Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Kaki Gea Sakit


__ADS_3

"Gea, ayo cepat!" Tuan Zidane meraih tangan Gea dan menutupi tubuh gadis yang dicintainya dengan pakaian yang sudah tidak utuh lagi. Tuan Zidane tidak memperdulikan hal itu yang penting sekarang dia serta Gea bisa selamat dari tempat itu sebelum preman tersebut bangun.


"Kakiku sakit," ucap Gea meringis menahan kakinya semakin terasa sakit saat berjalan beberapa langkah. Tuan Zidane dengan sikap langsung menggendong Gea ala bridal style untuk menuju ke mobilnya dengan secepat mungkin.


Jauh di dalam lubuk hati Gea ia merasa sangat malu karena saat ini tubuhnya tidak tertutupi oleh pakaian dengan sempurna. Untuk menghilangkan segenap rasa malunya, Gea pun memejamkan mata agar tidak melihat Tuan Zidane.


Sampailah keduanya di depan mobil dengan cekatan Tuan Zidane langsung membuka pintu mobil dan memasukkan Gea.


"Buka matamu, Gea, sekarang kita berada di dalam mobil." Beruntung kaca mobil yang Tuan Zidane gunakan saat ini merupakan kaca yang tidak tembus pandang dari luar sehingga dia sangat yakin jika Gea saat ini tidak terlihat dari jalanan.


"Aku malu," ucap Gea dengan jujur. Melihat Gea seperti ekspresi anak kecil Tuan Zidane pun menjadi gemas apalagi cara Gea meminjamkan mata.


"Ayolah Gea, kamu malah semakin lucu jika matamu tertutup seperti itu." Tuan Zidane malah menggoda Gea.


Tanpa membuang waktu lagi Tuan Zidane pun langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah butik yang terkenal di kota Greenville. Sengaja saat ini Gea harus duduk di belakang karena jika di depan tuan Zidan sangat khawatir tubuhnya terekspos secara bebas. Di belakang kemudi pun Gea menutupi tubuhnya hanya dengan jaket Tuan Zidane. Untung saja Tuan Zidane menggunakan jaket tadi pagi sebelum pergi.


Begitu sampai di butik tersebut Tuan Zidane langsung turun dan masuk ke butik sendirian saja serta Gea menunggu di dalam.


"Tunggu, aku hanya sebentar saja," pamit Tuan Zidane kepada Gea. Dibalas dengan anggukan kepala.


Baru saja Tuan Zidane masuk sudah ada pramuniaga yang bersiap untuk melayani dirinya.


"Berikan aku satu set pakaian wanita lengkap dari atasan bawahan dan dalaman." Begitu kata Tuan Zidane dengan lugas dan tanpa berbasa-basi dahulu.


Pramuniaga bername tag Julia itupun langsung memperhatikan instruksi Tuan Zidane yang memilihkan pakaian yang ditunjuk oleh pelanggannya tersebut.

__ADS_1


"Silakan, mari saya antarkan ke kasir kata Julia dengan sambutan yang ramah serta menerapkan konsep 3A, attitude, attention dan action.


Selesai bertransaksi Tuan Zidane pun langsung keluar dan memberikan pakaian tersebut kepada Gea.


"Pakailah dan buang saja pakaianmu yang itu, aku tidak mau lagi melihat semua yang melekat tubuhmu bekas laki-laki yang tadi." Tuan Zidan menyerahkan paper bag berwarna kuning kepada Gea.


Segera Gea pun langsung berganti baju di mobil itu juga, tidak ada 5 menit ia sudah selesai mengganti pakaiannya tadi ke dalam paper bag.


*


Nyonya Ami berjalan dengan menggunakan kacamata besar dan perlahan menuju ke arah Grace yang sudah melambaikan tangan. Melihat Grace hanya sendirian Nyonya Ami langsung menurunkan kacamata dan memindai para penjemput di sekitar mereka.


"Kamu sendirian saja, Sayang?" tanya nyonya Ani sambil melakukan cipika cipiki kepada calon menantu tercintanya.


"Yes, Tante, aku nggak tahu Zidan tidak bisa dihubungi sejak tadi." Dahi nyonya Amel langsung berkerut padahal semalam Zidane sudah berjanji akan menjemput ke bandara bersama Grace tetapi saat ini dia malah tidak mengaktifkan nomornya.


"Kemarin saja dia bilang sudah setuju tetapi ya mungkin meeting," balas Grace sambil merapikan poninya yang sedikit berantakan.


Karena Grace tidak membawa mobil sendiri maka dia langsung meminta sopirnya agar segera menjemputnya di bandara bersama dengan Nyonya Ami. Benar saja hanya butuh waktu sekitar setengah jam sopir tersebut sudah datang dan mereka langsung naik.


"Tante, bagaimana keadaan Tante di luar negeri?" Grace menatap calon mertuanya dengan pandangan takjub karena wanita yang berusia 50 tahunan ini masih begitu enerjik bahkan dia masih terlihat seperti umur 30-an.


"It's busy, Tante ingin istirahat di rumah sebentar sambil memikirkan masa depan Zidane dan kamu." Dalam hati Grace sangat senang karena Nyonya Ami sudah setuju dengan pertunangan ini tinggal menunggu keputusan Zidane saja.


Sebelum sampai di rumah, Nyonya Ami mengajak Grace terlebih dahulu untuk mampir di kedai kopi karena keduanya sudah lama tidak berjumpa. Grace memesan latte sedangkan Nyonya Ami memesan kopi kesukaannya yaitu americano.

__ADS_1


"Sejak tante di luar negeri, bagaimana kemajuan hubungan kamu dengan Zidane?" Grace pun meneguk kopi yang tinggal setengah kemudian tidak langsung menjawabnya. Pasalnya hubungannya dengan Tuan Zidane tidak berbeda jauh ketika mereka berkenalan beberapa bulan yang lalu. Masih saja dingin dan terlihat acuh kepada Grace.


"Tidak ada perubahan signifikan bahkan semakin ke sini sidang semakin cuek sama aku." Gereja memandang Nyonya Ami dengan wajah sedih.


"Padahal biasanya Zidane itu selalu humble loh ke semua orang," kata Nyonya Ami tidak langsung percaya begitu saja dengan ucapan Grace.


"Mungkin karena saat ini dia sudah memiliki pacar," sahut Grace dengan tenang.


"Nggak mungkin, jika Zidane memiliki pacar pasti Merry sudah bercerita tentang pacarnya itu." Tetap saja Nyonya Ami tidak bisa mempercayai perkataan Grace yang terkesan mengada-ada.


"Entahlah aku mah tetapi aku curiga jika Zidan memang sudah memiliki pacar."


"Jika begitu Tante akan berusaha menyelidikinya."


Setelah melepaskan kerinduan selama kurang lebih 1 jam, Grace dan nyonya Ami pun bertolak kembali ke rumah. Sebelum pulang kerja mengantarkan Nyonya Ami terlebih dahulu.


"Grace, ayo mampir dulu kita mau teh bersama." Tentu saja Grace tidak bisa menolak permintaan dari Nyonya Ami. Siapa tahu saja saat menikah dengan Nyonya Ami ia bisa melihat Zidane di rumah itu.


"Oke kalau begitu," kata Grace langsung berpamitan dengan sopirnya agar menunggu kurang lebih satu jam lagi di rumah itu.


Suasana rumah pun masih sepi. Merry bukan sekolah sedangkan Zidane yang katanya ingin libur tetapi juga malah tidak terlihat batang hidungnya di rumah tersebut.


"Ke mana anak ini perginya?" tanya Nyonya Ami dalam kesendirian. Dia membuka kamar anak lelakinya tetapi sama saja di sana Tuan Zidan juga tidak ada bahkan kamarnya pun kini terlihat rapi artinya Tuan Zidan sudah pergi sejak tadi.


Di ruang tamu Grace menikmati secangkir teh chamomile dengan biskuit buatan Mbak Ranti yang terkenal begitu lezat. Tiba-tiba saja pintunya ditutup oleh seseorang. Grace langsung reflek berdiri membukakan pintu.

__ADS_1


Ternyata…


__ADS_2