
Tiga hari kemudian pasca persidangan kasus Sara berlalu, pemberitaan media hampir seluruhnya membahas keluaga Han. Bahkan nama Sara, Ryuzen, Erika dan Arvin sudah dua hari ini menjadi trending topic di sistus pencarian online.
"Tuan, sepertinya para penggemarmu benar-benar patah hati melihat dirimu dan nona Sara fotonya banyak bertebaran di situs media berita," kelakar Kenzo yang tengah menyetir mobil, sambil mendengarkan berita di radio yang membahas tentang keluarga bosnya itu. Namun Ryuzen hanya diam saja, ia justru lebih sibuk menggeser-geser layar ponselnya, sambil senyum-senyum tidak jelas. Melihat kelakuan tuannya begitu dari kaca spion monbil membuat Kenzo tidak tahan untuk membatin.
Kalau sudah senyum-senyum begitu pasti berhubungan dengan ibu negara, aku tidak menyangka tuanku ini bisa secinta itu pada satu wanita. Padahal dulu sebelum bertemu nona Sara kerjanya berganti-ganti wanita tiap hari. Tapi sejak ada nona, bahkan melirik satu wanita diluaran pun dirinya tidak mau. Apa aku juga akan begitu ya, saat nanti sudah bertemu dengan tulang rusukku?
"Kenzo!"
"I- iya Tuan," balas Kenzo agak gelagapan karena tengah sibuk melamun.
"Sebelum kembali kerumah kita beli ramen di restoran dekat distrik tujuh dulu, tadi istriku bilang ingin makan ramen dari restoran itu."
"Baik Tuan," balas Kenzo mengiyakan titah bosnya tersebut.
~~
Setibanya mereka di parkiran restoran ramen yang dimaksud itu. Kenzo pun langsung memarkirkan mobilnya. "Kita sudah sampai Tuan!"
"Baiklah, kau turun dan belikan!"
"Ta- tapi..."
Ryuzen memicingkan matanya lalu menatap ke arah Kenzo.
"Baiklah... baiklah... aku belikan!" Pada akhirnya Kenzo yang harus membelikan ramen yang di inginkan oleh Sara. Sebetulnya, yang membuat Ryu tidak ingin turun dari mobil dan malah sengaja menyuruh Kenzo adalah, karena dirinya ingin ngobrol via video call dengan Sara di dalam mobil.
~~
Setelah masuk ke dalam restoran, Kenzo langsung mengambil nomor antrian dan memesan menu yang sesuai permintaan Sara.
"Antreannya cukup panjang ya? Aku jadi agak bosan! Lagipula kenapa bos tidak belikan sendiri saja makanan untuk istrinya itu?" Gerutu Kenzo yang nampak bosan. Lelah menunggu makanan pesanannya jadi, Kenzo pun memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang telah disediakan. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Hei!"
Kenzo dengan reflek langsung menoleh ke arah belakang, dan siapa sangka ternyata yang menepuk pundaknya adalah.
"Nona Gina? Kau kemari?"
"Iya ini aku! aku baru saja selesai makan disin. Kau sendiri sedang apa disini? Membeli makan untuk malam?" Balas Gina yang kemudian ikut duduk di sebelah Kenzo.
"Um tidak, aku... sebenarnya ini untuk istrinya bosku."
__ADS_1
"Eh maksudmu, Sara?"
Kenzo mengangguk tanda mengiyakan tebakan Gina. "Kenapa bukan suaminya saja yang belikan? Kenapa malah dirimu?"
"Entahlah...."
Sambil menunggu pesanannya jadi, Kenzo tanpa sadar telah larut dengan obrolannya bersama Gina. Dan tanpa disangaka, Gina yang terlihat jutek ini ternyata juga punya hobi memancing seperti Kenzo.
"Sungguh! Aku tidak menyangka hobimu adalah memancing!" Seru Kenzo yang baru tahu soal hobi dari sahabat istri bosnya itu.
"Kenapa? Kau mau bukti betapa hebatnya aku dalam memancing?" Papar Gina yang tidak mau diremehkan.
"Ugh, bukan begitu... aku hanya tidak habis pikir, dibalik profesimu sebagai pengacara wanita yang hebat dan terkesan menggebu-gebu, ternyata kau hobi memancing yang notabennya butuh kesabaran."
"Hehe... kau tidak menyangka ya? Aku juga baru tahu jika kau juga suka memancing tuan Ken?"
Huh?
Kenzo terlihat agak kaget, mendengar Gina yang memanggil dirinya dengan sebutan yang terdengar begitu akrab.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti orang bodoh begitu?" Tanya Gina melihat Kenzo yang malah terlihat bengong.
Tanpa terasa, antrean semakin berkurang. Pesanan mi ramen Kenzo juga ternyata sudah siap untuk dibawa. Setelah membayarnya Kenzo pun langsung saja bergegas kembali ke mobil.
"Panggil saja Gina, kau ini seperti orang lain saja."
Gina menepuk lengan Kenzo yang membuat Kenzo sekali lagi seolah telah akrab sekali dengan Gina.
"Baiklah, kalau begitu Gina, aku duluan! Kau hati-hati di jalan ya...."
"Ya tentu, kau juga... salam dariku untuk tuan muda Han ya... bye!"
Mereka saling berpisah akhirnya. Kenzo pun juga harus segera kembali ke tempat dimana mobilnya diparkir tadi. Sesampainya ditempat mobilnya terparkir. Di kursi belakang Ryuzen terlihat tenang seperti biasanya.
"Sudah dapat mie-nya?"
"Ini tuan!" Ucap Kenzo sambil menunjukan tentengan yang berisi seporsi ramen tersebut.
"Bagus! Sekarang kita langsung kembali ke rumah, aku tidak ingin istriku terlalu lama menunggu."
"Siap boss!" Kenzo langsung langsung saja tancap gas dan bergegas menuju kediaman keluarga Han.
__ADS_1
~~
Setibanya di rumah, Ryuzen langsung disambut hangat oleh istri tercintanya. Sara dengan tanpa malu-malu lagi langsung memeluk suaminya yang baru saja pulang itu. Setelahnya, mereka pun langsung ke ruang utama dan duduk sejenak disana, untuk menghilangkan rasa lelah. Air putih yang Sara minta bawakan pada salah seorang pelayan tadi pun akhirnya datang.
"Ini nona air putih yang kau minta," ucap pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih...."
Sara menyodorkan segelas air putih itu pada Ryuzen untuk diminum, "Sayang, ini kau minum dulu." Tapi Ryuzen malah tersenyum, dan meminta Sara untuk memegangi gelas itu agar sang suami bisa meminumnya tanpa harus memegangnya.
"Baiklah bayi besar, ayo habiskan minumnya."
Setelah selesai memeggangi gelas air putih yang airnya sudah habis diminum oleh Ryu, tiba-tiba Sara langsung fokus pada tentengan yang dibawa Ryuzen, yang mana di dalamnya adalah mie ramen pesanannya tadi.
"Apa tentengan makanan itu untukku?" Tanya Sara.
"Ya!"
"Asyik!" Sara nampak kegirangan seperti bocah lima tahun, saat medeapati ramen idamannya itu sudah dibelikan oleh suami tercintanya. Tapi anehnya, saat ramen itu sudah dibuka dan bersiap untuk ia santap, Sara justru terlihat malah jadi tidak nafsu makan saat itu juga. Dirinya justru merasa mual, Sara pun lansung pergi ke kamar mandi untuk muntah. Ryu terlihat sangat khawatir dan panik karena bingung apa yang harus dilakukannya saat ini. Akhirnya ia memutuskan agar Kenzo yang ternyata masih berada di area rumahnya untuk, segera pergi dan membawa dokter Jason datang ke kediamannya segera.
~~
Usai memuntahkan seluruh rasa mualnya, Ryuzen dengan begitu hati-hati menuntun Sara kembali ke ruangan, untuk duduk dan meluruskan kakinya diatas sofa.
"Nona minumlah teh ini agar mengurangi rasa mualmu," ujar Bibi Rachel sambil menyodorkan secangkir teh peppermint untuk Sara.
"Terima kasih bi," balas Sara yang kemudian dibantu oleh suaminya itu untuk meminum teh tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Ryu usai Sara meneguk teh peppermint yang dibawakan oleh bibi Rachel.
"Ya, lumayan lebih baik."
Ryuzen akhirnya bisa kembali bernapas lega, setelah mendengar jawaban dari istrinya itu. Melihat tingkah Ryuzen yang nampak panik, ternyata berhasil membuat Sara tertawa geli.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers kayanya udah banyak yang left dan stop ikutin cerita ini ya, saking lamanya kalo update ya? Tapi aku tetap mau berterima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah dan masih mau setia membaca cerita ini. Sekali lagi author minta maaf karena sering tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian yang masih setia, dan masih sabar untuk membaca cerita sederhana dariku ini hehehe. Tapi tenang, meski mungkin banyak pembaca yang sudah pergi tapi aku akan tetap selesaikan cerita ini kok.
Dan buat kalian yang sudah mau like, comment, dan vote aku sangat berterima kasih atas apresiasinya, tapi boleh juga bantu share cerita ini lho....
Pokoknya sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian. Happy reading fellas and hopefully you like it.
__ADS_1
Buat yang mungkin kepo soal cerita baru aku, bisa follow my instagram account @chrysalisha98 ya... Thank you.😉