Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 58


__ADS_3

"Nona Chen, tuan Han datang menemui anda, silakan keluar dan menemuinya."


Sara pun mengangguk tanda paham. Kemudian dengan wajah sumringah Sara bicara dengan calon anak di dalam perutnya, "Lihat nak, papimu sudah datang menemui kita." Betapa bahagianya Sara mengetahui jika suami tercintanya datang menemuinya.


~~


Disana Ryuzen ternyata sudah berdiri menunggu Sara yang kini sudah ada dihadapannya. Ia berjalan perlahan menghampiri Sara dengan tatapan dingin nan sendu.


"Ryuzen, aku-"


Belum selesai perkataan Sara, Ryuzen langsung saja memeluk erat istrinya itu. Membenamkan kepalanya pada pundak sang istri tanpa berbicara apapun. Melihat suaminya seperti itu membuat Sara bingung dan tidak tahu harus bagaimana.


"Ryu, ada apa sayang?"


Ryuzen tetap tak menjawab pertanyaan Sara, ia masih saja tenggelam dalam kehangatan tubuh istrinya yang dirasa agak mengurus itu. Karena tidak tahu harus berbuat apa Sara pun hanya bisa pasrah sambil membalas pelukan suaminya itu. Namun karena tubuh Ryuzen yang jauh lebih besar, dan lebih kuat dari Sara, membuatnya jadi terasa semakin sesak.


"Ngh, Ryuzen! Kau terlalu kuat memelukku, napasku jadi sesak," ujar Sara yang bicaranya terdengar sulit karena mulai merasa sesak akibat pelukan erat suaminya itu. Sadar akan istrinya yang semakin tecekik karena pelukannya, akhirnya Ryuzen melepaskan pelukan itu perlahan. Sara yang kini sudah terlepas dari pelukan kuat Ryuzen langsung menatap suaminya yang terlihat tidak seperti biasanya itu. Dibelainya pipi sang suami.


"Ada apa denganmu?" Tanya Sara dengan lembut.


Ryuzen dengan mata sendunya membalas membelai mesra rambut indah milik Sara, "Kenapa kau lakukan itu Sara? Kenapa kau tidak mau membaginya denganku?"


Sara seolah dibuat bingung oleh maksud ucapan suaminya itu.


"Ap- apa maksudmu?"


"Di dalam perutmu saat ini, ada calon anak kedua kita kan, adiknya Arvin?"


Sara tersentak dibuatnya. Bagaimana bisa Ryuzen tau soal itu, padahal dirinya saja sama sekali belum mengatakan soal kehamilannya pada Ryu.


"Bagaimana kau-"


"Kenapa Sara? Kenapa kau selalu ingin menderita sendirian, aku ini suamimu bukan? Tapi kenapa?" Lirih Ryuzen.


Kali ini Sara pun terdiam, ia memang harus mengakui jika dirinya bersalah, karena tidak memberitahukan kabar bahagia ini pada sang suami.


"Maafkan aku Ryu, aku... aku hanya tidak ingin menambah bebanmu."


"Beban kau bilang?" Tukas Ryuzen bingung.


"I- iya, karena aku bepikir, disituasiku yang seperti ini hanya akan membuatmu semakin tertekan jika kau tahu aku tengah dalam keadaan mengandung. Jadi, aku memutuskan untuk menyembunyikan ini semua darimu. Maafkan aku...," Sara menyesal dari dalam lubuk hatinya.

__ADS_1


Ryuzen menyentuk kedua pipi Sara dan menatap mata wanita cantik itu dalam-dalam, "Dengar Sara, apapun yang terjadi padamu, bagamanapun kondisi dirimu. Satu hal yang harus selalu kau ingat.... Aku, tidak akan pernah berhenti mencintaimu apapun alasannya, aku tidak akan! Jadi jangan pernah berpikir aku akan merasa terbebani. Kau mengerti?"


Sara mengangguk paham. Ia pun tak kuasa meneteskan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan-tahan.


"Hei jangan menangis sayang," ucap Ryuzen sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi sang istri.


"Hiks, aku menangis karena aku merasa bersalah padamu. Aku bersalah karena sudah berpikir kau tidak mampu. Maaf...."


Ryuzen mengecup kening istrinya dengan mesra. Tak lupa dengan kedua pipi kanan dan kirinya yang juga di kecupnya, barulah ia kemudian mencium bibir merona sang istri, Tapi tak disangka sebelum Ryuzen mengecup bibir istrinya itu, Sara lebih dulu mengecup bibir Suaminya dengan lembut.


"Kau merindukanku ya?" Goda Ryuzen.


"Iya, aku merindukan kita berkumpul bersama lagi, dan menghabiskan hari-hari bersama. Aku rindu Ryu...," ungkap Sara agak malu-malu.


"Aku pun begitu sayang, setiap hari aku selalu merindukanmu," balasnya yang kemudian tiba-tiba Ryuzen mengelus perut Sara sambil berkata, "Dia, sudah berapa minggu?"


"Depalan minggu."


"Apa anak kita baik-baik saja?"


"Ya, dia baik-baik saja, Ryu."


"Sstt..., tidak Ryu, mereka semua baik padaku. Bahkan mereka memberikanku ruangan yang khusus untukku beristirahat. Jadi jangan khawatir ya."


Ryuzen menghela napas, setelah mendegar penjelasan dari istrinya tersebut. Melihat Ryuzen bereaksi wajar membuatnya tenang, pasalnya jika dia salah bicara, takut suaminya yang kadang suka lepas kendali ini, malah akan berbuat yang macam-macam di tempat ini.


"Arvin pasti sangat senang jika mengetahui kabar soal dirimu yang kini tengah mengandung calon adiknya," ujar Ryuzen sambil mengelus perut Sara.


"Oh iya Ryu, soal Arvin dia...."


"Aku sudah tahu dari Gina. Aku senang Gina mau membantu merawat Arvin di saat kita seperti ini. Meskipun aku tidak yakin, putraku akan mudah percaya dengan alasannya yang mengatakan jika kita tengah pergi berbulan madu."


Sara tersenyum kecil mendengar jawaban Ryuzen. Sungguh oase di padang pasir yang tandus bagi Ryuzen melihat senyum kecil istrinya barusan. Bagaimana tidak sudah beberapa hari ini Ryu tidak pernah melihat Sara tersenyum.


"Ada apa, menatapku begitu? Apa aku jadi jelek selama berada disini, maaf ya...." pungkas Sara.


Ryuzen tergelitik mendengar pernyataan istrinya barusan, "Kalau kau jelek, mana mungkin aku mau menikahimu. Lagipula, mana ada orang jelek macam bidadari turun ke bumi!" Ryuzen mencubit kecil hidung mancung Sara.


Sara tersipu malu mendengar ujaran sang suami, namun ditengah senda gurau mereka yang begitu lepas untuk beberapa saat. Ekspresi Sara kembali sendu.


"Ada apa?" Tanya Ryuzen penasaran, apa yang membuat Sara tiba-tiba terlihat murung lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir, melihat kita saat ini bercengkrama begini, apa mungkin kita bisa seperti ini lagi, seandainya di persidangan nanti ternyata ak-"


Ryuzen langsung membungkam Sara dengan mengecup bibirnya. "Jangan pernah berpikir yang macam-macam Sara," terang Ryuzen.


"Tapi aku takut."


"Kau tenang saja, aku pastikan kau akan keluar dari sini. Jadi kau hanya perlu tenang dan jangan banyak pikiran, paham?" Tukas Ryuzen


Sara mengangguk paham.


"Itu baru namanya istriku," ucap Ryuzen sambil mengusap kepala Sara dengan lembut.


Mereka pun saling berpelukan.


Aku pasti akan mengeluarkanmu Sara pasti! Karena itu adalah janjiku pada diriku sendiri.


~~


Di apartemennya Gina tengah bersiap-siap untuk pergi kaluar menemui Ryuzen guna membahas kasus Sara, yang sidangnya akan digelar lusa.


"Arvin, bibi mau keluar, kau tidak apa-apa kan jika bibi tinggal?


"Tentu saja bibi, santai saja!" Kata Arvin yang kini sedang sibuk bermain game di tabletnya.


Setelah siap, Gina pun menganmbil kunci mobilnya dan berpesan pada Arvin sebelum benar-benar pergi, "Baiklah, kalau begitu sementara aku pergi, kau hati-hati dirumah, dan jangan bukakan pintu pada siapapun oke?"


"Siap Bibi!" Ujar Arvin paham.


"Anak pintar, bibi pergi dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Bye Arvin!"


"Bye bye," balas Arvin


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more info follow my ig account @chrysalisha98๐Ÿ˜ฌ thank you.

__ADS_1


__ADS_2