
^
^
"Terimakasih pak!"Ucap nya ramah kepada supir taksi, kemudian menutup pintu taksi dan segera berjalan memasuki pekarangan rumah kaka laki-laki nya.
TOK..TOK..TOK..
"Ka Yoga?"Panggil Hila tepat di depan pintu rumah kaka nya.
"Masuk saja dek,...nggak di kunci."Teriak Yoga dari dalam.
"Oh,..!"Hila mengangguk kemudian meraih handle pintu dan menekan nya.
–Klek..
Hila membuka pintu rumah Yoga perlahan, lalu masuk dan menutup pintu rumah nya kembali.
Langkah kaki Hila langsung tertuju pada pintu kamar utama yang terbuka lebar, menyembulkan kepala kemudian masuk.
Terlihat Yoga sedang duduk di samping Agni yang sedang terbaring lemas dengan wajah yang terlihat sangat pucat dengan mata yang terpejam.
"Kamu mau kerja?"Tanya Yoga.
Hila mengangguk, sambil terus berjalan dan duduk di tepi ranjang di sisi lain.
"Ka Agni ko bisa ke guguran?"Tanya Hila pelan.
"Hem,... kaka kurang memantau nya, jadi dia meminum sembarang obat."Jelas Yoga.
"Ka Yoga nggak kerja?"
"Libur, Agni mau kaka tetap di sisi nya selama masa pemulihan."Ucap Yoga.
Hila mengangguk, jemudian beralih menatap kaka ipar nya, mengusap lembut rambut yang terlihat sedikit acak-acakan itu sampai mata Agni mengerjap pelan.
"Hila!"Wanita itu tersenyum.
"Bagaimana ke adaan kaka?"Tanta Hila, lalu meraih tangan Agni.
"Sudah lebih baik, tinggal lemes sama kadang nyeri di bagian perut bawah nya yang masih terasa."Ujar nya lemas.
"Cepat sembuh yah!"Kata Hila.
Wanita itu mengerjap kan mata.
"Kaka juga mau lihat kamu lamaran."Tukas nya.
Hila tertegung.
"Mamah cerita!"Jelas Aksa.
"Ohh ya!"Hila mengangguk-angukan kepala.
"Sama Aksa yang culun itu?"Ledek Yoga sambil tersenyum.
"Sekarang nggak culun tahu."Hila mendelikan mata.
"Iya deh iya, udah gede ternyata anak cengeng ini, sudah mau ada yang lamar, sesudah itu menikah."Yoga menatap Hila.
"Tangan kamu gimana? masih suka sakit nggak?"Agni meraih tangan kanan Hila.
"Sudah membaik, hanya bekas nya saja yang akan selalu terlihat seperti itu."
"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu yah, sudah jam delapan tiga puluh!"Hila menatap jam yang melingkar di tangan kiri nya.
Agni mengangguk.
"Cepat sembuh, dan satu lagi! jangan minum obat sembarangan setelah ini!"Pesan nya yang langsung di angguki Agni.
Hila segera bangkit, melambaikan tangan ke arah Agni, kemudian berjalan keluar di antar Yoga.
"Naik apa?"Tanya Yoga.
"Taxi, apa lagi?"Cicit nya kemudian membuka pintu dan segera memakai sepatu nya.
Hila mendongkak, lalu tersenyum seraya berpamitan kepada Yoga yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Kaka antar yah!"Ujar Yoga.
__ADS_1
"Nggak usah, jagain ka Agni saja."Jelas nya lalu mulai berjalan, dengan tangan yang kembali melambai ke arah Yoga.
"Hati-hati!"Pria itu berteriak.
⚘
⚘
"Semalam Hila pulang jam berapa Sa?"Tanya Nanda kepada putra nya yang sedang menyantap roti isi dan kopi hitam nya seperti biasa.
"Nggak tahu lupa!"Jawab nya singkat.
Nanda mengangguk.
"Jadi bagai mana rencana kamu sama Hila itu Sa?"Tanya Raksa serius kepada putra nya.
"Aku sih mau nya di percepat, tapi kata Hila mending dengerin usulan dari kalian sama orang tua nya Hila."Jelas Aksa.
"Memang nya persiapan nikah lama ya bu?"Tanya Aksa yang mulai serius.
"Tergantung,... pernikahan yang kaya gimana dulu."
Aksa mengangguk.
"Kalau nanti malem kita undang keluarga Hila kesini gimana?"Tanya Aksa.
"Boleh, memang sudah saat nya kita membicarakan acara seperti apa yang di ingin kan Hila."Terang Raksa yang juga terkihat antusias dengan usulan Aksa.
"Nanti Aksa kasih kabar sama keluarga nya Hila, sekarang Hila berangkat kerja dulu."Pamit nya lalu beranjak dan segera pergi.
^
^
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun Hila masih belum keluar dari gedung tempat nya bekerja.
Beberapa menit Aksa menunggu Hila di dalam mobil, akhirnya pria itu memutuskan untuk menunggu Hila di Halte sebrang.
–Brugh..
Aksa menutup pintu mobil nya sedikit kencang, lalu menyebrangi jalan.
Tangan nya merogoh saku celana membawa ponsel milik nya keluar, namun ketika akan melakukan panggilan kepada Hila, gadis itu terlebih dulu datang dan membuat nya sedikit terkejut.
"Astaga Hila,...nanti aku jantungan gimana?"Cicit Aksa dengan satu tangan memegangi dada nya.
"Jangan,...kita kan belum menikah!"Ucap nya sedikit berbisik sambil tersenyum.
Aksa lansung terdiam, dengan mata yang terus menatap Hila yang sedang tersenyum ke arah nya.
"Kita ke rumah ku sekarang!"Aksa meraih lengan Hila dan membawa nya menyebrangi jalanan yang cukup ramai dengan hati-hati.
Terlebih dulu Aksa membuka kan pintu untuk Hila, kemudian ia berlari kecil memutari mobil dan segera duduk di kursi kemudi.
"Aku pulang ganti sama izin ke mamah dulu ya ka."Hila berujar.
"Mamah sudah ada di rumah sayang."Jawab Aksa.
"Oh ya?..
"He'em, sama bapak juga."Timpal Aksa sambil terus memacu laju kendaraan roda empat nya.
Hila tersenyum, dengan pipi yang terlihat sudah bersemu merah.
Aksa yang melihat Hila sedang salah tingkah, bibir pria itu tersenyum tipis, lalu tangan kiri nya meraih telapak tangan Hila, meletakan nya di atas persneling lalu menggenggam nya.
"Kita akan segera menikah sayang!"Uca Aksa setengah berbisik.
Hila menoleh, kemudian mencondongkan tubuh nya lebih mendekat kepada Aksa, lalu berbisik dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
"Kebelet banget kaya nya!"Hila menyeringai.
Aksa langsung memelankan laju mobil nya, kemudian berhenti di bahu jalan.
Pria itu membalas tatapan Hila dingin tampa ekspresi.
"Aku tidak mau khilaf, jadi kita segera kan pernikahan kita,.. kamu tahu? setiap aku berada di dekat mu, aku seperti hilang arah dan ingin menerkam mu."Jawab Aksa dengan suara rendah.
—Cup..
__ADS_1
Aksa mencium singkat bibir merah Hila.
"Kau boleh terlihat nakal sekarang, tapi nanti! akan aku buat kamu menjerit memohon ampun."Sergah Aksa.
"Oh ya?"Hila tersenyum meledek."Aku yakin kamu tidak akan tega."
"Kita lihat saja nanti!"Tegas Aksa, kemudian meraup bibir Hila.
Suara decapan mulai terdengar jelas di dalam mobil yang sedang menepi di jalanan yang sedikit sepi.
"Orang tua kita menunggu bukan?"Kata Hila dengan suara yang tersenggal karena debaran di hati nya.
Aksa mengangguk.
"Kamu selalu membuat ku gila."Aksa berbisik, kemudian menyusut bibir Hila yang basah dengan ibu jari nya.
Setelah menunggu Aksa yang saat ini sedang menjeput Hila cukup lama, akhir nya sorot lampu mobil itu mulai terlihat, dan terparkir tepat di depan rumah nya.
"Kalian ini kemana dulu?"Tanya Nanda kepada kedua sejoli yang baru saja tiba.
"Jalanan macet bu."Sahut nya kemudian duduk di samping ayah nya.
"Karena anak kita sudah ada, jadi kita bahas saja sekarang yah."Tutur nya kepada Arina.
"Iya silahkan."Wanita itu tersenyum.
"Jadi begini,..Aksa ingin pernikahan nya di percepat."Nanda tersenyum."Menurut pak Indar sama jeng Arin gimana?"Tanya Nanda
"Di percepat bagai mana?"Tanya Indra dengan senyum yang menghiasi bibir nya.
"Aksa ingin menikahi Hila minggu depan bagai mana pak?"Tanya Aksa kepada Indra."Seandai nya tidak ada lamaran apa tidak ada masalah?"Pandangan Aksa tertuju pada Arina terus kembali menatap Indra.
"Sebenar nya kalau niat baik memang harus segera di laksanakan, tapi jujur kita belum ada persiapan kalau secepat itu."Jawab Indra.
"Kita bisa pakai jasa WO dan Katering pak, jangan khawatirkan soal persiapan."Raksa berujar.
Indra terdiam, menatap ke arah Arina memberi hak untuk menjawab.
"Gimana kalo kita tanya Hila nya saja!"Arina menoleh, menatap Hila sambil tersenyum.
"Kalo Hila gimana mama sama bapak saja."Ucap Hila sedikit terlihat gugup.
"Ini ko main tunjuk-tunjukan!"Nanda tersenyum ke arah Arina.
"Hila?"Aksa menatap lekat gadis di hadapan nya.
Sesaat Hila terdiam, menoleh ke arah Indra dan Arina.
"Nggak apa-apa nggak ada acara lamaran juga mah, seandai nya Hila langsung nikah kalian jangan khawatir, Hila punya tabungan buat bantuin kalian."Jelas nya.
"Kalau sudah itu keinginan kamu, kita hanya bisa mendukung."Jawab Indra.
"Jangan khawatir, saya yang akan menyiapkan semua."Sergah Aksa.
"Jadi deal yah minggu depan kita besanan?"Tanya Nanda."Tidak usah merasa segan, anak saya yang akan menanggung semua."
"Nikahan sederhana saja,... Hila nggak terlalu suka keramaian!"Usul Hila.
"Mana mungkin berlian seperti kamu menikah tampa acara."Raksa terkekeh.
"Sudah, besok biar Aksa yang repot untuk acara nya, sekarang kita makan dulu! sudah di siapkan di meja makan, mari."Nanda segera beranjak, berjalan ke arah Arina lalu meraih tangan ibu dari Hila dan membawa nya ke arah dapur.
Melihat para istrinya yang sudah berjalan terlebih dulu, Raksa bangkit lalu mengajak Indra untuk segera menyusul ke belakang.
"Mari kita makan, akhir nya kita akan menjadi besan."kedua nya tertawa, sambil berjalan beriringan ke arah dapur meninggal kan Aksa dan Hila yang masih duduk di sofa dengan mata saling memandang.
"Ayo kita makan sayang!"Ajak Aksa merentang kan tangan nya.
"Ish,.. jangan manggil sayang terus,.. aku malu ka."Cicit nya pelan dan segera meraih tangan Aksa lalu bangkit.
"Ingat! jangan menangis."Aksa berbisik.
"Nggak, aku bakal teriak-teriak biar ibu denger terus nyelamatin aku."
"Kita tidak akan melakukan nya disini!"Jelas nya lalu merangkul bahu Hila.
...TBC🌻🌻🌻...
...Jangan lupa! like nya.....
__ADS_1
...⚘⚘...
...☕☕...