
"Dony..., ada yang ingin kau ucapkan nak? "tanya Ibu kepala sekolah.
Arvin melihat ke arah Dony.
"Aku..., aku tahu kejadian sebenarnya," ucap Dony dengan eskpresi agak terlihat takut. Ekspresi Arvin terlihat lebih antusias dibanding sebelumnya setelah melihat Dony berbicara.
"Benarkah? coba kau ceritakan nak," ujar Sara pada Dony.
"Tapi...," ucap Dony ragu-ragu melihat ke arah tiga anak yang dihajar Arvin tersebut yang kini melotot ke dirinya.
"Sudahlah! biar aku di skors saja, tidak ada gunanya juga menunggu pembelaan dari seorang yang pengecut," ucap Arvin melirik ke arah Dony.
Dony mengepalkan kedua tangannya seakan mengumpulkan kebaraniannya. "Aku bukan pengecut!" teriak Dony.
Kemudian Dony pun akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi, hingga alasan mengapa Arvin sampai bisa menghajar teman-temannya tersebut.
*Flashback kejadian sebenarnya
Arvin sedang beristirahat sambil menggambar Seorang superhero di papan gambarnya,
"Paman yang menyelamatkan aku waktu jatuh dari pohon itu sangat keren, dia cocok juga kalau jadi Pahlawan Super" ujar Arvin membayangkan Ryuzen layaknya Superhero.
Namun, saat sedang asyik menggambar Arvin tak sengaja melihat temannya Dony di ganggu oleh Peter, Yori dan Shehan anak-anak yang terkenal suka mem-bully anak lain itu.
Melihat Dony yang diam saja di tindas, Arvin tidak bisa tinggal diam, ia pun menghampiri mereka.
"Jangan ganggu dia!" seru Arvin pada ketiga temannya yang mem-bully Dony.
"Memangnya kenapa? Dia saja tidak protes kami ganggu, kenapa kau yang marah!" ucap Shehan.
"Kalian hanya berani membully orang lemah secara keroyokan, kalian pikir itu keren!" balas Arvin.
__ADS_1
"Kau pikir kau siapa? Pergi sana dasar anak yang tidak punya Ayah!" ejek ketiga anak tersebut.
Arvin ingin marah tapi mengingat dia sudah berjanji pada Maminya untuk tidak membuat masalah di sekolah, akhirnya ia sedikit menahan amarahnya.
"Memangnya kenapa kalau tidak punya ayah? Itu kan bukan urusan kalian! Lebih baik sekarang kalian minggir dan jangan ganggu anak itu lagi!" ujar Arvin yang melirik ke arah Dony.
"Huh dasar kau anak menyebalkan, teman-teman beri pelajaran si anak tanpa ayah ini!" seru Yori pada Shehan dan Peter.
Shehan dan Peter mendorong Arvin hingga jatuh, Arvin tidak membalas dan hanya berdiri kembali, namun Yori kembali memukul Arvin. dan menghina Arvin.
Arvin mulai hilang kesabaran dan balik memukul Yori, hingga mereka ber-empat terlibat perkelahian dan Arvin memukul mereka bertiga sampai menangis.
*Flashback selesai
"Begitukah kejadiannya? " tanya Bu kepala sekolah, memastikan ucapan Dony.
"Iya, aku melihatnya sendiri, Arvin sama sekali tidak memukul mereka duluan. Mereka yang justru menghina Arvin karena Arvin mencoba mebelaku," jelas Dony.
"Hei kau jangan jadi pembohong ya, mana mungkin anak kami yang jelas-jelas dari keluarga terhormat melakukan hal seperti itu," bantah Ibu dari anak-anak nakal itu yang tidak percaya dengan cerita Dony.
"Justru kalian para Ibu yang sudah membiarkan anak-anak kalian belajar berbohong, hanya karena gengsi kalian untuk mengakui kesalahan dan menerima kebenaran."
Sara yang sejak tadi berusaha tetap tenang, kini terlihat lebih emosional dan balik melawan para orang tua murid yang menghina Arvin dan dirinya tadi.
"Nyonya, kalian boleh saja berasal dari keluarga terpandang dan terhormat, tapi ada hal yang kalian harus tahu, baik buruknya seseorang tidak dinilai dari tinggi atau rendanya status sosial yang dimiliki seseorang. Justru baik buruknya seseorang dinilai dari cara seseorang itu berkata dan bersikap."
"Kalian benar, aku memang bukan dari kalangan kelas atas seperti kalian, tapi setidaknya, aku tidak pernah memperlakukan orang lain dengan buruk hanya karena pakaian yang di kenakan orang itu biasa-biasa saja.
"Dan satu lagi, sebagai orang tua terutama seorang Ibu, seharusnya kalian mendidik anak kalian supaya tahu bagaimana cara menghargai dan memperlakukan orang lain dengan baik, bukan malah mendukung mereka ketika mereka jelas-jelas bersalah," terang sara secara blak-blakan.
Ketiga orang tua murid itu pun kini hanya bisa menahan malu dengan segala gengsi mereka.
__ADS_1
"Shehan, Yori, Peter minta maaf pada Arvin!" perintah Ibu kepala sekolah.
Mereka bertiga pun pada akhirnya terpaksa meminta maaf pada Arvin, namun sayangnya orang tua mereka tetap saja bersikap arogan dan pergi dengan tanpa meminta maaf sedikit pun pada Sara.
"Nyonya Chen, sebagai kepala sekolah aku minta maaf atas masalah ini, aku akan menskors ketiga anak itu nanti," ucap Bu kepala sekolah pada Sara.
"Tidak apa Ibu kepala sekolah, kalau begitu aku dan Arvin pamit dulu ya," ucap Sara pada Ibu kepala sekolah.
"Ibu kepala sekolah, aku pulang dulu ya...!" ucap Arvin sopan.
Sara dan Arvin pun meninggalkan sekolah menuju ke Rumah.
Di perjalanan saat menunggu taksi Arvin nampak muram ia enggan berjalan
"Arvin ada apa? Mami tidak marah padamu." ucap Sara lembut
"Mami..., aku jadi berpikir seandainya saja ada Papi, aku yakin pasti tidak akan ada yang berani membully Mami seperti tadi." Dengan tatapan muram Arvin mengatakan hal itu. Tentu saja hal itu membuat Sara ikut merasa bersalah.
"Arvin, maafkan Mami ya," ucap Sara pada Arvin.
Melihat sang mami bersedih Arvin pun berusaha dirinya baik-baik saja.
"Mami tidak perlu minta maaf, aku tidak apa-apa kok, ucapanku soal papi tadi lupakan saja, sekarang lebih baik kita pulang kerumah, aku lapar mau makan masakan mami," ujar Arvin supaya maminya tidak terlihat bersedih lagi.
Arvin memang bisa dibilang cukup dewasa dibanding anak-anak seusianya, dia suka berpura-pura tidak apa-apa, namun sebagai Ibu Sara pun menyadari jauh di lubuk hatinya saat ini dia merasa amat sangat sedih.
Sara selalu ingat setiap dirinya pergi keluar bersama Arvin, dirinya sering mendapati Arvin selalu memandang iri setiap melihat anak seusianya yang pergi bersama dan dengan kedua orang tuanya. Hal itu tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya yang berwarna kecoklatan.
"Mami..., ayo kita pulang!" ajak Arvin pada maminya.
"Baiklah ayo kita pulang, Mami akan masakan makan siang yang lezat untukmu nanti."
__ADS_1
Dan mereka berdua pun pulang meninggalkan sekolah.
Like, comment, vote ๐