Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 116


__ADS_3

Di c-lovely, Sara yang sedang terlihat sibuk memeriksa agenda bulanan, tiba-tiba malah harus diganggu dengan dering nada ponselnya yang cukup mengganggu. Awalnya ia bermaksud untuk tidak mengangkat panggilan tersebut dan memilih mengabaikannya. Akan tapi karena ponselnya terus menerus berbunyi, ia pun akhirnya mau tidak mau harus sejenak menghentikan pekerjaannya, dan mengangkat panggilan yang sejak tadi mengganggunya itu.


Sara pun kemudian meraih ponsel miliknya yang, ia letakan di dekat tas miliknya.


"Jesper?" Ujar Sara saat melihat layar ponselnya. Ternyata kontak Jesper yang tertera sedang memanggilnya. Sara awalnya terlihat ragu-ragu, tapi karena ia pikir Jesper akan kembali dari Paris besok, mungkin dirinya memang ada perlu sesuatu sehingga meneleponnya, dan Sara pun menerima panggilan tersebut.


Sara : Halo Jes, ada apa?


Jesper : Halo Sara, maaf aku mengganggumu. Apa kau sedang sibuk?


Sara : Ya, sebenarnya tadi aku seadang melakukan pencatatan laporan bulanan. Memangnya ada apa?


Jesper : Sebenarnya aku ingin minta tolong padamu, untuk... maksudku, apa kau bisa menemaniku sebentar sesampainya aku di Montegi untuk ya sekedar bekeliling setelah setahun tidak disana.


Kenapa kau tidak minta ini pada Gina Jes..., padahal jika kau meminta hal ini padanya, aku yakin Gina akan sangat senang mendengarnya.


Sara : Um... Jes, jujur saja aku mau menemanimu. Aku senang mendengarmu akan kembali ke kota ini. Tapi maaf, sepertinya aku tidak melakukan hal itu.


Jesper : Jadi begitu ya? (Terdengar nada kekecewaan di suara Jesper)


Maafkan aku Jes, aku tidak mau jika sampai Gina tahu aku menemanimu, karena hal itu hanya akan melukai hatinya. Aku tidak mau menyakiti hati sahabatku sendiri.


Sara : Maaf ya, tapi... mungkin kita bisa bertemu di hari lain. Di tempat yang lebih menyenangkan, sambil mengajak Gina juga misalnya?


Jesper : Ya, kau benar! Kalau begitu, maaf sudah mengganggumu.


Sara : Tidak apa-apa Jes, kalau begitu... sampai jumpa di Montegi. Sekali lagi maaf ya.


Jesper : Iya, aku mengerti. Sampai jumpa...


Sara : Sampai jumpa Jes.


*Jesper Mengakhiri panggilannya.


"Huft! Dan dengan tololnya, aku memintanya untuk menemaniku, tanpa pikir dua kali," Ungkap Jesper yang kini tertawa seolah tengah mengejek dirinya sendiri. Ingin rasanya melempar ponselnya sendiri saat ini, pikir Jesper.


Jesper mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa malu dengan dirinya sendiri. "Heh! Jesper apa kau tahu? Betapa bodohnya kau saat menyadari, jika wanita yang kau hubungi barusan adalah istri orang lain. Sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanyanya pada diri sendiri.


Padahal sudah setahun tapi tetap saja, perasaanku tidak berkurang sedikitpun padanya.


~~


Sara sejenak merenung pasca menerima telepon dari Jesper barusan, ia pun mencoba merilekskan dirinya, dengan menghambil napas panjang dan melepaskannya. "Huft...! Kenapa harus aku yang berada di antara Jesper dan Gina?"


Selain itu, di pikiran Sara masih mengganjal satu hal, yakni dirinya yang belum jujur pada Ryu, soal Jesper yang semalam mengiriminya pesan. "Seharusnya aku jujur saja pada Ryu, toh aku dan Jesper, pada kenyataannya memang hanya sebatas teman sejak kecil. Ck! Dasar aku bodoh!" Ujar Sara merasa menyesal sekali.


Sara mengelus perutnya yang sepertinya agak mulai membesar walau masih tidak kentara jika dilihat dari jauh. "Kira-kira papimu akan marah tidak ya nak, jika aku jujur padanya soal semalam?"

__ADS_1


~~


Di kediamannya, Jordan dan Jiro terlihat sedang berada di sebuah ruangan yang tertutup. Sepertinya, dua orang pria paruh baya itu sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius dan rahasia, terkait masa depan black serpents.


"Jadi kau serius ingin membubarkan organisasi ini? Organisasi yang belasan tahun sudah kau dirikan?" Tanya Jiro dengan mimik wajah serius.


"Aku rasa itu adalah keputusan terbaik Jiro." Jordan berjalan mengambil sebuah kotak kayu. Kemudian, dibukanya kotak kayu tersebut, yang mana di dalamnya terdapat sebuah topeng hitam, yang kini diambilnya topen tersebut oleh Jordan.


"Topeng ini adalah awal dimana aku mendirikan black serpents. Topeng yang aku gunakan untuk menutupi identitasku, topeng yang aku gunakan sebagai alat untuk lari dari kenyataan yang harusnya aku hadapi, bukan aku hindari. Dan topeng ini juga... yang membuatku buta akan kenyataan, jika anak yang aku hancurkan masa mudanya demi ambisiku, adalah putraku sendiri." Lagi-lagi mata Jordan langsung menampakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam pada sorot matanya.


"Penyesalanku tidak akan pernah ada habisnya. Terlalu banyak kesedihan dan tragedi yang justru tercipta karena ambisi yang aku bagun sendiri, atas dasar amarah dan juga egoku saat itu aku pikir adalah kebenaran."


"Tuan..." lirih Jiro


"Ayahku, Ibuku, Laulin, mereka semua sudah meninggalkanku. Aku tidak ingin lagi ada orang yang aku sayangi pergi, oleh sebab itu aku putukan, untuk melakukan semua ini Jiro."


Jiro mendekati Jordan, menyentuh pundaknya seraya mencoba menguatkannya. "Aku akan selalu mendukungmu tuan, apapun yang kau akan lakukan, aku akan selalu di pihakmu."


"Terima kasih Jiro."


"Oh iya, soal Renji dan putramu?"


"Itu juga bagian dari tanggung jawabku, karena perang yang kini terjadi diantara dua anak itu, semua itu juga berawal dari organisasi yang aku buat ini."


Jiro mengangguk paham.


Jordan kembali memandangi topeng yang dipegangnya itu. Kau (topeng) sudah waktunya beristirahat dan menyelesaikan semua ini.


~~


"Sara, ini sudah malam. Kau sebaiknya pulang!" Tegur Thomas yang kini sudah bersiap untuk segera pulang.


"Iya Kak Sara, kau pulang saja... lagipula, kau harus ingat, kau itu sedang hamil kak," pungkas Rina.


Sara tersenyum menanggapi kedua temannya tersebut. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi aku masih harus mengerjakan ini, karena tanggung jika aku tinggal pulang."


"Tapi Sara kaー"


"Sudahlah kalian tenang saja, aku hanya akan disini sedikit lebih lama kok! Lebih baik kalian saja yang segera pulang dan beristirahat, ya! Aku tidak akan ada masalah. Dan soal toko, biar nanti aku yang kunci semuanya. Jadi kalian tidak perlu khawatir, dan pulanglah dengan perasaan lega, okey?"


"Kau yakin Sara bicara begitu?" Tanya Thomas sekali lagi.


"Iya, aku yakin! Toh kalaupun aku pulang lebih malam, aku tinggal menelepon suamiku saja," jawabnya santai.


"Huft! Dasar wanita kerasa kepala! Yasudah aku dan Rina pulang duluan. Tapi ingat! Kalau ada apa-apa cepat hubungi suamimu yang superhero itu, atau pacarmu atau siapapun oke?" Omel Thomas yang sebenarnya kesal karena khawatir.


"Siap lady Thomas!" Balas Sara.

__ADS_1


Thomas dan Rina pun akhirnya pulang duluan. Sedangkan Sara masih tetap berada di tokonya untuk, melakukan beberapa pengecekan lagi sebelum dirinya pulang.


~~


Di Emerald, Ryuzen yang baru saja selasai mengadakan pertemuan, untuk menandatangani persetujuan pembangunan proyek baru Emerald, kini sudah bersiap untuk segera pulang.


"Tuan kalau begitu aku duluan ya..." ujar Kenzo yang pamit lebih dulu.


"Pulanglah..." sahut Ryuzen.


Sebelum pulang Ryu seperti biasa akan menelepon istrinya, untuk mengabari. Tapi sayangnya, sejak tadi ponsel sang istri tidak bisa dihubungi.


"Sial! Ada masalah apa dengan ponsel wanita itu! Apa ponselnya rusak!" Umpat Ryuzen yang kemudian dengan cepat melangkah pergi untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja.


~~


"Ah... capeknya, akhirnya selesai juga!" Ujar Sara sambil merengangkan sendi-sendinya yang kaku, karena terlalu lama duduk. Sara lalu melirik jam digital yang ada di dekatnya, yang kini sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Astaga! Ternyata sudah jam segini. Aku harus segera mengunci toko ini dan kemudian segera pulang." Sara pun bergegas untuk siap-siap pulang. Tidak lupa Sara memastikan jika dirinya, telah mengunci semua pintu-pintu yang ada di tokonya tersebut, hingga pintu terakhir.


"Oke, aku kira sudah semua dikunci. Waktunya pulang...! Tapi... sudah jam segini, kenapa Ryu belum menelponku? Apa dia sedang ada urusan mendadak jadi tidak sempat menghubungiku?"


Sontak, Sara langsung merogoh isi tas miliknya guna


mengambil ponselnya, untuk menghubungi Ryu, memastikan kenapa sang suami belum juga menelponnya malam ini.


"Huh menyebalkan! Ternyata ponselku mati. Duh, kalau sudah begini, sepertinya aku terpaksa harus naik taksi sendiri," gumam Sara bernada kesal, menyadari jika ponselnya lupa di charge, karena tadi terlalu fokus mengerjakan pekerjaannya. Karena di sekitar jalan dekat tokonya sering jarang di lewati oleh taksi. Sara akhirnya terpaksa harus berjalan hingga ke dekat jalan raya utama kota agar lebih mudah mendapatkan taksi.


Sara berjalan sendirian, hawa dingin di musim gugur semakin dingin ketima malam hari. Sara pun berjalan sambil mengusap-usap kedua tangannya, guna meminimalisir dinginnya malam. Setelah berjalan beberapa menit, entah mengapa Sara seperti sedang di ikuti oleh seseorang. Sara menoleh lewat ekor matannya... tampak sekilas, seorang pengedara motor ninja berwarna hitam seperti sedang meningtainya dari belakang.


Kenapa sejak tadi pengendara motor itu seperti mengikutiku? Apa dia seorang penjahat? Tidak-tidak! Sekalipun dia mau berbuat jahat padaku, aku harus tetap terlihat tenang supaya si pengendara itu tidak curiga padaku. Lebih baik aku terus berjalan.


Sara lalu terus saja berjalan senormal mungkin, dan berusaha mengendalikan emosinya agar tetap tenang, meskipun rasa was-wasnya semakin tidak bisa terbendung lagi. Sara sesekali memejamkan matanya, dan mencengkram tasnya, guna meminimalisir rasa paniknya. Bagi Sara dibenaknya saat ini hanyalah, dirinya berharap agar segera tiba di dekat jalan raya utama yang lebih ramai, agar si pengendara itu menjauh. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.


Ya Tuhan! Kenapa pengendara motor itu malah sepertinya makin mendekat?


Sara mulai panik, ia mulai sulit menyembunyikan ketakutannya, ia pun mempercepat langkahnya. Tapi sayangnya pengendara motor tersebut malah melaju lebih cepat, dan akhirnya menghadang perjalanan Sara.


Ba- bagaimana ini? mata Sara terbelalak lebar, ia terkejut melihat pengedara motor berhelm dan berjaket gelap itu menyalip langkahnya dan kini malah menghadang dirinya. Dan parahnya, Pengendara motor itu tiba-tiba turun dari motor, dan berjalan ke arah Sara. Ya Tuhan, aku harus apa sekarang?


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.

__ADS_1


Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏


__ADS_2