yang sudah berdiri di depan matanya.


"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Zidane dengan nada ketus.


"Aku sudah membelikanmu makanan siang jadi kamu tidak perlu makan di luar," ucap Grace dengan semangat membukakan bekal makan siang untuk Tuan Zidane.

__ADS_1


Namun rupanya sama sekali Tuan Zidane tidak tertarik dengan perlakuan Grace kepada dirinya. Ia terus aja fokus ke pekerjaannya tanpa mempedulikan Grace sedang berbuat apa.


"Zidane, ini sudah waktunya istirahat," ucap Grace menengok arloji yang melingkar di tangan kirinya sudah menunjukkan sekitar pukul 12.00 siang artinya ini adalah waktu untuk makan.


Namun ternyata masih sama saja Tuan Zidane tidak mengindahkan perkataan Grace sama sekali. Dia malah terfokus ke layar komputer dan membalas email satu persatu stafnya yang mengirimkan laporan harian.


"Zidan," panggil Grace sekali lagi hingga lelaki berusia hampir 30 tahun itu menoleh ke arah Grace.


"Ayolah, hentikan dulu pekerjaanmu itu." Andai saja yang berdiri di sana itu Gea pasti dengan semangat yang kita sudah menghentikan pekerjaannya sejak tadi. Ia melihat ke arah meja, di sana sudah tersedia beberapa menu makanan.


Karena perutnya sudah sangat keroncongan akhirnya Tuan Zidane memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Dia juga memikirkan daripada keluar makan siang lebih baik jika membawa memakan makanan yang dibawa oleh Grace, toh, setelah ini dia harus fokus kembali bekerja.


Grace merasa sangat bahagia karena Tuan Zidane mau menerima bekal makan siang darinya.


"Setelah aku makan silakan kamu keluar dari ruanganku," cetus Zidane dengan suara berat.


"Kenapa?" Grace memasang wajah bingung.


Setelah Tuan Zidane sudah selesai makan Grace pun segera mengemasi peralatan makan yang dia bawa tadi dan segera berlalu dari kantor Tuan Zidane.


*


Mbak Ranti memasukkan kalung tersebut ke dalam saku celananya. Secara diam-diam ia menemui nyonya Ami yang berada di kamarnya saat ini.


"Permisi Nyonya." Karena pintu tidak dikunci maka Mbak Ranti langsung saja masuk tetapi harus mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Masuk saja," ucap Nyonya Ami masih sibuk dengan laptopnya. Dia memiliki bisnis yang berkembang di luar negeri dan sedang memantaunya dari rumah.

__ADS_1


Mbak Rani pun masuk kemudian merokok kantong celana dan memberikan sesuatu kepada Nyonya Ami. Melihat benda yang dikeluarkan Mbak Ranti mata Nyonya Ami langsung terperangah.


"Kamu mendapatkan ini dari mana?"


"Tadi aku memeriksa semua kamar Gea dan itu benda yang menarik perhatianku," ucap Mbak Ranti.


Sebagai seorang penggemar koleksi berlian maupun perhiasan lainnya tentu Nyonya Ami sudah hafal dengan kalung yang ditemukan oleh Mbak Ranti di kamar Gea tadi.


"Aku sangat yakin sekali jika ini memang ada hubungannya dengan Zidane." Nyonya Ami memperhatikan dengan seksama kalung tersebut.


Tanpa membuang waktu sedikitpun, Nyonya Ani melakukan panggilan kepada Tuan Zidan.


"Halo, Ma, ada apa?" tanya Tuan Zidane meletakkan pulpennya.


"Hari ini kamu bisa nggak pulang lebih cepat?" tanya Nyonya Ami dengan nada sedikit serius.


"Bisa saja sih asal pekerjaanku sudah tuntas semua." Memang tuan sidang lebih mementingkan pekerjaan daripada mamanya karena dia teringat dulu suatu masih kecil namanya juga sering mementingkan pekerjaan daripada dirinya. Mungkin ini memang terlihat tidak baik dan terkesan balas dendam tetapi Zidan tidak peduli karena waktu bersama keluarga menurutnya sangat berharga tetapi mamanya tidak mau meluangkan sedikit saja. Mungkin karena saat ini usianya tidak muda lagi maka nyonya Ami membatasi kegiatannya untuk berbisnis dan lebih senang jika tinggal di rumah meski tidak menutup kemungkinan dalam beberapa bulan ia juga melakukan beberapa kali hangout maupun vacation bersama teman-temannya.


"Mama ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada dirimu." Nyonya Ami langsung menekan tombol merah dan meletakkan ponselnya begitu saja.


Dia kemudian mempersilahkan Mbak Ranti untuk keluar dan melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Namun sebelum itu nyonya Ami mengeluarkan uang sebanyak 3 lembar dari sakunya dan diberikan kepada Mbak Ranti.


"Terima kasih atas kerjasama mu hari ini," ucapnya dengan tersenyum kemenangan karena mendapatkan salah satu bukti jika Gea dan Tuan Zidane memang memiliki hubungan asmara.


Mbak Ranti yang sangat membutuhkan uang tersebut langsung berkaca-kaca menerima sebanyak itu, yang lagi gajinya masih jauh dari tanggal yang telah ditentukan.


Dia sedang asyik membersihkan dapur kemudian disusul Mbak Ranti dari belakang.

__ADS_1


"Mbak Ranti, sibuk sekali dari tadi?" Gea memang tidak bermaksud menyindir Mbak Ranti tetapi dia hanya mempertanyakan kenapa harus lama.


"Anu… itu loh…" kata Mbak Ranti kehilangan perkataan apalagi.


__ADS_2