
"Gea, tolong jawab saya," desis Nyonya Ami menajamkan tatapannya untuk Gea yang tengah menunduk dari tadi.
"Maaf sebelumnya Nyonya jika saya memang lancang dalam hal ini, saya dan Tuhan memang saling mencintai dan kami berpacaran kurang lebih dua sampai tiga bulan ini." Mendengar jawaban Gea yang begitu polos membuat Nyonya Ami menjadi naik darah. Salivanya seakan mengering dan tenggorokannya tercekat.
"Pergilah dari kamarku!" hardik Nyonya Ami dengan suara lantang. Gea pun bergetar tetapi perlahan dia meninggalkan kamarnya Nyonya Ami dan menutup pintunya kembali.
Sesampainya di luar kebetulan Gea bertemu dengan Tuan Zidane. Namun kali ini dia tidak mengulaskan senyum sama sekali dia malah membuang muka dari Tuan Zidane tentu saja hal ini membuat Tuan Zidane begitu heran dengan sikap kalian tiba-tiba menjadi dingin terhadap dirinya.
"Gea, kamu kenapa?" tanya Tuan Zidane ingin tahu ada apa dengan Gea sebenarnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Gea sambil berjalan meninggalkan Tuan Zidane yang masih diliputi oleh rasa ingin tahunya yang luar biasa.
Dia segera masuk ke kamar mamanya.
"Ma, apakah dia tadi masuk ke sini?" Sebelumnya tuan sidang sudah merasakan firasat jika Gea sudah masuk ke dalam kamar mamanya dan mungkin di sana di introgasi berbagai macam pertanyaan.
"Iya, benar sekali," jawab Nyonya Ami dengan tegas. Tuan Zidane menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Seharusnya kamu sudah tahu Zidane jika Mama ataupun keluarga ini pasti tidak akan pernah menyetujui hubungan kamu dengan Gea."
"Kenapa Mama harus memandang cinta itu dari sebuah harta dan jabatan saja?" Nyonya Ami melirik sinis ke arah anak sulungnya tersebut.
"Zidane, mana kamu tahu, belum pernah merasakan pacaran bahkan kamu tidak tertarik dengan kencan yang pernah Mama buat kepadamu dengan kolega kolega Mama yang di luar sana. Namun perlu kamu ketahui jika pernikahan itu terjadi bukan hanya karena asal atas dasar cinta saja, tadi pernikahan untuk menjalankan sebuah bisnis yang besar dan akhirnya cinta akan tumbuh dari pernikahan bukan menikah karena cinta tetapi cinta akan melanggengkan pernikahan."
__ADS_1
"Mungkin itu prinsip Mama tetapi prinsip aku berbeda tentang masalah cinta sejak dulu aku ingin menginginkan seorang istri yang aku cintai bukan seorang istri yang lahir dari sebuah kerajaan bisnis." Kini Tuan Zidane sudah berani mendapat mamanya.
"Usia kamu memang hampir kepala tiga tetapi pikiranmu masih seperti anak SMA, Zidane. Kamu belum memikirkan bagaimana bisnis akan berkembang jika kamu menikahi seorang yang setara dengan dirimu," kata Nyonya Ami dengan emosi dan sambil mengacungkan jari telunya tepat di wajah Tuan Zidane.
"Terserah Mama mau bilang apa tetapi jika Mama terus memaksaku untuk menikah dengan pilihan Mama aku tidak akan pernah mau dan lebih baik aku tidak akan pernah menikah jika bukan dengan orang yang aku cintai." Nyonya Ami kini menatap Tuan Zidane dengan penuh kemarahan.
"Mama berani bertaruh seberapa kuatnya prinsip kamu ini bertahan," ucap Nyonya Ami dengan penuh keyakinan.
Emo situan sidang pun semakin memuncak tetapi dia masih menghargai mamanya sebagai seorang yang telah membesarkannya selama ini dan merawat dengan penuh kasih sayang. Untuk meredam emosinya Tuhan sedang langsung keluar dari kamar mamanya dan menuju ke kolam renang di mana dia pertama kali menyentuh Gea di sana.
Pantulan birunya air kolam yang tenang membuat tonsi dan menatap dalam-dalam dasar kolam tersebut. Dengan bantuan lampu di tepi kolam dia mencelupkan separuh kakinya untuk menenangkan diri dari marah yang kini menguasai dirinya.
"Mengapa di saat aku bertemu dengan seseorang yang aku cintai malah Mama menolakku seperti ini," keluh Tuan Zidane menatap langit yang bertaburan bintang dan dihiasi oleh bulan sabit.
Mbak Ranti melihat perubahan yang begitu kentara di wajah Gea. Sebentar-sebentar ia mengusap matanya sambil mencuci piring.
"Gea, maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini," kata Mbak Ranti dalam hati menatap Gea yang sedang terlihat menyapu air mata dengan ujung bajunya.
Sebenarnya dari sisi lain Mbak Ranti juga tidak masalah jika dia harus berpacaran dengan siapapun termasuk kepada Tuhan sidang karena meski mereka tidak terlihat seperti sebagai seorang pasangan kekasih di dalam rumah tetapi melihat kedua orang itu sering bersenggama ataupun dia melayani Tuan Zidane, hati Mbak Ranti tenang akhirnya Tuan Zidane sedikit lebih bisa berkomunikasi dengan perempuan.
Selesai dengan pekerjaannya Gea diam tanpa mengajak Mbak Ranti ke kamar. Berarti sudah memahami bagaimana hancurnya perasaan Gea saat ini karena dia yakin sekali nyonya Ami pasti sudah memarahinya.
Mbak Ranti mengeluarkan uang berwarna merah dari saku bajunya itu adalah uang pemberian Nyonya Ami atas kerjanya tadi siang.
__ADS_1
"Haruskah aku menggunakan uang ini untuk biaya anak?" Mbak Ranti pun berkata sendirian. Haruskah dia memberikan makan anaknya dengan uang hasil menyakiti teman kerjanya?
*
Situasi dan tidak habis pikir kenapa mamanya mengetahui perihal kalung yang pernah dia berikan kepada Gea. Bagaimana Mamanya bisa tahu, siapa yang berani-beraninya membocorkan rahasia tersebut kepada mamanya.
"Siapapun yang membocorkan rahasia ini aku akan segan-segan untuk berurusan denganku." Tangan Tuan Zidane pun mengepal dengan erat hingga urat-uratnya terlihat.
Pagi menjelang.
Suasana di ruang makan warga tuan Sidan kali ini berbeda. Tidak ada canda maupun tawa yang terdengar di sana karena masing-masing orang sibuk dengan pikirannya sendiri. Merry sedang menghadapi masalah dengan pacarnya kemudian Tuan Zidane dengan mamanya juga sedang berkonflik sehingga suasana sarapan pagi ini dan mencekam.
Gea sebenarnya paham apa yang telah terjadi di keluarga ini tetapi siapa pemimpin cunya dia juga tidak tahu karena kemarin dia mendapati kalungnya telah raib dari kamarnya. Kia sudah cerita kepada Mbak Ranti tetapi dia tidak mau berburuk sangka kepada rekan kerjanya tersebut, Gea tidak memiliki bukti apapun.
Tuan Zidane : Tolong tersenyumlah, aku tidak mau kamu bersedih.
Gea buru-buru membuka ponselnya ketika benda berteknologi tinggi itu bergetar. Baru saja membaca pesan dari sang kekasihnya dia langsung tersenyum meski di dalam hatinya merasa sedih. Tuan Zidane yang melihat Gea melebarkan bibirnya sedikit merasa bahagia. Dia semakin yakin untuk mempertahankan Gea dan tidak akan pernah melepaskannya.
Gea : engkau juga, aku tidak ingin kamu terlibat perdebatan dengan Nyonya.
Begitu balasan Gea terhadap pesan Tuan Zidane.
Gea berharap Tuan Zidane dan mamanya segera damai.
__ADS_1