Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Titik terendah.


__ADS_3

Bumi seakan berhenti berputar, langit terlihat menghitam, dunia nya terasa runtuh, tubuh nya remuk dan hancur berkeping-keping ketika Aksa membuat nya terbang tinggi, namun di biarkan jatuh begitu saja menghantam bumi dengan sangat keras.


Setelah Hila mendapat kenyataan pahit dari pernyataan Aksa, gadis itu memutuskan untuk kembali pulang kerumah nya.


Air mata gadis itu tidak berhenti mengalir, pikiran nya kabur entah kemana, untung saja.Gadis itu masih bisa sampai di rumah dengan selamat, walau dengan ke adaan hati yang tidak baik-baik saja.


—Ceklek..


"Loh kamu kenapa balik lagi nak? apa ada yang ketinggalan!"Tanya Arina kepada putrinya.


Sayang, Hila tidak bergeming sedikit pun, gadis itu hanya terus berjalan cepat menuju kamar kecil milik nya.


Brakkk!!


"Aaaaaa,....Hiks..hiks...hiks.."


Arina mengerutkan dahi ketika mendapat suara teriakan dan tangisan Hila yang terdengar begitu kencang.


Dengan cepat Arina langsung berlari ke arah pintu kamar Hila.


—Greg..


"Di kunci!"Gumam Arina yang terlihat sudah kalut dengan rasa khawatir nya.


TOK..TOK..


"Mahila,...nak kamu kenapa sayang?"Panggil Arina dengan telinga yang menempel tepat di pintu kamar Hila.


Tidak ada sahutan, Hila hanya terus menangis sambil terus berteriak.


"Kenapa Aksa,...kenapa?"Hila terus meneriaki nama pria itu di sela tangisan pilu nya.


Arina semakin khawatir, bagai mana tidak.Beberapa waktu lalu Hila terlihat sangat bahagia, namun setelah beberapa jam gadis nya kembali dengan isak tangis dan meneriaki pria yang akhir-akhir ini sering mendatangi rumah nya.


"Mahila, sayang nya mamah, buka ya sayang.Yuk cerita sama mamah."Arina terus berusaha membujuk Hila agar mau membuka pintu kamar nya.


Suara di dalam kamar pun tiba-tiba hening, namun bukan nya membuat Arina tenang, justru membuat wanita paruh baya itu semakin terlihat kalut dengan pikiran nya sendiri.


"Mahila sayang, buka yuk.Kita ngobrol."Arina kembali bersuara.


—Klek...


Hila membuka pintu kamar nya, menundukan wajah ketika melihat Arini yang berdiri di depan pintu kamar.


"Anak mamah kenapa,...?


Brugg..


Hila langsung menghambur kedalam dekatap paling nyaman, lalu kembali menumpah kan air mata dan keluh kesah nya.


"Kenapa sayang?"Arina mengusap punggung Hila.


"Aksa jahat mah,... Aksa jahat."Isak tangis nya terus terdengar, sampai membuat hati Arina juga ikut merasa sakit.


"Apa? kenapa Aksa jahat?"Suara Arina pelan.


"Dia hamilin anak orang mah!"Suara nya lirih.

__ADS_1


"Ya tuhan!"Arina menghela nafas nya pelan,lalu mendorong bahu Hila sampai tatapan kedua nya bertemu.


"Mau curhat nya di kamar atau di sofa ruang tv?"Arina bertanya sambil tersenyum.


"Di sofa saja."


Kedua nya kini duduk di sofa, dengan kedua tangan Hila yang terus memeluk tubuh hangat ibu nya.


Arina hanya terdiam, membiarkan Hila meluapkan semua nya terlebih dulu.Setelah itu baru Arina akan kembali bertanya, itu pun kalau Hila ingin membahas nya, kalau tidak Arina hanya akan terus menjadi penyangga yang kokoh untuk putri kecil nya yang sedang terlihat lemah ketika di terpa badai patah hati.


Setelah beberapa menit lama nya mengusap punggung Mahila, akhirnya tangisan putrinya terhenti.


"Mah?"Hila mendongkak menatap wajah ibu nya yang sangat menyejukan hati.


"Hemph?"Arina bergumam seraya mengulum senyum.


"Hila ingin berhenti bekerja."Ucap nya.


Arina tersenyum, terus menatap wajah sembab putri nya, lalu mengangguk.


"Mamah sama bapak nggak pernah nuntut Hila buat kerja.Kalo ini terasa berat maka berhentilah, lagi pula kamu tidak terlalu suka jajan, makan kamu juga sedikit.Setidak nya tidak memberat kan bapak mu."Arina terkekeh.


Hila tersenyum.


"Hila mau ke rumah ka Yoga boleh?"Tanya Hila kembali.


"Boleh, tapi jangan lama-lama.Tidak enak mengganggu penganti baru."Ucap Arina dengan bibir yang terus tersenyum.


"He'em, janji hanya sebentar."Ucap Hila lalu tersenyum.


Hila merenggang kan pelukan nya, lalu mencium pipi Arina singkat.


"Hila mau istirahat dulu ya mah."Ucap Hila, lalu bangkit dan segera berjalan ke arah kamar nya.


"Pintu nya tidak usah di tutup yah! biarin tebuka saja."Cicit Arina sedikit berteriak.


Mahila menoleh, lalu mengacung kan ibu jari nya sambil tersenyum.


"Siap."Ujar nya lalu menghilang di balik balik pintu kamar nya.


Arina menghela nafas nya pelan, menatap pintu kamar Hila nanar penuh kesedeihan.


"Putriku sudah dewasa, dia sudah mengalami bagai mana rasa nya patah hati."Gumam Arina.


Arina segera beranjak, berjalan menuju kamar nya, lalu merogoh ponsel jadul di saku daster milik nya.


Tut...


Suara sambungan telepon mulai terdengar.


[Hallo!] suara dari sebrang sana.


—Yoga, ada yang ingin mama bicarakan.


[Iya mah, bicara saja.Memang nya ada apa? apa Hila sudah mulai nakal, sampai mamah tidak sanggup menegur nya.Tenang saja biar Yoga yang tegur dia.]


—Tidak, dia masih anak yang penurut.

__ADS_1


[Terus apa dong?]


—Hila ingin tinggal di rumah kalian untuk beberapa waktu.


[Kenapa? apa ada sesuatu.]


—Bukan masalah serius, tapi seperti nya dia sedang mengalami patah hati pertama nya.


Yoga terkekeh.


[Iya mah, nanti Yoga sama Agni jemput ke rumah.]


Sesaat Arini menurun kan ponsel nya ketika melihat Hila berjalan ke arah dapur.


—Ya sudah, mama tunggu yah.


[ Pulang kerja Yoga jemput Hila mah.]


Sambungan telepon pun berakhir, Arina langsung meletakan ponsel nya di atas meja rias.Kemduan pandangan nya kembali melihat Hila yang kembali dengan segela air di tangan nya.


Tidak ada yang mencurigakan dari gadis itu, bahkan wajah nya terlihat lebih tenang, hingga membuat hati Arina sedikit lega.


Arina mengehela nafas nya, lalu kembali beranjak untuk segera menuju dapur dan segera menyiapkan makan siang untuk Hila.


^


^


—Buggg..


Arina tersentak ketika mendengar sesuatu yang terjatuh cukup kencang, sapai ia meletakan pisau yang sedang di pakai nya untuk mengiris bawang.


"Hila?"Panggil Arina yang khawatir putri nya terjatuh pingsan, mengingat Hila belum sarapan dan mungkin belum memakan apapun sampai saat ini.


Arina terus menatap ke arah kamar Hila yang terbuka, berjalan lebih cepat untuk segera memastikan nya.


"Ya ampun Mahila!"Arina berteriak, mata nya membulat sempurna dengan raut wajah yang sudah terlihat sangat kacau.


Hila tergeletak di lantai kamar nya dengan tangan yang sudah berlumuran darah.


"Astaga kenapa kamu jadi seperti ini!"Arina mulai menangis, lalu berjalan masuk dan segera mencari slendang untuk mengikat luka di pergelangan tangan Hila.


"Hila apa yang kamu lakukan nak?!"Arina menangis sambil terus melilit kuat luka Hila agar dapat menghentikan darah nya yang terus bercucuran.


Dengang cepat Arina berlari ke arah kanar nya, lalu kembali meraih ponsel dan melakukan panggila kepada Yoga.


—Yoga tolong mamah nak, kirim bantuan untuk adik mu.Arina menangis histeris.


[Mama kenapa?]


—Cepat kesini, atau kirim siapun.Tuhan selamat kan lah anak gadis ku.


[Yoga ke sana sekarang bu.]


—Cepatlah, Hila sudah tidak sadarkan diri.


...TBC🌻🌻🌻...

__ADS_1


...Jangan lupa! like, vote, komen, dan tips.....


__ADS_2