
"Dalam hal itu, aku juga harus memohon ampun padamu nak. Aku dan tuan, kami sama-sama tidak tahu jika ternyata kau adalah putra nona Laulin alias anak tuan Jordan. Saat itu tuan Jordan memang tengah memburu seseorang yang dia pikir akan ia jadikan sebagai penerusnya kelak. Aku benar-benar berdosa padamu nak," jelas Jiro merasa sangat bersalah.
Ryuzen menyeringai, "Minta maaf untuk apa? Kau tidak perlu meminta maaf Jiro. Lagipula..., terkadang aku merasa beruntung karena bisa belajar banyak hal dari tempat terkutuk bernama Anglo itu. Berkat tempat itu, aku jadi bisa bertahan dari banyak musuh yang ingin menghancurkanku dan keluargaku! Jadi kau tidak perlu minta maaf."
"Tapi Ryu kau-"
"Sudahlah...! Lagipula, kenapa bukan King JH saja yang membuka topengnya sendiri dan menampakkan wajahnya di hadapanku? Kenapa harus kau yang meceritakan semua kebenaran itu?" Ryuzen tersenyum getir.
"Apa kau akan percaya jika aku sendiri yang mengatakan semua hal itu?" ujar seseorang yang ternyata adalah Jordan Han yang baru saja tiba menghampiri Ryu dan Jiro.
Ryuzen nampak tidak baik-baik saja saat mendengar suara pria itu muncul.
"Tuan Jordan, anda...?" Jiro bermaksud menghentikan Jordan namun, pria itu seolah memberikan kode jika semua akan baik-baik saja.
"Apa kabarmu Jordan Han alias king JH?"
Pertanyaan yang barusan, dibanding sebagai pertanyaan kabar, lebih terdengar sebagai sindiran tajam yang terlontar dari mulut Ryuzen.
"Kabarku tidak akan pernah baik nak," balas Jordan dengan nada suara yang terdengar agak parau.
"Cih! Kau berbicara dengan nada seperti itu?" Ryu tergelak.
"Oh jadi begitu? JH yang aku kenal begitu arogan kini sudah berubah menjadi JH yang lebih lembutkah?"
Jordan tiba-tiba mendekati Ryu, "Ryuzen, jika kau ingin aku berlutut di hadapanmu, maka akan ku lakukan. Bahkan jika kau ingin aku mengorbankan nyawaku sekalipun, maka itu pun pasti akan aku kabulkan. Asal kau biarkan aku membantumu sekali saja dalam hidupku."
"Membantuku?" Ryuzen tertawa namun sorot matanya sedih.
"Membantuku dengan apa huh?!"
Sebuah belati yang ada di tangannya berhasil menggores sedikit bagian pipi kiri Jordan. Ryuzen melukai ayahnya sendiri.
"Tuan Jordan, tuan muda. Tolong berhenti!" Tukas Jiro khawatir.
Sepasang ayah dan anak itu saling berhadapan, tatapan mata Ryuzen jelas dingin dan menajam. Jordan melihat ke arah belati yang digunakan oleh Ryu untuk melukai sang ayah. Tentunya hal wajar, mengingat belati yang ada di genggaman putranya itu begitu familiar bagi Jordan.
"Kau masih menyimpan pisau belati itu?" Selidik Jordan.
"Iya aku masih menyimpan pisau ini. Pisau yang harus aku ambil dengan nyawa sebagai taruhannya. Kenapa? Merasa bersalah? Atau justru sebaliknya..."
Ryu berujar demikian. Tentunya ujaran tersebut benar-benar menyayat hati Jordan yang hingga saat ini hidup dihantui rasa bersalahnya pada sang putra.
Jordan mengingat bagamaina dirinya dulu dengan keji menjadikan putranya sendiri sebagai mesin pembunuh, dan bekerja untuknya selama bertahun-tahun, tanpa menyadari sedikitpun jika itu adalah putranya sendiri.
"Kau tentu ingat sekali dengan pisau ini bukan, King JH?" Tanya Ryuzen sambil mengacungkan belati itu ke wajah Jordan.
__ADS_1
"Ryuzen aku..."
"Kenapa memanggil namaku begitu! Bukankah kau sudah memberiku nama lain sejak aku masuk ke dalam tempat bernama anglo itu? Kenapa kau tidak memanggilku dengan sebutan nama yang kau berikan itu? Bukankah bagimu death shadow lebih keren dibanding Ryuzen?"
Jordan hanya diam, rasa sakit dan penyesalan benar-benar menggerogotinya saat ini.
"Maafkan aku,"
"Maaf kau bilang?" Ryuzen terkekeh.
"Huh? Kalau begitu, bagaimana jika aku bertanya balik padamu tuan JH. Apa kau pernah melihat seorang ayah yang tega mengurung anaknya sendiri ke dalam penjara bersama binatang buas? Atau pernahkah kau melihat pria yang dengan tanpa pesan meninggalkan istrinya yang tengah mengandung? Jika kau jadi aku apa manusia macam itu pantas untuk dimaafkan! Huh?"
Jordan diam seribu bahasa, pertanyaan-pertanyaa itu benar-benar menyiksa batin Jordan. Dirinya sadar, betapa bedosa dirinya pada Ryuzen dan Laulin. Bagimana bisa dirinya tidak menyadari jika Ryuzen adalah darah dagingnya sendiri saat itu.
"Jawab aku!" Ryuzen kembali menyayat bagian kulit tangan terluar Jordan.
"Ryuzen hentikan!" Pekik Jiro yang mencoba menghalangi tindakan Ryuzen yang sepertinya semakin lepas kendali.
"Maafkan aku Ryu..."
"Maaf kau bilang!" Emosi Ryuzen mulai lepas kendali.
"Kau meninggalkan ibuku sendirian disaat dia membutuhkanmu, bahkan sampai napas terakhirnya dia pun masih berharap melihatmu tapi kau tidak ada. Dan kau, kau menghancurkanku hidupku. Bagaimana rasanya seorang anak-anak yang seharusnya bermain malah harus berlatih untuk menjadi seorang pembunuh, manusia macam apa yang tega seperti itu pada putranya sendiri. Dan kau dengan mudahnya minta aku memaafkanmu begitu? Kau pikir siapa dirimu!"
Belati itu kini mengarah tepat berada di dada sebelah kiri Jordan.
"Jika kau ingin membunuhku aku akan kabulkan, tapi sebelum kau membunuh aku. Tolong izinkan aku membantumu di persidangan istrimu di persidangan nanti."
"Argghhh!" Ryuzen melempar belati itu keatas tanah, hatinya seolah bisa merasakan perasaan
"Kenapa, kenapa harus begini," lirih Ryuzen. Dengan perasaan hati yang kalut, Ryu mengambil langkah dengan kepala tertunduk meninggalkan tempat tersebut
"Ryu...,"
"Jiro, senang mengobrol denganmu," ungkap Ryuzen yang masih berjalan dengan wajah menunduk.
Sekali lagi aku hanya bisa memandangi kepergianmu, aku pria yang gagal. Aku bahkan tak pantas membantumu.
"Tuan,"
"Jiro, bagaimana caraku menebus dosaku padanya." Lirih Jordan.
Harus bagaimana, dan seperti apa aku menghadapi Semua ini. Semua ini terasa mengahantu relung hati.
~~
__ADS_1
Gina dan Arvin baru saja menyelesaikan makan malam mereka.
"Terima kasih makanannya," ujar Arvin yang sudah merasa kenyang.
"Kau sudah kenyang?"
Arvin mengangguk, tapi raut wajahnya terlihat agak murung.
"Kau kenapa?" Tanya Gina yang merasa cemas.
"Aku tidak apa-apa bibi, aku..., aku hanya sedang merindukan mamiku saja."
Tentu saja dia merindukannya, bagaimana pun ikatan antara ibu dan anak akan selalu tercipta bukan?
Gina tersenyum lembut kepada keponakannya itu, "Arvin, kau sabar dulu ya. Bibi berjanji, tidak lama lagi kau akan bertemu dengan mamimu."
"Benarkah?" Ujar Arvin semangat.
"Tentu saja! Oleh karena itu, sekarang ini lebih baik kau jadilah anak manis dan terus doakan mamimu."
"Aku mengerti!" Tukas Arvin.
"Good boy," timpal Gina smbil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Baiklah, kalau begitu aku mau main dikamar dulu ya Bibi, selamat malam bibi Gina," Arvin pun langsung menuju ke kamarnya.
"Selamat malam sayang..."
Sara, putramu membutuhkanmu. Kau bersabarlah, aku yakin pasti bisa menolongmu.
~~
Ryuzen pulang ke kediamannya, dan sejak kembali dari tempat tadi, terus berada di ruang kerja miliknya. Berbotol-botol anggur habis diminumnya. Putung rokok pun tak hentinya ia hisap, demi menghilangkan rasa tak nyaman di hatinya saat ini.
Pertemuannya dengan Jordan tadi sore, benar-benar membuatnya semakin kacau. Belum lagi dirinya kini tengah fokus mencari cara menolong istrinya.
"Bantuan pria itu seharusnya bisa menolong Sara, tapi tiap kali aku melihatnya, hatiku terasa begitu perih dan ingin marah. Aku selalu teringat akan wajah ibu yang selalu bersedih tiap kali aku melihat pria itu."
Pada dasarnya manusia hanya bisa memilih jalan mereka sendiri. Baik atau buruk, semua kembali pada diri sendiri. Memaafkan atau Berdamai itu semua pilihan.
๐น๐น๐น
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
__ADS_1
Happy reading fellas and i hope you like it.
For more info follow my ig account @chrysalisha98 thank you.