
Sementara di villa, Alin masih terus menemani dan menenangkan Sara, agar tidak berpikir macam-macam selagi menunggu kabar dari Ryuzen dan yang lainnya. Mata Sara yang terlihat sembab, karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, toba mulai kembali mendung.
"Kenapa aku sampai tidak tahu kemana anakku sendiri berada Kak? Orang tua macam apa aku ini?" Sara terus menerus menyalahkan dirinya, Alin pun mencoba membuat Sara berhenti menyelahkan dirinya. "Kau bukan orang tua yang gagal sayang, kau wanita yang hebat. Aku rasa itu yang akan di ungkapkan Arvin pada dirimu. Jadi ku mohon jangan menyalahkan dirimu terus menerus."
"Tapi kenapa? Kenapa dia tiba-tiba hilang, apa dia marah padaku? Apa aku memarahinya terlalu keras? Atau apa jangan-jangan dia...?"
"Sara...tolong kau jangan sampai berpikir yang macam-macam ya. Aku yakin Ryu dan yang lainnya pasti akan menemukan Arvin, jadi aku mohon kau jangan memikirkan hal yang macam-macam lagi. Lebih baik kita berdoa, dan berharap semoga mereka berhasil menemukan Arvin dan segera kembali bersama kita."
Sepertinya perkataan Alin bisa membuat Sara, nampak sedikit lebih tenang.
"Terima kasih ya kak! Seharusnya aku percaya, dan tidak berpikir macam-macam" Balas Sara sambil tersenyum sebisa yang ia lakukan.
*Kring! Terdengar suara bel berbunyi. "Mungkin itu mereka yang sudah kembali?"
"Iya sepertinya kau benar kak! Aku bisa mendengar ada suara Ryu juga dibawah! Aku yakin pasti mereka sudah menemukan Arvin." Sara yang sudah tidak sabar, langsung saja dengan terburu-buru beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari kamar menuju ruangan dimana terdengar suara Ryu dan yang lainnya saat ini.
"Astaga! Dia berlari tergesa-gesa begitu dalam keadaan sedang hamil, Sara...Sara..., kau memang istri yang istimewa," komentar Alin melihat Sara yang berlari tanpa sadar dirinya tengah hamil.
~~
Setibanya Sara di ruangan tempat dimana Ryuzen dan kawan-kawannya baru saja tiba, matanya langsung tertuju pada sosok pria kecil yang berdiri di dekat Ryuzen. Dengan perasaan lega bercampur senang, Sara pun langsung berjalan mendekat dan memeluk pria kecilnya itu, dengan segenap rasa syukur karena sang putra sudah kembali bersamanya saat ini.
"Syukurlah kau baik-baik saja sayang...! Aku benar-benar mengkhawatirkan mu."
"Maaf mami, sudah membuatmu khawatir," balas putra kecilnya itu. Sara melepaskan pelukannya. Mencoba mengusap air matanya, namun sebaliknya, Sara malah menitikan kembali air matanya, karena rasa terharunya yang tidak tertahan. Sara kembali memeluk Arvin. "Kau sebenarnya kemana? Kau hampir membuatku mati tau tidak! Aku takut kehilanganmu sayangku..," pungkas Sara.
Arvin mengusap punggung sang mami yang kini memeluknya sambil berlutut dengan kedua kakinya.
"Sudah ya mami, jangan menangis lagi. Aku kan tidak kemana-mana, aku juga baik-baik saja kok! Tadi aku hanyaー"
"Tunggu dulu! Kenapa pakaianmu basah semua begini? Ada apa sebenarnya?"
Arvin tertegun mendengar sang mami akhirnya bertanya apa yang terjadi padanya.
"Sara, sebenarnya diaー"
"Suamiku, tolong ya... kalau aku sedang menginterogasi putraku kau jangan malah mencoba membelanya."
"Baiklah..." jawab Ryuzen pasrah. Jason tertawa kecil, melihat sahabatnya yang terkenal sadis dan dingin itu, ternyata takut pada istrinya yang sedang serius.
"Tertawa lagi, aku hancurkan tempat penelitianmu Jason!" Ucap Ryu yang tahu jika Jason menertawainya.
Dasar pria kejam, dan licik! Dikit-dikit mengancam, huh! Bantin Jason.
Sara masih menunggu penjelasan dari Arvin, perihal pakaiannya yang kenapa jadi basah kuyub seperti ini.
"Arvin Han, tolong jawab ketika mamimu ini bertanya padamu?"
"Um..., sebenarnya...." Arvin tampak memutar bola matanya, seperti tengah memikirkan apa yang ia katakan.
"Sebenarnya apa Arvin?"
"Sebenarnya, aku tadi main jauh sampai hampir hilir sungai karena mengikuti seekor berang-berang. Lalu karena terlalu asyik bermain dan tidak sadar jika kondisinya agak licin, alhasil aku jadi tercebur di pinggiran sungai, dan jadilah baju basah. Selesai."
"Jadi ini adalah cerita tentang pria kecil yang tercebur karena berang-berang?"
"Hihihi...."Arvin hanya bisa cengar cengir, sambil berharap sang mami tidak marah padanya.
"Haiss..." Sara tampak ingin memarahi Arvin. Namun rasa senang dan leganya karena anaknya itu baik-baik saja, membuatnya mengurungkan niatnya tersebut. Ia malah kembali memeluk putranya itu dengan penuh rasa syukur karena, putrannya kini telah ada bersamanya.
__ADS_1
"Maaf ya mami..." sesal Arvin.
"Mami sudah memaafkanmu nak," balas Sara.
Sara kemudian meminta Arvin agar segera berganti pakaian agar tidak masuk angin.
"Kalau begitu aku ganti pakaian dulu ya." Kata Arvin yang kemudian bergegas pergi.
"Oh iya sementara aku mau buatkan minuman hangat untuk Arvin. Jason, nanti tolong kau periksa tubuh Arvin ya! Aku takut dia terkena flu karena basah kuyub," terang Sara.
"Oke Bu Boss!"
Tiba-tiba Sara menghampiri Ryu yang berada di dekat Jason, dan memberi kecupan singkat di pipi Ryuzen lalu tersenyum dan berkata, " Terima kasih ya sayang, karena kau sudah tepati janjmu untuk menemukan Arvin."
Ryuzen balik membelai rambut sang istri. "Selain karena janji, menjaga dirimu dan Arvin memang sudah jadi tanggung jawabku jadi... kau tidak perlu berterima kasih. Tapi... karena kau sepertinya ingin sekali berterima kasih. Aku rasa kau bisa berterimakasih, dengan cara memberikan imbalan padaku."
"Maksudnya?" Sara menyipitkan matanya tampak mulai curiga.
"Imbalannya nanti malam di atas ranjang ya sayang," bisik Ryuzen di telinga Sara. Dan hal itu sontak membuat wajah Sara tiba-tiba memerah.
"Ba- baiklah kalau begitu aku mau buatkan minuman hangat dulu untuk Arvin!" Ujar Sara, sambil kabur bergegas menuju dapur karena malu mendengar perkataan Ryuzen barusan.
"Kau habis bicara apa pada istrimu?" Jason penasaran dengan apa yang di ungkapkan oleh sahabatnya itu, hingga bisa membuat wajah istrinya memerah dan salah tingkah.
"Yang pasti ucapan yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah punya pasangan. Jelas kau pasti tidak akan tahu, Makanya kau cari pacar sana," balas Ryuzen dengan entengnya.
"Lidahmu itu kalau tidak buat orang kesal apa tidak bisa huh?!" Jason kesal dibuatnya.
--
"Tuan, maaf aku terlambat!" Ujar Kenzo yang tiba-tiba saja datang dan meminta maaf, dengan napas yang masih terengah-engah.
"Tidak apa Kenzo semuanya sudah baik-baik saja," balas bosnya itu.
Sudah nanti saja aku jelaskan, sekarang lebih baik kita semuanya segera ke ruang makan. Karena setelah makan siang kita akan kembali pulang.
~
Dikamar, Arvin baru saja selesai berganti pakaian. Kini penampilannya sudah kembali bersih seperti biasanya. Saat hendak keluar tiba-tiba pikirannya kembali teringat akan kejadian, dimana dirinya jatuh ke dalam sungai.
"Untung saja, pria itu datang menolongku! Kalau tidak...." Gumam Arvin, yang tiba-tiba tesentak kaget karena kemunculan Sara yang tiba-tiba di depan kamarnya dengan membawa segelas minuman hangat.
"Kalau tidak apa?"
"Mami, kau mengagetkan aku saja!"
"Oh iyakah? Maaf ya kalau begitu. Tadi kau mau bicara apa?
"Oh tidak kok, hanya sedang teringat sesuatu."
"Oh!"
Huft, hampir saja aku keceplosan soal diriku yang sebenarnya di depan mami. Arvin menghela napas lega.
"Oh iya, kenapa kau malah bengong disini dan bukannya pergi ke ruang makan? Semuanya sudah menunggumu lho di ruang makan."
"Benarkah? Baiklah aku memang berniat untuk ke ruang makan lansung."
"Tunggu!" Sara menghentikan langkah Arvin.
__ADS_1
"A- ada apa lagi mami...?" Ryuzen gugup diberhentikan oleh maminya tiba-tiba.
Ternyata Sara sengaja menghentikan putranya itu, karena ingin menyuruhnya minum jahe hangat yang sudah ia buatkan tadi, sebelum dirinya makan.
"Sebelum makan, minumlah ini dulu, supaya tubuhmu kembali hangat." Karena tidak ada pilihan lain, Arvin pun menuruti maminya tesebut dan meminum air jahe hangat itu hingga tak tersisa. "Yikss! Rasa rempah!" ujar Arvin yang memang tidak terlalu suka bau rempah.
~~
Setelah makan siang selesai, semuanya pun akhirnya pulang kembali ke kota, dengan kendaraan masing-masing. Begitupun dengan keluarga kecil Ryuzen, yang kini sedang ada di perjalanan menuju pulang ke kediamannya. Sara sesekali menolehkan kepalanya ke kursi belakang, Tampak Arvin yang ada di kursi belakang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Pasti dia sangat kelelahan!" Sahut Ryuzen.
"Iya kau benar!" Terdengar suara Sara menghela napasnya.
"Ada apa, apa kau lelah?" Tanya sang suami, sambil mengusap lembut pundak Sara dengan satu tangannya yang tidak memegang kemudi.
Entah pengaruh dari mana, tiba-tiba saja Sara melontarkan sebuah pertanyaa yang sulit bagi Ryuzen, "Ryu, apa kau yakin Arvin benar-benar hanya tercebur di sungai?"
"Kenapa kau tiba-tiba bicara begitu?" Tanya Ryuzen tetap tenang.
"Entahlah, hanya saja aku sepertinya tidak yakin dengan penjelasan Arvin tadi, sepertinya dia menutupi sesuatu dariku," jelas Sara.
"Begitu ya? Tapi aku rasa Arvin berkata benar," Ryuzen sebenarnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nyatanya, yang dikatakan Arvin pada Sara memang benar namun bukan sebetulnya.
"Aku harap itu semua hanya pikiran negatifku saja."
"Kau jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam ya," Kata Ryuzen sambil menggenggam tangan Sara.
"Ya! Kau benar!" balas Sara membenarkan apa yang dikatakan Ryuzen.
Maafkan aku Sara..., aku belum bisa menceritakan padamu bahwa sebenarnya, Arvin bukan hanya tercebur melainkan hampir saja kehilangan nyawanya saat tenggelam di sungai. Ryuzen kembali mengingat kronologi saat dirinya dan kedua sahabatnya itu akhirnya menemukan Arvin di dekat sungai.
**Flashback on**
Ryuzen yang sudah mencari di sekitar sungai yang ia yakini jika Arvin ada disini, tiba-tiba curiga dengan batu besar tempat Jason dan Yoshiki bersandar. Ia pun meminta kedua sahabatnya itu memeriksa, apa yang ada dibalik batu besar yang entah baginya mencurigakan itu.
"Ryu! Cepat kau kemari!" Seruan Jason yang terlihat sangat serius itu membuat Ryu bergegas datang.
"Ada apa?" Kata Ryuzen menghampiri Jason yang kini sedang berjongkok dibalik batu tersebut. Mata Ryuzen seketika terbelalak lebar, melihat seseorang yang terbaring kaku dan sedang ditangani oleh Jason saat ini.
"Arvin!" Ryu segera ikut bejongkok dan bertanya pada Jason soal keadaan putranya itu.
"Apa yang terjadi padanya?" Ryuzen terlihat panik, meski tidak menunjukkannya secara langsung, tapi hal itu terlihat jelas dari sorot matanya yang berwarna abu-abu kecoklatan jika dirinya panik.
"Aku belum tahu persis! Tapi jika diterawang dari denyut nadi, dan kondisi tubuhnya yang basah kuyub, sepertinya dia habis tenggelam. Jason terus mencoba menyadarkan Arvin yang pingsan karena hampir kehabisan oksigen sebelumnya. Ryuzen pun ikut menepuk pipi putranya yang belum juga sadarkan diri itu.
"Ayolah...! Bagun nak! Aku mohon..., mamimu sedang menunggumu saat ini. Aku mohon bagun!"
"Uhuk! Uhuk...!" Tubuh Arvin mulai bereaksi. Perlahan ia mulai membuka matanya. Meski penglihatannya samar-samar, tapi dirinya jika sosok pria yang dilihatnya itu adalah pria yang sangat dikenalnya. "Pa- papi...?" Ryuzen seolah baru bisa bernapas lega, setelah Arvin menyebut namanya barusan.
"Arvin!" Ryu langsung membantu Arvin untuk membangunkan tubuh. Putra semata wayangnya yang biasa terlihat aktif dan ceria itu, saat ini nampak begitu lemah tak berdaya, dan menggigil karena efek pakainnya yang kini basah kuyub. Sadar akan hal itu, Ryuzen pun dengan cepat langsung membuka mantel yang melekat di tubuhnya, dan menggunakanya untuk membungkus tubuh putranya yang saat ini kedinginan.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
__ADS_1
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
Happy reading and hopefully you like it 😊