
Sara dan Ryuzen tiba di ruang makan, Ryuzen masih saja menggendong Sara dengan kedua lengannya.
"Ryuzen mereka menatap kita," bisik Sara.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu kami," terang Ryuzen pada semuanya.
Semua orang yang telah duduk di meja makan pun hanya bisa menatap malu-malu melihat Ryuzen dan Sara, kecuali pria yang duduk di salah satu kursi meja makan itu. Dialah Rony, sudah pasti Rony tak akan sudi menatap sama sekali Sara dan Ryu yang terlihat mesra saat ini. Dirinta hanya diam sambil menatap alat makannya dengan tatapan dingin.
"Ryuzen, Sara," Sapa kak Miya
"Apa kabar Kak?" balas Sara yang sudah tak lagi digendong oleh Ryuzen, dan hendak menarik kursi untuk ikut makan malam.
Sara segera menarik kursi kemudian duduk di sebelah Ryuzen, yang duduk di sebelah nenek Ivy yang duduk di tengah ujung meja makan yang berbentuk persegi panjang itu.
"Oh iya dimana Arvin?" tanya Sara melihat Arvin dan Kenzo yang ternyata juga belum datang. Dan panjang umur mereka, karena beberapa saat kemudian mereka datang.
"Maaf kami terlambat!" ucap Kenzo yang baru datang bersama Arvin.
__ADS_1
"Arvin, kau sudah cuci tangan?" tanya Sara.
"Sudah," ungkap Arvin yang kini sudah ikut duduk bergabung untuk makan malam. Arvin duduk berhadapan dengan Rony yanga ada di seberang mejanya.
"Uh...! Paman Rony?" ucap Arvin yang baru tahu ada Rony juga ikut makan.
"Arvin, panggil dia kakak!" ujar Ryuzen tanpa ekspresi.
"Kakak? Oh jadi, keponakan yang dimaksud papi itu adalah paman, eh maksudku, Kak Rony ya...?" ungkap Arvin.
"Arvin, aku paman Henri" ucap Henri Ang memperkenalkan diri.
"Halo Paman Henri, halo Bibi Miya aku Arvin Chen!" kata Arvin memperkenalkan dirinya.
"Arvin nama margamu...?" ucap Henri.
"Kak henri, aku rasa sekarang bukan saatnya membahas itu!" tegur Ryuzen mengingatkan kakak iparnya.
__ADS_1
"Ryu benar, lebih baik sekarang kita mulai makan malamnya saja ya?" usul nenek Ivy.
Akhirnya mereka pun mulai makan malam. Semua orang terlarut dalam suka cita menikmati makan malam bersama, kecuali Rony. Dirinya seolah tengah terbakar bara panas melihat Ryuzen dan Sara yang bersikap mesra di hadapan matanya.
"Kau! kenapa aku tidak pernah bisa mengalahkanmu? Kau selalu saja mendapatkan yang kau mau, bahkan wanita yang harusnya berdampingan dengaku malah berdampingan denganmu. Dan kau Sara... apa yang kau lihat dari pamanku? Dia bukan pria baik, dia bahkan yang merenggut mahkotamu dengan paksa hingga kau harus menanggung beban berat sendirian selama bertahun-tahun, tapi kenapa kau malah memilihnya!"
Rony mengatupkan gerahamnya untuk menahan segala amarah saat ini. Dari mejanya Arvin dapat melihat Rony tak menyentuh makanannya sama sekali. Arvin pun bertanya, "Kak Rony kau tidak makan, apa kau tidak suka dengan makanannya? "
"Rony... kau tidak suka dengan menunya kah?" tanya Sara juga, dengan pontan.
"Tidak Sar... maksudku Bibi, aku suka makanannya, aku hanya sedang tidak terlalu lapar saja makanya jadi tidak begitu nafsu makan," balas Rony.
"Cih! Apanya yang bibi, usianya saja hampir sama denganku bahkan lebih muda. Dan sekarang aku harus memanggilnya dengan sebutan bibi? Menggelikan!" umpat Rony.
"Heh, tidak nafsu makan atau tidak suka melihatku dengan Sara berduaan?"
Ryuzen nampak tak suka melihat istrinya itu memberi perhatiannya pada Rony, ia pun hanya bisa menahan rasa cemburunya di dalam situasi itu.
__ADS_1
🌹🌹🌹
LIKE, COMMENT, VOTE YA TEMEN-TEMEN! MAKASIH 🙏