Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Jangan ketemu


__ADS_3

Gea sudah bersiap hendak kembali ke kota sementara waktu namun ia tidka berminat untuk bertemu dengan Tuan Zidane. Niatnya sudah bulat untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga Nyonya Ami terutama Tuan Zidane. Rasa rindunya mungkin kalah dengan rasa kecewa terhadap Tuan Zidane yang tidak berani berbuat apapun ketika dia diusir oleh nyonya Ami lewat si juragan kontrakan.


Dia berangkat dari desanya dengan naik angkutan umum kemudian sampai di terminal untuk mencari bis jurusan ke kota. Hari ini bis menuju ke kota Greenville lumayan berisi penumpang cukup padat, untung saja Gea masih mendapatkan tempat duduk jadi lumayan dia bisa nyantai sampai di terminal kota tersebut.


Perjalanan memakan waktu cukup lama sehingga Gea pun tertidur di dalam bis. Posisi base lumayan cukup kencang dan sang sopir membunyikan musik keras-keras tetapi Gea tetap saja tidak menyadari ada peristiwa yang kurang menyenangkan akan menghampiri dirinya.


"Neng, jangan tidur terus itu sopirnya sudah menyalakan alarm kamu kita harus berjaga-jaga," kata seorang ibu-ibu yang duduk tepat di samping Gea. Namun dasarnya Gea memang tidak tahan jika naik kendaraan tanpa tertidur ia mengabaikan pesan ibu tersebut. Karena tempat duduknya berada di samping maka dia tidak tahu jika di dekatnya ada seorang pejabat yang sedang beraksi memanggil dompet yang terletak di saku jaketnya.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya dia sudah sampai di terminal kota Greenville. Gea langsung menghubungi Vina karena setelah Vina dia tidak memiliki sahabat siapapun lagi di sini. Tidak mungkin juga dia harus menghubungi Tuan Zidane.


"Vin, kamu bisa jemput aku nggak di terminal?"


"Wah beneran kamu sudah pulang ke sini aku siap langsung OTW kamu tunggu saja." Dengan semangat 45 final langsung menyambar kunci mobil kemudian ia berlari ke bawah.


"Vin, loo mau kemana?" tanya Grace di ruang keluarga sambil menikmati sebungkus es krim.


"Gue mau keluar daripada di rumah sumpek lihat muka lu terus." Vina langsung berlari tidak mau berdebat dengan Grace tiap hari. Ia sudah malas berada di rumah ini karena tingkah Grace yang terlalu sok, apa saja ia selalu sok, sok kecakepanlah, sok cantik, sok linter pokonya hamoir semua sikap Grace, Vina sangat benci dan mendekati gemas. Andai saja Grace itu masih kecil, ia sudah menelannya bulat-bulat memiliki keponakan bentukan seperti Grace.


"Kalau keluar gue nitip dong!" teirka Grace masih stay di depan tv.

__ADS_1


"Gue bakal pulang malam." Setelah berkata demikian Vina langsung menstater mobilnya kemudian melaju ke arah yang sudah di sharelok oleh Gea.


*


Gea merasa sangat haus karena tadi sebelum berangkat ia lupa untuk membawa air maupun minum air dia pun berniat untuk membeli air mineral di terminal itu. Ia berdiri untuk mengambil dompet yang sengaja dia letakkan di jaket.


"Loh di mana dompetku?" Gea meraba-raba jaketnya tapi rupanya benda tersebut tidak ada lalu ia pun menggeledah tasnya siapa tahu dia lupa menaruh dompetnya di dalam tas.


"Astaga kok hilang sih." Wajah kia sudah memerah karena panik dia tidak memiliki uang lagi selain yang berada di dompetnya sebesar 500.000, karena uang hasil pesangon dari rumah Tuan Zidan sudah ia serahkan kepada ibunya.


Padahal sebenarnya Bu Ranti sudah menolak uang pemberian dari dia tetapi ia bersikeras untuk memberikan hampir semuanya kepada sang ibu dia hanya mengambil untuk keperluannya saja selama di kota.


Gea terus-menerus mencari dompet itu dan mengobrak-abrik tasnya tetapi hasilnya sama saja masih nihil. Beruntung sekali dia tidak pernah menaruh kartu-kartu penting di dalam dompet ia sengaja memisahkan antara dompet untuk uang dan dompet untuk kartu penting, jadi meskipun uang tersebut hilang namun kartu yang sangat penting baginya masih aman.


"Dea kamu kenapa tas kamu sampai seperti kapal pecah seperti ini?" Begitu datang Vina langsung membelalakkan kedua matanya melihat tas Gea yang berserakan untuk saja para pengunjung terminal baik itu penumpang maupun mereka yang menjemput tidak terlalu banyak sehingga mereka tidak begitu memperhatikan tingkah laku Gea yang dinilai sangat aneh bahkan mungkin ada orang beberapa orang yang menilai jika dirinya sedang mengalami gangguan jiwa.


"Dompetku hilang, Vin." Muka Gea sudah memerah dan keringatnya keluar dari dahi sebesar biji jagung.


"Emang yang hilang berapa? Surat-suratnya gimana?"

__ADS_1


"Suratnya sih aman cuma uangnya rp500.000 udah hilang mungkin tadi aku kecopetan di dalam bus." Oke langsung ntar produk lesung ketika ia ingat ada seorang ibu-ibu yang mengingatkan dirinya agar tidak tertidur tetapi karena dia merasa cuek maka akhirnya dialah yang menjadi korban pencopetan dan sekarang uangnya sudah raib tidak bersisa sama sekali.


"Udah lu nggak usah sedih kayak gitu, Gea, nanti aku bakal bantu kamu kok." Vina berusaha menenangkan agar sahabatnya itu bisa ceria kembali.


Bagi Vina masalah uang berapapun dia bisa mengganti tetapi mungkin jika ia menawarkan hal ini tentu saya pasti akan menolaknya.


"Sekarang kita masuk ke mobil dan aku sudah lapar banget di rumah Grace nggak selera makan." Tanpa ada perlawanan dari jaya Vina pun langsung menyeret oper serta tangan Gea secara bersamaan agar masuk ke mobilnya.


"Malam ini kamu harus nginep di rumah aku karena aku nggak mau lagi nginep di rumahnya Grace."


"Sejak kapan kamu nginep di sana?"


"Ya biasa saja nyokap berangkat ke luar negeri karena dia tidak mau kalau aku di rumah sendirian padahal aku lebih nyaman di rumahku sendiri daripada di rumah nenek lampir itu." Vina bercerita sambil terus mengawasi kondisi jalanan yang rame lancar.


Sepanjang mereka mengobrol tidak pernah Vina sama sekali menyinggung perasaan Gea terhadap Tuan Zidane karena dia ingat akan pesan Gea dan juga pesan Tuan Zidane agar jika sudah menemukan Gea untuk segera memberitahukan kepada dirinya.


Sejak tadi Vina hanya memegangi ponselnya tetapi ia masih ragu untuk menghubungi Tuan Zidane atau tidak.


"Vin kamu lagi galau begitu ya?" tegur Gea ketika melihat sahabatnya dari tadi terus menerus memegangi ponsel padahal tidak mengetik sama sekali dan ia juga tidak melihat terus-menerus ponselnya itu.

__ADS_1


"Iya nih aku lagi galau kemarin ikutan kuis tapi sampai sekarang tidak ada statusnya yang menang," jawab Vina sekenanya tetap agar ia bisa mengendalikan situasi saat ini.


Sekitar pukul 03.00 sore Gea dan Vina sudah sampai di rumah. Meski bukan pertama kalinya Gea ke rumah Vina tetapi ia masih saja kagum dengan interior yang disuguhkan di rumah sahabatnya ini sangat berbanding terbalik dengan dirinya.


__ADS_2