Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Dua garis merah.


__ADS_3

^


^


–Cup..


Aksa mencium kening Hila yang sudah kembali terlelap di atas tempat tidur kamar milik nya sebelum wanita itu berstatus menjadi nyonya Aksa.


"Aku ke kantor sebentar."Ucap nya pelan, kemudian tersenyum seolah Hila bisa melihat nya.


Langkah kaki Aksa berjalan ke arah pintu, meraih handle dan menekan nya perlahan.


Klek!


Aksa keluar dari kamar istrinya, menutup kembali pintu kamar, lalu berjalan ke arah ruang tengah.


"Mah,..Pak! Aksa mau ke kantor sebentar."Pamit nya kepada ibu dan ayah mertua nya yang sedang menyaksikan siaran televisi.


"Kamu tidak libur?"Indra menatap menantu nya.


"Hanya ada sedikit pekerjaan."Aksa tersenyum.


"Baiklah, semoga pekerjaan mu cepat selesai."Ucap Indra kembali.


"Hila tidak ikut?"Tanya Arina yang langsung berdiri dan mendekat ke arah Aksa.


"Sepertinya Hila tidak enak badan, jadi biarkan saja dia tidur, nanti Aksa jemput lagi ke sini."Jelas Aksa.


"Baiklah, hati-hati di jalan."Tukas Arina yang langsung di angguki Aksa.


Aksa terus berjalan ke arah luar, di antar Arina yang juga berjalan di belakang nya.


"Aksa berangkat mah!"Pamit nya kembali, lalu masuk kedalam mobil hitam milik nya.


PIM..PIM...


Klakson mobil Aksa berbunyi, yang langsung di jawab lambaian tangan oleh Arina.


Melihat mobil Aksa yang terlihat sudah sangat jauh. Arina segera masuk kembali kedalam rumah, raut wajah nya sedikit terlihat khawatir, apalagi ketika Aksa mengatakan bahwa putri kesayangan nya sedang merasa tidak enak badan.


"Kenapa mah?"Indra heran.


"Mau periksa Hila dulu, takut nya kenapa-kenapa. Sedari datang dia nggak makan sama sekali, hanya minum beberapa gelas dan memakan kripik saja."Jelas Arina.


"Aksa bilang Hila masih bekerja,..dasar anak itu, bisa saja di kelelahan."Pria itu ikut berdiri dan berjalan beriringan bersama Arina.


TOK..TOK..TOK..


"Mahila, sayang!"Panggil Arina.


Tangan nya menekan handle pintu kamar Hila, kemudian masuk perlahan bersama Indra.


Pandangan mata nya langsung tertuju kepada prempuan yang sedang terbaring di bawah gulungan selimut tebal.


"Kamu sakit?"Ucap nya dengan punggung tangan yang menenpel di kening putri nya itu.

__ADS_1


Hila tidak terganggu, ia hanya terus terlelap dengan nafas yang terlihat sangat teratur.


"Tubuh nya tidak panas!"Arina menoleh ke arah suaminya berdiri.


"Hila?"Panggil Indra.


Tubuh itu menggeliat.


"Kalian disini?"Suara nya serak dengan mata yang mulai mengerjap.


"Kamu sakit?"Arina duduk di sisi tempat tidur.


Hila bangkit, duduk dan bersandar di ujung tempat tidur nya.


"Nggak mah, hanya malas dan selalu lelah saja."Jelas Hila.


"Apa kamu sudah datang bulan?"Arina tersenyum.


"Datang bulan!"Hila menjengit.


"Iya, tanggal berapa biasa nya haid."Raut wajah Arina sudah berbinar, begitupun dengan Indra yang sudah mulai mengerti arah pembicaraan nya kemana.


Mahila diam dan berfikir.


"Tanggal tiga kalau nggak salah."Jelas Hila sedikit tidak yakin.


"Sudah sepuluh hari telat!"Raut wajah Arina semakin berbinar. "Apa mau periksa, biar mama belikan test kehamilan di apotik sebelah."Wanita itu langsung bangkit dari duduk nya.


"Ayok pak, antar ibu! pake motor biar makin cepet."


"Dasar!"Hila berdecak, kemudian tersenyum."Masasih aku hamil, nikah aja baru mau sebulan."Umpat nya namun tampa Hila sadari telapak tangan nya sudah berada di atas perut nya yang masih terlihat rata.


^


^


Setelah beberapa menit meninggal kan Hila sendiri, akhirnya motor yang Indra kendarai sampai tepat di teras rumah nya.


"Mahila! sayang, ayok di pakai test pack nya."Wanita itu berteriak, sambil terus berjalan menuju kamar putrinya.


"Mamah ini kenapa?"Cicit Hila kepada ibu nya.


Arina tersenyum.


"Cepat,..cepat! mamah sudah tidak sabar."Titah nya sambil bertepuk tangan.


"Jangan terlalu bersemangat, biarkan Hila santai sedikit."Gumam Indra yang baru saja masuk ke dalam kamar Hila.


"Baiklah, aku test sekarang! tapi mamah sama bapak tunggu di luar!"Ucap nya sambil tersenyum gugup.


Arina mengangguk, lalu menarik tangan Indra dan segera berjalan ke arah luar kamar.


Setelah pintu kamar nya tertutup, Hila segera masuk ke dalam kamar mandi, dan berdiri tepat di hadapan cermin washtafel.


Dengan sangat teliti Hila membaca setiap langkah yang tertera.

__ADS_1


"Harus pakai wadah!"Gumam nya.


Sesaat pandangan Hila teralih, mencari wadah kering dan bersih.


"Pakai ini ajalah."Hila membawa tempat vitamin rambut nya, mengeluarkan benda kecil berbentuk bulat itu untuk ia gunakan sebagai penampung air seni nya.


Dengan cekatan Hila melakukan step by step yang tertulis.


Raut wajah nya terlihat cemas, sampai mata nya terus menatap benda pipih yang mulai memperlihat kan garis merah.


Ceklek!!


"Astaga By! kamu hampir aja bikin aku kena seragan jantung."Hila tersentak ketika Aksa yang tiba-tiba masuk.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"Aksa mendekat.


"Aku...


Hila menatap sesuatu yang berada di dekat washtafel.


"Sayang,...kamu?"Pria itu berteriak ketika pandangan nya juga tertuju pada benda yang sama.


Dengan cepat Aksa membawa testpack itu, meneliti nya dari jarak dekat tampa rasa jijik sedikit pun.


"By,..di tutup dulu ujung nya! itu bekas pipis aku."Cicit Hila.


"Kamu hamil?!"Raut wajah nya berbinar.


"Iya kah?"Tanya Hila sedikit tidak percaya.


"Wah,....istriku hamil!"Teriak nya lalu tertawa kencang.


"Ini belum pasti, kita harus ke Dokter kandungan untuk memastikan nya."Kata Hila.


Sementara itu di luar kamar, dua calon nenek dan kakek sedang menunggu dengan perasaan yang tidak karuan.


Apalagi ketika mendengar Aksa berteriak, tampa menunggu lagi kedua nya menerobos masuk.


"Apa hasil nya Aksa?"Tanya Arina.


"Garis nya dua mah!"Aksa terkekeh dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Pak! kita akan menjadi kakek dan nenek sebentar lagi."Wanita itu tak kalah bahagia.


"Selamat! kalian akan segera menjadi orang tua."Ucap Indra.


"Tapi ini belum pasti."Kata Hila yang merasa ragu atas test nya kali ini.


"Kita langsung ke Dokter setelah pulang dari sini."Aksa berujar.


"Ide yang bagus, mamah juga mau ikut."Wanita itu tersenyum ke arah Aksa, kemudian beralih menatap Hila.


Melihat Arina yang terlihat sangat antusias, berbeda dengan Indra yang hanya tersenyum, walau sesungguh nya ia ingin melompat karena bahagia.


Andai aku anak kecil, aku pasti melompat-lompat saat ini! gumam Indra dalam hati.

__ADS_1


...........


__ADS_2