Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Oksigen.


__ADS_3

^


^


"Mau sarapan?"Tanya Aksa sambil terus mengendalikan setir mobil nya dengan satu tangan, sementara satu nya lagi menggenggam tangan Hila di atas persneling.


Hila menoleh, mematap Aksa kemudian tersenyum.


"Nggak usah, kita sarapan di rumah saja.Mamah pasti sudah masak sarapan buat kita."Jelas Hila.


"Kita?"Ucap nya sambil tersenyum.


"Iya, mamah sama bapak pasti tahu kamu datang."Jelas Hila.


Aksa tersenyum.


"Kamu sok tahu Mahila Arindra!"Aksa berujar.


"Aku denger kaka telpon bapak semalem."Tukas Hila.


"Apa kamu juga ingat yang lain?"Tanya Aksa kembali kepada Hila.


Hila menjengit, lalu menggeleng kan kepala ketika tidak mengingat apapun setelah itu.


"Emang nya aku bilang apa?"


Aksa hanya terdiam dengan bibir yang terus tersenyum yang sesekali menoleh untuk melihat gadis yang duduk di samping nya.


Setelah satu stengah jam menempuh perjalanan pulang, akhirnya mobil yang di tumpangi Hila berhenti tepat di halaman rumah Hila.


"Ka ayo turun!"Ajak Hila kepada Aksa.


"Nggak usah."Sergah Aksa pelan.


"Ayo, nanti aku di marahin gimana?"Rengek Hila pelan.


Aksa menghela nafas nya pelan, lalu mengangguk dan segera turun dari dalam mobil.


Mereka terus berjalan beriringan, dengan raut wajah Hila yang sudah terlihat pucat karena takut akan omelan sang ibu.


–Klek.


Arina membuka pintu, lalu menatap kedua nya dengan senyuman seperti biasa.


Mamah nggak marah!


"Kalian pulang tepat waktu, mamah baru saja selesai masak, ayo masuk."Sambut Arina pada kedua nya.


Melihat reaksi ibu nya yang tidak biasa, Hila menoleh dan memandang Aksa penuh tanya, namun pria itu hanya mengendikan kedua bahu nya tampa memberi jawaban.


"Ayo duduk, biar mamah siap kan sarapan nya."Titah Arina.


Wanita itu langsung membawa beberapa piring, di bantu Hila yang juga menyiap kan air minum, kemudian meletakan nya di atas meja makan.


"Bapak belum pulang?"Tanya Hila kepada ibu nya.


"Sebentar lagi, biasa nya kan bapak mu pulang jam setengah delapanan."Arina tersenyum.


Hila mengangguk, lalu segera duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Aksa.


Seperti yang biasa Arina lakukan, wanita itu akan mengisi setiap piring dengan nasi, lalu meletakan nya di atas meja untuk di isi lauk yang di ingin kan masing-masing.


"Maaf, sarapan disini cuma segini ada nya ka!"Ucap Hila kepada pria yang duduk di hadapan nya.


"Sarapan di rumah aku lebih parah, karena ibu hanya menyediakan roti isi selai."Jawab Aksa penuh candaan.


Sedang asik berbincang satu-sama lain, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka, kemudian munculan seorang pria paruh baya dengan stelan kerja nya.

__ADS_1


Raut wajah nya terlihat sangat lelah, dengan mata yang terlihat sudah memerah.


"Pak!"Sapa Aksa.


"Loh, Aksa sudah datang?"Indra terus berjalan ke arah washtafel, lalu mencuci tangan nya sebelum ikut sarapan bersama."Bagai mana pekerjaan di kantor kamu? sudah selesai!"Indra menatapa Aksa dan Hila bergantian, kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk bersebelahan dengan Aksa.


Mahila hanya mengangguk sambil tersenyum, gadis itu bingung dengan jawaban apa yang akan di berikan kepada ayah nya.


"Sudah selesai, berkat bantuan Hila pak.Sebenar nya di kantor juga sudah ada Irfan, tapi dia masih pekerja baru dan belum banyak mengerti banyak hal, terpaksa saya meminta Hila membantu."Jelas Aksa kemudian di angguki Arina dan juga Indra.


"Hila Hari ini kamu kerja?"Indra menatap putri nya.


Hila pun mengangguk.


"Oh,... yasudah.Cepat selesai kan sarapan mu dan segeralah bersiap-siap."Titah Sang ayah yang kemudian di jawab anggukan juga.


Setelah selesai dengan sarapan nya pagi hari ini, Hila masih terlihat santai dengan segelas air minum nya di tangan.


"Pak,...bu,...emm, ada yang ingin saya bicarakan!"Kata Aksa, pandangan mata nya terlihat serius.


"Ada apa?"Tanya Indra, namun Arina hanya dia sambil terus memperhatikan.


"Saya mau melamar Hila, dan mungkin secepat nya orang tua saya juga kesini."Aksa berujar.


Seketika Hila yang sedang meneguk air minum nya langsung menyembur kan air itu secara tiba-tiba.


"Uhuk,...uhuk,...uhuk,...!"Gadis itu langsung menutup mulut nya denga kedua tengan.


"Hila kenapa? pelan-pelan kalo minum, kebiasaan."Cicit Arina kemudian memberikan tissue kering dan membantu membersikan hoodie yang basah karena ulah gadis itu sendiri.


"Mamah kok nyalahin Hila! ka Aksa kalo bicara nggak lihat situasi."Gumam Hila."Aku mau mandi dulu, ah maaf kejadian nya nggak bisa di sensor."Hila pun bangkit, kemudian berjalan lebih cepat ke dalam kamar nya.


Setelah gadis itu pergi dan segera masuk kedalam kamar nya.Arina kembali beralih kepada Aksa dan menanyakan pelihal yang baru saja Aksa ucapkan.


"Kamu serius Aksa?"Arina menatap pria di hadapan nya.


Aksa mengangguk.


Aksa tersenyum tipis, lalu kembali mengangguk.


"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu? maaf tapi jangan membuat Hila hilang kendali lagi!"Ucap nya penuh ke khawatiran.


"Saat ini saya lebih serius bu, saya tidak memiliki waktu untuk bermain-main lagi, umur saya sudah mau dua puluh delapan tahun."Jelas Aksa.


"Tapi,..."


"Sudah mah, kalau Aksa serius biarkan dia datang bersama keluarga nya seperti apa yang baru saja Aksa katakan."Timpal Indra yang langsung membuat Arina terdiam.


"Yasudah, kalau niat kamu baik, maka kami akan menerima nya dengan tangan terbuka, dengan senang hati mamah akan mempersiap kan nya."Tukas Arina pelan.


Aksa mengangguk.


"Minggu depan saya akan datang bersama orang tua saya."Aksa berujar."Untuk persiapan nya biar saya yang urus."Jelas Aksa kembali.


"Tidak usah seperti itu, kalau lamaran yang nyiapin semua nya dari pihak prempuan nya Aksa."Kata Indra.


"Kalau saya yang menyiap kan memang nya kanapa? untuk keluarga calon istriku bukan?"Tanya Aksa.


"Tapi memang peraturan nya seperti itu, lamaran yang menyiapkan pihak mempelai prempuan, kewajiban laki-laki hanya mahar saja."Jelas Indra kembali.


Indra tahu betul Aksa yang tidak ingin memberat kan keluarga nya, nanun di sisi lain Indra takut akan presepsi orang terhadap Hila, yang akan di cap prempuan mata duitan, yang menikah dengan pria kaya dan di tanggung semua kebutuhan nya.


^


^


–Klek..

__ADS_1


Hila keluar dengan tampilan yang sudah terlihat sangat rapih.


Kemeja putih di padukan dengan rok pendek berwarna hitam, tak lupa Hila juga mengenakan blazer dengan warna senada dengan rambut pendek yang hanya di biar kan terurai rapih.


"Loh! ka Aksa masih disini? belum berangkat kerja?"Tanya Hila kepada pria yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama ayah ibu nya.


"Belum, saya nunggu kamu."Jawab Aksa tersenyum.


Kenapa dia terlihat sangat tampan sekarang! astaga ya tuhan, asma ku kambuh kalo di kasih begini tiap hari!


Sesaat Hila merasa nafas nya berhenti berhembus, darah nya membeku, dada nya berdesir, dan asam lambung naik, nggak deng othor bercandan, ya kali lagi jatuh cinta asam lambung kambuh.


"Kalau begitu saya pamit antar Hila dulu sekalian pulang."Ucap nya.


"Hila berangkat ya mah,...pak."Pamit Hila juga.


Kedua orang tua nya mengangguk, kemudian berjalan di belakang untuk mengantar kedua nya sampai teras.


–Bruggh..


Suara derum mesin mobil pun terdengar, perlahan melaju setelah di sela suara klakson mobil hitam itu berbunyi.


^


^


"Terimakasih sudah mau antar Hila ka Aksa."Ucap nya hampir berbisik, dengan senyuman manis nya seperti biasa.


"Hemm,... apa hanya itu saja? aku sudah menyelamat kan mu dari kemarahan mereka, bayang kan kalau tahu kamu mabuk? tapi kamu hanya bilang makasih?"Sergah nya dengan raut wajah yang sedikit kecewa.


Hila tertegung.


"Apa? mau aku traktir?"Tanya Hila.


"Aku punya banyak uang, untuk apa di traktiran dari mu?"Tukas Aksa.


"Apa dong? cepat aku terlambat nanti."Cicit Hipa.


Aksa tersenyum, lalu dengan cepat melepas kan seatbelt dan mencondongkan wajah nya ke arah Hila.


–Cup..


"Sudaj itu saja sudah lebih dari cukup."Jelas Aksa yang mulai membenahi duduk nya kembali setelah mencuri ciuman di bibir Hila.


Hila terdiam dengan pipi yang bersemu merah.


"Seperti nya aku harus bawa okseigen!"Hila berbisik.


"Kanapa?"Aksa mengerut kan dahi.


"Aku sesak kalau seperti ini setiap hari, jantung ku serasa mau copot."Cicit Hila.


"Ah nanti kamu telat."Ujar Hila sambil menekan tombol di samping nya untuk membuka seatbelt.


–Klik..


"Aku berangkat."


–Cup..


"Hati-hati kengemudinya!"Ucap nya tersenyum setelah mencium pipi Aksa, kemudian segera turun dari mobil.


Seperi nya aku juga akan terkena serangan jantung Hila, kamu membuatku seperti anak abege yang baru merasakan jatuh cinta.


...TBC🌿🌿🌿...


...Jangan lupa! like, hadiah, vote, dan komen nya.....

__ADS_1


...Yok mawar yok,...kalo nggak kopi deh kopi.....


__ADS_2