Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 109


__ADS_3

"Keren!" Ujar Arvin spontan, melihat peluru yang dilesatkan oleh sang kakek melesat tepat di sasaran tembak. Arvin tampak begitu terpukau melihat betapa sang kakek begitu hebat, melihat kemampuan sang kakek yag tidak jauh beda dengan papinya dalam urusan menembak.


"Kakek kau benar-benar hebat!" Puji Arvin setelah melihat aksi yang baru saja dilakukan oleh kakeknya tersebut.


Arvin pun langsung menghampiri sang kakek. "Bagaimana?" Tanya Jordan pada cucunya itu.


"Itu keren sekali kakek! Kau ternyata memang mahir sekali."


Alhasil cucunya tersebut, berhasil membuat Jordan tersenyum bahagia dibuatnya, karena pujian cucu semata wayangnya tersebut.


"Kau tidak berubah tuan, kau masih sama hebatnya seperti dulu saat masih muda!" Terang Jiro sambil berkelakar menghampiri Jordan.


"Begitukah? Bahkan aku pun tidak menyangka bisa sepeti itu, padahal sudah lama tidak memegang pelatuk. Tanganku sepertinya agak tremor saat menariknya, tadi, " kelakar Jordan yang memang sudah lama sekali tidak menggunakan senjata api. Melihat Arvin yang gembira begitu, Jordan pun menawarkan diri pada sang cucu untuk mengajarinya berlatih cara menembak yang benar.


Tentu saja Arvin dengan senang hati menyambutnya.


"Tapi apa kau yakin, mau di ajari oleh pria tua sepertiku?" Tanya sang kakek menyakinkan.


"Tentu saja, kau sangat hebat kakek! Aku harap kau mau mengajari aku dengan serius."


"Baiklah kalau begitu."


Arvin dan Jordan pun kini bersiap untuk berlatih. Setelah menggunakan semua atribut lengkap dan peralatan latihan menembaknya, Jordan memberikan Arvin sebuah pistol berlaras pendek yang tidak terlalu berat. Ia sengaja memberikan Arvin senjata ringan, mengingat Arvin yang bisa saja terpental karena bobot tubuhnya yang kecil tidak seimbang dengan senjata.


"Kau siap nak?" Tanya Jordan yang kini berada di belakang Arvin. Kakek Jordan berjaga takut-takut sang cucu terpental ke belakang, karena tidak kuat menahan laju peluru saat ditembakan. Jordan pun mulai memberikan aba-aba pada Arvin agar tenang dan tidak tegang.


"Luruskan lenganmu, terutama sikumu harus seratus depalan puluh derajat," suruh Jordan pada cucunya tersebut. Dan saat posisinya yang sudah siap, Jordan meminta Arvin untuk konsentrasi penuh pada sasaran yang akan menjadi targetnya.


"Kau yakin sudah siap menembak?"


"Hem," Arvin mengangguk tanpa ragu, tanda dirinya sudah siap untuk melesatkan peluru itu ke papan sasaran.


*Bang!


Jiro pun langsung memberikan tepuk tangan secara hormat untuk Arvin. "Wah kau hebat juga untuk ukuran seorang anak seusiamu!" Puji Jiro, melihat tembakan Arvin tidak jauh meleset dari sasaran yang seharusnya.


"Kau hebat nak!" Puji Jordan sungguh-sungguh


"Benarkah?" Tanya Arvin yang terdengar senang. Arvin tidak menyangka jika dirinya ternyata bisa menembak ke sasaran itu. Karena penasaran ingin menembak tepat sasaran. Arvin pun meminta tambahan kesempatan lagi.


"Aku boleh coba lagi tidak?" Tanya Arvin.


"Ah kalau begitー"


Saat hendak mengakatakan suatu hal pada Arvin, tiba-tiba saja ponsel Jordan malah berdering. Ia pun mau tak mau harus mengangkat panggilan tersebut.


Sara? Ujar Jordan saat melihat panggilan itu dari ternyata dari Sara.


Jordan : Halo?"


Sara : Ah ayah mertua, kalian sedang apa saat ini?


Jordan : Kami sedang bersenang-senang saja, apa kau mau menjemput Arvin?


Sara : Oh bukan-bukan! Aku hanya ingin tahu apa yang kini sedang kalian kerjakan. Oh iya mana Arvin?"

__ADS_1


Jordan : Oh Arvin ada sedang bersama Jiro.kenapa? Kau ingin bicara dengannya ya?


Sara : Ya, bisa tolong berikan ponsel ini pada Arvin?


Jordan : Tentu saja.


Karena Sara ingin bicara dengan cucunya tersebut. Jordan pun langsung saja memberikan ponselnya itu kepada Arvin. "Ini mamimu ingin bicara denganmu," ucap Jordan sambil memberikan ponselnya pada Arvin.


Arvin : Halo mami, ada apa?


Sara : Tidak ada apa-apa, hanya ingin menelponmu saja. Bagaimana, menyenangkan tidak pergi dengan kakekmu?


Arvin : Menyenangkan sekali! (Arvin begitu semangat mengatakan hal tersebut)


Sara : Kau tidak rindu mamimu kah?


Arvin : Aish...mami kau ini! Tentu saja rindu tapi kan tidak harus juga aku seperti papi yang harus selalu memgatakan rindu saat tidak bersama.


Sara : Hehehe.... aku hanya becanda kok. Oh iya ini hampir masuk jam makan siang. Sebaikanya kau ajak kakekmu dan tuan Jiro untuk siang, aku tidak mau kau sampai telat makan.


Arvin : Baiklah mami....


Sara : Anak pintar!


Arvin : Baiklah mami, apa ada lagi yang harus aku lakukan?


Sara : Tidak ada.


Arvin : Oke, kalau begitu sampai jumpa lagi di rumah ya, Bye mami...!


Arvin mengembalikan ponsel milik kakeknya itu, "Ini kek!"


"Sepertinya menantuku ingin kita untuk makan siang dahulu ya?" Tanya Jordan, mengetahui orbrolan Sara.


"Iya, sepertinya memang begitu Kakek," balasny sambil tertawa menggemaskan.


"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan jika kita akan makan siang dulu."


~~


Di tempat lain, Sara kini juga tengah menikmati makan siangnya dengan para rekannya di c-lovely. Mereka makan di sebuah kafe dekat dengan toko. Thomas, Rina, dan Sara menikmati makan siang mereka sambil mengobrol kecil.


"Oh iya, ngomong-ngomong. Rina kau itu hubunganmu sebenarnya sudah sejauh apa sih dengan tuan Kenzo?" Tanya Thomas tiba-tiba karena penasaran.


Rina yang tengah menyendok makan siangnya itu seketika langsung dibuat memerah wajahnya karena pertanyaan Thomas. "Um.... aku dan tuan Kenzo, kami... "


"Sudahlah jangan malu-malu begitu," ujar Sara seraya menggoda Rina.


"Kalian ini... aku kan jadi malu tahu!" Rina mencoba menutupi wajahnya yang memerah. Melihatnya begitu, Sara dan Thomas malah semakin tidak berhentinya menggoda Rina.


~~


Di perjalanan setelah makan siang, Arvin dan kakeknya memutuskan untuk mampir ke salah satu kedai minuman. Disana Arvin dan kakek Jordan bersantai sejenak sambil menikmati segelas smoothie segar.


"Apa kau senang hari ini?" Tanya sang kakek pada cucunya tersebut.

__ADS_1


"Aku senang! Senang sekali."


"Syukurlah kalau begitu," balas Jordan lega.


Arvin menyeruput smoothienya, dan kemudian kembali bertanya, "Memang kenapa kek, tiba-tiba tanya seperti itu? Bukankah dari raut wajahku ini sudah menggambarkan dengan jelas, jika aku ini senang pergi bersama kakek."


Mungkin Arvin benar, dirinya saja yang berpikiran terlalu jauh. Sehingga selalu khawatir akan hal-hal yang tidak perlu di khawtirkan. Bisa jadi mungkin, ini adalah akibat diri Jordan yang terlalu berpikir jika Arvin adalah Ryuzen, yang pastinya akan sangat tidak bahagia jika pergi bersamanya.


"Ummm... Kakek...."


"Iya?"


"Sebenarnya aku ingin bercerita padamu tentang satu hal. Hanya saja kau harus janji dulu tidak akan memberitahukan apa yang aku ceritakan ini pada mami."


"Okey," balas Jordan mengangguk.


"Janji?"


"Aku berjanji," kata Jordan sambil mengakat dua jarinya berbentuk V.


Arvin pun akhirnya menceritakan tentang dirinya yang kemarin hampir saja mati karena tenggelam terbawa arus sungai. Jordan sudah pasti syok dibuatnya setelah mendengar cerita dari cucunya itu.


"Tapi kau baik-baik saja kan?" Tegas Jordan.


"Iya, aku baik-baik saja kok!"


"Apa Ryu tahu hal ini?"


Arvin mengangguk, "Papi, paman Jason, dan paman Yoshiki tau akan hal ini. Cuma mami yang tidak aku beri tahu, karena aku takut malah akan membuatnya khawatir."


"Lalu... bagaimana caranya kau bisaー"


"Aku ditolong oleh seseorang."


Jordan dibuat mengeryitkan dahinya.


"Se-seorang? Siapa?"


Arvin mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tahu jelasnya siapa. Tapi... yang aku sedikit bisa sadari adalah, waktu itu yang menolongku adalah seorang pria. Ya, dia adalah seorang pria. Hanya saja aku tidak tahu persis bagaimana rupanya saat itu. Karena pada saat aku sudah tersadar dan membuka mata. Ternyata di hadapanku sudah ada papi dan juga paman Jason dan Yoshiki. Aku bahkan sempat berpikir jika papi yang menyelamatkanku, namun saat aku sadar pakaiannya tidak basah, aku yakin pasti yang menolongku jelas bukan papi."


Jordan pun jadi ikut dibuat penasaran oleh cerita cucunya tersebut.


"Sudahlah kek tidak usah terlalu di pikirkan, yang penting sekarang ini aku baik-baik saja kan?"


"Ya, kau benar!" Kata Jordan sambil mengelus kepala cucunya yang kini tengah asyik meminum smoothie.


🌹🌹🌹


Hai my beloved readers...


Terima kasih banyak ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊

__ADS_1


FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏


__ADS_2