
Dan mereka berdua akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki sebentar melewati jembatan Petralis yang dibangun di atas sungai algia, yang terkenal sebagai salah satu objek wisata di kota Montegi. Mereka berdua pun berhenti di atas jembatan itu.
"Hei, kau sadar tidak, ini kan pertama kalinya kita berjalan-jalan seperti ini," ungkap Sara yang kini menyandarkan tangannya di teralis jembatan, sambil menatap kilau pantulan cahaya lampu kota dari permukaan sungai algia dari pinggir jembatan.
"Ya, kau benar!" balas Ryuzen yang kemudian ikut menyandarkan tubuhnya di pinggir jembatan sama seperti yang dilakukan Sara.
Melihat Ryuzen tidak mengenakan pakaian formal seperti biasanya membuat Sara tersenyum sipu. Sara merasa mirip gadis belia yang tengah berkecan dengan pacarnya di atas jembatan, layaknya pasangan normal lain. Namun, pemikiran itu segera memudar mengingat hanya dirinya yang berpikir begitu. Sara pun hanya bisa memandangi Ryuzen yang tengah menikmati udara segar dengan mata sayunya.
"Ryuzen begitu terlihat luar biasa, dia memiliki semua yang wanita inginkan. Sedangkan aku, aku tak lebih dari seorang wanita yang hanya bisa menggantung harapan, bak bunga liar di pinggir jalan yang berharap akan dipungut seseorang supaya tidak mati terinjak orang lain."
"Sara...," panggil Ryuzen memecah lamunan Sara di pikirannya.
"Ya, ada apa?" sahut Sara
"Apa kau percaya kesempatan kedua?"
"Ya, aku percaya kenapa memangnya?" tanya Sara balik.
"Tidak, hanya bertanya saja."
Sara menatap sendu, berdiri di pinggir jembatan sambil menatap sungai algia yang ada dibawahnya.
"Erika..., dia sangat cantik ya?" ujar Sara tiba-tiba.
"Kau pikir begitu?"
Sara mengangguk dan membuat senyum palsu diwajahnya.
"Jesper, apa dia juga baik?" tanya Ryuzen.
"Ya, dia pria yang sangat baik dan pengertian,"
Ryuzen membuat suara mendengus mengisyaratkan tidak suka.
"Ryuzen, tahu tidak saat aku lihat dirimu dan Erika di belakang panggung tadi sore, aku pikir kalian pasangan yang sangat serasi!" ujar Sara seolah senang.
"Oh ya, kenapa kau bisa berpikir begitu?" balas Ryuzen dengan ekspresi dingin.
"Ya..., aku pikir serasi saja, memang kau tidak berpikir begitu?"
"Tidak! Tidak sama sekali!" balas Ryuzen datar.
"Kenapa?" tanya Sara.
"Begini, aku penasaran kenapa kau sepertinya tertarik sekali dengan kisahku dan Erika? memang semenarik itukah?"
"..., " Sara bingung menjawab pertanyaan Ryuzen.
"Apa karena dia cinta pertamaku?"
"Ya, itu salah satu alasannya!" balas Sara.
__ADS_1
"Apa kau bilang aku serasi dengan Erika juga karena dia cinta pertamaku, begitu?"
"Iya, kan memang rata-rata seperti itu. Cinta pertama itu sudah pasti sangat berkesan dan susah dilupakan. Dan kebanyakan mereka adalah pasangan yang klop satu sama lain," jelas Sara.
"Heh, konyol!" ejek Ryuzen
"Kenapa konyol? Nyatanya memang banyak yang bilang seperti itu, jika cinta pertama adalah cinta yang paling berkesan,"
"Sara bisakah kau berhenti membicarakan soal cinta pertama, kedua, ketiga apapun itu! Buatku mau cinta pertama, kedua, atau cinta ke seribu sekalipun kalau cinta ya cinta, jadi berhentilah membahas soal cinta pertama dan segala omong kosong tentang hal itu," ucap Ryuzen mulai kesal.
"Maaf..., aku hanya...."
Ryuzen tiba-tiba memeluk Sara dari belakangnya hingga membuat Sara tercengang kaget,
"Kita disini hanya berdua, jadi berhentilah membicarakan orang lain dan biarkan kita menikmati malam ini," bisik Ryuzen di telinga Sara.
Sara bermaksud membalas pelukan itu, dengan menyentuh dan menyambut jari-jari tangan Ryuzen yang kini melingkar ditubuhnya, namun ia ragu. Tapi disisi lain hasrat untuk melakukan itu kian tak terbendung lagi,
"Aku tidak peduli, aku ingin menyentuhnya merasakan hangat pelukannya tanpa memikirkan hal lain, egoiskah aku? ya tapi saat ini aku tidak peduli." Yang ada di pikiran Sara saat ini hanyalah menikmati momen dirinya dan Ryuzen. Dan Sara pun akhirnya menyentuh dekapan tangan Ryuzen dan menikmati beberapa menit momen mereka terbawa suasana malam yang dingin, Sara berada bersandar dalam dekapan tubuh bidang suaminya. Sedangkan Ryuzen meletakan wajahnya diatas kepala Sara sehingga ia bisa merasakan aroma sampo yang biasa Sara pakai. Bak dua insan yang saling jatuh cinta yang merasa dunia milik berdua.
Sampai tiba ketika ada sebuah bintang jatuh yang berhasil menarik perhatian Sara,
"Hei, itu bintang jatuh mari buat permohonan!" ujar Sara.
"Sudah sebesar ini, kau masih percaya yang seperti itu?!" balas Ryuzen seolah mengejek.
Sara mendongakan kepalanya untuk menatap Ryuzen yang masih memeluknya dari belakang.
"Mungkin ini terdengar egois dan tidak tahu malu, tapi inilah permohonanku, aku mohon biarkan aku mencintai suamiku dengan segenap hati dan biarkan dia membalas cintaku, aku ingin bahagia bersama Ryuzen! Amin."
Ryuzen yang sudah melepaskan pelukannya, kini malah menatap pada Sara yang tengah bersikap memohon doa, Ryuzen tersenyum simpul sambil memandangi Sara dan berujar di dalam hatinya,
"Aku tidak percaya permohonan seperti itu, tapi seandainya aku diberi sebuah anugrah, aku ingin wanita bodoh disebelahku ini yang menjadi anugerah itu sendiri."
Malam semakin larut, udara pun semakin terasa dingin menghantam raga. Kaki Sara jadi agak kaku karena kedinginan, hal itu wajar melihat Sara yang hanya menggunakan stocking tipis dan sepatu datar untuk menutupi kaki rampingnya.
Ryuzen yang sadar akan hal itu pun, langsung berlutut dan membelakangi Sara.
"Ryuzen kau...."
"Naik!" perintah Ryuzen yang memang bermaksud menggendong Sara di punggungnya.
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri kok!"
Malas berlama-lama dan tawar menawar, akhirnya Ryuzen sendiri yang berinisiatif menarik Sara dan langsung menggendong Sara di punggungnya. Kini Sara sudah ada diatas punggung suaminya tersebut.
Ryuzen pun langsung berjalan menggendong Sara menuju tempat ia memarkirkan mobilnya tadi.
"Ryuzen, aku bisa benar-benar bisa jalan sendiri kok!" ucap Sara supaya Ryuzen menurunkannya.
"Jangan cerewet, nanti aku turunkan kau di tengah sungai mau?!"
__ADS_1
Sara pun akhirnya diam dan menuruti Ryuzen. Sara menaruh kepalanya di pundak kanan suaminya dan merasakan hangat tubuhnya,
"Andai waktu bisa berhenti sesaat, aku ingin terus bersamanya seperti ini."
~~
~C-lovely Florist~
Seperti biasanya, semua pegawai termasuk Sara melakukan pekerjaannya di jam-jam seperti ini, toko yang kian banyak pelanggan membuat Sara dan rekan kerjanya sudah pasti harus lebih berkerja keras. Saat dirinya tengah merapikan keranjang-keranjang bunga, Sara mendapati bunga matahari pemberian Rony yang kini sudah benar-benar tumbuh tinggi.
"Sudah setinggi ini, sepertinya memang sudah harus ditanam di halaman tidak bisa lagi ditanam di dalam pot bunga."
Sara berpikir untuk mencari tempat yang cocok untuk menanam bunga ini, namun ia bingung harus memindahkannya kemana. Sara mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya sambil memikirkan tempat yang cocok untuk memindahkan bunga tersebut. Namun konsetrasi Sara tiba-tiba pecah saat mendengar dering ponselnya.
Sara mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menlponnya, dan ternyata panggilan dari Rony Ang.
*Chat via telepon
Sara : Hallo!
Rony : Sara, apa nanti malam kau ada waktu sebentar?
Sara : Memangnya ada apa?
Rony : Aku hanya mau memberitahumu, jika mulai malam ini akan ada Festival musim gugur di alun-alun Kota selama 3 hari, dan disana ada pameran lukisan dan juga atraksi, aku pikir jika kau ada waktu apa kau mau kesana.
"Aku tidak mau ada salah paham lagi diantara aku dan Ryuzen, aku lelah berselisih paham dengannya. Jadi...."
Sara : Rony, jujur aku ingin sekali kesana tapi, sepertinya aku tidak bisa. Jadi, maaf ya.
Rony : Begitu ya? Sara kau tidak usah takut dan menurut pada Ryuzen, dia saja bisa bebas bergandengan dengan banyak wanita kenapa kau tidak!
Sara : Kau benar, tapi... maaf aku memang tidak bisa datang ke sana, karena kebetulan juga aku harus mengerjakan hal lain.
Rony : Oh, oke tapi jika kau berubah pikiran dan ingin pergi kesana kau hubungi aku ya.
Sara : Oke.
Rony : Kalau begitu sampai ketemu lagi, bye Sara...
Sara : Ya, sampai ketemu lagi Rony.
*Call Ended
"Mungkin ini keputusan yang tepat, maaf ya Rony aku harus melakukan ini, aku tidak mau ada salah paham lagi dengan Ryuzen. Meskipun mungkin cuma aku yang berpikir demikian, tapi setidaknya ini caraku mencintai Ryuzen dan setidaknya ini adalah usahaku sebagai istri untuk menghormati suaminya."
Sara mengela nafas panjang duduk setengah melamun di antara keranjang yang berisi bunga-bunga. Hingga tiba-tiba muncul dihadapanya suara seorang wanita yang memanggil dirinya.
Like, Comment dan Vote π
Sabar-Sabar ya gais, tenang selalu ada pelangi setelah hujan π
__ADS_1