
"Jadi kau benar-benar yang melakukan semua ini!" Mata Ryuzen menajam bak elang yang sudah siap menerkam buruannya. Ia berjalan mendekati pria yang ditemuinya tersebut, langkahnya terlihat tenang serta pasti. Namun siapa sangka ada sebuah belati yang ternyata dipengang Ryuzen dan langsung diarahkan ke leher pria yang kini menjadi pemicu amarahnya. "Dimana Sara?"
"Aku tidak tahu!" Jawab pria itu dengan tenang.
Ryuzen tertawa kecut, ia melepaskan belatinya dan malah meninju wajah pria yang tidak lain adalah Renji Haoran.
"Kau sungguh menyedihkan Renji!" Pekik Ryuzen yang kembali melayangkan tinjunya kepada Renji, namun kali ini Renji mampu menghalaunya. "Kau yang lebih menyedihkan Ryuzen!" Kedua pria itu pun terlibat dalam pertarungan baku hantam yang sengit, keduanya saling menyerang dan bertahan. Amarah dan rasa kecewa melebur dalam satu emosi yang tak bisa lagi dibendung oleh Ryu pada rekan sekaligus kawan lamanya itu.
"Kenapa kau bisa melakukan hal itu, kenapa kau terus menyakiti Sara!" Ryuzen menghantam rahang Renji hingga terpelanting.
Renji tak tinggal diam, ia pun langsung membalas memukul Ryuzen dengan keras, "Bukan aku yang menyakiti Sara, justru kaulah idiot yang tidak bisa menjaganya."
Ryuzen tiba-tiba berhenti menyerang, ia tidak membalas pukulan Renji. Ryu justru menundukkan kepalanya sambil mengusap noda darah yang ditimbulkan oleh luka yang ada disisi bibirnya. Ryuzen tergelak seolah menertawan Renji, "Kau bilang aku idiot? Cih! Dasar tidak tahu malu!"
"Ya, aku memang tidak tahu malu. Tapi setidaknya aku bukan pria tempramen konyol yang gegabah sepertimu Ryu!"
Ryuzen tersentak dengan perkataan yang terlontar dari mulut Renji barusan. Apa maksudnya?
"Kau berpikir aku yang menyuruhmu kemari bukan?" Ujar Renji.
Ryuzen mengernyitkan dahinya, mencoba menelaah ucapan Renji.
Renji tersenyum miring. "Andai saja kau tidak terlarut dalam kecemburuanmu terhadapku. Mungkin saat ini kau sudah bersama-sama dengan Sara dan tidak perlu datang ke tempat ini."
"Apa sebenarnya yang sedang kau katakan!" Ryuzen masih mencoba memahami ucapan Renji. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ryuzen pun merogoh saku tempat dimana ponselnya berada, sebuah panggilan dari Jesper ternyata.
"Halo!"
..
Mata Ryuzen seketika mengisyaratkan sebuah keterkejutan. "Sara?" Ujar Ryuzen keras.
Ryuzen : Sara kau kah itu sayang?
Sara : Ya, ini aku... maaf ponselku tadi dicuri oleh pencopet. Aku jadi tidak bisa menghubungi siapapun!
__ADS_1
Ryuzen : Jadi kau baik-baik saja. (Terdengar lebih tenang)
Sara : Iya aku baik, kau- kau dimana sayang, kenapa napasmu terdengar seperti terengah-engah?
Ryuzen : Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya....
*Bang. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang keras hingga terdengar oleh Sara.
Sara : Suara apa itu sayang? (Sara terdengar panik)
Ryuzen : Bukan apa-apa, sekarang aku minta kau tutup teleponya!
Sara : Tidak mau! Pasti ada hal yang tengah terjadi kan? Kau dimana?
Ryuzen : Jangan banyak tanya matikan saja teleponnya!
* Dan Seketika panggilan terputus.
~~
"Ada apa Sara, kenapa kau panik begitu, dan kenapa tiba-tiba panggilannya terputus?" Tanya Gina yang juga penasaran dengan Sara yang terlihat sangat cemas saat ini.
"Aku juga tidak tahu, tapi... aku mendengar suara keras seperti ledakan. Dan... aku tidak tahu apa itu. Aku benar-benar takut terjadi hal buruk pada Ryuzen." Sara semakin terlihat panik, pikirannya pun mulai dihinggapi dengan hal-hal yang tidak ingin ia bayangkan. Tubuh Sara pun mulai gemetar, peluhnya pun menetes akibat rasa cemas yang semakin memuncak. "Aku tidak bisa terus disini, aku harus menemui Ryu, perasaanku benar-benar tidak enak!" Sara diserang rasa panik bercampur takut, matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Tapi kita tidak tahu dimana Ryuzen berada,"ujar Jesper.
"Terserah, yang jelas aku harus menemui suamiku!" Jawab Sara dengan suara bergetar.
Tidak tega melihat sang sahabat dalam keadaan seperti itu, Gina pun tidak bisa tinggal diam. "Baikalah dimanapun suamimu saat ini, aku dan Jesper akan membantumu mencari Ryu!" Gina melihat ke arah Jesper, pria itupun mengangguk tanda setuju dengan ucapan Gina. Dan mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil mencoba mencari dimana keberadaan Ryuzen berada.
~~
Sementara itu, di tempat Ryu dan Renji berada saat ini. Muncul sosok pria bertopi fedora dengan mengenakan mantel gelap yang ditengarai baru saja melesatkan dua kali tembakan peluru, yang mana tembakan keduanya berhasil mengenai ponsel Ryuzen hingga membuat ponselnya rusak.
"Siapa kau!?" Ujar Ryu dengan tatapan marah.
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab ia justru tertawa dengan pongah seolah tengah menertawakan Ryuzen.
"Sial, ternyata aku pun dibodohinya juga," ujar Renji merasa malu pada diri sendiri.
Setelah mendengar ucapan Renji barusan, Ryuzen kembali memperhatikan pria bertopi fedora tersebut dengan seksama. Hingga akhirnya ia pun menyadarinya. Sial kenapa aku sebodoh ini! Ryuzen memaki dirinya sendiri, ia merasa bodoh karena baru menyadari jika dirinya telah dijebak oleh permainan pria yang tidak lain adalah pamannya sendiri Biyan Dao.
Biyan Dao si pria bertopi fedora itu kembali menyuarakan gelak tawa yang terdengar mengejek. Pria itu pun akhirnya membuka topinya dan memperlihatkan dengan jelas wajahnya yang terlihat puas dan jumawa. "Akhirnya... aku bisa melihat dua pria bodoh, yang bisa ditipu dengan mudah, hanya karena seorang wanita."
"Baj!ngan kau pria tua!" Umpat Ryuzen.
"Kau berpikir wanita di video itu adalah istrimu bukan?" Ujar Biyan Dao yang kini tengah berjalan mendekat kepada Ryu. "Biar aku tebak, kau pasti mengira istrimu telah disandera oleh Renji karena kau melihat kiriman foto-foto yang memperlihatkan istrimu sedang bersama pria disampingmu saat ini, bukan begitu keponakanku?"
"Dan kau!" Biyan menoleh menatap Renji. "Pasti saat melihat video wanita itu disekap kau langsung ketakutan, sampai-sampai kau tidak bisa berpikir jernih dan langsung datang ke tempat ini, iyakan tuan Haoran?" Biyan Dao pun tertawa sambil bertepuk tangan. "Hais, benar-benar tidak kusangka ternyata hal itu efektif untuk memperdaya dua tikus seperti kalian, dimana aku menggunakan seorang wanita yang menjadi kelemahan terbesar kalian berdua sebagai umpan, aku benar-benar cerdas bukan?" Ucap Biyan dengan bangga. "Oh iya, pasti kalian juga penasaran dengan wanita di video itu bukan? Karena yang pasti wanita itu bukanlah istrimu keponakan, karena jelas istrimu baru saja meneleponmu."
"Apa sebenarnya maumu Biyan Dao?" Ujar Renji sinis.
"Tidak ada yang spesial, mauku hanya melihat kalian berdua saling membunuh, menderita dan hancur! Karena apa? Karena kalian berdua telah membuat semua yang aku rencanakan gagal! Terutama kau," Biyan menatap Ryuzen dengan tatapan bengis. "Aku sangat amat ingin melihatmu hancur sampai menjadi debu!"
"Kau memang sudah tidak waras pria tua!" ujar Ryuzen dengan tatapan dingin.
"Haha... terserah, yang jelas aku senang melihat kebodohan kalian berdua yang berhasil masuk dalam perangkapku. Jadi... apa kalian mau tahu siapa orang di video itu? Orang itu adalah..." Biyan pun memanggil seseorang yang mirip Sara di video yang dikirimkannya kepada Ryuzen dan Renji. Seorang wanita yang mirip dengan Sara itu pun tiba, dan ternyata wanita itu adalah seorang agen yang dibayar oleh Biyan untuk berpenampilan persis dengan Sara, dan berpura-pura sedang disekap. Biyan Dao tak kuasa kembali tertawa melihat Ryuzen dan Renji tidak bisa berkata-kata. "Kenapa kalian berdua diam? Sedang merenungi ketololan kalian? Atau kalian ingin kembali bertarung seperti tadi?" Ejek Biyan dan kembali menertawai Ryuzen dan Renji.
Namun Ryuzen malah terdengar mendengus, lalu tersenyum miring "Sepertinya kali ini aku benar-benar ingin kembali bertarung sungguhan."
"Ya, aku pun begitu," balas Renji.
"Wow! Sepertinya duo bodoh mulai marah, baiklah kalau begitu. Karena kalian ingin bertarung maka aku akan berikan lawan untuk kalian!" Biyan tiba-tiba memberikan suara kode, hinga tiba-tiba munculah puluhan pria berbadan tegap masuk dari berbagai arah seolah mengepung Ryu dan Renji.
Biyan Dao pun menarik dirinya, ia langsung memerintahkan para pria bayarannya itu untuk menghabisi Ryu dan Renji yang ia pikir tidak memiliki senjata. "Kalau begitu kalian berdua, silakan bertarung menuju kematian," ujar Biyan yang kemudian pergi menjauhi Ryu dan Renji yang kini berdiri saling membelakangi. Renji melirik Ryuzen dan berkata, "Sepertinya kita harus kembali jadi partner kali ini!"
Ryuzen pun hanya membalas lewat bibir yang menyeringai, ia tanpa ragu mengokang pistolnya yang memang selalu ia bawa. "Aku rasa kita tidak perlu basa-basi tuan Haoran!"
"Ya kau benar partner lamaku!"
๐น๐น๐น
__ADS_1