Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 10


__ADS_3

Setelah semuanya berkumpul di meja makan, mereka pun menikmati sarapan bersama. Sarapan pagi ini tentunya terasa menyenangkan bagi semuanya, terutama bagi Ryuzen. Seolah rumah mewah yang dulunya hanya ia anggap sebagai penjara menyedihkan ini, kini seperti berubah menjadi rumah yang penuh dengan kehangatan. Kehagatan yang seumur hidupnya tak pernah ia rasakan, pasca ditinggal oleh Ibunya yang meninggal saat dirinya masih berusia empat tahun.


"Nenek buyut! Katanya mau cerita tetang masa kecil papi saat dia masih kecil, ayo ceritakan!" ucap Arvin menagih janji nenek Ivy.


"Arvin, kita masih sarapan! Kau tidak boleh bicara terlalu banyak saat sedang makan," tegur Sara.


"Tapi...."


"Arvin, apa yang dikatakan Sara benar. Jadi menurutlah," sahut Ryuzen dengan wajah datarnya yang nampak serius.


"Oke baiklah!" balas Arvin menundukan wajahnya pasrah.


"Saat Ryuzen seusia Arvin, dirinya memang jarang sekali bicara. Sekalinya ia bicara, dia akan mengatakan hal-hal yang seharusnya belum waktunya di ucapkan oleh anak seusianya waktu itu. Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan membiarkan Yerumi mendidiknya seperti itu. Aku terlalu sibuk dengan urusanku, sehingga sering lupa untuk memperhatikannya, menyesal sekarang pun seolah tak ada gunanya."


"Nenek! Ada apa?" tanya Ryuzen yang melihat sang nenek seperti sedang melamun.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang ingat sesuatu. Mari teruskan sarapannya!"


~~


Setelah selesai sarapan, Nenek Ivy pun kini sudah siapa blmengajak cicitnya itu berjalan-jalan bersamanya sambil menepati janjinya pada Arvin, bahwa dirinya akan menceritakan kisah masa kecil Ryuzen.


"Bye Mami! Bye Papi! Kami pergi dulu," ucap Arvin yang hendak masuk ke dalam mobil untuk berangkat pergi berjalan-jalan dengan nenek buyutnya.


"Arvin kau harus menurut pada nenek buyut, dan jangan buat ulah!" Sara mengingatkan putranya tersebut agar tidak nakal.


"Oke mami!"


"Ryu, Sara, kami pergi dulu ya," pamit nenek Ivy.

__ADS_1


"Kalian hati-hati di jalan ya!" kata Sara.


"Yuji, jaga mereka dengan baik mengerti?!" ucap Ryuzen pada Yuji yang merupakan tangan kanan, sekaligus pengawal pribadi nyonya Ivy.


"Aku mengerti Tuan muda."


Dan akhirnya dengan di antar oleh Yuji, Nenek Ivy dan Arvin pun pergi meninggalkan kediaman Han untuk berjalan-jalan.


"Sayang, mereka sudah pergi, bagaimana jika kita lanjutkan yang semalam?" bisik Ryuzen di telinga Sara sambil membelai mersra pipi lembut sang istri.


"Tidak bisa Ryu, aku harus menelpon Thomas soal c-lovely. Aku sudah cuti hampir satu minggu, jadi sekarang aku harus tau bagaimana perkembangan tokoku setelah aku tinggal."


"Siapa peduli! Kau itu istriku siapa yang berani memarahimu hanya karena tidak bekerja? Thomas si melambai itu?" tukas Ryuzen yang merasa kesal, karena Sara lebih memilih pekerjaannya dibanding dirinya.


Sara melangkah berjalan untuk masuk kembali ke dalam rumah, begitu pun Ryuzen yang mengikutinya dari belakang. Namun saat hendak memasuki rumah tiba-tiba seorang dari penjaga gerbang kediaman Han mendatangi Ryuzen untuk melapor.


"Tuan muda maaf, di luar ada yang meminta untuk bertemu dengan anda," ucap si penjaga gerbang itu.


"Dia Nona Erika Zhang Tuan," jelas si penjaga gerbang itu.


Mau apa wanita itu kemari?


Ryuzen bertanya-tanya, ia pun langsung menoleh ke arah istrinya, untuk memastikan bagaimana raut wajahnya saat ini.


"Sayang, aku...."


Sara tersenyum, "Suruh Erika masuk, bagaimana pun dia adalah tamumu bukan?"


"Kau memang satu-satunya istriku," ujar Ryuzen seraya tersenyum bangga, melihat Sara yang mau membiarkan dirinya bertemu Erika.

__ADS_1


"Baiklah sekarang juga kau suruh Erika masuk dan katakan padanya untuk menunggu di taman belakang!"


Penjaga itu pun langsung menjalankan perintah dari Ryuzen barusan, untuk menyuruh Erika masuk.


Sementara itu Ryuzen justru kembali menatap Sara. Ia mencubit dagu wanita di hadapannya itu dengan lembut, sambil sedikit mendongakkannya.


"Apa kau yakin menyuruhnya masuk, kau tidak cemburu?" tanya Ryuzen.


"Untuk apa aku cemburu," balas Sara tidak menatap Ryuzen.


Pada kenyataannya Sara sangat tidak suka dan cemburu dengan kedatangan Erika. Tapi bagaimana pun juga Erika adalah bagian dari masa lalu Ryuzen. Dan sebagai bukti cinta tulus pada suaminya itu, Sara pun harus bisa menerima masa lalu suaminya apapun itu, termasuk mantan cinta pertamanya itu. Terlebih setelah apa yang telah dirinya dan Ryuzen alami dan lewati, Sara yakin jika Ryuzen pasti akan setia dan menjaga cintanya.


"Kau yakin tidak cemburu? "


"Kalau aku cemburu, apa kau akan menuruti mauku untuk mengusir Erika dari sini?"


"Tentu saja aku akan lakukan jika itu memang maumu! Tapi aku tahu kau bukanlah diriku, yang dengan tanpa belas kasihan bisa berbuat begitu dengan mudah?" ujar Ryuzen.


"Kau sudah mengenalku ya Ryu?" diikuti senyum Sara yang bagai bunga baru merekah, begitu cantik!


"Bagaimana aku tak mengenalmu, aku sangat mengenalmu hingga akhirnya aku tergila-gila padamu, dan semakin hari semakin tergila-gila padamu." Ryuzen mengecup singkat bibir sang istri dan memeluknya, mereka pun berpelukan singkat lalu melepasnya.


"Ayo temui mantan pacarmu itu," goda Sara pada Ryuzen sambil mengerlingkan matanya.


Ryuzen membalas dengan bisikan yang terdengar nakal, "Jangan menggodaku dan membuatku kesal, kalau si kecil milikku ini sampai terbangun habis kau saat ini juga Sara!"


"Baiklah baiklah, aku kalah deh!" ucap Sara dengan manja sambil memeluk lengan suaminya itu.


~~

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, VOTE, COMMENT Thank You.


__ADS_2