
~Sekolah Arvin
Setibanya Sara di sekolah Arvin, dirinya langsung dengan segera menghadap ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada beberapa orang tua murid lain dan tentunya Arvin serta ketiga bocah teman Arvin yang kini sedang menangis.
“Arvin!” panggil Sara saat memasuki ruangan kepala sekolah.
“Mami...!" balas Arvin kaget maminya datang.
“Oh jadi kau Ibunya anak urakan ini?" ucap salah satu orang tua murid yang ada di ruangan itu kepada Sara.
“Maaf nyonya, siapa yang kau sebut anak urakan?”
Sara merasa terganggu dengan ucapan salah satu wali murid ini. “Tentu saja putramu itu, dan kau sebagai Ibu, apa tidak bisa mendidik putramu dengan baik, huh? “ sahut salah satu wali murid tersebut.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Sara bingung melihat para orang tua anak-anak ini sepertinya marah, ditambah ada 3 anak teman sekelas Arvin juga menangis.
Sara melihat ke Arah Arvin yang sejak tadi hanya diam tanpa berekspresi apapun.
"Bu kepala sekolah, bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa nyonya-nyonya ini terlihat marah sekali pada Arvin?" ucap Sara meminta bu kepala sekolah menceritakan permasalahannya.
"Nyonya Chen, aku tidak tahu kronologinya tapi mereka bertiga (teman arvin yang menangis) bilang, Arvin menghajar mereka sampai menangis," jelas Ibu kepala sekolah.
"Kau dengar nyonya! putramu itu sudah berbuat kasar kepada anak-anak kami. Kau sebagai Ibunya seharusnya malu! Karena telah gagal mendidik anakmu!" ujar salah satu Ibu dari ketiga anak yang menangis itu.
"Tunggu sebentar nyonya, tapi apa kalian sudah tahu persis apa sebenarnya yang terjadi, bisa saja ini semua ketidak sengajaan yang biasa terjadi dilingkungan bermain anak-anak," ucap Sara yang tidak percaya Arvin melakukan itu semua tanpa sebab.
__ADS_1
"Jadi kau masih mau membela anakmu yang barbar itu ya? Jelas-jelas anak kami korban keganasan putramu. Cepat! suruh putramu meminta maaf atau jika tidak, putramu harus dikeluarkan dari sekolah ini!" ujar salah satu orang tua murid tersebut.
"Ya betul, kami tidak rela anak-anak kami berada satu lingkungan dengan anak urakan seperti dia!" balas orang tua murid satunya lagi sambil memandang Arvin dengan tidak suka.
"Nyonya-nyonya sabar dulu, kita bisa selesaikan semuanya baik-baik," ucap Bu kepala sekolah mencoba mengkondusifkan suasana.
Sara yang sejak tadi hanya melihat Arvin dengan tatapan dingin dan tidak berbicara pun mencoba bertanya pada Arvin, "Arvin sayang, apa benar kau memukuli teman-temanmu tanpa sebab?" tanya Sara lembut pada putranya.
"Tidak!" jawab Arvin singkat tanpa ekspresi
"Dia bohong! dia yang memukuli kami, padahal kami tidak melakukan apa-apa, hua...," ucap seorang anak sambil menangis.
"Kau lihat sendirikan! Cepat suruh anakmu minta maaf!" ujar salah seorang Ibu dari tiga anak itu.
"Arvin ayo minta maaf nak, " pinta Ibu kepala sekolah
"Arvin...," batin sara melihat putranya emosional seperti itu,
Sara sangat mengenal Arvin, putranya tidak akan melakukan hal itu dengan sengaja kalau bukan tanpa alasan, tapi Sara tidak tahu apa alasannya.
"Sudah salah tidak mau minta maaf, benar-benar anak yang tidak punya sopan santun!" cibir salah satu orang tua murid dengan tatapan sinis itu.
"Heh, tidak heran sih kalau anak ini tidak punya sopan santun. Lihat saja pakaian ibunya, pasti dari keluarga menengah kebawah yang tidak paham tata krama dan berpendidikan rendah," sahut orang tua satunya lagi.
"Iya benar, lihat saja pakaiannya, benar-benar biasa sekali, aduh kenapa bisa sekolah ini menerima murid yang Ibunya saja gagal mendidik anaknya," sahut Ibu lainnya ikut merendahkan Sara.
__ADS_1
Melihat maminya di hina, Arvin tidak bisa tinggal diam ia pun marah dan berteriak,
"Baik aku akan minta maaf! Tapi berhenti kalian menghina Mamiku!" teriak Arvin.
"Arvin...," ucap Sara lirih melihat apa yang dilakukan Arvin.
"Begini saja, ayo kita tanya teman di kelas apa yang sebenarnya terjadi," Saran ibu Kepala sekolah.
"Oke," ucap para orang tua murid yang dipukuli oleh Arvin.
Sesampainya di kelas Bu kepala sekolah bertanya, kepada murid lain tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak ada yang bicara 1 pun.
Hingga salah satu gadis teman sekelas Arvin yang bernama Chika berkata,
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang aku tahu Arvin tidak pernah memukul seseorang, kalau bukan orang itu mengganggunya lebih dulu," terang Chika.
Arvin tetap diam dengan ekspresi dinginnya.
"Bu Kepala sekolah sudah jelas anak urakan itu salah, gadis itu berbicara begitu pasti karena takut oleh anak urakan ini!" ujar salah satu dari 3 nyonya tersbut. Dan diikuti dua orang nyonya lain yang ikut mengiyakan.
Karena tidak ada saksi yang bicara apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya Bu kepala sekolah dengan berat hati akan menskors Arvin sebagai hukuman karena telah menghajar temannya tanpa sebab. Tiba-tiba, sebelum Bu kepala sekolah membuatkan surat skorsing untuk Arvin, seorang murid berkacamata yang duduk di pojok kelas berdiri dan beteriak
"Ibu kepala sekolah!"
Bersambung....
__ADS_1
Like, vote, comment ya... 😘