
^
^
Di dalam kamar yang cukup luas, suasana terlihat sangat gelap tampa pencahayaan sedikit pun bak ruangan mati tak berpenghuni.
Setelah menemui Hila tadi sore, Aksa hanya berdiam diri di dalam kamar nya, mematikan semua lampu agar tidak ada yang menyadari jika Aksa sedang menangis.
Kini hati nya benar-benar terasa hancur, ketika Hila dengan lantang dan tanpa beban nya meminta Aksa agar menjauh dan tidak menemui nya kembali.
Hati nya sakit, dada nya terasa sesak sampai harga diri nya sebagai laki-laki runtuh karena menangisi seorang gadis yang sama seperti bebepa tahu yang lalu.
Pikiran nya berkecamuk, berfikir tentang bagai mana saat ini Aksa dapat melupakan Hila.Satu ide terbesit dalam otak nya, hingga Aksa membawa ponsel nya yang terlekat di atas nakas, membuka aplikasi pesan singkat, kemudian memblokir nomor ponsel milik Hila.
"Hmmmmppp,...huh! jangan seperti ini Aksa, kau ini seorang pria, dan tidak sepantas nya menangisi wanita yang bahkan masih banyak yang lebih cantik di luaran sana!"Gumam nya pelan.
Aksa bangkit, kemudian membawa satu batang roko san mulai menghidup kan nya.
Pria itu berdiri di hadapan jendela yang menghadap ke arah komplek perumahan yang terlihat cukup luas, menyesap roko nya dalam kemudian meniup kan nya kasar.
Wajah nya terlihat frustasi, tatapan nya kosong dengan setiap ucapan Hila yang terus berputar-putar di kepala nya.
Dengan cepat Aksa membuang puntung roko yang sudah terlihat pendek, menginjak nya agar membuat api nya padam.
Aksa berjalan ke arah nakas yang berada di samping tempat tidur nya, meraih kunci mobil dan ponsel milik nya lalu berjalan ke arah luar kamar.
—Klek..
Aksa keluar tergesa-gesa, membiarkan pintu kamar nya terbuka begitu saja.
"Aksa mau kemana?"Tanya Nanda yang masih berada duduk di ruang televisi.
"Keluar,... rumah kunci aja nggak usah nungguin Aksa pulang!"Jawab nya singkat sambil terus berjalan ke arah garasi mobil.
"Aksa?"Panggil Nanda kembali.
Aksa yang sedang kalut dengan pikiran nya itu berusaha mengabaikan panggilan ibu nya, segera masuk ke dalam mobil dan mulai memacu nya dengan kecepatan tinggi meninggal kan rumah yang di tinggali nya.
^
^
Satu jam berlalu, akhirnya Aksa sudah sampai di salah satu tempat hiburan malam, yang semakin malam justru semakin ramai.
Pria itu turun dari mobil nya yang sudah terparkir, kemudian berjalan ke dalam di mana suara musik yang sudah terdengar sangat keras dan menggema.
Sambutan para wanita seksi pun Aksa dapatkan, namun tujuan nya bukan itu,Aksa hanya butuh sedikit minum untuk meredam rasa pedih di hati nya.
Namun ketika langkah kaki Aksa terus melangkah semakin ke dalam, ada satu tangan kecil yang menahan lengan nya.
"Ka Aksa!"Cicit Hila berusaha menahan lengan Aksa agar mengurung kan niat nya untu masuk lebih dalam.
Aksa menoleh, lalu menatap ke arah Hila dengan tatapan dingin.
"Lepas!"Tegas nya dengan pandangan mata yang sangat tajam.
__ADS_1
"Ayo pulang!"Hila terus berusaha menarik lengan yang di hiasi urat milik Aksa.
"Saya bilang lepas!"Suara nya semakin pelan.
"Nggak mau ayo pulang, ngapain kesini?"Rengek Hila.
Aksa terdiam, pandangan mata nya menatap sekitar, banyak sekali pasang mata yang melihat ke arah nya, teru tama Hila.Gadis itu memakai pakaian serba panjang, celana joger dan hoodie kedodoran dengan helm yang masih menempel di kepala.
Pandangan nya kemudian tertuju kembali pada gadis yang hanya setinggi dada nya yang kini sedang memohon agar dirinya segera keluar dari tempat yang di penuhi wanita-wanita seksi.
"Pulanglah, apa peduli mu pada ku!"Ucap nya ketus dengan tangan yang menepis Hila hingga genggaman nya terlepas.
Tubuh kecil Hila sedikit terhuyung ke belakang, untung saja Hila masih bisa menahan keseimbangan tubuh kecil nya hingga ia selamat dari ubin yang terlihat keras dan akan sangat menyakit kan ketika tubuh nya terbentur cukup keras.
"Aih,..tempat macam apa ini!"Cicit Hila ketika melihat penari latar yang di kerumuni banyak orang.
"Bro wisky!"Aksa berteriak sembari duduk di kursi bar.
Dengan cepat Hila berlari, kemudian duduk di samping Aksa dan merebut gelas kecil kemudian meneguk nya secara langsung.
Glekk!
"Mahila!"Aksa berteriak dengan mata yang membulat sempurna ketika melihat tindakan nekad wanita si samping nya.
"Uhuk,..uhuk,.. wlee...minuma apa ini! nggak enak."Raut wajah Hila seketika berubah ketika merasakan pahit dan panas di tenggorokan nya.
"Astaga Hila, kau akan membuat masalah besar setelah ini!"Aksa bergumam.
"Ngapain kamu kesini, tahu dari mana?"Tanya Aksa.
"Aish,.... berisik banget!"Hila berteriak.
Satu menit, dua menit Hila masih terlihat biasa walau sudah terlihat aneh, namun di menit berikut nya Hila benar-benar kehilangan ke sadaran nya sampai ambruk, untung saja Aksa menyangga tubuh kecil nya hingga Hila tidak sampai terjatuh.
"Dasar lemah, baru satu gelas kecil saja sudah oleng!"Sergah Aksa kemudian memangku Hila yang sudah lemas dengan helm yang masih di kepala nya.
–Klek..
Aksa membuka pintu mobil, lalu merebah kan tubuh Hila, dan membuka helm nya.
"Kenapa nekad sekali malam-malam mengerdarai motor dengan jarak jauh!"Ucap Aksa kepada Hila yang sudah tidak sadar.
"Pak titip motor, besok saya ambil!"Ujar nya kepada security yang berjaga.
Pria berperawakan tinggi besar itu mengangguk.
Sepanjang jalan Hila mulai merancau, berbicara hal yang tidak Aksa ketahui karena dirinya tengah fokus mengemudi.
Aksa merogoh ponsel di saku celana nya, lalu mulai melakukan panggilan telpon kepada Indra, ayah dari Mahila itu sendiri.
[Hallo pak, tadi setelah Hila antar makan nya bapak, saya minta dia ikut saya untuk membentu menyelesai kan pekerjaan di kantor yang sudah menumpuk.]
–Ini sudah malam den, sebaik nya Hila di ntar pulang.
[Ada beberapa karyawan dan karyawati juga pak, saya akan menjaga Hila, tenang saja.]
__ADS_1
–Sudah hubungi mama nya Hila?
[Belum,..setelah ini seperti nya!"
–Bapak titip Hila Aksa!
[Besok pagi saya antar Hila pulang.]
Setelah melakukan sambungan telpon dengan Indra, kini Aksa menghubungi Arina dengan alasan yang sama.
Setelah meyakin kan bahwa Hila akan baik-baik saja, akhirnya Arina mengizin kan Hila untuk membantu nya walau sesungguh nya ia sedang berbohong.
–Ya sudah, ibu titip Hila yah! antar dia pulang besok pagi.
Fortuner hitam milik Aksa terus melaju dengan cepat, melesat di jalanan kota yang terlihat lenggang, kemudian Fortuner itu langsung berbelok ke sebuah parkiran gedung apartemen yang menjulang tinggi.
"Dasat ceroboh! aku jadi serba salah sekarang, bersama ku bagai mana? di antar pulang juga bagai mana!"Gerutu Aksa.
"Kamu yang meminta ku pergi, tapi sekarang kamu yang mendekat! Hila kamu ini kenapa?"Cicit Aksa kembali.
^
^
Setelah bersusah payah membawa tubuh Hila yang tidak berdaya, kini Aksa sudah berada di salah satu apartemen milik nya.
Aksa merebahkan tubuh Hila yang terus merancau di atas sofa berukuran besar.
Ka maafin Hila!
Kaka jangan berhenti berjuang!
Aku nyesel!
Ayo kita menikah saja!
Ka Aksa!
Asal kaka tahu, aku tidak suka pria jelek seperti Abi!
Bibir Aksa pun tersenyum ketika mendengar perkataan tersebut yang keluar dari mulut Hila, walau pun gadis itu tidak sadar, terkadang ke jujuran memang di dasari ketidak sadaran.
"Kamu mabuk Hila!"Sergah Aksa dengan jemari tangan yang terus menyisir rambut pendek Hila.
"Aku mencintai mu kau tahu! aku hampir gila."Aksa kembali bermonolog."Tidurlah, besok pagi kamu akan merasa pusing dan bereaksi seperi orang hamil muda."Aksa terkekeh pelan.
–Cup..
"Good night sweet girl."
...TBC🌿🌿🌿...
...Ingat! dukungan kalian sangat berarti untuk author remahan rengginang ini.....
...Jadi janga lupa! like, vote, hadiah, dan komen nya guys......
__ADS_1