Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 47


__ADS_3

Mata Sara masih terus saja memandangi Rony yang kini semakin jauh beranjak pergi meninggalkannya. Senyuman hangat pun perlahan merekah di bibir Sara.


Mungkin memang harus seperti ini. Aku pun tidak paham bagaimana harusnya menjalani takdir, tapi aku selalu percaya, hal yang baik akan selalu datang disaat kau mulai merelakan semua yang nyatanya bukan milikmu. Karena itulah kehidupan manusia, akan terus melewati hari dan waktu yang terus silih berganti. Kau berhak bahagia Rony.


~~


Di ruangannya Ryuzen dengan mata sendunya, terus saja memandangi buku yang dikirimkannya dari Renji. Buku berjudul redemption yang di dalamnya terdapat secarik kertas berisikan kalimat yang ditulis tangan langsung oleh Renji khusus untuk Ryuzen. Suami Sara yang tengah duduk itu pun menghela napasnya, ia pun meletakan buku yang sejak tadi ia pandangi. Bibirnya seolah sengaja dikunci rapat-rapat, agar apa yang ingin ia katakan tidak dirinya ucapkan. Gerahamnya mengatup kuat seperti menahan amarah, tetapi ekspresi wajah Ryuzen tetap dingin seperti biasanya. Hanya tatapannya saja yang terlihat berubah, sorot matanya yang tajam seperti hilang di selimuti rasa bersalah yang menghantui pikirannya saat ini.


*tok tok....


Suara pintu diketuk dari luar, ternyata Kenzo yang datang ke ruangannya, untuk memberitahu Ryuzen jika 15 menit lagi, rapat dengan para dewan komisaris akan segara di mulai.


"Tuan, kau baik-baik saja?" Kenzo tentu berujar demikian, saat dirinya masuk dan melihat buku serta secarik kertas yang ditujukan untuk Ryuzen kemarin itu kini, berada diatas meja kerja bossnya tersebut.


"Baik-baik saja atau tidak, tetap saja hidupku akan banyak masalah dan dikelilingi musuh bukan?" kata Ryuzen yang kemudian beranjak bangun, dari kursi tempat dimana ia terbiasa duduk dan mengerjakan semua pekerjaannya. Diambilnya jas hitam yang menggantung di balik kursinya itu, kemudian ia kenakan, dan berjalan menuju keluar dari ruangannya untuk menghadiri rapat bersama dewan.


Sedangkan Kenzo dengan rasa penasaran dikepalanya saat inizmalah memandangi Ryuzen yang sudah berjalan menuju keluar ruangan. Hingga Ryuzen harus meneggurnya, "Apa kau memang berniat ingin membisu dan jadi patung selamanya!"


Menyadari maksud ucapan sang tuan muda, Kenzo pun langsung beranjak mengikuti langkah Ryuzen menuju ruang rapat.


~~


Sara terlihat agak terburu-buru kembali ke dalam rumah sakit. Pasalnya ada info jika dokter Jason memintanya untuk menemuinya di ruangan nenek Ivy saat ini. Sara pun segera menaiki lift untuk menuju ke ruangan nenek Ivy dirawat. Beberapa saat kemudian, Lift akhirnya menunjukan lantai yang ingin dituju oleh Sara. Setelah pintu lift terbuka, Sara segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, ia melewati koridor dengan agak tergesa-gesa karena merasa khawatir dan penasaran ada apa dengan nenek Ivy, sampai-sampai ia diminta seorang juru rawat yang dikirim Jason untuk memanggilnya ke ruangan Ivy Han.


Saat sedang berjalan dengan tergesa-gesa, Sara justru malah harus bertabrakan dengan seorang wanita.


"Awhh!" seru wanita itu saat tubunya beradu dengan tubuh Sara.


"Oh maafkan aku," balas Sara yang kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap wanita yang baru saja bertabrakan dengannya itu.


"Kau!" ucap wanita yang ternyata adalah seorang wanita yang tidak ingin dijumpai oleh Sara saat ini.


"Er- Erika?"


Kedua wanita itu pun pada akhirnya saling menatap. Dan yang pasti, tatapan mereka, bukanlah tatapan ramah yang biasa perlihatkan layaknya orang yang memiliki hubungan baik satu sama lain.


Cih! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita ini disini!

__ADS_1


Erika membuang muka.


"Erika, apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kau sakit?" tanya Sara ingin tahu


Erika mencibir, "Apakah ikut campur dan selalu ingin tahu urusan orang lain adalah hobimu, nona Sara?"


Mendengar balasan Erika membuat Sara tentunya menjadi jengkel. Namun saat ini, dirinya harus segera ke ruangan nenek Ivy, jadi tidak bisa terlalu lama meladeni apalagi berdebat dengan Erika.


"Oh, Baiklah... kalau begitu aku minta maaf. Aku duluan!" Sara pun segera pergi melewati Erika yang berada di hadapannya.


"Sudah tahu bukan urusannya, masih tanya! Dasar wanita bodoh!" gerutu Erika sambil memandang Sara dengan sinis.


Akhirnya Sara tiba didepan ruangan nenek Ivy dirawat saat ini. Sara pun segera membuka pintu ruangan tersebut, tapi saat dirinya memasuki ruangan nenek Ivy, ternyata tidak ada Jason disana, melainkan seseorang yang justru membuat mata Sara terbelalak dan kaget.


"Ka- kau siapa? Apa yang kau lakukan di ruangan ini!"


~~


Di ruangannya, Ryuzen nampak tidak setenang biasanya. Mungkin efek rapat yang berlangsung alot dengan para jajaran dewan komisaris membuatnya terlihat jadi agak gusar dan emosinya tidak stabil. Dirinya pun membuka lemari yang ada di ruangan miliknya. Lemari yang menyimpan berbagai macam koleksi minuman anggur miliknya. Ryuzen pun mengambil sebotol anggur koleksinya, kemudian menuangkan cairan anggur dari dalam botol tersebut ke dalam gelas, dan langsung meminumnya dengan cepat, berharap bisa segera menghilangkan rasa penat dan gusar yang ia rasakan saat ini.


Ryuzen menghela napasnya, mengendurkan ikatan dasinya dan berujar dengan kasar, "Sial! Kenapa denganku hari ini!" Rasa ketidak nyamanan Ryuzen itu pun seketika membuatnya teringat pada sang istri. Dirinya dengan segera mencari ponselnya, untuk menelepon Sara yang dirinya pikir hanya Sara orang yang pasti bisa membuat pria itu tenang saat ini.


"Halo!" sahut Ryuzen. Seketika wajah tampan Ryuzen dengan jelas makin memperlihatkan emosi yang tak bisa disekripsikan, setelah mendengarkan ucapan Jason dari balik ponselnya.


"Baik, aku kesana!" tutur Ryuzen yang kemudian menarik ponsel itu dari daun telinganya. Selang beberapa detik setelah menerima panggilan dari Jason, ponsel Ryuzen kembali berdering. Dijawabnya panggilan yang masuk itu langsung oleh Ryuzen tanpa berpikir.


"Halo!"


Halo, keponakan? Sudahkah kau melihat berita di TV, atau mungkin sekedar memeriksa dan membaca headline news berita saat ini? Ah tidak! Aku rasa tanpa membaca berita atau menonton televisi pun, keponakanku yang luar biasa pasti sudah tahu dengan apa yang terjadi bukan?


Tawa Biyan dari telepon jelas memekik di telinga Ryuzen saat ini.


Kau tahu Ryu, aku sangat menikmati drama ini. Dan aku yakin kau juga pasti akan menikmatinya nanti.


"Tutup mulut sampahmu Biyan! Atau~"


Atau apa? Dengar tuan muda, di dalam permainan kali ini, aku yang pegang kenadali. Maka aku pastikan, kau tidak akan pernah bisa lagi meremehkanku. Karena apa? Karena aku yang akan menang dan membuatmu merengek dan besujud dihapanku. Kau pasti bisa merasakan kegembiraanku sekarang bukan?

__ADS_1


Ryuzen bergeming, mulutnya seolah tengah dibungkam saat ini.


Apa kau tahu Ryu, dengan seluruh penderitaan batin yang akan kau terima nanti, sudah dipastikan kau akan kalah! Jadi tuan muda Ryuzen Han, nikmatilah hukuman yang ada di dalam permainan ini oke! Sampai jumpa lagi.


Ryuzen mematikan ponselnya, gigi gerahamnnya mengatup keras sorot, matanya benar-benar laksana serigala lapar yang marah. Ryuzen mencengkram kuat, hingga gelas anggur yang dipengangnya pun retak dan pecah berceceran.


"Kau memang seharusnya mati Biyan Dao!"


Kenzo tiba-tiba menemui Ryuzen di ruangannya dengan tergesa-gesa.


"Tuan! Banyak wartawan di luar gedung Emerald." Jelas Kenzo dengan napas tersengal-sengal.


"Suruh Morin, mengurus para wartawan itu! Sekarang kita kerumah sakit. Dan kau segera hubungi Gina untuk mendampingi Sara."


"Tap- tapi Tuan?"


"Kau tidak tuli kan? Maka dari itu, lakukan apa yang aku perintahkan!" ujar Ryuzen dengan suara berat miliknya, yang terdengar begitu mengancam namun berbalut kekhawatiran


"Ba- baik Tuan."


Jantung Ryuzen berdegup, ketakutan pun seolah benar-benar menggerogoti dirinya saat ini. Ia berjalan menuju ke parkiran melepas jas dan dasinya.


"Aku yang menyetir, kau pantau seluruh portal media yang ada di negeri ini! Sebisa mungkin jangan biarkan berita itu semakin menyebar luas!" Kata Ryuzen yang sudah siap dengan kemudinya, menuju ke rumah sakit.


Apakah kali ini aku akan kalah?


Apa yang harus aku lakukan saat ini?


Nenek, aku harap kau selamat.


Sara, kau harus baik-baik saja.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih sudah mau setiap membaca ceritaku ya, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.

__ADS_1


Happy reading fellas and i hope you like it. ๐Ÿ˜˜


__ADS_2