Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Cemburu.


__ADS_3

Cahaya matahari sudah mulai terlihat temaram.Langit luas yang membentang indah dengan warna kuning terang pertanda malam akan segera tiba, namun Hila dan Abiyasa masih belum beranjak dari cafe yang mereka datangi.


Entah Hila yang merasa cocok atau dirinya yang memang cepat akrab dengan orang baru, namun kedua nya terlihat tidak terlihat canggung sedikit pun, walau ini pertemuan pertama kedua nya secara lebih dekat.


"Sudah hampir petang, ayo pulang!"Ucap Hila sambil memasukan ponsel nya ke dalam tas.


"Iya ayok, aku antar boleh?"Tanya Abiyasa, kemudian bangkit dari duduk nya


"Apa tidak merepot kan?"Hila tersenyum.


"Tidak sama sekali, tapi aku hanya pakai motor."Ujar nya kembali, mengingat ia pernah melihat Hila di antar pria bermobil ke rumah nya.


"Memang apa masalah nya?"Mereka berdua berjalan ke arah kasir.


Hila mulai membuka tas kecil nya, kemudia merogoh dompet dan akan segera membayar minuman dan beberapa makanan ringan yang ia ikut pesan tadi.


Namun tangan Abi langsung menyentuh lengan Hila.


"Biar aku saja!"Ucap nya sambil tersenyum.


"Hhmp,... banyak yang aku pesan tadi!"Hila terlihat canggung dengan tatapan yang lansung beralih pada meja yang sempat di tempati kedua nya.


"Tidak apa-apa, membayar semua pesanan mu tidak akan membuat ku sampai menjual ginjal bukan?!"Pria itu tergelak kemudian mengeluar kan beberapa lembar uang dari dompet nya.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Abi berjalan terlebih dulu dan segera menarik pintu kaca agar Hila keluar terlebih dulu.


"Abi,... jangan seperti ini!"Hila menghela nafas nya sambil tersenyum.


Pria itu hanya mengendikan bahu nya kemudian tersenyum.


"Ini helm nya di pake."Ia memberikan satu helm nya kepada Hila.


"Kamu bawa helm dua?"Tanya Hila."Apa kamu berprofesi sebagai abang ojol juga!"Hila tertawa.


"Seperti nya memang begitu,... ayo naik!"Titah nya kepada Hila.


Hila mengangguk, kemudia memakai helm nya dan segera naik di kursi belakan.


Motor PCX berwarna hitam itu melesat dengan cepat, meninggal kan tempat yang seharian ini mereka jadikan tempat berbincang banyak hal.


Angin malam mulai menelusup masuk ke dalam kemeja panjang nya, menusuk kulit sampai Hila meringis ketika merasakan hawa dingin yang terus masuk mengusap kulit.


^

__ADS_1


^


"Terimakasih tumpangan nya Abiyasa!"Hila membuka helm dan segera memberikan nya kepada pria itu sambil tersenyum manis.


"Sama-sama cantik, kalau begitu aku pulang dulu, sampai ketemu di hari-hari berikut nya."Ucap Abi kepada Hila.


"Kalau ada waktu senggang yah."Timpal Hila.


Pria itu mengangguk, kemudia menghidupkan mesin motor nya dan segera pergi setelah membunyikan klakson terlebih dulu.


Hila tersenyum dengan tangan yang melambai-lambai.


Tampa gadis itu sadari, ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikan nya dari jarak yang lumayan jauh.


Rahang nya mengeras, deru nafas nya sudah terdengar jelas dengan dada yang kembang kempis menahan amarah yang sedang memuncak.


"Sialan!"Aksa berteriak, mata nya terus memandang Hila dengan tatapan kecewa.


Namun pria itu tidak bisa berbuat banyak, rasa nya ingin sekali datang menghampiri untuk mengutara kan rasa cemburu nya, namun Aksa urungkan karena dengan cepat Hila akan berlari dan masuk ke rumah untuk menghindari nya.


Lampu mobil kembali menyala, menyorot jalanan yang terlihat gelap gulita, kemudia pergi setelah melihat Hila masuk ke dalam rumah.


Aksa mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, melampias kan kekesalan nya pada Hila yang mulai ingin menggeser posisi Aksa di hatinya.


"Aku akan berjuang semampuku Hila, kali ini aku tidak mau ke hilangan kamu lagi!"Gumam Aksa.


^


^


"Aku pulang!"Hila berucap ketika dirinya membuka pintu dan memasuki rumah.


Pandangan nya langsung tertuju pada pria tua yang sudah berada duduk di sofa ruang tamu sambil menatap ke arah anak gadis nya tajam, kemudian berdiri.


"Bapak! tumben sudah pulang?"Ujar Hila dengan senyum gugup nya.


"Kenapa petang sekali?"Tanya Indra."Kamu keluar pukul satu, apa tidak cukup menemui teman mu hanya satu atau dua jam saja?"Cicit Indra.


"Emmmph,... Hila ke asikan mgobrol pak, maaf.Lagian kan mamah sudah izin sama bapak."Jelas nya pelan.


"Ini sudah jam tujuh malam Mahila, anak gadis ko keluar sampai selama itu!"Cecar Indra.


Mendengar suaminya tengah menggerutu, Arina terlihat sedikit berlari ke arah ruang tamu.Pandangan nya langsung tertuju pada Hila yang menunduk karena pandangan sang ayah yang sudah terlihat menyeram kan.

__ADS_1


"Pak, sudah!"Arina meraih tangan Indra.


"Ini ajaran mamah ini!"Cicit nya."Lihat sekarang putri nya sudah lupa waktu karena berkencang dengan pria yang bahkan baru di kenal nya!"Ujar nya menggebu-gebu.


"Hila, kamu masuk dan mandi yah! nanti kita makan malam."Titah Arina kemudian langsung di angguki Hila.


Dengan cepat gadis itu berjalan ke arah pintu kamar yang tertutup segera meraih handle pintu, masuk dan kembali menutup pintu kamar nya.


"Pak, Hila bertemu putra nya Ruri!"Arina mencoba menenangkan.


"Tetap saja bapak tidak suka!"Jelas Indra yang langsung duduk dan menyandarkan punggung nya di sandaran sofa.


"Abiyasa anak baik pak, bapak cuma belum mengenali nya secara dekat."Jawab Arina.


"Bapak memang belum mengenal nya, tapi beberapa kali bertemu bapak sudah tahu sifat pria itu dari tatapan mata nya saja."Sahut Indra.


"Apa bapak mau Hila tetap bersama Aksa?"Tanya Arina pelan.


"Aksa terlihat lebih baik, walau dia pernah menyakiti Hila mah!"Jelas Indra.


"Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luar nya saja pak, Aksa memang terlihat lebih mapan, tapi apa salah nya Hila memilih dekat dengan Abi terlebih dulu."Tutur Arina.


Pria itu terdiam.


"Kita lihat saja nanti, kalau sampai Hila sakit hati lagi jangan menyesal!"Sergah Indra kemudian beranjak meninggal kan Arina yang masih duduk termenung di atas sofa ruang tamu nya.


"Bapak ini kenapa? firasat atau memang karena Aksa memiliki semua nya agar bisa membahagia kan Hila!"Gumam nya pelan sambil menggeleng kan kepala.


Arina langsung bangikit, berjalan ke arah dapur untuk segera menyiapkan makan malam Hila dan juga suaminya.


Setelah selesai membersih kan dirinya, Hila keluar kamar dengan mengenakan daster berlengan pendek selutut nya.


Berjalan perlahan ke arah dapur menghampiri Arina yang sedang sibuk menata setiap makanan dan piring di atas meja makan.


"Bapak marah mah?"Tanya Hila pelan sambil duduk di kursi meja makan.


"Tidak, hanya belum kenal Abiyasa, jadi bapak mu khawatir."Arina tersenyum.


"Oh!"Ujar nya, kemudian menganggukan kepala.


...TBC🌿🌿🌿...


...Jangan lupa! like, vote, hadiah, tips, dan komen nya ya guys, bantu author agar semakin berkembang!...

__ADS_1


...Terimakasih!...


__ADS_2