Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Obrolan.


__ADS_3

^


^


Keadaan di dalam mobil hening.Aksa yang fokus mengemudi, sedangkan Hila hanya diam seribu bahasa dengan pandangan yang terus menatap ke arah kaca di samping nya dengan jemari yang saling meremas, berusaha menghilang kan rasa gugup nya.


"Apa kabar?"Akhir nya Aksa membuka obrolan, pria itu tersenyum ke arah wanita yang sedang duduk di kursi sebelah nya.


"Baik, lebih baik dari pada sebelum nya!"Jawab Hila singkat tampa mengalihkan pandangan sama sekali.


Pandangan Aksa tertuju pada Hila, namun gadis itu terus menatap ke arah lain dan menghindari kontak mata dengan pria di samping nya.


"Maaf!"Ucap Aksa, suara nya terdengar lirih dengan tatapan mata sendu, memperlihat kan banyak sekali penyesalah di dalam sana..


Akhinya kata maaf dari Aksa membuat Hila menoleh, menatap Aksa yang sedang fokus mengemudi yang hanya melihat nya sesekaki sambil tersenyum tipis.


"Untuk apa?"Tanya Hila yang pura-pura tidak tahu.


Aksa tersenyum.


"Kamu lebih tahu arah ucap ku kemana Hila!"Sergah Aksa tampa mengalihkan pandangan, mata nya tetap fokus menatap ke arah depan di mana lalu lintas sedang terlihat padat.


"Hemmph,.... aku sudah memaaf kan mu."Gumam Hila dengan anggukan kepala seolah Aksa tengah melihat nya.


Aksa menoleh, menatap wajah cantik Hila yang selalu menghindari tatapan nya.


"Emm,... bagai mana luka di pergelangan tangan mu?"Tanya Aksa berusaha mencair kan kembali suasana yang mulai terasa canggung kembali.


"Sudah sembuh, tinggal bekas nya saja yang masih terlihat, dan mungkin tidak akan pernah hilang sampai nanti aku meninggal sekali pun!"Tukas Hila.


Aksa mengangguk, dengan sudut mata yang melirik dan memperhatikan pergelangan tangan Hila yang tertutup lengan kemeja nya yang panjang.


"Kenapa?"Ucap Aksa menggantung perkataan nya.


"Kenapa apa nya?"Hila menjengit memandang Aksa penuh tanya.


"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri, kenapa tidak menyakiti aku, kau bisa menamparku atau apapun itu untuk...."


"Kumohon jangan di bahas lagi, aku merasa seperti gadis bodoh ketika mengingat itu!"Cicit Hila dengan nada yang sudah terdengar kesal.


Aksa terdiam, pandangan nya terus luruh kedepan, kedua tangan nya mencengkram erat setir mobil dengan rasa penyesalan yang kini mulai kembali muncuat.


Aksa kecewa pada dirinya sendiri, bisa-bisa nya Aksa menyakiti gadis yang mungkin masih sangat di cintai nya, namun rasa cinta Hila tertutup rasa benci dan ke datangan Yuna yang menjadi pelampiasan nya saat itu.

__ADS_1


^


^


Setelah satu jam lama nya menyusuri jalanan kota di malam hari, akhirnya mobil yang di tumpangi Hila telah berhenti tepat di pekarangan rumah nya.


"Terimakasih tumpangan nya."Kemudia Hila membuka pintu, tampa menawarkan Aksa untuk berkunjung terlebih dulu.


—Klek..


"Hila, kamu sudah pulang nak?"Arina berdiri di ambang pintu.


"Sudah mah, Hila masuk ya mau mandi udah nggak enak, badan lengket semua rasa nya."Hila berujar kemudian masuk begitu saja ke dalam rumah meninggal kan Arina.


Berbeda dengan Hila yang terlihat acuh bahkan hampir tidak perduli, Arina justru menghampiri mobil Aksa yang masih terparkir di depan rumah sederhana nya.


"Aksa!"


TOK..TOK..


"Iya bu?"Sahut Aksa.


"Nggak masuk dulu, minum teh atau kopi?"Tanya Arina seperti biasa dengan senyum ramah nya.


Aksa tersenyum.


"Yasudah, kalau begitu hati-hati di jalan."Arina tersenyum, kemudia mundur beberapa langkah ketika Fortuner hitam itu mulai melaju.


Arina bergegas masuk ketika mobil yang di rumpangi Aksa sudah berjalan cukup jauh.Ada rasa tidak enak terhadap nya atas sikap Hila,Aksa memang salah, namun pria itu berusaha menebus kesalahan nya walau Hila sesungguh nya sudah tidak peduli dengan kejadian beberapa bulan lalu.


"Hila?"Panggil Arina.


TOK..TOK..


"Buka dulu sayang, mamah mau bicara."Jelas nya sambil terus mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat.


"Mahila, sayang!"Panggil Arina kembali.


—Ceklek..


Mahila membuka pintu kamar nya, gadis itu masih memakai seragan kerja nya dan belum mandi sama sekali, dengan raut wajah yang terlihat sangat gusar.


"Tidak boleh seperti itu, lain kali Aksa nya di ajak masuk dulu, di tawatin minum."Jelas Arina dengan suara pelan.

__ADS_1


"Kenapa dia muncul lagi si mah, kemarin Hila sudah tenang, tapi dia muncul lagi dengan alasan ingin memperbaiki semua."Cicit Hila.


Pandangan mata kedua nya kini bertemu, Arina melihat banyak sekali kegelisahan di dalam nya.


Hila trauma? ya putri ku trauma! gumam nya.


Arina meraih telapak tangan Hila, meremat di antar celah jemari Mahila dengan erat.


"Mamah terlalu baik sama dia, jadi dia merasa punya dukungan lebih, dan bisa berbuat semau nya."Hila mulai terisak.


"Aku tahu mamah itu nggak enak, apalagi bapak yang juga kerja di sekitar perumahan yang di huni nya, tapi nggak gini mah, Aksa jadi besar kepala, dengan seenak nya dia datang, kemudia menyuruh ku pergi, dan setelah aku pergi dia malah datang berusaha meminta ku untuk kembali."Sergah nya sambil menangis tersedu-sedu.


"Hila cape mah, cape!"Tangisan Hila semakin pecah.


Arina hanya terdiam, wanita itu merasa bersalah kepada Hila, namun tidak tahu harus bersikap bagai mana kepada Aksa.


Arina berada di posisi yang membuat nya pusing, dia adalah ibu kandung dari Hila, tapi juga tidak bisa berbuat tegas kepada Aksa yang kembali mulai muncul dan ingin menemui putri bungsu nya.


"Maaf, nanti ibu kasih tahu Aksa biar nggak nemuin kamu lagi!"Ucap nya berbisik."Tapi hanya ada satu cara, agar Aksa benar-benar pergi atau bertahan dengan cinta nya."Ujar Arina.


"Apa?"Hita menatap lekat nertra hitam milik ibunya.


"Kamu memiliki hubungan dengan pria lain, tidak usah menikah, setidak nya pacaran dulu.Perlahan Aksa akan pergi, jika itu yang kamu ingin kan."Sergah Arini.


Hila terdiam sesaat, memikir kan apa yang baru saja di usul kan Arina.


"Kamu ingat teman mamah yang dulu sering kesini?"Tanya Arina.


"Yang mana? teman ibu banyak yang suka kesini!"Tukas Hila.


"Yang jualan ayam ungkep itu loh, dia ada anak bujang, kalo mau nanti ibu kenal kan."Ucap Arina berseungguh-sungguh.


Mahila kembali terdiam.


"Dia bekerja sebagai waiters di salah satu cafe di kota ini nak."Arina memperjelas.


Mahila mengangguk, walau terlihat banyak keraguan dari raut wajah nya.


"Anak nya baik, dan sopan."Timpal Arina kembali agar membuat bisa.


"Hila ikut ibu saja, yang penting belum punya pacar dan tidak seperti Aksa."Jelas Hila.


...TBC🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Like, vote dan dukungan lain nya......


__ADS_2