
"Wah aku dapat ikan! Asyik...!" Arvin tampak begitu gembira saat dirinya mendapatkan ikan pertamanya saat memancing untuk pertama kalinya.
"Woah ikan yang besar! Kau hebat sekali Arvin kecil!" Ungkap Thomas yang sejak tadi menemani Arvin memancing di sebelahnya. Arvin lalu segera meeminta Thomas agar segera mengambilkannya ember untuk meletakan ikan hasil pancingannya tersebut.
"Baiklah kesayanganku, akan aku ambilkan untukmu embernya, sebentar ya... " ujar Thomas yang kemudian pergi mengambil ember tersebut.
"Ini dia...," kata Thomas yang datang dengan membawa ember untuk tempat menaruh ikan.
"Wah aku dapat ikan lagi sepertinya! Tapi ini berat sekali," Arvin tidak kuat menarik alat pancingnya kali kali ini. Dirinya pun akhirnya terpaksa harus meminta bantuan Jason untuk menarik alat pancingnya.
"Ini cukup berat juga ya!" Gumam Jason, yang akhirnya bisa menarik alat pancing tersebut. Arvin terlihat sangat senang karena bisa medapatkan ikan yang super besar.
"Kau berbakat tuan kecil," puji Kenzo yang terlihat bangga. Melihat Arvin yang bisa mendapatkan ikan besar, yang lainnya pun jadi ikut terpacu untuk bisa mendapatkan ikan yang tidak kalah dengan Arvin.
Sama halnya dengan Yoshiki, ia tidak mau kalah dari anak sahabatnya itu. Yoshiki pun bertekad akan dapat ikan yang juga tak kalah besar seperti yang di dapat Arvin tadi. Aku tidak akan kalah darimu Ryuzen kecil!
Dan tekad itu ternyata membawakan hasil. Seekor ikan sungai yang besar ternyata telah menyambar umpan di kail milik Yoshiki. Ia pun segera menarik pancingnya itu.
"Ayo tarik yang kuat...!" Seru Jason
"Tarik.... tarik.... " ujar para pegawai c-lovely sambil bersahutan.
"Semangat Paman Yoshiki," ungkap Arvin yang juga menyemangati
Semuanya saling bersorak memberi semangat pada Yoshiki yang tengah berusaha menarik ikan di pancingannya tersebut. Melihat Yoshiki sepertinya perlu bantuan, Kenzo pun tanpa di minta langsung saja berinisiatif membantu Yoshiki menarik alat pancingnya yang dimakan ikan tersebut dari dalam sungai. Alih - alih menangkap ikan besar, namun karena pergolakan ikan yang kuat, alhasil Kenzo malah dibuat basah kuyub karena terkena air sungai. Dan beruntung, ikannya kini sudah tertangkap sehingga pengorbanan Kenzo tidak sia - sia.
"Wah, wah, wah... hari ini kita akan makan ikan panggang super lezat sepertinya...," ungkap Alin yang dari awal hanya duduk menonton sambil minum jus, melihat hasil tangkapan ikan Yoshiki.
"Ah sial! Pakaianku jadi basah," Keluh Kenzo yang mulai kedinginan.
"Cepat ganti pakaianmu sana! Kalau di cuaca seperti ini kau mengenakan pakaian basah begitu, bisa - bisa kau kena flu," kata Jason pemperingatkan.
"Ah kau benar!"
Kenzo pun berencana kembali ke villa lebih dulu, karena hawa dingin yang makin menusuk ke dalam tulangnya mulai tak tertahan, di tambah pakaian basahnya yang makin membuatnya terasa menggigil.
~~
"Grrr... " Kenzo terdengar menggigil hingga giginya menggertak karena saling beradu. Ia pun mencoba menghangatkan tubuhnya dengan mendekapkan kedua tangannya ke dada.
"Hasyuhh...!" Suara bersin Kenzo mulai muncul tanda tubuhnya mulai merasakan efek dingin yang dirasakan olehnya makin tidak bagus.
Ah sepertinya aku akan segera kena flu jika tidak cepat - cepat kembali ke villa dan menghangatkan diri.
Saat tubuh Kenzo tengah merasa semakin kedinginan. Tiba - tiba tubuhnya seperti ditimpa oleh suatu kain tebal dan hangat.
Ini handuk?
Kenzo pun langsung menolehkan tubuhnya, dan mencari tahu dari mana handuk yang menyelimuti tubuhnya saat ini berasal.
__ADS_1
"Huh?"
"Kenapa melihatku begitu?" Ujar Rina kaget di campur gugup karena tiba - tiba di tatap Kenzo.
"Handuk ini untukku?" Tanya Kenzo sambil memegangi handuk berwarna coklat yang kini menutupi sebagian tubuhnya.
"Ya... memangnya ada orang lain lagi yang saat ini butuh handuk?" Kata Rina memalingkan wajahnya.
"Wah ternyata kau baik, terima kasih ya... mmm... siapa namamu?"
Apa? Jadi dia selama ini tidak ingat dengan namaku?
Ekspresi wajah Rina yang tadi malu-malu, kini berubah menjadi masam dengan rasa kesal yang dirasakannnya saat ini, mengetahui Kenzo ternyata tidak ingat dengan namanya.
"Tidak perlu tahu, lagi pula aku hanya ingin berbaik hati dengan pria menyebalkan sepertimu, sambil balas budi karena waktu itu kau pernah melindungiku dari amukan warga di c-lovely," ujar Rina yang kemudian hendak beranjak pergi namun malah ditahan oleh Kenzo.
"Kau ini mau apa?!" Tanya Rina ketus karena Kenzo menarik tangannya.
"Kau itu yang kenapa! Kerjamu selalu saja marah -marah terus kalau bertemu denganku, benar- benar menyebalkan!"
"Biar saja menyebalkan, sekarang lepaskan tangaku!" Rina berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Kenzo, yang sejak tadi mencengkram pergelangan tangan kirinya itu.
"Kau ini kenapa sih? Tadi baik, sekarang marah - marah! Kau itu sudah gila apa bagaimana?"
"Aduh... aku tidak peduli, cepat lepaskan tanganku dasar laki -laki mesum!"
"Heh apa kau bilang? Mesum? Memangnya aku berbuat apa padamu? Kau itu malah yang aneh, ditanya siapa namamu malah marah - marah tidak karuan begitu."
Rina mengusap bagian pergelangan tangannya yang di cengkram Kenzo tadi. Terlihat bekas kemerahan akibat cengkraman pria itu. Kenzo yang tidak menyangka bekasnya jadi merah begitu pun tiba - tiba merasa bersalah.
"Tanganmu tidak apa-apa? Maaf aku memegangmu terlalu keras," ungkap Kenzo menyesalinya.
"Ya, pergelangan tanganku baik -baik saja kok! Hanya sedikit agak panas akibat cengkraman yang terlalu keras," Rina masih terus mengelus bagian tangannya yang memerah itu.
"Sekali lagi, aku minta maaf Nona...? Ah maaf aku benar - benar lupa siapa namamu. Aku hanya ingat kau adalah pegawai nona Sara, yang waktu itu pertama kali bertemu di c-lovely. Dan aku juga ingat, saat itu kau tiba- tiba saja marah - marah padaku hingga kita bertengkar, dan membuat nona Sara harus turun tangan untuk melerai." Kenzo tergelak
"Dan kalau tidak salah, saat itu nona Sara pernah menyebut namamu, hanya sana saat itu aku kan sedang kesal jadi agak tidak terlalu ingat, jadi... maaf ya," tukas Kenzo yang terlihat menahan kedinginan.
Sepertinya dia memang lupa pada namaku, seharusnya aku tidak perlu marah juga padanya. Toh aku dan dia juga bertemu kan baru beberapa kali.
"Um... baiklah, Nona..."
"Rina, namaku Rina, tuan Kenzo," sahut Rina.
"Oh Rina, ya... ya... baiklah Rina, akan ku ingat selalu namamu," ucap Kenzo yang kemudian tersenyum pada Rina.
Sontak wajah Rina dibuat merona seketika, melihat Kenzo yang tersenyum manis padanya saat itu juga.
"Oh iya aku... Haissyuh..!" Kenzo tiba-tiba kembali bersin, sepertinya dia benar - benar kena flu. Hidungnya pun terlihat semakin memerah karena kedinginan.
__ADS_1
Tidak tega melihatnya kedinginan Rina pun menawarkan diri untuk mengantarnya hingga ke villa. "Oh tidak, kau tidak perlu repot- repot mengantarku, lagi pula acara kan belum selesai."
"Sudahlah tidak apa- apa, anggap saja ini sebagai bagian dari balas budiku, dan permintaan maafku, karena tadi sudah marah - marah padamu."
Karena melihat Rina yang tulus mau menemaninya kembali ke villa, Kenzo pun akhirnya setuju dan bersedia ditemani oleh Rina.
"Terima kasih ya Rina...," ucap Kenzo malu-malu.
"Iya, sama-sama Tuanー"
"Kenzo, panggil aku Kenzo saja ya?" Pinta Kenzo dengan nada suara yang terdengar tidak beraturan, akibat rasa dingin disertai menggigil.
"Um baiklah, Ken- zo."
"Nah... begitu baru benar."
Ggrrr...
"Sudah ya, kau jangan bicara terus, kita harus cepat kembali ke villa untuk menghangatkan tubuhmu yang kedinginan itu."
Kenzo mengangguk setuju. Dan mereka bedua pun akhirnya berjalan bersama untuk kembali ke Villa.
~~
Sementara itu, di tempat lain, Ryuzen tengah mengajak Sara berjalan ke arah suatu tempat.
"Ryuzen, kau tidak sedang mau mengerjai aku kan?" Kata Sara yang berjalan tersendat - sendat karena matanya di tutup. Meski di tuntun oleh suaminya, tapi tetap saja ada rasa was l- was yang dirasa oleh wanita itu ketika berjalan dengan mata tertutup.
"Kau tenang saja, mana mungkin aku berani mengerjai istriku sendiri."
Ryuzen terus menuntun istrinya itu dengan perlahan dan sangat hati - hati, hingga tibalah di tempat yang ia maksudkan.
"Nah sudah sampai, sekarang biar aku lepas penutup matamu, dan bersiaplah...."Dengan perlahan Ryuzen membuka ikatan kain yang menutup mata Sara.
Aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang ingin di tunjuk kan Ryu padaku.
Kini Ryuzen sudah selesai membuka penutup mata yang dikenakan Sara tadi. Hanya saja dirinya meminta agar Sara tidak membuka matanya sampai dirinya bilang buka.
"Sekarang kau boleh membuka matamu," bisik Ryuzen dari belakang di telinga Sara.
Sara pun menurut, ia pun membuka matanya dengan perlahan....
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
__ADS_1
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
Happy reading and hopefully you like it all....