Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Sun.


__ADS_3

.


.


Setelah mengetahui kebenaran dari hasil test hari ini. Aksa terlihat sangat murung, pria itu selalu terdiam sambil terus melamun. Tak jarang pula Aksa terlihat menangis secara diam-diam.


Sore ini contoh nya, Aksa terdiam di sofa kamar nya, menatap kosong ke arah luar jendela besar di atas ketinggian.


"Astaga ya tuhan! aku menyesal, kenapa aku harus terbawa pergaulan bebas, berhubungan layak nya orang yang sudah menikah, ampuni dosa ku, jagalah hati istriku, dan tetapkan hati nya agar tetap berdiri bersamaku."Ucap nya dalam hati.


Hati nya terus bergemuruh, rasa takut kehilangan Hila lebih mendominasi, walau wanita itu selalu meyakinkan bahwa dia tetap berada di sisi nya, namun Aksa terlalu takut Hila pergi secara diam-diam.


"Aku harus apa mulai sekarang!"Gumam nya kembali.


Klek...


Hila keluar dari kamar mandi, menoleh sesaat, melihat suaminya yang sedang duduk di sofa sambil melihat langit senja yang sangat indah.


Seulas senyuman pun bangkit, lalu segera beranjak memasuki walk in closet yang berada di sebrang pintu kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Hila sudah kembali dengan keadaan rapih dan wangi. Namun prempuan itu menjengit keheranan ketika meliha suaminya masih dalam posisi yang sama.


Deg!


Hati nya mencelos ketika mendapati buliran air mata yang jatuh dari mata yang sedang memandang kosong ke arah luar.


Hila duduk, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi Aksa.


"Loh! kamu udah selesai?"Aksa tersentak.


Hila hanya terdiam, meneliti lebih dalam manik milik suaminya.


"Kenapa menangis? apa ini seberat itu?"Suara Hila lirih, hati nya terasa lebih sakit ketika melihat Aksa yang biasa nya ceria berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam.


Bukan nya menjawab pertanyaan Hila, justru Aksa malah meraup tubuh itu dan memeluk nya erat.

__ADS_1


Aksa menangis.


"By?"Hila menepuk punggung suaminya.


"Aku bingung, aku nggak tau arah jalan ku sekarang."Suara nya bergetar. "Bagaimana kalau Yoga tahu, ibu, ayah, mamah, bapak? mereka akan kecewa Hila, mereka akan membuat kamu pergi dari ku."


Hila bungkam, prempuan itu hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung suaminya agar pria itu bisa lebih tabah dalam menghadapi masalah.


"Aku tidak mau anak itu!"Akhir nya kata-kata itu keluar dari mukut Aksa.


"By,...nggak boleh kaya gitu! bayi itu nggak dosa, nggak tahu salah nya apa, tapi malah papah nya musuhin."Sergah Hila pelan.


Tangisan Aksa semakin kencang.


"Jadilah suamiku yang seperti awal kita menikah, kuat, tangguh, ceria. Ini bukan ka Aksa yang ku kenal."Hila merenggangkan pelukan nya.


"Aku takut sekarang!"Aksa mengusap air mata nya.


"Hadapilah, masalah tidak akan selesai hanya karena kita menghindari nya."Kata Hila.


"Aku tidak mungkin kembali kemasa itu By."Hila tersenyum, telapak tangan nya kembali mengusap buluran air mata di pipi Aksa.


"Kita harus datang menemui Yuna dan kedua orang tua nya, mereka sudah menunggu, karena kita menerima undangan makan malam nya bukan."Ucap Hila kembali.


Aksa menggelengkan kepala.


Dia menolak.


"Ada aku, istri cantik mu ini."Hila mencoba menghibur.


"Aku tidak bisa."


"Apa kamu butuh psikiater? seperti nya rasa cemas mu berlebih."Tanya Hila pelan.


"Tidak! tentu saja tidak. Aku hanya takut kehilangan mu, bukan gila. Dan menurut ku itu tidak berlebihan."Jelas Aksa.

__ADS_1


"Aku bersama mu, kita hadapi masalah ini sama-sama, aku tidak akan pergi kemanapun."Hila tersenyum. "Kalau begitu bersiaplah, kita harus pergi karena undangan makan malam dari ayah nya mbak Yuna."Hila mendorong tubuh suaminya.


"Kau janji?"


Hila mengangguk.


"Tetap disini, di sisiku?"


"Iya."Balas Hila.


Akhirnya pria itu tersenyum.


"Baiklah, aku akan menghadapi semua ini dengan baik, karena ada kau di sisi ku."Ujar Aksa.


"Cepat!"Hila tertawa.


"Baiklah Nyonya Aksa, tunggu beberapa menit saja."


"Aku menunggu."


Namun bukan nya berjalan menuju kamar mandi, Aksa malah berjalan mendekat ke arah Hila.


"Stop! mau apa?"Hila menghindar.


"Sun!"


"Jangan!"Hila mendorong dada Aksa.


"Hila, kenapa?"Aksa kesal.


"Mandilah, ada readers yang sedang kesal padamu. Jadi jangan macam-macam."


"Hah,..baiklah!"


"Anak baik."Tukas Hila.

__ADS_1


__ADS_2