
Sara meletakkan, kedua buket bunga tulip yang diterimanya itu secara sejajar di atas meja kerjanya. Buket bunga tulip yang dikirimkan oleh orang tanpa nama itu seolah membuat beban pikiran Sara bertambah, dan rasa penasarannya membuncah.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, apa gunanya orang itu mengirimkanku bunga ini tanpa memberitahukan identitasnya padaku! Ini sama sekali tidak menyenangkan kau tahu wahai pengirim rahasia!" Sara seolah merasa seperti sedang di permainkan oleh sang pengirim bunga. Ia pun sempat berencana membuang bunga-bunga tersebut, tapi dasar Sara yang memang menyukai bunga, ia pun merasa tidak tega, jika harus membuang bunga-bunga cantik ini ke tempat sampah.
Dan alhasil, Sara pun batal untuk membuang kedua buket bunga tersebut, dan memilih untuk memindahkannya ke dalam vas bunga. Saat ingin memindahkan buket-bukek bunga tersebut ke dalam vas, entah mengapa Sara baru menyadari jika, ada secarik pesan yang terselip di tiap buket bunga yang diberikan padanya, yang mana belum sempat ia baca sejak kemarin.
"Aku jadi penasaran dengan apa yang tertulis di kertas pesannya."
Sara mengambil kertas catatan dari buket bunga yang kemarin lebih dulu. Catatan itu dimasukan ke dalam sebuah amplop kecil warna putih gading, dan diberi hiasan pita berwarna karamel yang mengikatnya. Sara pun langsung saja membuka kertas tersebut, dimulai dari membuka ikatan pitanya hingga akhirnya, diambilnya secarik kertas itu dari amplop.
"Apa ya isi tulisannya?" Sara yang penasaran langsung saja membuka kertas itu, dan mulai membaca tulisan tangan yang tertera di atas kertas itu.
Bulu-bulu burung putih kecil itu berterbangan
Sayapnya terluka karena ranting yang tak sengaja menyayatnya
Kini si burung kecil sudah ditinggal oleh kawanannya
Ia sendiri dan sebatang kara
Tanpa berlama-lama Sara langsung membuka secarik kertas yang di sisipkan di buket bunga yang kedua. Kali ini kertas itu berwarna peach dengan pita putih. Dibukanya kertas yang kedua itu oleh Sara dan mulai dibacanya.
Pelangi bagiku terasa tidak nyata
Bintang berpijar pun tak ayalnya hanya cahaya yang bergelantung di atas langit yang berkuasa
Tapi kau yang datang padaku meski sekali saja aku ingin bilang.
Hei aku merindumu stroberi manis kecilku.
Sara diam sejenak setelah membaca kata-kata yang tertulis di kertas-kertas tadi. Dirinya merasa kagum pada tulisan itu tapi tetap saja ia kesal, karena tidak tahu siapa pengirimnya.
"Tulisnnya indah, sepertinya... dia juga orang yang romantis. Tapi siapa? Bahkan dia tidak memberikan inisial namanya di kertas itu. Kalau sudah begini, sepertinya memang aku harus cari tahu sendiri," ujar Sara yang mulai meletakan bunga-bunga tulip itu di dalam vas.
~~
Jesper akhirnya tiba di kota Montegi. Setelah pesawat yang di tumpanginya landing ia pun langsung menghubungi relasinya, dan meminta sopir untuk mebawanya ke apartemen miliknya yang sudah lama ia tinggalkan. Di sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Jesper terus saja memandang ke luar kaca jendela mobil, memandangi tiap pemandangan yang ia lewati.
__ADS_1
Sudah setahun, tapi aku berasa baru pergi kemarin. Ternyata tidak terlalu ada banyak yang berubah di kota ini hanya...
Tiba-tiba senyum getir terlukis di bibir Jesper, dirinya yang awalnya terlihat sumringah, langsung terlihat sendu kala mengingat satu nama di benaknya saat ini. Benar, memang tidak ada yang berubah di kota ini, termasuk perasaanku padanya yang juga belum berubah hingga sekarang.
"Sara...apa saat aku tidak ada sesekali kau pernah ingat padaku?" Lirihnya penuh harap.
~~
Ryuzen datang menjemput Sara di c-lovely. Setelan jas yang melekat sempurna di tubuhnya yang gagah, ditambah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Ryu, membuat pesonanya tidak mungkin bisa terelekaan saat Ryu keluar dari dalam mobil mewahnya yang terparkir di depan area toko. Tak ayal, mata para pengujung toko pun tertuju pada suami Sara itu. Beberapa dari mereka bahkan sibuk menebak-nebak siapa pria yang kini berjalan masuk ke c-lovely.
Thomas yang melihat kedatangan Ryuzen pun, dengan cepat langsung memanggil Sara yang kini sedang berada di rumah kaca.
"Nyonya Han, suamimu datang tuh! Saking kuat kharismanya beberapa customer wanita jadi heboh sendiri!" Ujar Thomas.
"Eh? Kenapa dia tidak menelponku saja, kenapa malah langsung kemari?" Tanpa banyak bicara Sara tentu saja langsung bergegas untuk menemui snag suami yang sudah datang menjemputnya itu.
~~
"Ryu...!" Panggil Sara sambil berjalan menghampiri Ryuzen yang tengah berdiri bersandar di dekat meja tempat Sara biasa mengerjakan pekerjaannya. Ryuzen pun meneggapkan tubuhnya guna menyambut Sara yang kini sudah mendekat pada dirinya. Dipeluknya langsung wanita itu oleh Ryuzen.
"Eitss...!" Sara menghalangi bibir Ryuzen yang baru saja mau menciumnya.
"Kau ini, kalau ada yang lihat kita seperti tadi bagaimana?"
"Biar saja, aku tidak peduli!" Jawab Ryuzen dengan entengnya.
Huh dasar arogan!
"Kenapa kau tidak menelponku saja?"
Ryuzen memeluk Sara ke dalam kedekapan tubuhnya, yang mana hal itu membuat Sara jadi terlihat sangat mungil. "Kenapa aku harus! Aku kan suamimu."
"Baiklah... kalau begitu, aku bersiap dulu ya... kau tunggu saja di mobil," pinta Sara pada Ryuzen, yang tiba-tiba saja matanya tertuju pada bunga tulip yang ada terpajang di dekat meja Sara.
"Bunga tulip ini bukan untuk dijual? Kenapa di letakan disini?" Sara bingung harus bilang apa, pasalnya ia juga masih belum tahu dari mana sebenarnya bunga-bunga itu.
"Um... ituー"
__ADS_1
*Suara dering ponsel berbunyi.
Sepertinya, Sara harus berterima kasih pada dering ponsel Ryuzen. Karena berkat ponsel yang berdering itu, setidaknya dirinya bisa lepas sejenak dari pertanyaan Ryu yang pasti akan mengintimidasinya.
"Aku angkat telepon dulu! Setelah ini kita berangkat ke rumah sakit!" Kata Ryuzen yang kemudian keluar untuk menerima panggilan telepon.
"Huft! Syukurlah untung saja..." Sara menghela napas karena merasa sedikit lebih lega.
~~
Ryuzen terlihat tengah menerima telepon yang entah dari siapa itu sebenarnya.
"Halo!" Wajah Ryuzen tampak begitu serius kala menerima panggilan tersebut. Sepertinya ada hal serius yang sedang dibicarakannya dengan sang penelpon
"Itu saja?"
"Baiklah, jika kau sudah dapat informasi baru segera hubungin aku!"
Ryuzen pun langsung menutup panggilan tersebut.
Kenapa ini bisa terjadi bersamaan dengan masalahku yang lain!
"Ryu...!" Ryuzen menoleh kebelakang, ternyata Sara sudah siap untuk berangkat cek kandungan hari ini.
"Telepon dari siapa?" Tanya Sara ingin tahu.
"Bukan siapa-siapa, lebih baik ayo kita segera berangkat," tukas Ryuzen yang kemudian menggandeng sang istri untuk diantar ke dokter.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...
Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.
Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
__ADS_1
FYI : Bulan ini sepertinya aku akan keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏