
^
^
Operasi yang di jalani Hipa pun berjalan lancar, prempuan itu bahkan langsung tersadar ketika dia sudah berada di ruang ICU.
"Sayang?"Panggil Aksa yang saat ini berdiri tepat di samping Hila yang masih memejam kan mata karena efek obat bius yang belum sepenuh nya hilang.
Mata Hila perlahan terbuka, menatap sayu Aksa yang sedang tersenyum ke arah nya.
"Apa masih sakit?"Bisik Aksa yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Hila.
Aksa mengusap kepala istrinya lembut.
"Besabarlah, sebertar lagi ruangan nya siap."Jelas Aksa kembali.
Setelah menunggu beberapa jam lama nya, kini Hila sudah berpindah ruangan, di temani Arina, Indra, kedua mertua nya dan juga Yoga bersama Agni.
Hila terus terlihat meringis, ketika bius di tubuh nya benar-benar hilang dan meninggal kan rasa perih yang teramat sangat di perut nya.
"Apa rasanya sakit sekali?"Agni mendekat.
Hila hanya mengangguk, ketika ia belum bisa berbicara banyakhal saat ini.
"Bersambarlah, kaka tahu kamu wanita kuat!"Kata Yoga yang juga langsung mencium kening Hila tampa canggung sedikit pun.
Aksa yang melihat kedekatan Hila dan Yoga pun hanya terdiam, dengan rasa kagum dan cemburu yang timbul bersamaan.
Yoga hanya kaka nya Aksa, tenanglah! umpat nya dalam hati.
__ADS_1
"Kaka tidak kerja?"Ucap nya pelan, dengan satu tangan yang juga terulur untuk meraih tangan Yoga.
"Mana mungkin kaka bisa bekerja, kalau adik kesayangan ku ini di larikan ke rumah sakit,..bahkan sampai masuk ruang operasi."Jawab Yoga.
Hila diam, lalu pandangan nya menatap sekeliling, sudut bibir nya terangkat ketika mendapati ke empat orang tua nya berkumpul menemani dirinya.
"Aduh!!"
"Kenapa? luka nya makin terasa ngilu yah?"Nanda mendekat. "Biasa nya nanti di kasih obat peredaran nyeri, jadi Hilang bisa tidur lagi."Jelas Nanda kembali.
"Sabar ya sayang, ini musibah. Mama nggak nyangka kamu bisa sampe kaya gini."Arina berujar dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Jangan nangis mah."Ucap Hila lirih.
Berbeda dengan para prempuan yang terlihat lebih sedih, justru Raksa dan Indra terlihat lebih santai, bahkan kedua pria tua itu malah asik mengobrol di sofa yang berada di sudut ruangan.
Lalu Aksa beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Nanda dan Arina.
Pria itu berjalan perlahan, melewati setiap lorong yang terlihat di penuhi para pasien.
Namun pandangan nya tertuju pada wanita yang sangat di kenal nya, dan menghilang beberapa bulan lalu.
"Yuna!"Panggil nya sampai membuat prempuan yang sedang duduk itu menoleh.
"Aksa!"Wanita itu tidak kalah terkejut.
"Kamu?!"Aksa menatap perut Yuna yang terlihat sudah membulat.
"Ya seperti yang kamu lihat."Ucap nya lirih.
__ADS_1
"Apa itu anakku?"Aksa langsung menanyakan sesuatu yang terus berputar di pikiran nya.
Yuna diam.
"Ny. Yuna!"Panggil seorang perawat yang sedang berdiri di ambang pintu ruang pemeriksaan.
Tampa menjawab Yuna langsung pergi begitu saja, meninggal kan Aksa yang sedang menatap nya penuh tanya.
Apa dia anakku? bagai mana kalau dia memang anakku? apa yang harus aku lakukan?
"Aksa!"
Seorang pria memanggil nya, sampai membuyarkan lamunan Aksa.
"Yoga."
"Kami pulang dulu, saya titip Hila. Dan jaga dia baik-baik."Yoga menepuk pundak Aksa.
Agni pun tersenyum, kemudian menganggu kan kepala lalu berjalan terlebih dulu bersama suaminya meninggalkan Aksa.
"Astaga ya tuhan!"Gumam nya.
Beberapa menit Aksa berdiri, menatap pintu ruangan yang Yuna hampiri dengan tatapan sendu.
Hilang maafkan aku!
Pria itu merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang pernah di perbuat nya.
...Nah lo babang Aksa! kalo udah begini mau apa🙄🙄🙄...
__ADS_1