
....
Sesampai nya di kamar mandi, Aksa kembali meraup bibi ranum milik Hila, men**sap nya dengan penuh perasaan yang menggebu-gebu.
"Ngghh,...
Suara erangan nya tertahan, ketika tangan Aksa sudah berg*rayang nakal di belakang, mengusap dan juga me**mas nya kuat.
Kemudian naik ke atas, mencari pengait br* dengan bibir yang terus bermain menukar s*liva satu sama lain.
Sama hal nya dengan Aksa, Hila pun sudah larut dengan gairah nya pagi ini, mata nya terus terpejam dengan satu tangan yang terus mengusap di bagian parut dan dada suami nya dengan satu tangan lain yang bertumpu pada lengan Aksa untuk menyeimbang kan dirinya agar tidak terjatuh.
"Ahh,...
Satu ******* lolos dari mulut Hila ketika tangan Aksa dengan nakal nya me^emas salah satu gunung kembar milik Hila.
Pautan bibir nya terhenti, kedua nya saling memandang dengan nafas yang sudah menderu-deru, kemudian pandangan Hila beralih, pada sesuatu yang mengganjal perut nya, namun ketika Hila akan menyentuh nya, dengan cepat Aksa membawa Hila kembali ke dalam kamar.
Brugh!
Tubuh mungik itu terlempar di atas ranjang dengan ke adaan polos dan hanya menyisakan kain terakhir yang menutupi inti tubuh nya.
Aksa menyeringan sambil melucuti sisa pakaian nya, kemudian juga ikut menarik satu pembungkus yang masih melekat di tubuh bagian bawah milik Hila.
Hila tertegung, raut wajah nya terlihat sangat ketakutan ketika Aksa mulai merangksek dan mengungkung nya di bawah tubuh kekar itu.
"Euh,... se-sebentar aku mau ke kamar mandi,..
Hila berusaha menghindar, namun ketika gadis itu akan bangkit, Aksa terlebih dulu mendongong bahu nya agar Hila tetap berada di bawah tubuh nya.
"Alasan macam apa itu?"Tanya Aksa dengan suara berbisik.
"Ngghh,...tapi.."Erakan Hila kembali terdengar.
Aksa menyeringai, terus menatap Hila sambil mengarahkan milik nya pada inti tubuh Hila.
"Apa kamu lupa sayang kata-kata ku beberapa hari yang lalu?!"Aksa terus berucap dengan mata yang terus menatap Hila yang sudah memejam kan mata nya.
"Ka,..ta-tapi,....aww,..stopp!
Hila meringis, mencoba mempertahan kan diri dengan mendorong perut Aksa sekuat tenaga.
"Kenapa!"Aksa maraih tangan Hila, mengusap nya pelan lalu menyingkir kan tangan Hila dari perut nya.
"Aku nggak bisa!"Hila meringis.
"Kamu bisa,...tahan sebentar yah!"Ucap Aksa yang langsung mencium kening Hila.
Hila menggeleng kan kepaka dengan tatapan mata sendu nya.
"Jangan menatap ku seperti itu Hila!"Aksa berbisik sambil bermain dengan rambut nya yang terlihat sudah berantakan.
"Bisakah kita melakukan nya nanti?"Suara nya lirih.
Aksa menggeleng kan kapala, lalu mulai mendorong nya kembali sampai Hila kembali memejam kan mata nya sambil meringis.
"Sshhh..
"Tahan yah! aku janji cuma sebentar."Pinta Aksa sambil menahan erangan kemudian menghentakan pinggul nya sekaligus sampai terasa merobek sesuatu di dalam sana.
Hila menjerit, tubuh nya menengang bahkan bibir bawah nya terlihat sedikit luka ketika Hila mengigit bibir bawah nya untuk menarah teriakan yang akhirnya lolos juga.
"Maaf sayang maaf!"Ucap Aksa sambil mencium wajah Hila beberapa kali.
"Kamu jahat!"Sahut nya sambil menangis pelan.
__ADS_1
"Memang seperti ini proses nya sayang!"Timpal nya di iringi kekehan pelan.
Aksa terdiam sesaat, memberi waktu agar Hila menyesuai kan diri terlebih dulu.
Setelah beberapa detik, Aksa mulai kembali menggerakan nya pelahan.
Mata Hila kembali terpejam, alis nya menjengit dengan bibir yang terus meringis.
"Hanya sebentar sayang."Bisik Aksa yang mulai memacu kecepatan nya.
Perlahan rintihan itu berubah menjadi d*sahan yang terdengar sangat s*ksi di telinga Aksa.
"Ahh,...sayang,...akuu!..
"Arrggghh.."Aksa menggeram ketika mendengar rancauan Hila.
Jeritan, d*sahan dan erangan pun terdengar bersahutan ketika kedua nya sudah sampai di ujung ke nikmatan.
"Owh ****!"Ucap nya ketika Aksa menyemburkan benih pertama nya ke dalam rahim Hila.
Prempuan itu terlunglai lemas, dengan peluh yang sudah bercucuran membasahi kening.
"Terimakasih sayang ku!"Aksa berbisik, kemudian ambruk di samping Hila dengan nafas yang terengah-engah.
🌺
🌺
TOK..TOK..
"Resepsionis!"Ucap seorang di balik pintu.
Aksa bangkit dari duduk nya, kemudian beranjak mendekat ke arah pintu.
—Klek..
"Iya terimakasih."Aksa tersenyum, kemudian memberikan uang tips dan membawa masuk meja yang di atas nya tersaji beberapa makana dan minuman yang Aksa pesan.
Aksa kembali berjalan ke arah ranjang, di mana Hila masih terlelap dengan keadaan yang sama setelah pergumulan panas nya.
"Sayang!"Aksa duduk di tepi ranjang.
Hila menggeliat, kemudian membuka mata nya perlahan.
"Bangun sayang, kamu makan dulu,..sesudah itu bersihkan diri lalu tidur kembali."Jelas Aksa sambil tersenyum.
Hila mengangguk, kemudia menarik selimut ny agar lebih naik ke atas kemudian duduk.
"Masih sakit?"Tanya Aksa ketika melihat Hila meringis.
Hila mengangguk.
"Rasa nya malah lebih perih dan aneh!"Jelas nya kepada Aksa.
"Nanti tidak lagi kalau sudah terbiasa."Aksa menyentuh pipi Hila dengan punggung tangan nya.
"Kita makan,...aku pesan zupa soup ke sukaan kamu."Jelas Aksa.
Hila tersenyum.
"Boleh bantu aku dulu nggak,.. aku mandi dulu kaya nya."Pinta Hila.
Aksa mengangguk, kemudian membawa tubuh Hila ke arah kamar mandi.
"Bisa sendiri?"Tanya Aksa setelah menurun kan Hila.
__ADS_1
"Bisa, kaka boleh tunggu di luar."Kata Hila.
"Baiklah sayang,.. hati-hati! panggil aku kalau butuh sesuatu."
Aksa segera berbalik arah dan berjalan keluar kamar mandi sambil menutup pintu nya.
Hila kembali meringis, ketika merasa perut bagian bawah dan pangkal paha nya terasa sakit.
Dua puluh menit Hila berada di dalam kamar mandi, akhirnya wanita itu keluar dengan menggunakan bathrobe dan lilitan handuk di kepala nya.
Hila berjalan pelan ke arah Aksa yang duduk di sofa.
Pria itu menoleh, pandangan nya terus tertuju pada Hila yang sudah duduk di sampin nya.
Kenapa wajah nya terlihat sangat pucat?
"Bibir kamu terluka?"Aksa mendekat.
Hila mengangguk.
"Perih?"Tanya Aksa kembali.
"Tidak,..ada bagian lain yang lebih perih."Jelas nya kemudian tersenyum canggung.
"Maaf,..
Hila menggelengkan kepala, lalu memeluk tubuh Aksa dari samping.
"Kenapa?"Aksa mengusap punggung Hila.
"Nggak,.. aku nyama aja peluk kamu."Sahut Hila.
"Ayo makan dulu,.. kamu belum makan sayang dari semalam."Titah nya.
"Biarkan dulu seperti ini,.. aku suka bau di baju mu."Gumam Hila.
"Kalau seperti ini terus,..aku tidak janji kalau kamu akan aman."Aksa berbisik.
"Apa kaka tidak kasihan?"Cicit Hila.
Aksa berfikir.
"Kasian sih,... tapi kamu sudah menjadi candu ku bagai mana? kamu tahu? aku baru pertama kali membuka segel pabrik!"Aksa berujar.
"Mbak Yuna?"Hila menjengit.
"Pengakuan nya seprti itu, tapi kenyataan nya tidak."Jelas Aksa.
"Masa!"
"Iya,..dia tidak menangis,..tidak berdarah juga! dan reaksi tubuh nya tidak seperti kamu yang terlihat tersiksa."
Hila terdiam.
"Kenapa jadi bahas dia, ayo makan."Aksa bangkit kemudian membawa makanan yang tadi di pesan nya ke arah Hila.
"Maaf aku tidak bermaksud."Ucap Aksa.
"Tidak,... aku cukup mengerti bahwa dia pernah berada di masa lalu mu, bahkan mungkin punya tempat tersendiri di hati kamu,..
"Tidak sama sekali!"Aksa menatap Hila bersungguh-sungguh.
Hila hanya mengangguk, kemudian meraih zupa soup ke sukaan nya yang sudah mulai terasa hangat.
...TBC🌺🌺🌺...
__ADS_1
...Jangan lupa! like, vote, dan komen......