
Dengan santainya Biyan Dao berjalan mendekati Jordan dan Jiro yang tengah berdiri di dekat mobil sedan hitam yang terparkir itu.
"Jadi, akhirnya si anak kesayangan mau juga menemui ibunya?" terdengar ujaran mencibir dari ucapan Biyan barusan.
"Bukan urusanmu!" balas Jordan dengan ketus.
Biyan Dao tergelak, ia mendekatkan dirinya lebih dekat lagi ke arah Jordan.
"So, bagaimana keadaan bibiku tercinta?"
Jordan mendecakkan lidahnya, "Kau bertanya padaku? Bukankah seharusnya kau jauh lebih tahu daripada aku Tuan Dao?"
Biyan kembali Tergelak, "Kau benar, aku memang mengetahui keadaan bibi lebih banyak dibanding kau. Apa kau tahu sepupu, sejak kau pergi meninggalkannya, riwayat kesehatan ibumu jadi sering terganggu. Dan yang lebih menyedihkan lagi, sebagai seorang anak kau malah meninggalkannya. Heh! Kau itu benar-benar anak durhaka ya?" ucap Biyan Dao diikuti gelak tawanya yang terdengar provokatif.
Kenapa Jordan diam? Apa dia menahan dirinya?
"Mau apa kau datang ke hadapanku Biyan?"
Sekali lagi Biyan tegelak, "Oh ayolah..., tidak bisakah kita mengobrol dengan santai tanpa mengeluarkan emosi yang berlebihan?"
"Mengobrol katamu? Bukankah lebih tepat jika kau sebut ocehanmu sejak tadi adalah, kesengajaan yang memang sengaja kau lakukan untuk memprovokasiku?" balas Jordan menatap tajam ke arah Biyan.
Biyan malah terkekeh. Jordan yang muak dengan kelakuan sepupunya itu pun tak kuasa berujar, "Heh! Jika kau hanya ingin basa-basi tak jelas, lebih baik menyingkirlah atau-"
"Atau apa?" ujar Biyan Dao yang kini terdengar lebih meninggikan nada bicaranya.
"Atau kau ingin menghancurkanku, membunuhku begitukah Jordan?"
Jordan Han bergeming.
"Kau harus tau Jordan Han, nyawa di bayar nyawa. Sakit hati dibayar dengan sakit hati. Aku tidak peduli kau akan membunuhku, atau menghabisiku sekalipun nantinya. Tapi sebelum kau membunuhku, akan aku buat dirimu merasakan sakit yang juga pernah aku rasakan dulu saat kau mengambil Laulin dariku!"
Jordan tak menjawab sepatah katapun. Dirinya hanya bisa terpaku dalam balutan rasa bersalah dan marah pada dirinya sendiri.
"Kenapa diam saja sepupu? Bukankah sejak kecil kau adalah putra mahkota pewaris Emerald yang arogan, yang akan dengan angkuhnya menghancurkan orang-orang yang tak sejalan denganmu?"
"Kau boleh dendam dan membenci aku, tapi tidak dengan Ryuzen, bagaimanapun dia adalah putra Laulin. Apa kau pikir dengan menjadikan putraku sebagai alat balas dendamu padaku, kau akan bisa membuat Laulin bangkit dari kubur?" ujar Jordan dengan ekspresi datar yang terlukis jelas di wajahnya.
Biyan Dao terkekeh, "Persetan dengan ucapanmu!Apa kau tahu jordan? Aku benar-benar sudah tidak sabar melihat drama antara ayah dan anak ini segera dimulai. Aku ingin tahu bagaimana reaksi keponakanku yang hebat itu jika mengetahui ayahnya sendirilah yang telah memasukkannya ke dunia kegelap yang bahkan hampir merenggut nyawanya itu."
Gelak tawa jumawa Biyan makin tak tertahan, sedangkan Jordan justru benar-benar seolah dibuat tak berdaya oleh ucapan sepupunya itu.
"Kau tahu, apa yang dikatakan putramu padaku soal siapa ayah kandungnya?"
__ADS_1
Jordan melirik tajam pada Biyan.
"Anakmu pernah mengatakan padaku jika, dirinya sampai mati pun tidak menginginkan seoran ayah. Dan dirinya juga tidak ingin mengenal siapa ayah kandungnya. Bahkan jika dia bisa menghilangkan genetik dirimu dari darah yang mengalir di tubuhnya, akan ia lakukan!"
Jordan tak bereaksi sedikitpun.
"Kau menemuiku hanya ingin mengatakan hal itu?"
Biyan Dao semakin menjadi-jadi, seolah menikmati betapa puas dirinya menertawakan sepupunya itu. Melihat sepupunya itu hanya diam sambil terus menatap tajam. Biyan yang kini nampak tak bersekat dengan tubuh Jordan pun membisikan kata, "Jordan Han sepupuku. Biar kuberi tahu, aku sudah puluhan tahun menunggu saat-saat ini. Saat dimana aku bisa melihatmu tak berdaya menerima takdirmu. Menerima bagaimana rasanya dibenci oleh putra kandungmu sendiri?"
geraham yang mengatup terlihat di rahang milik Jordan, Rasanya ingin sekali dirinya menikam mulut Biyan. Namun tentu saja hal itu tak bisa ia lakukan, mengingat apa yang dikatan Biyan adalah ketanyaan yang memang harus ia terima.
"Tuan Dao, jika kau sudah selesai menyingkirlah! Aku dan tuanku sudah muak denganmu!" ujar Jiro yang akhirnya buka suara setelah sejak tadi hanya menyimak.
"Well, kau juga akan jadi saksi hidup drama ini juga kan Jiro?" tanya Biyan dengan nada menyindir.
Suasana pun hening untuk beberapa detik.
"Hais, baiklah, baiklah... aku hanya ingin memberikan salam jumpa untuk sepupuku saja kok! Kalau begitu kalian silakan pergi." Biyan pun menyingkir dari dekat mobil sedan yang membawa Jordan dan Jiro itu, eolah memberikan ruang untuk mereka pergi.
Jordan dan Jiro pun akhirnya pergi, meninggalkan Biyan yang tengah menatap kepergian Jordan dengan mobilnya.
Jordan Han, Biyan Dao, dan Ryuzen. Siapa yang akan lebih dulu bergerak?
[ Pagi Hari ]
Seperti biasanya Sara akan sibuk menyiapkan sarapan dipagi hari. Terutama di hari libur yang kebetulan Arvin juga pulang ke villa. Dentuman suara-suara alat makan pun tak jarang terdengar. Hari ini terdengar sepi, sarapan di hari libur yang sering kali dihabiskan bertiga kini hanya berdua. Sara dan Arvin menikmati sarapan tanpa Ryuzen yang sejak kemarin tidak pulang. Keheningan pun begitu terasa.
Wajah Arvin pun nampak begitu datar dan tanpa gairah terpancar dimatanya. Di lihatnya oleh Sara putranya nampak tak bersemangat menikmati sarapan buatannya itu. Merasa khawatir Sara pun akhirnya buka suara, "Sayang, apa kau tak suka dengan menu sarapannya?"
"Suka!"
Sara menyipitkan matanya, dan kembali melontarakan pertanyaan. "Apa sedang tidak sehat? Atau kau mau mami buatkan sarapan yang lain?"
"Tidak," Arvin langsung menaruh alat makan yang dipenganya itu, kemudian menatap Sara.
"Mami, apa kau yakin tidak ada kejadian apapun yang terjadi selama aku di asrama?"
Sara nampak mulai bingung, ia terlihat tengah memutar bola matanya singkat, tanda sedang mencari-cari jawaban atas pertanyaam putra semata wayangnya tersebut.
"Arvin kau harus percaya pada mami. Tidak ada hal aneh terjadi kok!" jawab Sara kikuk.
Mendengar ucapan itu Arvin pun hanya memasang tatapan malasnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian orang dewasa memang payah dalam hal kejujuran!" ungkap Arvin sambil membuang muka sambil menutup matanya tak mau melihat Sara.
"Arvin! Jangan membuang muka pada istriku begitu!" ujar suara yang sudah sangat tidak asing lagi untuk Sara dan Arvin. Arvin pun dengan cepat membuka matanya dan melihat ke arah darimana suara pria yang sudah sangat familiar itu berasal.
"Ryu?" tukas Sara yang lebih dulu sadar jika sang suami tengah berdiri dengan gagahnya, sekitar 4-5 meter dari meja makan.
"Papi!" ujar Arvin.
Ryuzen pun langsung berjalan mendekat ke tempat meja makan, menemui istri dan anaknya yang tengah menikmati sarapan mereka. Arvin pun langsung menutup kedua matanya, dirinya paham betul jika, papi dan maminya pasti akan berpelukan lalu bermesraan selama beberapa menit ketika saling bertemu.
"Kalian sudah belum melakukan adegan dewasanya, kalau sudah aku mau membuka mataku?" tutur Arvin tanpa sungkan.
Sara dan Ryuzen pun
"Arvin, tutup matamu lebih lama. Karena aku masih perlu waktu 17 menit 17 detik untuk mencurahkan rasa rinduku pada istriku." tutur Ryuzen.
Melihat hal itu Sara yang berada dipelukan suaminya langsung menyipitkan matanya, tanda tidak suka melihat sang suami mengerjai putranya itu.
"Baiklah..., kali ini aku harus mengalah dengan anakku...." balas Ryuzen yang kemudian meminta Arvin membuka matanya.
"Huh! Kalian ini orang dewasa memangnya kalau bertemu tidak peluk cium itu tidak bisa apa?!" protes Arvin. Ryuzen tesenyum licik dan mendekatkan wajahnya ke telinga sang anak.
"Anakku, apa kau sudah punya pacar? Nanti kalau kau punya pasangan akan aku ajari bagaimana caranya memperlakukan pasanganmu." Wajah Arvin tiba-tiba jadi merah karena digoda sang ayah.
"Ryuzen cukup, jangan rusak anakmu dengan segala kegenitanmu itu, " ujar Sara yang sudah bisa menebak apa yang diucapkan suaminya itu pada anak mereka.
"Baiklah, baiklah istriku...," balas Ryuzen kemudian mengerlingkan matanya ke arah Sara.
"Ryu, apa kau sudah sarapan?"
"Nope!"
"Kalau begitu, kita sarapan bersama ya, biar aku siapakan untukmu."
Ryuzen pun mengangguk singkat, diikuti dengan gerakan menarik kursi, yang kemudian duduk bergabung dengan istri dan anaknya untuk sarapan bersama. Keluarga kecil itu pun akhirnya menikmati sarapan bersama mereka.
πΉπΉπΉ
Thanks for always keeping up and support me.
Maaf ya ga bisa update tiap hari π.
Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan komen, like, dan vote. Kritik dan sarannya juga ditunggu.
__ADS_1
Happy reading fellas, i hope you like it π