Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Kita.


__ADS_3

🌿


🌿


Tubuh Hila mulai bergerak perlahan, dengan mata yang terlihat sedikit mengerjap ketika merasakan pusing di kepala nya.


"Aduh!"Cicit nya pelan dengan jemari yang memijat pelan pelipis nya yang terasa pening.


"Pusing?"Tiba-tiba saja suara Aksa terdengar jelas di telinga Hila.


"Kenapa kalo demam suka halusinasi sih! pake suara ka Aksa segala yang kedengeran."Cicit Hila kembali dengan suara pelan, dan mata yang terus tertutup.


"Kalo mau muntah bilang, jangan muntah di kasur aku!"Ucap Aksa kembali.


Mendengar kembali suara Aksa, mata Hila langsung terbuka, kemudian melihat ke arah Aksa yang berada di samping nya duduk bersandar dengan ponsel yang menyala.


"Ka Aksa ngapain di sini?"Hila langsung bangkit."Aw pusing!"Hila memegangi kepala nya.


"Dih,... kamu yang nyusulin ko kamu yang nanya kenapa aku di sini! dasar aneh,... gadis plinpan."Aksa berujar sedikit ketus.


Seketika Mahila terdiam, berusaha mengingat apa yang semalam terjadi pada dirinya.


Namun rasa pusing itu terus datang, sampai menimbulkan mual dan ingin segera memuntah kan isi perut nya.


Dengan cepat Hila turun dari tempat tidur, kemudian berjalan ke arah pintu kamar mandi dengan sedikit sempoyongan.


"Ka kamar mandi nya di mana? ini kemapa banyak baju!"Hila berteriak.


Aksa menurun kan kaki nya, lalu berlari ke arah Hila yang kini masuk ke dalam walk in closet.


"Disini!"Aksa membuka pintu di samping nya.


Dengan cepat Hila berlari, membanging pintu kamar mandi, lalu terdengan Hila yang sedang memuntah kan isi perut nya.


Brakk!!


Uwek...uwek...uwekk


Aksa yang berdiri terus di depan pintu hanya tersenyum, pikiran nya membayang kan ketika Hila sedang hamil mengandung anak nya yang mengalami morning sickness.


"Kamu kaya orang hamil Hila!"Aksa berteriak dengan bibir nya yang sudah tersenyum tipis.


Klek..


"Hamil sama siapa?"Hila keluar sambil meyusut bibir nya yang basah.


"Sama aku mungkin."Tukas Aksa lalu meninggal kan Hila begitu saja.


Hila membulat kan mata nya ketika mendengar ucapan Aksa, bahkan jantung nya bereaksi sampai membuat tubuh nya mematung, terus berdiri di ambang pintu dengan desiran seperti banyak nya kupu-kupu terbang yang memenuhi dada nya.


Uwek...


Hila kembali masuk ke dalam kamar mandi ketika rasa mual nya kembali menyeruak.


Beberapa kali Hila terlihat keluar masuk kamar mandi, akhirnya gadis itu keluar dengan ke adaan lemas, dengan kepala yang terlihat sedikit pusing.


Mata Hila memandangan kamar yang terlihat mini malis, namun masih terlihat lebih bagus dari pada kamar nya, tentu saja.

__ADS_1


Tempat tidur berukuran sedang, satu nakas di samping nya dengan kaca besar yang di halangi tirai putih tipis.


Kemudian ia mencari keberadaan Aksa, pria pemilik tempat yang menghilang entah kemana.


Hila berjalan ke luar kamar, lalu mencari keberadaan Aksa.


"Ka?"Hila memanggil.


Kemudia pria itu muncul dari arah yang besebrangan membawa segelas lemon tea panas untuk Hila.


"Ini, agar mual dan pusing nya hilang.Kita harus pulang sebelum ibu dan bapak mu menjadi lebih khawatir."Kata Aksa sambil memberikan gelas berukuran sedang kepada gadis di hadapan nya.


Namun Hila tidak meminum nya, tapi malah meletakan gelas berisi lemon tea panas itu di meja tv yang berada di samping tubuh nya saat ini.


–Brugg..


Hila menghambur kedalam pelukan Aksa, membenam kan wajah nya di dada pria yang sangat di rindukan nya.


Pria itu menjengit.


"Hila kamu,.."


"Biarkan seperti ini ku mohon!"Gumam nya sedikit pelan.


"Iya tapi minum dulu."Kata Aksa yang masih belum membalas pelukan Hila.


"Aku mau seperti ini."Rengek Hila.


Mahila terlihat memejam kan mata nya, menghirup aroma baju yang Aksa kenakan yang membuat nya merasa sedikit tenang karena rindu nya sudah berbayar.


"Kamu ini kenapa,...kemarin menyuruh ku untuk pergi, tapi sekarang malah seperti ini.Jangan membuat ku semakin sulit Hila!"Ujar nya dengan suara pelan, lalu mengulum bibir nya agar tidak tersenyum.


"Yasudah, kalo gitu aku pulang saja."Perlahan Hila menjauh.


Namun Aksa kembali menarik tangan Hila, kemudian menarik nya agar kembali ke dalam dekapan hangat Aksa.


"Jadi kamu mau aku seperti apa?"Aksa berbisik.


"Aku mau kita."Jawab Hila.


"Kita kenapa?"Goda Aksa kembali, kali ini bibir nya sudah mengukir senyum karena sudah merasa gemas.


"Bukan nya kaka mau aku hamil?"Cicit Hila pelan.


Aksa tertegung.


"Kalo mau aku hamil kenapa nggak nikahin aku, aku nggak mau kalo belum nikah terus kita melakukan nya."Timpal nya dengan suara manja.


Sesaat Aksa berhenti bernafas, mencoba menetralisir sesuatu yang sudah mulai bangun di bawah sana.


"Ayo habis kan minum nya, setelah itu kita pulang."Tegas Aksa, lalu melepas kan dekapan nya dan segera berjalan masuk ke kamar.


Hila cemberut, wajah nya terlihat kecewa ketika Aksa terlihat acuh pada dirinya.


"Heumm,... masih marah ternyata."Ucap nya tampa semangat.


Tangan Hila meraih gelas di atas meja tv, kemudian berjalan ke arah sofa untuk duduk, lalu menenguk nya perlahan.

__ADS_1


^


^


"Ayo pulang!"Ajak Aksa yang baru saja keluar dari kamar nya, dengan tubuh yang sudah kelihatan segar.


Hila mengangguk, lalu meletakan gelas nya di atas meja.Gadis itu bangkit, lalu berjalan menyusul Aksa yang terlebih dulu berjalan ke arah pintu.


"Motor aku?"Tanya Hila.


"Nanti di antar ke alamat rumah mu."Sahut Aksa lalu meraih handle pintu dan menekan nya sampai pintu apartemen nya terbuka.


–Klek..


Aksa menutup pintu apartemen nya.


"Ayo!"Tangan Aksa terulur.


Hila terdiam, lalu menatap tangan dan wajah Aksa bergantian.


"Ayo!"Aksa tersenyum.


Dengan cepat Hila meraih telapak tangan pria itu, kemudian berjalan beriringan dengan jemari yang saling memaut untuk segera pulang.


Jantung nya terus berpacu lebih cepat ketika tamgan Aksa menggenggam tangan nya sangat erat, bahkan kepala nya menunduk dengan bibir yang terus tersenyum malu kala rasa bahagia itu terus menghampiri nya.


"Kaka nggak marah?!"Tanya Hila ketika mereka sedang berada di dalam lift.


"Tidak, hanya sedikit kecewa saja."Jawab Aksa lalu tersenyum.


"Maaf."Ucap nya pelan.


"Untuk apa?"Tanya Aksa.


"Untuk sikap egois aku."Sahut Hila.


Aksa menggeleng kan kepala, lalu menganggkat tangan yang berada dalam genggaman nya.


–Cup..


"Maaf karena sudah melukai mu."Ujar nya setelah mencium pergelangan tangan Hila yang memperlihat kan bekas jahitan akibat luka nya.


"Tidak apa, ini perbuatan ku."Kata hila.


"Jadi hubungan kita bagai mana?"Aksa tersenyum tipis.


"Kit,..."


Ting!


Pintu lift terbuka, sampai Hila tidak sempat mengutarakan isi hati nya.


Hila dan Aksa keluar dengan tangan yang terus bergandengan, berjalan ke arah luar di mana mobil milik nya terparkir.


Adudududu,...yang lagi berbunga-bunga😭.


...TBC🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Jangan lupa! like, vote, hadiah, dan dukungan lain nya.....


💃💃


__ADS_2