Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 147


__ADS_3

Ryuzen akhirnya tiba di tempat yang ia tuju. Siapa sangka ternyata dirinya datang menemui Jordan, apa sebenarnya rencana yang tengah dipikirkan oleh Ryuzen?


Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun segera masuk menemui ayah kadungnya itu. Dan setibanya di dalam, Ryu pun langsung disambut oleh Jiro.


"Kau sudah datang tuan muda? Tuan Jordan sudah menunggumu di ruangannya saat ini. Silakan kau langsung saja ke ruangannya."


"Terima kasih Jiro!" Ujar Ryu yang kemudian, langsung berjalan menuju ruangan dimana ayahnya itu berada saat ini.


~~


Ryuzen sudah berada di depan ruang belajar Jordan Han. Pintu ruangan itu tidak terlalu di tutup rapat, sepertinya memang sengaja tidak di tutup rapat oleh Jordan mengingat dirinya tahu jika putranya akan datang menemuinya.


Merasa yakin pintu itu memang sengaja tidak ditutup rapat, Ryu tentunya langsung saja menerobos masuk ke dalam. Di dalam tampak Jordan dengan pakaian kasualnya yang sedikit oldies namun tetap terlihat cocok dikenakan di tubuhnya. Mungkin tidak berlebihan jika dirinya disebut sebagai kakek modern abad ini.


"Hai...!" Sapa Jordan yang sudah menyadari sejak tadi kehadiran Ryu. Dirinya senang sekali bisa kembali bertemu dengan putra semata wayangnya itu.


"Hai juga!" Tidak disangka, kali ini Ryuzen membalas sapaan ayahnya itu. Sungguh hati Jordan dibuat berdesir hanya karena kata sapaan itu. Senyum tipis pun tak kuasa merekah dibibir pria paruh baya itu.


"Nak... meskipun aku tahu kau benci dengan basa-basi, tapi jujur saja, aku senang sekali melihatmu ada disini menemuiku lagi."


Ryuzen hanya menyunggingkan senyum kecil, menanggapi ucapan Jordan. Entah kenapa tapi Ryuzen kali ini, merasa sudah sedikit bisa menerima kehadiran Jordan sebagai ayahnya. Namun saat ini bukan itu yang ia pikirkan, ada hal lain yang ingin ia katakan pada Jordan soal keselamatan Arvin saat ini. Ryuzen sejatinya datang menemui sang ayah kali ini adalah untuk meminta bantuan Jordan, agar menjaga Arvin selama beberapa hari kedepan.


"Jadi kau ingin menitipkan Arvin padaku dalam beberapa hari ini?" Tanya Jordan yang tidak menyangka Ryuzen akan minta bantuan padanya soal ini.


"Ya!" Tentunya Ryuzen mengambil keputusan ini bukan tanpa alasan. Mengingat tadi, setelah dirinya bertemu Renji, Kenzo tiba-tiba menghubunginnya dan memberitahu jika Biyan Dao saat ini sudah berada di distrik 7. Distrik dimana tempat kediaman keluarga Han dan sekolah Arvin berada.


Ryu tidak ingin Arvin dalam bahaya, mengetahui jika pamannya yang licik itu, pasti sudah tahu kalau Arvin adalah putra kandungnya.


"Aku merasa dirimu yang paling cocok untuk dijadikan tempat berlindung bagi Arvin saat ini. Selain karena kau kakeknya, aku rasa kau salah satu orang yang paling bisa diandalkan untuk menjaga Arvin. Terlebih, tempat ini tidak banyak yang tahu termasuk Biyan," jelas Ryu.


Jadi benar, Biyan datang untuk kembali membuat pembalasan pada Ryu dan keluarganya? Aku tidak bisa biarkan semua ini!


"Kau benar! Selain itu... distrik tujuh adalah distrik yang paling sibuk dikota ini, pasti dia akan lebih mudah menyamar di kerumunan dan melakukan aksi busuknya. Lalu... bagaimana dengan aset ilegal milik Biyan yang ada di luar negeri? Bukankah itu sokongan terbesarnya saat ini? Jika Biyan masih memiliki sokongan besar, aku yakin dia bisa melakukan apa saja untuk menghancurkanmu."


"Oh kau juga tahu soal itu?" Ryuzen tidak terlalu kaget, mengetahui ayahnya juga mengetahui hal itu.


"Aku sudah cukup lama tahu, hanya saja... di luar negara ini bukanlah wilayahku, terlebih black serpents yang sudah bubar, membuatku agak sulit untuk mengakses data rahasia miliknya di luar negeri."


"Kalau soal itu... aku sudah melakukan apa yang seharusnya! Aku sudah mengutus orangku yang berada di Swiss. Mungkin besok aku akan terbang kesana untuk memastikan, jika pihak bank swiss sudah menutup aliran dana gelap milik Biyan yang berasal dari sana."

__ADS_1


Jordan menyeringai seolah tak menyangka. Aku tidak menyangka jika putraku bisa setenang dan sejauh ini bertindak, tanpa ia tahu. Kau luar biasa nak!


"Ada apa?" Tanya Ryu melihat Jordan tersenyum menatapnya.


"Tidak, aku hanya merasa kau begitu luar biasa."


"Aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluargaku! Apapun itu!" Suara Ryuzen terdengar tidak ada keraguan sama sekali.


Kau pria yang luar biasa, aku bersyukur kau tumbuh menjadi pria yang luar biasa dan tidak sepertiku.


"Jadi bagaimana? Kau bersedia menjaga Arvin dalam beberapa hari ini?"


"Tentu saja, kapanpun kau minta aku tentu bersedia." Aku akan lakukan apapun untuk putraku.


"Baguslah!"


Entah kenapa, suasana seolah hening sejenak. sepasang ayah dan anak itu hanya saling berdiam dan membisu.


"Terima kasih!" Jawab keduanya bersamaan.


"Kau berterima kasih untuk apa Ryu?"


"Terima kasih karena sudah mau membantuku!"


"Sudahlah...! Aku harus pergi sekarang. Kemungkinan... beberapa jam lagi Kenzo akan datang mengantar Arvin kemari, jadi kau tunggu saja mereka datang." Ryu pun melenggang pergi dari ruangan Jordan.


"Tunggu dulu, nak!" Seru Jordan.


Alhasil Ryuzen pun sontak menghentikan langkahnya. "Ada apa?"


"Hati-hati, dan terima kasih sudah mempercayakan Arvin padaku."


"Ya! Aku permisi." Ryu pun langsung berjalan pergi. Dari tempatnya berdiri, Jordan memandangi punggung kokoh putranya yang melenggang pergi meninggalkannya, dengan sebuah kepercayaan dari sang putra. Senyuman bahagia tentu saja menghiasi wajah Jordan yang sudah tak muda lagi itu.


~~


Di lain tempat, Kenzo terlihat tengah diperjalanan menuju ke sekolah Arvin untuk menjemput tuan kecilnya itu. Tapi ada yang berbeda kali ini, hari ini Kenzo tidak sendirian, di sebelah ia duduk, tampak Rina yang duduk di sebelahnya. Tapi lucunya, sejak Kenzo menjemput Rina, kedua pemuda itu seolah saling membisu satu sama lain. Rina pun terlihat berkali-kali mencengkeram roknya seperti menahan rasa kikuknya. Rina melirik sebentar ke arah Kenzo yang tengah serius menyetir.


Kenapa dia tidak tanya soal pernyataan cintanya kemarin? Apa dia berubah pikiran, atau hanya usil semata padaku. Rina menghela napas dan tertuduk lesu. Namun dirinya sontak kembali mengangkat kepalanya, saat Kenzo menghentikan mobilnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa kau berhenti Kenzo?" Tanya Rina bingung.


Tanpa menjawab pertanyaannya, langsung saja Kenzo menoleh ke hadapan Rina. Di rengkuhnya kedua tangan gadis itu tiba-tiba, dan ditatapnya sang gadis dengan penuh arti.


"Kenzo ka- kauใƒผ"


"Rina... aku mohon maaf sebelumnya padamu. Tapi sepertinya aku butuh jawabanmu sekarang!"


Dia ingat? "Ja- jawaban maksudmu... tentang..."


Kenzo mengangguk. Rina yang terlihat malu-malu memalingkan wajahnya dan berkata, "Kau bilang kau akan selalu sabar menunggu tapi kenapa sekarang tiba-tiba begini?"


"Soal itu..." Lebih baik aku berkata jujur padanya. "Itu karena besok pagi, aku harus berangkat ke swiss menemani tuan Han."


"Apa!?" Rina sedikit terkejut dengan kemendadakan ini. "Kenapa kau baru bilang hari ini?"


"Bukan begitu...." Kenzo menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia pun akhirnya menceritakan perkerjaannya sebagai asisten Ryu yang sesungguhnya.


"Jadi sesulit itu menjadi tangan kanan orang sepenting tuan Han?" Lirih Rina.


"So...apa jawabanmu?" Kenzo menekankan kembali soal jawaban akan pengakuan cintanya tersebut pada sang pujaan hati.


Rina pun pasrah dan memutuskan menjawabnya. Dikeluarkannya kotak cincin yang diberikan oleh Kenzo kemarin, "Ini kotak perhiasan ini milikmu" kata Rina memberikannya kembali pada Kenzo.


Kenzo tampak muram Jadi aku ditolak ya....?


"Hei jangan sedih, lihat ini!" Rina mengeluarkan sebuah kalung yang dikenakannya itu pada Kenzo. Dilihatnya kalung tersebut dan... seketika Kenzo menganga dibuatnya. "Rina ja- jadi tadi itu, kau...." Kenzo melihat kalung Rina yang ternyata kalung tersebut, menggunakan cincin pemberiannya sebagai bandulnya. Rina tersenyum ke arah Kenzo. "Aku menerima cintamu tuan Kenzo!" Ujar Rina. Mata pria itu seperti berkaca-kaca, spontan ia pun langsung memeluk erat Rina. "Aku cinta padamu Rina...!"


"Aku juga...." balas Rina masih agak malu-malu.


Dan setelah mengungkapkan rasa senang dengan saling berpelukan, kedua pemuda itu pun saling menarik diri. Mereka masih agak malu-malu, tapi entah angin apa yang berhembus, tiba-tiba saja Kenzo mencium kening Rina. Alhasil wajah Rina benar-benar memerah dibuatnya. Ya Tuhan! Dia menciumku... aku benar-benar merasa malu, tapi sekarang dia adalah pacarku...! Rina pun lngsung menghela napas perlahan, agar tidak terlalu terlihat canggung. "Um... Kenzo, bukankah kita mau jemput Arvin?" Tanya Rina memecah suasana yang masih membuatnya canggung itu.


Eh? "Oh iya kau benar, aku harus segera menjemput tuan kecil."


Huft karena terlalu senang aku jadi agak lupa tujuanku. Tapi... aku benar-benar tidak percaya, aku sudah punya pacar sekarang. Heh kau lihat boss aku sudah punya pacar! Kenzo pun tersenyum menoleh ke arah Rina, dan kembali melajukan mobilnya menuju ke sekolah Arvin.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hallo my beloved Readers... masih setiakan sama romansa RyuSara dan teman-temannya? Hehehe.... Author cuma mau ingetin! Jangan lupa kalau habis baca dikasih LIKE, COMMENT & VOTEnya... karena itu berarti buatku...

__ADS_1


Dan jangan lupa juga follow akun instagramku di @chrysalisha98


Happy Reading ๐Ÿ˜ƒ


__ADS_2