
Tuan Zidane sungguh tidak mau kehilangan kesempatan satu detik untuk menyelamatkan Gea karena dia begitu yakin jika Gea sekarang dalam keadaan berbahaya. Beberapa kali Tuan Zidane berusaha untuk menelpon Gea kembali tetapi ternyata Gea sudah tidak mengangkat panggilannya. Tuan Zidane sudah sangat gusar, langsung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh untuk menuju ke lokasi yang sudah di-share oleh Gea sebelumnya.
Gea memundurkan kakinya beberapa langkah. Dia ingin menghindari lelaki tersebut tetapi sayang ada sebuah kerikil yang menghalau kakinya hingga menyebabkan dia jatuh.
"Aw…" ringis Gea merasa kesakitan ternyata kakinya keseleo. Dia sudah tidak bisa bergerak lebih.
Dengan leluasa lelaki itu langsung mendekati Gea dan membelai pipinya.
"Kamu cantik sekali," puji lelaki tersebut memandang Gea dengan penuh nafsu. Dia pun bergidik ngeri dan menutup matanya tidak mau menatap laki-laki tersebut. Gea sudah tidak mau membayangkan apapun yang akan terjadi selanjutnya. Jangankan berpikir untuk berlari menggerakkan kaki saja sudah susah. Kini yang dirasakan hanyalah sakit serta ketakutan yang berlebih. Namun di dalam lubuk hati terkecilnya dia masih berharap jika Tuhan masih mengirimkan bantuan untuk dirinya. Entah bagaimana jalannya, Gea sangat yakin.
Suasana semakin sepi lelaki itu langsung menyergap Gea dan menyeretnya ke suatu tempat yang tidak jauh dari sana. Sedangkan Gea hanya meringis kesakitan.
"Tolong lepaskan aku," pinta Gea dengan suara lemah. Namun tampaknya lelaki tersebut tidak menggubris apa kata yang diucapkan oleh Gea. Dia sudah membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi ia rasakan berada di depan mata.
"Rupanya pagi ini adalah hari yang paling menguntungkan bagiku." Lelaki tersebut sangat merasa berbahagia mendapatkan Gea sebagai pelampiasan nafsunya di pagi hari ini. Tidak peduli ia tidak bisa mendapatkan hasil berupa uang jarahan pagi ini tetapi bisa mendapatkan Gea merupakan suatu hal yang sangat jarang ia temui . Apalagi saat ini situasi dan kondisi mendukung ditambah keadaan Gea juga sangat mendukung.
"Manis, sekarang jangan berteriak ataupun memohon bantuan kepada siapapun karena itu semua adalah hal yang percuma." Lelaki berwajah menyeramkan tersebut mendekati pipi Gea kemudian menge-cupnya cukup lama. Gea masih tetap memejamkan mata merasa jijik telah dijamah oleh lelaki tidak beradab tersebut.
"Sudah hentikan!" teriak Gea saat lelaki itu mulai melepas satu persatu kancing baju Gea. Namun pria berwajah menyeramkan itu begitu bersemangat untuk bisa menikmati Gea pagi ini sebagai sarapannya.
Semakin Gea menangis lelaki tersebut semakin beringas untuk menuntaskan hasratnya. Sekuat tenaga Gea melawan tetapi tidak akan mampu menandingi kekuatan lelaki tersebut. Gea terus menerus menangis membayangkan nasibnya akan segera berakhir tragis.
__ADS_1
"Sudah manis, jangan terus mengeluarkan air mata, aku malah semakin haus." Dengan lahapnya lelaki tersebut mengusap air mata Gea dengan lidahnya seperti sedang menjilat es krim. Gea merasa mual mendapatkan perlakukan dari lelaki preman tersebut.
"Tuan Zidane, tolong aku!!" teriak Gea dalam hati.
Karena memang itu tempat sepi dipastikan tidak ada seorangpun yang mau lewat situ. Gea menyesali nasibnya tetapi menyesal bukanlah sebuah hal yang baik, karena semuanya merupakan sebuah musibah.
Kini kondisi Gea memprihatinkan.
"Manis, aku ingin menghabiskan pagiku bersama manisnya kue apem darimu." Lelaki tersebut langsung beranjak kepada Gea.
Ketika preman tersebut hendak mendekati dia lebih dekat gadis itu langsung membuang ludahnya ke wajah lelaki tersebut. Cairan berbau itu tepat mengenai wajah lelaki berambut sedikit gondrong. Bukannya marah, ia malah semakin bersemangat untuk menuntaskan hasratnya.
"Kau memang sejak awal sudah menggoda diriku." Dengan santainya lelaki tersebut mengusap saliva Gea yang menempel di pipinya kemudian menjilatnya penuh penghayatan. Gea semakin ketakutan, ia sudah pasrah apa yang akan terjadi. Jika sampai ternoda itu sudah jalannya.
Di bandara.
Grace terus menerus menghubungi Zidane tetapi Tuan Muda itu rupanya tidak menggubris panggilan Grace sama sekali bahkan tidak juga menolaknya. Grace menjadi gemas dengan tindakan calon tunangannya tersebut.
"Aku harus tetap menghubungi Zidan," kata Grace terus memencet tombol panggilan ke nomor Tuan Zidane.
Sebentar lagi pesawat yang membawa mamanya Tuan Zidane, Nyonya Ami akan mendarat di bandara. Baik Grace maupun Tuan Zidane belum stand by disana.
__ADS_1
"Kalau begini rencana aku bisa kacau semua," ujar Grace mulai kesal dengan Zidane yang tidak bisa ditelepon sama sekali bahkan kini malah ponselnya mati.
Presiden tidak memperhatikan siapakah yang menelpon dirinya karena pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Gea dan bagaimana cara mengetahui kondisi kia saat ini.
"Sial!" umpatnya langsung melempar ponsel ke kursi belakang kemudi karena ponsel yang ia gunakan saat ini sedang kehabisan daya dan tidak bisa digunakan lagi.
Sekarang Tuan Zidane hanya mengandalkan instingnya saja untuk melakukan pencarian terhadap Gea. Dia sudah tidak ingat lagi jika hari ini adalah jadwalnya untuk menjemput Nyonya Ami ke bandara bersama dengan Grace. Pikirannya hanya berpusat bagaimana menemukan Gea secepatnya.
Tibalah Tuan Zidane di sebuah tempat yang tadi ditunjuk Gea. Tuan Zidane menghentikan mobilnya sejenak. Namum sayang di sana tidak ada orang sama sekali.
"Benarkah Gea berada disini?" Untuk membuktikan kebenaran Gea tadi, Tuan Zidane pun segera turun dari mobilnya dan mengecek kondisi jalanan sekitar.
Pandangan Tuan Zidane tertuju kepada salah satu sisi jalan kebetulan masih berupa tanah liat yang kering. Namun ada yang menggelitik hati Tuan Zidane. Ia menemukan seperti bekas seretan suatu benda. Bekas itu terlihat sangat nyata.
Tuan sidang terus berjalan ke depan mengikuti kemanakah arah benda yang diseret tadi. Di sebuah semak belukar dekat dengan parit. Tuan Zidane menghentikan langkahnya karena seperti mendengarkan suara sesenggukan seseorang. Dia mulai menajamkan pendengarannya.
"Jangan lakukan kepadaku," pinta Gea sebelum lelaki menjamah dirinya lebih jauh.
"Mengasyikkan sekali dirimu, Sayang." Kalimat itu penuh dengan nafsu setan. Gea memalingkan wajahnya ke arah lain. Matanya menangkap ada bayangan disana. Ingin sekali Gea berteriak tetapi rasanya tercekat.
Tuan Zidane langsung memicingkan matanya melihat siapakah yang tengah berada di dekat semak. Matanya langsung tertuju kepada Gea yang hanya bisa tergolek pasrah hampir dirudapaksa oleh lelaki bejat itu. Darah Tuan Zidane seketika mendidih tidak rela kekasihnya diperlakukan demikian apalagi tersentuh oleh tangan orang lain. Tuan Zidane mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat kekarnya terlihat.
__ADS_1
Gea bisa melihat dengan jelas dimana Tuan Zidane memposisikan diri. Sengaja Tuan Zidane memberikan isyarat kepada Gea agar bersikap tenang. Gea menganggukkan kepala. Ditangan Tuan Zidane ia membawa batu cukup besar bersiap untuk menghantam kepala lelaki itu. Tanpa menunggu lama, Tuan Zidane pun melemparkan batu tersebut tepat di kepala belakang lelaki preman itu.
"Ahh, sakit!!" erangnya sambil memegangi kepalanya yang penuh dengan darah.