
💐
💐
Satu minggu berlalu, setelah kepergian Hila dari PT.Coventina milik Aksa.Semua nya berjalan tidak beraturan, sampai harus membuat Aksa turun tangan menggantikan posisi Hila sebagai Admin dan mengerjakan banyak hal.
TOK..TOK...
"Ya?"Jawab Aksa.
"Ada yang pesan kemasan botol pak, tapi stok di gudang kurang!"Ucap nya sampai membuat Aksa melihat ke arah nya tajam.
"Kenapa baru bilang?"Sentak Aksa.
"Maaf pak, saya lupa.Biasa nya yang cek bu Hila soal nya."Jelas nya kembali.
Aksa mendengus kesal.
"Ya sudah, saya order ke pusat sekarang!"Sergah Aksa, lalu di angguki Irfan.
Dengan cepat Aksa menghubungi pusat, dan meminta beberapa truk untuk segera di kirim ke tempat nya.
"Sayang!"Panggil Yuna yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan di mana Aksa berada.
Sesaat Aksa menoleh, melihat ke arah Yuna, lalu kembali menatap layar komputer di hadapan nya.
"Ish,... aku panggil ko nggak nyaut!"Sesal Yuna, kemudian duduk di sebelah Aksa.
"Aku sibuk Yuna, banyak pekerjaan yang terbengkalai."Sergah nya tampa mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa nggak cari pekerja baru saja? kan lebih efektif dari pada ngerjain semua nya sama kamu!"Usul Yuna.
"Belum ada yang cocok."Jelas nya singkat.
"Oh ya?"Yuna dengan nada meledek.
Aksa menoleh, menatap wanita di samping nya dingin.
"Maksud mu apa?"Tanya Aksa ketus.
"Ya, mungkin saja kamu masih berharap Hila kembali."Tukas nya dengan senyum mengejek.
"Ck. Itu lagi, itu lagi! apa tidak ada hal lain untuk di bahas selain Hila?"Aksa mendengus sambil menggeleng kan kepala.
"Ya memang kelihatan nya seperti itu!"Cicit Yuna.
"Sebaik nya kamu kembali ke ruangan ku, diam dan tunggu aku di sana.Kau mengganggu ku."Titah Aksa.
"Nggak!"Yuna menolak nya tegas.
Mata Aksa terpejam, menarik nafas cukup panjang lalu menghenbuskan nya perlahan.
"Kalau begitu pulanglah, di sini kau hanya mengganggu."Titah Aksa tampa mengalih kan pandangan nya dari layar komputer.
__ADS_1
"Aku mau di sini."Timpal nya.
"Pulang! aku pesan kan taxi online sekarang."Aksa langsung meraih ponsel di meja dan segera masuk ke dalam aplikasi untuk memesan kan Yana taxi.
"Aku bilang nggak mau!"Cicit Yuna sedikit berteriak.
"Aku tidak peduli, taxi nya akan segera datang."Kata Aksa.
"Kamu berubah sekarang, aneh, nyebelin dan pemarah."Cicit Yuna.
"Aku banyak kerjaan! aku lelah kalau harus tiap hari berhadapan dengan sifat manja mu!"Kini Aksa menatap Yuna tajam dan penuh ke tidak sukaan.
"Ini semua gara-gara Hila, kamu jadi ngerasa seperti itu! padahal sebelum-sebelum nya tidak."Sahut Yuna."Apa! mau marah."Cecar Yuna.
Aksa mengehela nafas nya, lalu terdiam dan kembali menatap ke arah layar komputer, berusaha mengabaikan wanita di samping nya.
TOK..TOK..
"Pak ada taxi online atas nama bapak."Jelas Irfan.
"Iya."Aksa mengangguk.
"Pulanglah, taxi mu sudah tiba."Titah Aksa kepada Yuna.
"Kamu aneh Aksa, tega kamu sama aku.Ngusir segala lagi!"Yuna memekik, lalu meraih tas milik nya untuk segera pergi.
"Ini tempat kerja, bukan untuk pacaran dan lain nya."Aksa membela diri.
"Alasan!"Yuna mendelik lalu keluar dari ruangan, berjalan cepat sampai Aksa sudah tidak bisa melihat nya.
Di block! Gumam nya.
^
^
Di lain tempat, setelah melakukan perawatan satu minggu lama nya.Kini Mahila di perboleh kan pulang, walau ke adaan nya masih cukup lemas, namun ke adaan luka di pergelangan tangan nya sudah sangat membaik, hanya tinggal menunggu nya kering.
"Ayo kaka gendong!"Yoga menepuk punggung nya.
"Hila masih bisa jalan ka, yang luka tangan, bukan kaki!"Sahut nya lalu tertawa.
"Iya, kaka tahu. Yang luka tangan, tapi lemes nya dari kepala sampai kaki."Ucap Yoga kembali.
"Aku bisa jalan, kalau mau kaka boleh gendong mamah, kaya nya mamah kecapean juga."Hila tersenyum.
"Ngaco!"Sergah Arina.
Hila tersenyum, kemudia berjalan perlahan keluar dari ruangan nya di tuntun Agni sang kaka ipar yang bisa di bilang sangat dekat dengan nya.
Begitu pun dengan Yoga dan Arina, tangan kedua penuh dengan barang bawaan yang di bawa dari rumah nya ke Rumah sakit.
Sekitar lima belas menit melaju di jalanan kota yang cukup padat, akhirnya Hila sampai di kediaman Yoga, tempat yang sangat ingin di singgahi sebelum ke jadian mengerikan itu terjadi.
__ADS_1
"Pelan-pelan."Ucap Agni sambil terus membopong tubuh Hila yang akan menuruni mobil.
"Awas tangan nya!"Cicit Yoga kepada Hila.
"Nggak ka, lebay ih!"
"Kalau Hila mau disini dulu, mamah pulang yah? belum masak, nanti bapak kalian pulang mau makan belum ada apa-apa."Jelas Arina setelah mengantar Hila masuk ke dalam.
"Yasudah Yoga antar."Ujar nya, lalu kembali membawa kunci mobil dan berjalan ke arah luar.
"Tidak usah, mamah pakai angkot saja, jagain ade nya.Dan satu lagi, pisau di dapur di umpetin yah!"Pesan Arina.
Hila hanya tersenyum gugup ketika mendengar pernyataan ibu nya.
"Iya mah, Hila aman di sini."Jelas Yoga tersenyum.
"Ya sudah mamah pulang, jangan lupa di minum sama di bersihin luka nya, minta bantuan ka Agni kalo susah yah?"Arina mengusap bahu Mahila.
"Iya mah."Jawab Hila.
—Cup..
Arina mencium kening Hila.
"Jangan nekad lagi!"Sergah nya dengan suara begertar, lalu segela berbalik arah dan berjalan ke arah luar.
Ketiga nya hanya terdiam, dengan mata yang sesekali saling memandang.
"Ayo kaka antar ke kamar mu."Kata Agni membuyar kan lamunan lalu di angguki Hila.
"Maaf ya ka, karena ke konyolan aku kalian jadi repot!"Ucap Hila.
"Tidak sama sekali, lain kali kalo kesel, jangan mau potong urat nadi, minta anter kaka ke salon, kita potong rambut."Agni tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang.
"Boleh, kaya nya sekarang aku mau potong rambut."Hila senyum.
Agni tersentak.
"Apa kamu masih..?"
"Enggak, aku sudah baik-baik saja! tapi ikuti saja apa kata mama tadi."Hila pun tertawa lepas ketika melihat raut wajah kaka ipar nya berubah menjadi masam.
"Hemmph,... awas aja kalo sampe macem-macem di sini, kaka suruh ka Yoga jewer kamu."Tukas nya sambil memincing kan mata."Istirahatlah, kaka siapin makan dulu yah."Ucap Agni lalu beranjak pergi ke arah luar.
Seketika senyuman yang menghiasi bibir Hila pun memudar, raut wajah nya sendu dengan pandangan kosong ke arah depan.
Perlahan ingatan tentang kedekatan Hila dan Aksa pun kembali berputar di kepala nya, sampai membuat Hila tersenyum.Namun ketika memgingat perkataan Aksa saat terakhir mereka bertemu, senyuman itu hilang, berubah menjadi air mata yang tiba-tiba saja turun membasahi pipi.
"Hey!"Yoga menghampiri."Jangan melamun!"Cicit Yoga lalu menyusut air mata Hila yang membasahi pipi.
"Ayo kita nonton tv, nanti kalo sudah tidak lemas kita jalan-jalan ke taman."Yoga tersenyum.
Hila sudah nggak boleh di tinggal sendirian! pikir nya.
__ADS_1
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like, vote, dan komen!...