Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 168


__ADS_3

Ryuzen dan Renji terkesiap kaget, melihat kedatangan Sara yang tiba-tiba, dengan diikuti Kenzo yang berada dibelakangnya.


"Sara... kenapa kau kemari?"


Sara tak menjawab pertanyaan Ryu, dirinya justru terlihat berjalan perlahan mendekati Ryu dan Renji. Tubuh Sara yang masih terasa lemah, membuat dirinya berjalan terhuyung-huyung hingga hampir terjatuh. Beruntung Renji yang jaraknya tak terlalu jauh darinya berhasil menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Renji


"Aku baik-baik saja!" Ungkap Sara dengan ketus, lalu segera melepaskan dirinya dari dekapan tangan Renji yang menahannya.


Kini Sara telah berdiri diantara dua pria yang sama-sama mencintainya itu.


Entah mau percaya atau tidak, ini seperti scene drama yang sering ada di televisi, pikir Kenzo yang dari jarak agak jauh menyaksikannya mereka bertiga.


~~


"Kenapa kau kemari? Bukankah kauー"


"Aku baik-baik saja Ryuzen! Untuk anakku aku akan selalu baik-baik saja." Sara menampakkan wajah serius yang bagi Ryu, jarang sekali ditunjukkan oleh istrinya itu.


Apa wanita ini sedang marah?


Sara menoleh ke arah kedua pria di kanan dan kirinya itu secara bergantian. Dirinya terlihat mencengkeram erat gaun biru toscanya. Tengarai berusaha melampiaskan rasa kesal dan marahnya yang tidak ingin ia tunjukkan dengan gamblang. "Sebenarnya kalian itu pria dewasa macam apa!" Ujar wanita itu tiba-tiba.


Ryu dan Renji pun langsung sama-sama menatap Sara yang kini menundukkan wajahnya, dan berdiri di tengah-tengah mereka.


"Kenapa...? Kenapa banyak sekali orang yang dengan teganya, mengorbankan orang lain yang tak bersalah, demi ambisi dan pembalasan dendam yang tak ada ujungnya?"


Sara tiba-tiba menoleh ke arah Renji dan menatapnya dengan tajam. "Kau...! Awalnya aku begitu mengagumimu, aku mengagumi kepribadianmu atas tulisan yang kau buat lewat karya novelmu. Disana kau mengajarkan banyak hal, kau menuliskan bagaimana seseorang harus menerima masa lalu, dan bagaimana cara hatimu keluar dari kelamnya masa lalu itu, kau menuliskan itu semua di karyamu. Tapi nyatanya... tulisan itu seolah hanya picisan yang kau gunakan untuk memanipulasi apa yang sebenarnya terjadi."


Renji membeku, seolah tak memiliki kata-kata, untuk menyangga pernyataan Sara tersebut, karena lidahnya yang seolah kaku.


"Dan kau Ryu...!" Kini Sara berganti menolehkan matanya dan memandangi sang suami. Dengan mata berkaca-kaca ia pun berucap. "Jujur... jika aku tanya padamu saat ini, siapa yang akan kau pilih?"


Jantung Ryuzen berdegup kencang, tenggorokannya bagai tertusuk duri-duri yang tak kasat mata, kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sara.


"Jawab aku Ryu...?"


Ryuzen berjalan mendekati Sara. "Jangan mendekat! Yang aku hanya ingin kau lakukan adalah... kau jawab pertanyaanku tentang, siapa yang akan kau pilih? Aku atau Arvin?"


Rasa frustasi makin menggerogoti saraf otak Ryuzen. "Aku tidak mungkin memilih..." Lirih pria itu. "Aku tidak bisa memilih antara kau atau Arvin, karena kalian adalah bagian dari hidupku!"


"Tapi kau harus memilih saat ini...!" Air mata Sara yang sudah tak terbendung lagi itu pun, akhirnya jatuh dari pelupuk mata indahnya. "Ryuzen... tolong selamatkan Arvin...!"


Ryuzen tak kuasa melihat istrinya itu menangis dihadapannya yang merasa lemah saat ini.

__ADS_1


"Jika memang kau terpaksa harus memilih, aku mohon... pilihlah Arvin saja, walau sebenarnya aku sendiri tidak mau hal ini terjadi, tapi akuー"


"Tidak!" Ryuzen langsung memegangi wajah Sara dan memandangnya dalam-dalam. "Aku tidak akan melepasmu, dan aku tidak akan melepaskan siapapun. Aku akan menyelamatkan Arvin dan tidak akan melepaskanmu. Jadi kumohon jangan bicara seperti itu!"


"Tapi kita harus bagaimana...? Waktu kita tidak banyak lagi Ryuzen... nyawa Arvin jadi taruhannya!" Sara menangis pasrah sambil menyandarkan kepalanya di dada Ryuzen. Sebagai seorang ibu, Sara tidak tahu lagi harus bagaimana, selain merelakan dirinya sendiri demi sang buah hati.


Melihat pemandangan diantara Ryu dan Sara, Renji semakin meradang. Batinnya bagai terbakar api cemburu yang semakin membesar. Sial! "Baiklah... aku rasa, kau hanya punya waktu sekitar lima belas menit untuk memilih Ryuzen," tukas Renji.


Ryuzen benar-benar telah masuk perangkap permainan Biyan dan Renji. Dirinya benar-benar dipaksa agar tidak memiliki pilihan lain. Bagai berdiri diantara dua jurang yang sama-sama tak ingin ia tercebur ke dalamnya. Apa ini akhirnya...? Ryuzen menatap Sara yang tengah menangis tersedu-sedu di dekapannya. Tetes demi tetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata istrinya itu, seolah perlahan meresap kedalam relung hati Ryu dan menimbulkan rasa lara yang tak terkira. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimanapun aku harus segera mengambil keputusan... Ryu menegakkan kepalanya, ia merasa harus mengambil keputusan saat ini.


Sara pun mencoba tegar. Tidak peduli lagi jika ia harus mengorbankan dirinya demi Arvin. Sara melihat ke arah Ryuzen dan mengangguk, tanda dirinya akan menerima apapun keputusan Ryuzen. Jika memang harus seperti ini, maka aku hanya perlu meyakini rasa cintaku pada Ryuzen.


Ryu menghela napas. "Baiklah... tunjukkan aku dimana Arvin?"


"Jadi... kau setuju untuk melepaskan Sara?" Renji medekati tempat dimana Ryu dan Sara kini berdiri berdampingan.


"Aku..."


Melihat Ryu, Sara pun langsung menggeggam tangan Ryuzen yang gemetar itu. "Ryu, aku hanya ingin kau... oh tidak! Aku hanya ingin dunia tahu jika... dimanapun diriku, dan bagaimanapun nanti kita. Hatiku hanya akan terpatri dengan namamu."


Ryuzen tersenyum kecil, seolah kalimat Sara bagai obat penenang baginya. "Baiklah Renji, aku akanー"


"Tunggu Nak!" Seru seorang pria yang datang dengan tiba-tiba.


"Tuan Jordan!" Seru Kenzo yang paling pertama melihatnya kedatangannya. Ryu, Sara dan Renji pun ikut menoleh ke arah darimana datangnya Jordan.


Jordan pun berjalan mendekati Ryuzen. Ia pun lalu menepuk pundak Ryuzen dan berkata, "Aku tahu dimana Arvin!"


Apa? Ryuzen terkesiap.


"Ba- bagaimana bisa kau tahu taun Jordan!?" Sontak Renji terkaget-kaget dibuatnya.


"Tapi ayah mertua darimana kau bisa..."


"Aku tadiー"


"Sudahlah..." Ryu memotong ucapan Jordan, lalu melihat ke arah Sara. "Sayang... nanti saja bicaranya. Sekarang kau tunggulah disini bersama Kenzo! Sekarang juga aku akan pergi menolong anak kita." Sara menatap Ryu dalam-dalam. Sebenarnya ia ingin sekali memaksa ikut untuk menolong putranya itu. Namun, ia tidak melakukannya... Sara tahu jika suaminya itu pasti akan menepati janji untuk membawa Arvin kembali padanya.


Hem, Sara mengangguk "Aku akan menunggumu disini Ryu! Kembalilah kalian bersama Arvin dengan selamat!" Ujar Sara dengan mantap.


Ryu pun mengangguk senang, dan pergi bersama sang ayah untuk segera menolong putranya yang kini tengah disandera.


Aku pasti akan menepati janjiku padamu Sara... kau tenang saja.


Aku percaya padamu dan cinta kita Ryu... aku sangat percaya. Sara seolah kembali memiliki tenaga lagi.

__ADS_1


~~


"Dan lagi... kau menolakku secara tidak langsung...!" Ucap Renji dengan nada pasrah.


Sara menoleh ke arah Renji. "Karena apapun yang kau coba lakukan padaku dan Ryu, jika semesta tak berpihak padamu, kau tidak akan bisa memisahkan apa yang sudah disatukan Ren....!"


Renji tersenyum getir. "Kau sangat yakin suami dan anakmu akan kembali?"


"Ya... aku yakin! Dan aku rasa kau pun tahu pria seperti apa Ryuzen!" Jawab Sara tanpa ragu sedikitpun. "Aku yakin pada suamiku. Dan aku percaya padanya....! Jadi Renji... aku harap kau tahu itu."


Renji mendekati Sara, ditatapnya wanita itu dengan penuh rasa ingin memilikinya. "Kau tahu, kau disini denganku, tanpa Ryuzen. Kau harusnya tau kan... jika aku bisa saja menculikmu dan membawamu pergi saat ini juga. Apa kau tidak takut?"


"Dan aku bertaruh kau tidak akan berani melakukan itu padaku!" Jawab Sara tenang.


Renji menyeringai. "Kau tahu aku mencintaimu."


"Aku tahu, itu sebabnya aku tidak pernah berpikir kau akan menyakitiku!"


"Tapi kau menyakitiku!"


"I'm sorry... aku tidak bisa membalas perasaanmu." Lirih Sara dengan perasaan menyesal.


Renji menghela napasnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Sara dan berbisik. "Dan aku tidak akan pernah sedetik pun berhenti mencintai dirimu hingga kau juga mencintaiku Sara..."


Aku tidak mengerti kenapa dia begitu menginginkanku?


"Sara... aku hanya ingin kau tahu... aku lebih dulu mencintaimu dibanding Ryu."


"Aku paham, dan aku tahu kau pria yang baik!"


"Jangan berusaha menghiburku Sara, Tolong...!" Renji menarik tubuhnya menjauhi Sara dan berbalik badan. " Baiklah... aku pergi. Semoga kau tidak kecewa dengan suamimu!"


"Aku tidak akan!"


Renji pun pergi meninggalkan Sara dengan perasaan hancur berkeping-keping. Kali ini secara jelas ia benar-benar melihat betapa Sara mencintai Ryuzen.


Apakah takdir memang mengharuskanku jadi sebatang kara? Apakah dendamku pada Ryuzen pada akhirnya yang menghancurkan diriku sendiri? Lalu... apa gunanya hidup jika tidak ada yang menanti kehadiranmu? Bahkan langitpun masih membutuhkan bintang-bintang agar terlihat indah dipandang saat gelap.


🌹🌹🌹


Hallo my beloved readers apa kabar, maaf baru update kembali 🙏.


Aku hanya mau bilang kmungkinan besar, sekitaran 10 part lg novel ini bakal tamat dan aku akan datang dengan cerita baru dan judul baru (yang semoga banyak yang suka). So keep reading ya...


Jangan Lupa jejak LIKE, COMMENT & VOTEnya... 😄

__ADS_1


Thank You...


__ADS_2