
Setelah pertengkaran antara dirinya dan Ryuzen berlalu. Sara masih saja mengurung diri di kamar duduk meringkuk merenungi apa yang terjadi atara dirinya dengan suaminya tadi. Sara jujur saja, tidak menyangka jika Ryu akan semarah itu padanya, sampai-sampai pergi keluar meninggalkannya.
Berkali-kali Sara melihat ke arah jam dinding mewah, yang menggantung di dinding kamarnya itu. Sudah jam segini, kenapa dia belum juga kembali? Apa tidak ingin pulang? keluh Sara yang terus bertanya-tanya akan suaminya itu. Bukan hanya memandangi waktu, Sara pun bahkan berkali-kali mengecek ponselnya. Berharap suaminya itu menghubunginya atau sekedar membalas pesannya. Meskipun terakhir tadi sekitar dua jam yang lalu, Ryuzen sudah mengiriminya pesan, Sara tetap saja belum tenang jika belum melihat atau bicara lagi dengannya.
Sara lalu mengambil ponselnya dari atas nakas, kemudian dibacanya ulang chat dari Ryuzen tadi, yang dikirimkannya sejak dua jam yang lalu.
Ryuzen ;
Aku pergi menenangkan diri keluar, kau tidak perlu khawatir atau menungguku. Tolong jangan sampai lupa makan malammu, aku tidak mau sampai terjadi hal buruk padamu dan anak kita.
Sara to Ryuzen ; Kau tahu... Aku merindukanmu Ryu...
Sejujurnya, Sara telah mengirim pesan rindunya itu pada Ryuzen, setiap lima menit skeali. Sayangnya pesannya itu tak kunjung dibalas oleh Ryu. "Apa kau sedang menghukumku? Kau bilang jangan khawatir, tapi semua chat yang aku kirim tidak kau balas satu pun Huft...!" Sara yang tengah jengkel pun meletakan kembali ponselnya di atas meja nakas yang terletak di samping ranjang. Dirinya kini duduk meringkuk bersandar di headboard ranjang. Diraihnya tiba-tiba oleh Sara bantal yang biasa digunakan oleh Ryuzen, ia memeluknya dengan erat, merasakan aroma suaminya yang menempel di bantal yang kini dipeluknya itu. "Ryu aku rindu padamu...!" ujar Sara sambil menenggelamkan wajahnya di bantal tersebut.
*tok tok terdengar suara pintu diketuk.
Sara yang tengah duduk seketika langsung gelapagapan, ia berpikir jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Ryuzen suaminya. Dirinya pun segera turun dari ranjang, dan membukakan pintu tersebut.
*klik! Suara pintu dibuka.
Seketika, raut wajah Sara yang tadinya sangat bersemangat berubah menjadi lesu, saat tahu ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah bibi Rachel yang datang bersama dengan nampan yang berisi menu makanan. "Maaf Nona, sepertinya bukan kedatanganku yang kau harapkan ya...?" Ucap bibi Rachel yang sudah tahu hal itu.
"Tidak apa bi... aku yang seharusnya minta maaf, karena tidak seharusnya aku memasang wajah seperti itu saat kau datang. Oh iya... memangnya ada apa bibi Rachel menemuiku?"
Dengan senyuman ramah, bibi Rachel mengangkat nampa berisi makanan yang dibawanya itu ke hadapan Sara. "Nona, aku kemari untuk mengantarkan makan malam ini untukmu. Karena aku tahu kau belum makan kan sejak pulang tadi?" Sara langsung memandangi makanan yang ada di atas nampan yang dibawa oleh bibi Rachel tersebut.
"Aku sudah buatkan anda sup jagung manis dengan telur. Ini masih hangat, dan sangat bagus untuk kesehatanmu dan bayimu."
Jujur saja, Sara benar-benar tidak berselera makan saat ini. Tapi mengingat dirinya yang tengah mengandung, mau tidak mau ia pun harus memaksakan dirinya untuk makan, setidaknya untuk memenuhi nutrisi bayi di dalam perutnya. Sara mengelus perutnya yang mulai terlihat agak buncit itu. "Baiklah bibi... terima kasih sudah mengantarkan aku makan malam, aku akan makan ini semua,"ucap Sara mengambil nampan makanan itu dari tangan bibi Rachel.
"Makanlah yang banyak nona, kau harus sehat. Kalau kau sampai kurang makan, kata tuan muda dia akan memecat semua pelayan disini, termasuk aku."
Ah? Sampai seperti itukah dia demi aku? Tanpa sadar, Sara langsung mengulas senyum kecil dibibirnya kala mendengar perkataan bibi Rachel barusan. Padahal hanya sebuah kata-kata dari Ryuzen, tapi perasaan Sara seperti melambung tinggi dibuatnya.
"Nona, kalau begitu aku permisi dulu..." ujar bibi Rachel yang kemudian langsung pergi meninggalkan Sara, dengan nampan berisi makan malamnya.
~~
__ADS_1
Dibawanya nampan itu oleh Sara ke atas nakas.
Dirinya tampak senang, mengingat perkataan bibi Rachel barusan... Istri Ryu itu benar-benar dibuat terbuai memikirkan perkataan Ryuzen. "Dia bahkan sampai mau memecat pelayan hanya jika aku kurang makan. Dia juga pernah hampir saja memecat seluruh karyawan wanitanya karena aku minta, meskipun saat itu aku hanya bercanda." Hati Sara seperti berdesir... selama ini ternyata dirinya tidak sadar, betapa suaminya itu telah menempatkan dirinya di posisi paling tinggi sebagai yang terpenting di hidupnya. "Aku ingin kau memelukku saat ini Ryuzen..." ujar Sara dengan sangat berharap.
~~
Kairaku Bar and Lounge, sudah pasti menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi para pemburu kesenangan, untuk menghabiskan malam mereka di kota ini. Setelah dilanda penat akan aktivitas padat di pagi hingga sore hari, mereka terutama orang-orang kaya di Montegi pasti akan berbodong-bondong untuk mampir ke tempat itu. Dan di tempat itu pula CEO Emerald memutuskan untuk menenangkan pikirannya saat ini.
Ryuzen tampak tengah berbicara dengan seseorang di telepon. "Bagus! Pastikan dia habiskan makan malamnya. Dan pastikan juga jangan sampai dia melakukan hal-hal aneh, paham!"
"Oke!" Ryuzen langsung mengakhiri obrolannya.
"Ada masalah apa lagi tuan tampan?" Ujar Jason yang tiba-tiba saja duduk di sebelah Ryuzen. Dokter Jason terlihat sedang memesan minuman pada sahabat Ryu yang lain, yakni Yoshiki.
Mendengar pertanyaan Jason, Yoshiki yang ada di hadapan mereka berdua pun tak kuasa untuk berujar, "Apalagi alasan tuan muda Han kemari, kalau bukan karena sedang bermasalah dengan ibu negara."
Jason hanya bisa tersenyum geli mendengarnya.
Ryuzen kembali meneguk minumannya. Matanya terlihat agak lelah, kemeja dan dasinya pun tidak rapi seperti biasanya. "Ryuzen... sebagai teman, aku hanya ingin mengingatkan. Istrimu itu sedang hamil jadi jangan buat diaー"
"Aku paham hal itu Jason!" Sela Ryuzen yang merasa masih belum bisa berpikir rasional di hadapan Sara saat ini. Diri Ryuzen masih merasa menyesal mengingat bagaimana tadi dirinya lepas kendali terhadap istrinya itu. "Terkadang aku tidak sanggup mengendalikan rasa marah dan cemburuku pada Sara."
Ryuzen lagi-lagi meneguk minumannya sampai habis. "Disatu sisi aku marah dan kecewa pada Sara, tapi disisi lain aku juga cemburu, aku cemburu karena dia lebih percaya pada orang lain daripada aku suaminya. Sungguh! Aku ingin sekali marah tapi aku tidak bisa... oleh karena itu aku malah melampiaskan rasa marah dan cemburu itu dengan memaksanya untuk ya kau tahuー"
"Heh! Sepertinya kau itu sudah terlalu menempatkan Sara diatas batas rasionalmu Ryu!" Sahut Jason.
Ryuzen mendengus, "Mungkin...!'
"Tapi memang apa sebenarnya masalah yang membuat dirimu dan Sara jadi harus bertengkar serius begini?" Tanya Yoshiki yang sebenarnya sudah ingin tahu sejak tadi.
Mimik wajah Ryuzen tiba-tiba serius, sorot matanya pun berubah lebih tajam. "Renji Haoran!" Ujar Ryuzen.
~~
"Apa!" Jason kaget mendengar cerita Ryuzen tentang yang terjadi antara dirinya, Sara, dan Renji.
"Ja- jadi Renji sudah mengenal Sara sebelum kasus waktu itu? Itu artinya... Renji sudah cukup lama mengawasi Sara?" Ungkap Jason.
__ADS_1
"Itu yang aku takutkan! Aku takut dia menyeret Sara dalam urusanku dan dia. Karena...aku tahu persis betapa menggebunya Renji ingin membalasku!" Sorot mata Ryuzen selalu tampak tak biasa kala membicarakan Renji, entah apa yang membuatnya begitu.
"Ngomong-ngomong soal Renji, beberapa hari yang lalu Renji datang ke tempat ini," ungkap Yoshiki.
"Iyakah...?" Sahut Jason yang penasaran dengan apa yang dilakukan Renji di tempat ini.
"Dirinya datang kemari untuk minum. Tidak banyak juga yang aku dan dia bicarakan. Tapi yang aku lihat dari cara bicara dan bahasanya masih tetap sama seperti dulu. Sopan dan tertata."
"Kebalikan diriku. Itulah dia!" Celetuk Ryuzen yang lagi-lagi kembali meneguk minumannya. "Oh iya apa kalian tahu?\="
Jason dan Yoshiki tampak penasaran "Apa?"
"Renji adalah dewa penolong Arvin!" Tukas Ryuzen yang berhasil membuat Jason terkejut. "Tunggu! Ryu maksudmu dewa penolong itu maksudnya...."
"Maksudnya Renjilah yang sudah menolong Arvin saat hampir saja tenggelam di sungai waktu itu, begitu kan maksudmu?" Ungkap Yoshiki meneruskan ucapan Jason.
"Ya, dan itu artinya aku kini punya hutang budi padanya," ujar Ryuzen diikuti senyum mengejek.
Yoshiki menepuk pundak Ryu, "Aku harap ada jalan keluar di masalah kalian, karena apapun itu, tetap saja aku tidak bisa condong membelamu ataupun Renji. Karena aku tidak paham masalah apa sebenarnya yang terjadi diantara kalian berdua."
"Tidak masalah!" Ungkap Ryuzen santai.
~~
Saat mereka bertiga tengah serius mengobrol tiba-tiba beberapa orang wanita pengunjung menghampiri mereka. Ada seorang wanita dengan pakaian serba minim datang dan mencoba berkenalan dengan mereka.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...
Author secara personal ingin berterima kasih kepada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author mohon maaf, karena tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Oh iya, meski sering kali novelnya slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian.
Dan buat yang sudah baca novel ini, jangan lupa ya untuk selalu tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa juga untuk bantu di SHARE komik ini, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti sekali buat aku.
Satu lagi temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya... buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
__ADS_1
FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏