
"Semuanya sudah jelas, setelah keluar dari Kota ini lima tahun lalu, Lizo Xiao mengubah identitasnya menjadi Marco Xiao. Dia tinggal di Australia tepatnya di Melbourne, tapi kabar terakhir yang aku dapatkan dari pihak imigrasi Lizo sudah kembali lagi ke kota ini sekitar dua minggu yang lalu," jelas Yoshiki sambil mengelap gelas-gelas champagne miliknya.
"Bagus! dengan begitu, aku jadi tidak perlu repot-repot menariknya ke wilayah permainanku, karena dia sendiri sudah memilih masuk ke wilayah permainanku!" ucap Ryuzen dengan tatapannya yang penuh amarah.
~Kediaman tempat tinggal Sara
Sara dan Rony kini sudah tiba di depan rumah Sara yang sederhana, mereka membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobil. Rony membantu Sara membawakan barang belanjaan yang mereka beli di supermarket tadi.
"Rumahku hanya sebuah bangunan sederhana di pinggir kota, jadi kau jangan berharap akan mendapat suguhan secangkir anggur berkualitas tinggi ya," ujar Sara dengan nada bercanda.
"Ayolah, aku bukan pria seperti yang kau pikirkan," balas Rony sambil mengikuti langkah Sara dari belakang.
*Ting tung suara bel berbunyi
Seseorang membuka pintu dari dalam, munculah Arvin dan menyambut maminya.
"Mami, akhirnya kau pulang," sambut Arvin yang telah menunggu maminya sejak tadi.
*Arvin sudah biasa ditinggal di rumah sendirian, dan hal itu atas kemauannya sendiri.
"Ma..., Mami?" ucap Rony bingung menatap Sara mendengar Arvin memanggil Sara dengan sebutan mami.
"Mami, Paman ini siapa?" tanya Arvin pada maminya setelah mereka semua masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Arvin ini Rony Ang teman Mami," jelas Sara memperkenalkan Rony pada putranya tersebut.
"Ja... jadi, kau benar anaknya Sara?" tanya Rony pada Arvin yang melihat ke arahnya.
"Iya, aku Arvin Chen usia 4 tahun, anaknya Sara Chen," ucap Arvin kepada Rony seraya mengenalkan diri.
"Aku Rony Ang, panggil saja aku Paman Rony, aku teman mami-mu," balas Rony yang masih belum percaya jika Sara ternyata telah memiliki seorang anak sebesar ini.
"Em..., kalau begitu, Rony kau tunggu saja di ruang tamu sambil menonton TV, aku akan masak makan malam untuk kita, dan kau Arvin! Temani Rony mengobrol ya," lanjut Sara yang kemudian langsung menuju ke dapur untuk memasak makan malam.
Rony dan Arvin pun duduk di sofa, Arvin yang sejak tadi memperhatikan Rony malah membuat Rony jadi grogi dibuatnya.
"Selera mami memilih pria bagus juga, tapi kalau dibanding Paman Ryuzen Han tetap paman Ryuzen juaranya!" seru Arvin di pikirannya.
"Aku kan sudah jawab tadi, kau ini kenapa tanya lagi!" Balas Arvin menatap tajam ke arah Rony
"Ayolah bisakah kau tidak menatapku begitu, aku ini bukan penjahat kau tahu!" ungkap Rony yang tidak tahan di perhatikan dari atas sampai bawah oleh Arvin sejak tadi.
Arvin mengangguk-anggukan kepalanya lalu dengan tanpa basa-basi langsung menodong pertanyaan kepada Rony.
"Jadi Paman, seperti apa jenis hubunganmu dengan mamiku?!"
"Eh, apa maksudmu?!" sontak Rony kaget yang ditanya begitu tiba-tiba oleh Arvin.
__ADS_1
"Arvin kau jangan salah paham dulu, aku dan mamimu masih belum, maksudku..., kami hanya masih dalam tahap pertemanan saja. Kedepannya aku juga tidak tahu," balas Rony menjelaskan.
"Jadi hubungannya dengan mami masih sebatas teman, itu berarti kesempatanku menjodohkan mami dengan Paman Ryuzen masih terbuka lebar," pikir Arvin
"Uh, kenapa tiba-tiba ekspresinya begitu ?" batin Rony melihat Arvin diam dengan senyum licik begitu.
Arvin tiba-tiba mendekat ke arah Rony dan tersenyum manis. "Paman, karena kau adalah teman mamiku, itu artinya kau juga temanku, kalau begitu, mari kita berteman ya," ucap Arvin dengan raut wajah yang tadinya tidak ramah berubah jadi begitu manis.
"Ya..., mari berteman," balas Rony dengan senang hati
"Fiuh, ternyata anak ini bisa juga bertingkah dan berekspresi sesuai usianya," ungkap Rony merasa lega karena sudah tidak lagi merasa di interogasi oleh Arvin.
"Kalau kau bertingkah begini, kau terlihat seribu kali lebih menggemaskan," kata Rony sambil mengusap kepala Rony.
Setelah berbincang beberapa saat, Rony dan Arvin terlihat sudah cukup akrab. Sara yang dari jauh memperhatikan mereka diam-diam, kini menjadi sedikit lega.
"Semoga ini akan jadi awal yang baik untuk hubunganku dengan Rony," batin Sara.
Bukan maksud Sara untuk langsung menerima Rony di hatinya. Karena jujur saja, hingga saat ini hati Sara masih belum terbuka sepenuhnya. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, bukan tidak mungkin jika suatu hari dirinya benar-benar akan membuka pintu hatinya untuk Rony. Terlebih Rony sepertinya cukup akrab dengan Arvin.
"Hidup ini memang sulit di tebak, apa yang kau inginkan belum tentu akan kau dapatkan. Begitupun dengan perasaan manusia, kita tidak akan pernah bisa tahu kapan benih di dalam hati itu akan kembali tumbuh dan mekar, setelah sekian lama dibiarkan gersang."
ββ
__ADS_1
Yang suka jangan lupa Like, comment, vote π