
Setibanya di pintu masuk utama mansion tersebut, nampak jelas seorang pria dan juga wanita paruh baya yang sudah menunggu di depan pintu masuk. Merekalah paman Yohan dan bibi Saura yang memang ditugaskan oleh Ryuzen untuk menjaga mansion ini sejak beberapa bulan lalu selesai dibangun.
"Selamat datang Tuan muda, Nyonya, dan Tuan kecil," ucap kedua orang tersebut menyapa kehadiran Ryuzen dan keluarga kecilnya.
Sebuah sapaan yang biasa terlontar dari seorang pekerja kepada tuannya. Akan tetapi tidak untuk Sara, bagi Sara yang ia lihat justru guratan wajah pada pasangan itu. Sara menyadari jika paman dan bibi itu nampak canggung melihat Ryuzen yang kini tengah menggendong dirinya di lengannya. Merasa tak nyaman Sara pun langsung menyipitkan matanya dan menatap Ryuzen, tanda agar Ryuzen segera menurunkannya.
Tidak ingin membuat istrinya kesal Ryuzen pun akhirnya mengalah, dan menuruti apa yang di inginkan sang istri.
"Baiklah, baiklah." Ryuzen pun menurunkan Sara dari gendongannya.
"Halo paman, halo bibi," ujar Arvin membalas sapaan Yohan dan Saura.
"Oh Halo tuan kecil, anda ternyata sangat tampan dan menggemaskan," puji bibi Saura diikuti senyum hangatnya.
"Terima kasih bibi, perkenalkan namaku Arvin salam kenal," Arvin memperkenalkan diri.
"Salam kenal tuan kecil, aku Yohan dan ini istriku Saura. Kami yang diminta oleh Tuan Ryuzen untuk bertanggung jawab merawat kediaman ini."
"Iyakah, bolehkah aku masuk kedalam dan berkeliling di tempat ini?" tanya Arvin meminta izin.
"Tentu saja tuan kecil, ini kediaman anda jadi anda bebas kemana saja."
"Benarkah papi?" Arvin mencoba meyakinkan dengan bertanya pada Ryuzen. Ryuzen pun mengangguk, dan tanpa banyak tanya Arvin pun langsung memasuki rumah barunya yang akan ditinggalinya nanti di masa mendatang.
"Ayo kita juga masuk!" Ryuzen mengulurkan satu tangannya menengadah ke arah Sara. Dengan senyum manisnya ia pun menyambut uluran tangan tersebut dengan satu tangannya, dan pasangan suami istri itu pun akhirnya memasuki mansion yang kelak akan jadi istana mereka untuk membina keluarga mereka.
~~
Pertama kali menginjakkan kaki memasuki ruang utama, Sara sudah langsung disuguhkan dengan interior bernuansa skandinavian yang dominan. Ryuzen menuntun Sara dan Arvin untuk mengelilingi tiap ruangan yang ada di dalam mansion.Mulai dari kamar utama, kamar Arvin, ruang tamu, ruang gym, hingga dapur, bahkan ruang kerja dan perpustakaan khusus. Sampai terakhir tibalah mereka di ruang keluarga, ruangan yang dibayangkan Ryuzen kelak akan menjadi ruangan yang dipenuhi dengan canda dan tawa.
Sara tak banyak berkomentar, yang jelas dirinya berhasil dibuat terpesona oleh tiap detail interior ruangan, dimana baginya desain yang tertera terlihat sangat indah dan bisa dibilang sempurna.
"Bagaima?" ujar Ryuzen menoleh ke arah Sara yang berada disebelahnya. Namun ternyata, Sara masih saja sibuk melempar pandangan kagumnya ke seluruh sudut ruangan.
"Sayang...," bisik Ryuzen ditelinga Sara.
"Eh ya maaf," sambut Sara.
"Bagaimana menurutmu desain tempat ini?"
Dengan mata berbinar Sara pun berkomentar, "Ryu, ini bagus sekali..., aku suka sekali dengan desainnya. Apa kau sendiri yang membuat konsep desainnya?"
"Ya!"
Sara mengerutkan dahinya, tanda agak tak percaya dengan jawaban Ryuzen barusan.
"Kau yakin?"
"Kenapa memasang ekspresi seperti itu, tidak percayakah?" balas Ryuzen saat melihat Sara menatapnya dengan ekspresi seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.
"Bukan begitu.... hanya saja, jika aku perhatikan, hampir seluruh desain ruangan yang ada disini, berbeda sekali dengan desain vila constel. Aku kenal jelas, kau itu kan tidak terlalu suka dengan desain seperti ini bukan?"
Ryuzen hanya melempar senyum kecilnya,
"Bagaimana jika kita juga menyusul Arvin yang sudah di halaman belakang?"
"Hum?" Sara masih terlihat berpikir.
"Sudah ikuti aku saja, aku yakin kau akan suka." Ryuzen merangkul Sara dengan lembut dan menuntunnya menuju taman belakan mansion tersebut. Sedangkan Arvin sendiri sudah duluan kesana bersama paman Yohan dan bibi Saura.
Ryuzen dan sang istri pun tiba di depan pintu kaca yang tertutup tirai panjang menjuntai. Ryuzen kemudian dengan sigapnya langsung membuka tirai tersebut. Dan, sontak mata Sara seolah tak bisa berkedip dibuatnya. Bagaimana tidak, saat pintu kaca tersebut dibuka tirainya, dirinya langsung disambut oleh pesona keindahan yang sangat disukai oleh dirinya.
Di depan mata Sara kini terdapat taman bunga, yang mana seolah tengah menyambutnya dari balik pintu kaca tersebut. Ditariknya lembut tangan sang istri, dan dibawanya keluar melewati pintu kaca tersebut, untuk menuju ke taman belakang. Sara tak henti-hentinya memandang kagum atas apa yang dilihatnya saat ini.
"Kau suka kan?" ujar Ryuzen dengan ekspresi datarnya.
"Ryuzen, kau?" Sara masih terlihat bingung ingin mengatakan apa. Saat ini untuk beberapa saat dirinya hanya fokus memperhatikan warna warni bunga yang tumbuh subur di hadapannya saat itu. Berapa macam bunga tumbuh memenuhi hampir sebagian taman. Mulai dari mawar, aster, hingga anyelir tumbuh disana dan ada juga beberapa jenis bunga lain.
__ADS_1
"Aku ingat saat makan malam keluarga waktu itu. Kau bilang ingin sekali memiliki perkebunan bunga sendiri bukan? Maka dari itu, aku sengaja membuatkan ini semua untukmu," jelas Ryuzen.
"Padahal aku hanya spontan bicara, tapi kau mengingatnya hingga saat ini." Sara menoleh ke arah Ryuzen.
"Sayang," ujar Sara manja, yang kemudian langsung memeluk erat suaminya itu.
"Maaf aku merepotkanmu, tapi terima kasih banyak," ujar Sara.
Ryuzen membalas pelukan istrinya tersebut, dan mengendus rambut sara yang lembut dan harum.
"Sara, aku tak mampu memberimu semua yang kau inginkan. Tapi aku berjanji akan memberikan segalanya yang aku mampu lakukan untukmu, dan keluarga kecil kita agar kalian bahagia."
Sara melepaskan sandarannya dan menatap hangat Ryuzen, dengan haru bercampur bahagia.
"Bisa bersamamu dan menjadi milikmu, adalah anugerah terbaik yang Tuhan berikan untukku."
Baru saja mau mencium bibir sang istri, suara teriakan Arvin yang berlari ke arah mereka malah membuat Ryuzen lumayan kesal. Sara yang melihat raut suaminya yang jengkel begitu, sudah pasti hanya bisa terkekeh kecil.
"Papi, hunian ini luar biasa. Ada lapangan basketnya, kolam renang, bahkan area latihan menembak. Aku suka sekali tempat ini!" jelas Arvin pada orang tuanya tersebut.
"Jadi kau mau tinggal disini nantinyaa?" Ryuzen menunduk menatap anaknya tersebut.
"Tentu saja!"
"Bagus!" balas Ryuzen diikuti senyum kecilnya.
Meski Ryuzen terlihat senang, entah kenapa Sara seperti merasakan kegundahan di hati suaminya lewat tatapan yang diperlihatkannya saat ini. Entah apa itu.
Aku tahu kau ingin melindungiku, dan keluargamu dengan kekuatanmu, tapi kau harus tahu, tugasku juga untuk menolongmu sayang.
"Mami," panggil Arvin.
"Oh, iya sayang ada apa?" balas Sara yang tadianya sedikit melamun.
"Mami, kita akan tinggal disini. Tapi kenapa mami terlihat tak semangat begitu?"
Keluarga kecil itu nampak begitu bahagia dan harmonis. Siapa yang mungkin berpikir untuk tega menghancurkannya.
~~
[ Keesokan harinya ]
Sebelum bekerja Ryuzen menyempatkan dirinya untuk menjenguk sang nenek di rumah sakit. Nenek Ivy yang sedang sarapan pun merasa senang karena bisa ditemani oleh cucu kesayangannya.
"Kau tidak memberitahu keadaanku pada Arvin kan?" tanya nenek Ivy yang kemudian kembali menyambut makanan dari sendok yang dipegangnya.
Ryuzen menggeleng.
Dan setelah beberapa saat tanpa terasa nenek Ivy telah menghabiskan sarapannya, Ryuzen pun membantu sang nenek minum dengan perlahan.
"Baguslah, aku hanya tidak ingin ada lebih banyak orang yang khawatir dengan nenek tua sepertiku, yang entah sampai kapan umurku bertahan." Nenek Ivy tersenyum getir.
"Jangan bicara seperti orang mau meninggal begitu! Kau pikir itu lucu?" ucap Ryuzen dengan suara beratnya.
Nenek Ivy menoleh ke arah cucunya dengan tatapan sendu, "Ryu..."
"Hem?"
"Bagaimana anak dan istrimu?"
"Mereka baik, ada apa?"
"Tidak apa, aku hanya berharap kau selalu bahagia bersama keluarga kecilmu itu."
"Pasti! Aku tidak akan sudi menjadi pria yang gagal dalam keluarganya seperti suamimu dan pria itu."
Lagi-lagi tatapan marah penuh kekecewaan yang mendalam terpancar di mata Ryuzen, tiap kali mengingat sang ayah yang hingga saat ini tak pernah ia ketahui bagaimana sosoknya.
__ADS_1
"Kau masih marah pada suami dan anakku?"
"Tidak perlu aku jawab kan?"
"Tidak apa nak, aku tahu perasaanmu, dan aku rasa kau berhak marah atas perbuatan mereka dulu. Tapi cucuku, adakalanya kebahagiaanmu akan terangkai sempurna saat kau sudah merelakan apa yang terjadi. Jadi aku rasa kau--"
"Kau ingin aku melupakan kesalahan pria itu, dan menerima dirinya sebagai ayahku begitukah?"
"Aku tidak mau menentukan pilihan hidup dan nasibmu Ryu, karena aku sendiri tidak mengerti apa pilihan hidupku ini sudah benar atau salah. Aku hanya berpikir, jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, maka kita harus melepaskan segala beban yang memberatkan hati."
Nenek Ivy mengelus kepala Ryuzen.
"Jangan terus menerus menorehkan luka di tempat yang sama. Apalagi saat luka itu belum mengering, karena itu hanya akan menyakitimu."
Ryuzen hanya bergeming mendengar segala ucapan sang nenek.
"Nenek merindukan pria itu?" tanya Ryuzen tiba-tiba.
Seringai kecil terurai di bibir Ivy Han, "Aku seorang ibu, bagaimana mungkin aku tak merindukan anakku yang telah pergi selama ini."
"Dia meninggalkanmu, tanpa memberimu kabar sampai saat ini. Dan kau masih bisa menyebutnya anakmu?" ungkap Ryuzen sinis.
"Ryu cucuku, Jordan itu anakku. Sampai aku mati pun tetap aku akan selamanya menjadi ibunya. Begitupun denganmu, sekalipun kau mengelupas tujuh lapis kulitmu, kau akan tetap menjadi darah daging anakku. Kau tahu kenapa?"
Ryuzen menatap Ivy Han dengan perasaan sesak didadanya.
"Karena itu semua takdir yang tak akan pernah bisa di hindari oleh manusia." Ryuzen hanya bisa terdiam dan merasakan lehernya seolah tercekik.
"Kau tahu Ryu, beberapa hari yang lalu entah itu mimpi atau bukan. Aku merasa Jordan ada di dekatku, menemuiku dan menemaniku disini. Aku merasakan kehadirannya saat itu." Sorot mata Ivy terlihat begitu senang kala menceritakan soal Jordan. Tak mau sang nenek terlalu banyak berharap Ryuzen pun meminta sang nenek untuk beristirahat.
"Nenek sebaiknya jangan terlalu banyak bicara dulu. Setelah ini Jason akan kemari untuk melakukan medical check up. Kak Miya juga akan kemari sebentar lagi, jadi-"
*Tok tok ~
Belum selesai bicara tiba-tiba doker Jason sudah datang.
"Selamat pagi nyonya Ivy," sapa Jason.
"Pagi!"
"Kebetulan kau datang, aku sudah harus ke kantor. Tolong jaga nenek!"
Ryuzen pun segera bangkit dari duduknya, dan kemudian pamit pada sang nenek untuk pergi ke kembali ke kantor. Ryuzen berjalan menuju keluar, sebelum keluar Ryuzen pun sempat berbisik pada Jason, "Ada yang ingin aku tanyakan padamu nanti!"
"Oke," sahut Jason pelan.
"Nenek aku pergi dulu, Jason jaga nenekku!"
"Siap bos!" balas Jason.
"Hati-hati Ryu!" seru nenek Ivy dengan suara paraunya.
Ryuzen pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan nenek Ivy.
~~
"Jadi, kau adalah pemilik dari toko bunga ini?"
Sara yang baru saja melayani pembeli pun sontak dibuat kaget, oleh seorang pria tinggi yang tiba-tiba datang dan berdiri di hadapannya saat ini.
๐น๐น๐น
Thank you for always support me.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, vote, dan comment.
Happy reading and i hope you like it fellas ๐
__ADS_1