Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Tidak Mungkin


__ADS_3

Takut bila dia akan dikenai sanksi karena terlalu cepat mengeluarkan makanan. Gea sengaja memperlambat perjalanannya.


"Bagaimana jika nanti aku dipecat?" Gea sudah merasa kalah sebelum berperang. Dia sudah ketakutan terlebih dahulu. Bahkan Gea pun sudah mulai membayangkan jika kehilangan pekerjaan pasti akan luntang-lantung seperti dahulu dan kesulitan untuk membayar kontrakan.


Dengan tangan bergetar dia pun mengetuk pintu ruangan Tuan Zidane.


"Masuk saja," sahut Tuan Zidane dari dalam mendengar pintunya diketuk tetapi tetap matanya masih menuju ke laptop yang berada di depannya.


Gea membuka pintunya kemudian menutupnya secara perlahan kembali. Melihat dia menghadap dirinya Tuan Zidane pun menatap gadis itu beberapa saat tanpa kedip.


"Kenapa wanita seperti ini bisa membuatku jatuh cinta?" Hatinya bertanya demikian.


"Maaf Tuan, ada perlu apa Anda memanggil saya ke sini?" Saya tidak berani bertatap muka dengan majikannya dia pun selalu menunduk melihat ke ubin.


"Gea, kau berbicara dengan siapa?" Sengaja Tuan Zidane melontarkan pertanyaan tersebut agar dia berani menatap wajahnya dan tidak seperti sekarang ini.


Gea malah semakin tidak berani menampakkan wajahnya terhadap Tuan Zidane. Dia bahkan semakin menunduk. Tentu saja seperti itu membuat Tuan Zidane malah gemas dengan Gea.


Tanpa disangka sebelumnya, tangan Tuan Zidan pun bergerak menangkup wajah Gea kemudian mendongakkan agar Gea menatap wajahnya. Masih saja dia tidak berani untuk menatap Tuan Zidane. Itu bola mata mereka saling bertemu, Gea langsung memejamkan matanya agar tidak melihat mata yang indah tersebut. Karena jika diteruskan mungkin Gea akan pingsan bertatapan dengan Tuan Zidane dalam waktu yang lama apalagi posisi kepalanya kini ditahan oleh Tuan Zidane.


"Kenapa kamu tidak berani menatap aku saat kita sedang berdua seperti ini?" Gea hanya menggelengkan kepala.


Tuan Zidane sudah tidak sabar melahap bibir mungil Gea. Kali ini lelaki sukses sebagai CEO perusahaan besar tersebut tidak khawatir jika Gea akan pingsan. Karena dia mendengarkan perkataan dokter, jika Gea sepertinya memiliki riwayat asma. Jadi Tuan Zidane sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


Perlahan dengan gerakan lembut tonsi dan mulai merasakan lipgloss yang menempel di bibir Gea. Aromanya masih sama yaitu strawberry. Hari ini dia tidak memberontak bahkan dia memejamkan mata seakan menikmati setiap perlakuan Tuan Zidane terhadap dirinya. Puas dengan rasa lipgloss yang semakin lama semakin menghilang tuan Zidane pun mulai menyusuri langit-langit mulut Gea. Mereka saling bertukar saliva kembali.

__ADS_1


Tuan Zidane mengurangi tempo agar Gea bisa bernafas. Setelah dirasa cukup Tuan Zidane segera melepaskan Gea.


"Kamu mau tahu tujuanku memanggilmu ke sini?" Gea hanya mengangguk sambil membersihkan sisa saliva yang masih menempel di bibirnya dengan punggung tangan.


Tangan Tuan Zidane pun kembali menangkup pipi Gea dan posisi mereka saat ini saling berhadapan bahkan saling bertatapan.


"Tolong, jangan memejam lagi," pinta Tuan Zidane dengan lembut. Gea mengangguk menuruti permintaan Tuan Zidane.


"Sebelumnya, maaf Tuan, jika tadi pagi saya menghidangkan makanan terlalu cepat bahkan sebelum tuan datang saya sudah mempersiapkan semuanya." Dia berkata demikian dengan sepenuh keyakinan dalam dirinya jika Tuan Zidane tidak sedang marah.


"Gea, apakah aku ingin mempermasalahkan ini?" Gea kembali menggeleng karena itu tadi hanyalah pemikirannya saja jika Tuan Zidane marah dengan pelayanannya di pagi tadi.


"Dengarkan aku, Gea, memang aku tidak suka ada pelayan yang mendahulukan menyiapkan makanan sebelum aku duduk karena pasti makanan itu sudah dingin, tapi kali ini aku memaafkanmu mungkin ada sesuatu masalah hingga kamu berbuat hal demikian." Secara sengaja Tuan Zidane pun memancing Gea. Tentu saja dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena memang itulah alasannya agar dia tidak bertemu dengan Tuan Zidane di meja makan tetapi malah kenyataan berbanding terbalik ternyata Tuan Zidane memanggilnya ke ruangan dan di ruangan ini hanyalah mereka berdua.


"Bukan begitu tuan tetapi aku hanya ingin mempercepat pekerjaanku saja dan bisa secepatnya mempersiapkan untuk kuliah nanti pukul 08.00." Alasan yang dibuat oleh Gea memang lumayan masuk akal tetapi tidak begi Tuan Zidane.


"Ada sesuatu yang akan aku ingin tanyakan?"


"Terima kasih semalam sudah mengirimkan emoticon yang buat aku tidak bisa tidur," bisik Tuan Zidane tepat di telinga sebelah kiri Gea membuat bulu kuduknya seketika merinding.


"Anggap saja, Tuan, itu salah kirim aku memang salah mengetiknya."


"Sayangnya aku tidak menganggapnya itu bercanda ataupun sebuah kesalahan." Tuan Zidane pun melepas tangannya dari pipi Gea, kemudian dia bersedekap menyatukan kedua tangannya di dada.


"Aku malah senang jika kamu mengirimkan hal tersebut kepadaku." Wajah Gea sudah memerah bahkan mungkin jika berada di ruang yang sedikit terang saja terlihat merona seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Itu mungkin karena efek saya sangat mengantuk semalam akibat meminum obat jadi hari ini terkadang memang salah untuk mengirimkan emoticon." Tuan Zidane pun hanya dia memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut Gea dengan seksama.


"Oke, jika begitu alasanmu diterima tetapi kamu harus bertanggung jawab dengan sesuatu." Gea semakin bingung dengan pernyataan Tuan Zidane yang dirasa terlalu mbulet dan tidak ada ujungnya.


"Maksud Tuan, saya harus bertanggung jawab bagaimana?" Tuan Zidan lalu menunjuk dadanya sendiri. Namun dia masih belum paham apa yang dimaksud oleh tuannya itu.


"Maksudnya??"


"Aku cinta kamu," jawab Tuan Zidane dengan gemas. Gadis secantik Gea tetapi dalam hal percintaan dia sedikit telat mikir.


"Tuan ini terlalu menghayal." Gea tidak percaya dengan gombalan Tuan Zidane. Tentu saja pernyataan tersebut membuat Tuan Zidan ingin tertawa ngakak jika tidak tahu akan kami bawaannya jatuh di hadapan Gea.


"Gea, aku ini bukan penulis novel yang terlalu banyak menghayal tetapi aku adalah seorang CEO yang selalu realistis berpikir kedepannya." Gea menatap Tuan Zidane dengan raut wajah ketakutan karena dia merasa salah ngomong. Bahkan dia menganggap majikannya seperti Vina, kalau ngomong selalu diselingi dengan bercanda.


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda."


"Hai, kok malah suasananya jadi canggung begini." Tuan Zidane berusaha mencairkan kembali. Agaknya dia harus melakukan pendekatan yang lebih intens terhadap Gea bukan langsung to the points seperti itu.


"Baiklah, Gea, aku tidak akan memperpanjang masalah ini, tapi aku minta kamu kalau ngomong sama aku yang biasa saja." Tuan Zidane seakan sedang berbicara bukan dengan asisten rumah tangganya.


"Aku dari tadi tidak tahu apa maksud Tuan sebenarnya." Gea menggelengkan kepala.


"Gea, semakin membuatku bingung kamu malah semakin menarik," imbuh Tuan Zidane mengecup pipi Gea.


"Aku tahu ini mendadak tapi aku dan kamu bisa belajar."

__ADS_1


__ADS_2