
Kedua mata pria di hadapan Hila terlihat membulat sempurna, dengan raut wajah yang terlihat sangat terkejut.
"Kamu sudah minum obat?"Aksa berusaha mengumpulkan kesadaran nya, setelah beberapa saat berhamburan karena pernyataan Hila.
Prempuan itu menganggukan kepala.
"Pantas saja pikiran mu ngaco!"ujar Aksa sambil menggeleng kan kepala nya pelan.
Hila memejamkan mata nya sesaat, kemudia ia kembali membuka nya, menatap Aksa sembari menghirup udara sebanyak mungkin.
"Dengar By! Ini sulit bagi kita, aku akan terus merasa bersalah ketika harus egois, dan membiarkan mu tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu, tapi di sisi lain, aku juga tidak sanggup berbagi suami."ucap Hila lirih.
Aksa terdiam.
"Maka dari itu, mari kita berpisah secara baik-baik."Hila kembali bersuara.
"Hhhh!"Aksa menghela nafas.
"Tidurlah, ini sudah larut!"Aksa bangkit, lalu menaikan selimut Hila dan mencium kening nya beberapa detik.
"I love you, aku akan tetap menjadi suami mu, dan kamu akan menjadi istriku. Kita tidak akan berpisah, apapun yang terjadi."Aksa menatap manik Hila sendu.
"Tapi ini akan sulit, sangat sulit!"Hila menjengit.
"Hila dengar! Aku berusaha mendapatkan mu sejak kita SMA, dan aku tidak akan melepaskan mu sampai kapan pun, kau mengerti?"
Suara Aksa terdengar sangat pelan, dengan mata yang terus menatap tajam ke arah istrinya.
"Aku tidak akan menemui Yuna lagi, lebih baik aku di cap pria bajin*an, dari pada kehilangan mu, sayang!"Aksa mulai menitikan air mata nya, namun dengan cepat, ia menyusut nya, mencoba berusaha tegar, walau sesungguh nya rasa takut pun mulai menghantui dirinya saat ini.
__ADS_1
Hila terdiam, ia terlihat tidak tega untuk kembali berbicara perihal perpisahan yang sempat ia utarakan tadi.
"Tidurlah, cepat pulih agar kita bisa cepat pulang."Aksa tersenyum, mengusap kepala Hila, kemudian berlalu menuju sofa di ujung ruangan itu.
Hila hanya bungkam, menatap penuh kesedihan punggung suami nya yang saat ini sedang berjalan menjauh, kemudian duduk dan segera merebahkan punggung nya seraya menutup mata dan meletakan telapak tangan nya di atas kepala.
Aksa terlilah lelah.
Rasa nya Hila ingin menangis meraung-raung, mengeluarkan gundah di dalam hati nya. Bagai mana bisa kini dia meminta perceraian, pada pria yang juga sangat dia cintai.
Namun untuk bertahan pun sulit, kini waktu Aksa tersita oleh pekerjaan dan Yuna saja, dia hanyan bertemu malam ketika akan tidur, dan pagi sebelum dia berangkat bekerja atau menemui Yuna.
Ya tuhan! aku lelah sekali, ku serahkan hidup ku ini padamu, dan apa yang terjadi, itu adalah takdir baik ku, yang engkau berikan.
Hila mulai memejamkan mata nya, agar segera tertidur.
*
*
Perlahan pria itu bangkit, mendudukan tubuh nya, lalu memandang Hila yang saat ini berbaring dengan kedua mata nya yang sudah tertutup.
Aksa terus memandang nanar ke arah istri nya, sesak dan rasa takut pun terus menguasai, hingga ia terlihat melamun beberapa saat.
"Ya tuhan!"Aksa sedikit tersentak, ketika denting notifikasi ponsel nya berbunyi.
Aksa meraih ponsel milik nya yang ia segaja letakan di atas meja, lalu menatap layar ponsel yang saat ini terlihat sebuah panggilan masuk.
"Apa lagi!"cicit nya dengar suara sangat pelan.
__ADS_1
Lama Aksa menatap nya, hingga panggilan itu terhenti dan kembali masuk setelah beberapa saat.
Pandangan nya melihat ke arah Hila, kemudian segera menerima nya setelah merasa aman karena Hila terlihat pulas dalam tidur nya.
Ya kenapa?
"...........
Hah! kenapa bisa seperti itu?
"..........
Baiklah, saya segera kesana!
Aksa bangkit setelah panggila telpon nya terputus. Wajah nya terlihat panik, kemudian berjalan ke arah Hila.
Namun langkah nya terhenti, ketika rasa tidak tega muncul ketika ia harus mengganggu tidur prempuan yang sangat dicintai nya.
Langkah nya kembali mundur, lalu melirik jam yang sudah menunjukan pukul dua dini hari.
"Sayang, aku janji hanya sebentar!"Aksa berujar, kemudia segera berjalan ke arah pintu, dan menghila ketika pintu kamar rawat Hila tertutup.
Mendengar suara pintu yang terututp sedikit kencang, tubuh wanita itu bergerak, lalu mengubah posisi nya menjadi miring.
Kedua tangan nya menyilang, memeluk erat tubuh nya sendiri.
Lalu terlihatlah, sebuah air mengalir di atas pipi Hila.
Dia menagis.
__ADS_1
Rasa sesak kembali terasa, hingga Hila benar-benar tidak mampu membendung kesedihan nya pagi hari ini.
Sesakit ini kah Tuhan? aku hanya tidak mau merasa bersalah seumur hidupku karena membuat seorang anak dan ayah nya terpisah, namun aku tidak tahu juga! ternyata rasa nya sepedih ini...