Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chapter 124 : Start over here


__ADS_3

Terdengar suara decitan sepatu seorang pria yang tengah berjalan di lantai bersih koridor rumah sakit, pria itu berjalan menuju salah satu ruangan dokter di ujung koridor dan memasukinya.


"Tuan, ini pakaian bersih yang kau minta!" ujar pria tersebut yang ternyata adalah Kenzo yang baru saja selesai meminta resep obat untuknya.


"Oke...!" balas pria tampan dengan tubuh atletis yang kini terlihat tidak mengenakan pakaian di bagian atas tubuhnya, yang sedang di balut luka di lengannya oleh Jason.


"Ryuzen kau itu sepertinya sudah tidak waras ya, untuk apa kau biarkan lenganmu tersambar timah panas, di pukuli mereka, kalau kau saja bisa langsung habisi mereka saat itu juga!" omel Jason.


Ryuzen hanya tersenyum miring,


"Untuk memainkan skenario drama pura-pura mati bersama Lizo agar semakin seru, aku harus totalitas melakukannya, jadi ya nikmati saja alurnya," jawab Ryuzen dengan santainya.


"Kau itu memang tidak waras!" omel Jason.


"Kau juga!" melihat ke arah Kenzo


"Sebagai asisten apa kau tidak bisa menasehati tuanmu agar melakukan hal-hal yang waras saja!" tukas Jason kesal


"Tapi aku...." Kenzo bingung mau membalas apa


"Aku mana bisa melawan perintahnya, kalau aku membantah perintahnya, yang ada aku yang mati di tangan bosku sendiri!" gumam Kenzo.


Ryuzen dengan santai menanggapi omelan Jason


"Jason kau ini berisik sekali, lagi pula kau tahu timah panas tidak akan semudah itu membunuhku, memangnya... kau pikir ini pertama kalinya aku terkena tembakan, ini cuma luka kecil kau tidak usah berlebihan begitu."


"Berlebihan bagaimana? Kau harus ingat, kau itu punya anak dan istri sekarang! Kau tidak bisa lagi bertingkah dan bermain-main dengan nyawamu sendiri seperti dulu," terang Jason menasehati Ryuzen.


"Aku tahu! Aku punya batasan sekarang, batasan yang tidak mungkin aku biarkan orang lain menyentuhnya walau sedikit saja. Tapi... mau bagaimana lagi, ini caraku bertahan hidup diantara banyaknya musuh yang membenciku, terlebih separuh cara hidupku memang sudah seperti ini Jason...." Lirih Ryuzen dengan tatapan dinginnya.


Jason tak berkomentar apa-apa, pasalnya ia sedikit banyak tahu rasa sakit yang dirasakan teman masa kecilnya itu hingga dia jadi seperti ini, Jason pun akhirnya hanya diam dan meneruskan kembali membalut luka di lengan kiri Ryuzen. Suasana pun jadi


"Jadi, Dokter Jason sudah selesai kan memperban lukanya...?" tanya Kenzo memecah keheningan di antara Ryuzen dan Jason.

__ADS_1


"Sudah! sudah selesai," ujar Jason.


"Kalau beberapa memar di wajahku sudah hilang kan?" tanya Ryuzen memastikan wajahnya tak terlihat memar sama sekali.


"Memar juga kau tetap tampan kok!" balas Jason spontan


"Aku tahu itu! Aku hanya tidak ingin Sara melihat sedikitpun ada memar di wajahku, itu saja!" ucap Ryuzen


"Sudah tidak terlihat, kalau pun terlihat bilang saja kau habis di keroyok ikatan wanita-wanita yang jadi korban harapan palsu darimu," celoteh Jason pada Ryuzen yang kini tengah mengenakan kemeja yang baru saja di bawakan oleh Kenzo.


Ryuzen pun selesai berpakaian, sweater turtleneck dibalut blazer hitam panjang hingga lutut menempel di tubuh pria bertinggi badan 187 cm tersebut. Ryuzen mengambil kunci mobil miliknya dan hendak.melangkah pergi.


"Tuan anda sudah mau pergi?" tanya Kenzo.


"Eh, kau mau langsung pergi kemana?" sambung Jason penasaran.


Ryuzen pun menoleh ke arah asisten dan temannya,


"Aku mau pergi untuk menyelesaikan misi yang sempat tertunda..!"


"Misi menjemput tulang rusukku yang hilang, yang akhirnya sudah aku temukan."


"Eh... maksudnya..?" Jason makin bingung sedangkan Kenzo hanya senyum-senyum saja mendengar kata-kata yang di ucapkan Ryuzen.


"Sudah jangan banyak tanya! Kalian berdoa saja sepulangnya aku nanti bersama tulang rusukku, kalian dapat kabar, akan punya keponakan baru lagi...!"


Jason masih sedikit gamang dengan perkataan Ryuzen, dan hanya bisa melirik ke arah Kenzo yang sejak tadi hanya mesem mesem mendengar semua ucapan Ryuzen.


Ryuzen membelakangi Kenzo dan Jason sambil mengangkat satu tangannya membentuk siku, "Kalau begitu aku pergi, bye...!" ujar Ryuzen sambil melenggang pergi.


"Sara... tunggu aku sayang!" ucap Ryuzen saat melangkah pergi dengan pasti untuk menemui permaisuri hatinya.


~~

__ADS_1


Di salah satu area pemakaman di Cardia, Sara tengah membersihkan makam kedua orang tuanya dari dedauan kering yang mengotori sekitaran makam kedua orang tuannya. Tak lupa Sara juga membawakan dua ikat bunga lili putih untuk di taruhnya di masing-masing makam kedua orang tuanya yang berdampingan.Tak kalah penting Sara juga mendoakan kedua orang tuanya.


Selesai melakukan ritual-ritual tersebut, sara pun menyempatkan diri bercerita di depan makam kedua orant tuanya tentang kabar dirinya saat ini.


"Ayah, Ibu, apa kabar? Hari ini akhirnya aku datang mengunjungi kalian, tapi maaf... aku tidak bisa bawa cucu kalian Arvin bersamaku, tapi lain kali aku janji akan membawanya kemari untuk menengok kalian."


Sara tersenyum, "Oh iya, Ayah, Ibu..., aku sekarang sudah menikah. Aku menikah dengan pria yang tidak lain adalah papi kandung Arvin. Ibu tenang saja, menantumu pria yang sangat hebat, dia juga sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Ayah...! Dia selalu baik padaku, dia juga selalu menjaga dan melindungiku, dan pastinya dia sangat menyayangi Arvin. Aku berharap, semoga lain waktu aku bisa membawa pria itu, ke hadapan makam kalian.


Sejenak Sara hanya memandangi kedua makam orang tuanya tanpa bicara, seolah ia ingin sekali memeluk kedua orang tuanya saat ini. Tapi dirinya tahu itu tidak mungkin, karena tak mau terlarut dalam kesedihan yang sia-sia, Sara pun pamit pada kedua orang tuanya.


"Baiklah Ibu, Ayah... aku pergi dulu ya...! Semoga kalian selalu bahagia di surga sana. Dan jagalah aku dari atas sana." Setela berpamitan pada kedua makam orang tuanya, dirinya pun pergi dari sana.


Beberapa menit setelah Sara meninggalkan makam orang tuanya, terlihat langkah kaki seorang pria yang kini berhenti di depan makam kedua orang tua Sara.


Pria itu membungkukan badannya kemudian meletakan dua ikat bunga dafodil di sebelah bunga lili yang diletakan Sara di masing-masing makam kedua orang tua Sara tersebut.


"Ayah, Ibu... aku adalah menantu kalian!" ujar Ryuzen yang kini berdiri tegap di depan makam kedua orang tua Sara.


"Maaf aku baru mengunjungi kalian, maaf juga aku sering membuat putri kalian menangis dan kecewa selama ini, tapi setelah ini... aku berjanji pada kalian, aku tidak akan lagi membuatnya kecewa dan menangis. Oleh karena itu tolong berikan restu kalian untukku hari ini. Biarkan aku mencintai, membahagiakan, dan menjaga putri kalian dengan seluruh hidupku dan segenap jiwaku."


~~


Hari sudah hampir menjelang malam, Sara yang sejak tadi duduk di pinggir taman bunga lavender, berencana pergi mengunjungi pasar malam yang biasanya selalu di gelar di Cardia, di sepanjang musim gugur di kota ini. Ketika hendak bangun dari duduknya, tak sengaja Sara melihat seseorang yang lewat di hadapannya barusan menjatuhkan barang miliknya.


"Tuan! Kau menjatuhkan milikmu...!" seru Sara, yang kemudian memungut bunga mawar tersebut, dan berjalan menghampiri pria yang berjalan membelakanginya tersebut untuk mengembalikan bunga tersebut.


"Tuan!" panggil Sara sekali lagi,


Pria itu pun menoleh dan kemudian berbalik badan menghadap Sara yang kini hanya berjarak sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Vote, like, comment jangan lupa ya gaiss...!

__ADS_1


Guys...! Are you ready for... love petals bloom between Mr & Mrs. Han ? ๐Ÿ˜


__ADS_2