Mahila Arindra.

Mahila Arindra.
Mulai sadar.


__ADS_3

Tuttt...tuttt...tutt....


"Ck,.... Dia kemana?"Aksa berdecak, kemudia melemparkan ponsel nya ke arah kursi kosong di sebelah nya.


"Aku tahu kamu marah, tapi jangan seperti ini Hila."Ucap nya lirih.


Pandangan mata nya tetap fokus ke depan, kaki nya terus menekan pedal gas, sampai Fortuner hitam milik nya melaju dengan kecepatan tinggi, tidak ada lagi yang di pikirkan nya, selalin selain bayangan Hila, memikir kan ke adaan gadis yang sudah menyelinap diam-diam di antara celah hati nya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya ia sampai di kediaman Hila dan kedua orang tua nya berada.


Dengan langkah cepat Aksa langsung ke luar dari mobil, melempar pintu mobil nya sangat kencang kemudian berlari ke arah teras rumah.


TOK..TOK..


"Bu?"Panggil Aksa sedikit berteriak.


Namun tidak ada sahutan dari dalam sana.


Pandangan Aksa terus mendekat ke arah kaca rumah, berusaha mencari pergerakan di dalam sana, namun nihil rumah tampak sepi bak tampa penghuni.


"Hila?"Aksa terus memanggil, berusaha mencari keberadaan nya.


Aksa berjalan ke arah pintu, kemudian meraih knop pintu namun sebelum Aksa menekan nya, ia merasa cairan yang membuat tangan nya terasa lengket, lalu pandangan nya melihat handle pintu yang penuhi bercak berwarna merah yang terlihat kental.


"Apa ini?"Aksa sedikit membungkuk, melihat nya dari jarak dekat."Bau amis, darah siapa ini!"Aksa langsung menegakan tubuh nya, perlahan berjalan mundur, dengan pikiran yang terus menepis hal paling buruk menyangkut Hila.


Tubuh Aksa mematung, darah nya terasa membeku dengan pandangan yang terus melihat noda darah yang berceceran tidak hanya di pintu, sampai dirinya tidak sadar bahwa Arina dan Indra sudah berdiri di belakang tubuh nya.


"Aksa?"Panggil Arina.


Pria itu menoleh, raut wajah nya sangat terkejut dengan mata memerah yang sudah berkaca-kaca.


"Darah siapa ini bu?"Aksa menatap tajam baju Arina yang juga di penuhi darah.


"Mahila."Jawab nya singkat, laku kembali menangis."Sebenar nya kalian ini kenapa? apa yang kamu lakukan sampai Hila menjadi seperti itu!"Arina terisak.


"Sudah mah, kita bicarakan di dalam.Tidak enak kalau di lihat orang."Indra datang menghampiri, lalu mendorong punggung kedua nya agar segera memasuki rumah yang tidak terkunci.


Aksa kembali tersentak ketika melihat banyak nya noda darah di ubin yang mulai mengering.


"Hila kenapa pak,.. bu?"Kini suara Aksa terdengar bergetar.


Tidak ada jawaban dari Arina dan Indar, wanita itu hanya duduk terdiam sambil menangis tersedu-sedu.


Tampa meminta persetujuan sang pemilik rumah, Aksa lansung berjalan ke arah kamar Hila dengan pintu yang terbuka.


Semakin mendekat bercak darah yang berceceran semakin terlihat banyak, dengan bau amis yang sudah sangat menusuk hidung.


"Ya tuhan!"Aksa meremas rambut nya kuat, ketika melihat pisau tergeletak begitu saja.


"Hila di mana sekarang?"Tanya Aksa yang sedang berjalan kembali ke ruang tamu, dimana orang tua Hila berada.


"Tidak usah Aksa!"Jelas Arina, wanita itu menatap Aksa dengan mata sendu nya.


"Kenapa bu? Aksa mau lihat ke adaan Hila.Apa yang terluka dan bagai mana."Ujar Aksa.

__ADS_1


"Tidak usah, ada Yoga di sana.Nanti kamu bisa di hajar habis-habisan, apalagi kalau sampai Hila bilang, penyebab semua nya berawal dari hubungan kalian yang kandas begitu saja."Sergah Arina.


Aksa terdiam.


"Pulanglah, tidak ada yang harus di lurus kan antara kalian.Menikah saja dengan wanita pilihan mu."Kata Arina kembali.


"Aksa mau perbaiki semua nya bu."Jelas Aksa.


"Tidak usah, bersikaplah sebagai mana pria dewasa pada umum nya, dan bertanggung jawablah atas apa yang kamu lakukan!"Tegas Arina.


Aksa hanya terdiam, pria itu mengerti kemana arah pembicaraan wanita di hadapan nya.


Mungkin Hila sudah bercerita.


"Baiklah, Aksa kasih jeda dulu bu.Suatu saat Aksa kembali untuk memperbaiki semua nya."Ujar Aksa lalu beranjak pergi.


Indra terus mengusap punggung Arina, berusaha membuat tangisan istri nya mereda.


"Memang nya kenapa Hila dan Aksa, bukan kan akhir-akhir ini mereka cukup dekat?"Tanya Indra.


"Hila bilang, kata nya Aksa mutusin hubungan mereka karena Aksa menghamili kekasih nya yang dulu."Jelas Arina.


"Mbak Yuna!"Indra memekik.


"Mama nggak tahu pak, tapi Hila bilang begitu."


Indra mengangguk.


"Mungkin yang di maksud Hila adalah pacar nya den Aksa, bapak sering lihat dia kerumah den Aksa."Jelas nya.


^


^


Bibir Hila meringis, mata nya mulai mengerjap perlahan, dengan pandangan yang terus meneliti ruangan serba putih dengan lampu yang sangat terang.


Tangan nya mulai terasa perih, dengan rasa kemas di sekujur tubuh nya, kemudia menoleh dan melihat selang sudah menempel di kulit lalu beralih ke arah pria yang sedang duduk tidak jauh dari nya.


Aku masih hidup?!


"Ka Yoga!"Suara Hila lirih, bahka hampir tidak terdengar.


"Ka Yoga!"Panggil nya kembali, namun tidak ada sahutan dari pria yang sedang duduk di sofa ruang rawat nya sambil memain kan ponsel.


"Hallo,... iya sayang!"Yoga menerima telpon.


"........."


"Aku di Rumah Sakit, kemarilah Hila sedang membutuhkan kita."Ucap nya kembali.


"........"


"Baiklah, hati-hati di jalan."Pesan nya lalu menjauhkan ponsel dari telinga nya.


Setelah menyimpan ponsel milik nya kembali ke dalam saku celana, pandangan nya teralih kepada ranjang Hila.Pria itu terlihat kaget, namun tersenyum ketika mendapati Hila sudah membuka mata dan tengah manatap ke arah nya.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?"Yoga langsung berjalan menghampiri.


Bibir Yoga terus tersenyum, mata nya menatap Hila dengan pandangan berbinar, namun masih terlihat jelas gurat kesedihan nya.


"Gadis hebat."Ucap nya lalu mengusap kepala Hila.


"Ka Yoga."Suara nya terdengar lemah.


"Kenapa dek?"Yoga mendekatkan telinga nya.


"Ta-tangan aku sakit."Hila menatap nya sendu.


"Bius nya hilang, tapi sebentar lagi tidak, karena akan ada perawat yang menyuntikan pereda nyeri."Yoga terus mengusap kepala Hila lembut dengan tatapan penuh kasih sayang.


Hila terdiam, namun pandangan nya terus menatap Yoga, seolah ingin mengatakan sesuatu namun kekuatan nya belum cukup.


"Ma-mah?"


"Apa?"Yoga kembali mendekat.


"Mamah?"Hila mengulangi pertanyaan nya.


"Pulang dulu, mau ganti baju."Yoga tersenyum."Sebentar lagi ka Agni kesini, dia akan menemani kita."Jelas nya.


Hila mengerjapkan mata nya, laku kembali terdiam, dengan mata yang kembali memandang sekitar.


"Kenapa?"Tanys Yoga.


Hila menggeleng kan kepala nya, lalu kembali memejam kan mata.


"Cepat pulih, nanti kamu boleh tinggal di rumah kaka."Ujar nya.


Mata Hila kembali terbuka, iris sayu nya menatap lekat Yoga, lalu bibir nya tersenyum.


"Kalo masih ada umur."Ucap Hila tiba-tiba.


Yoga tersentak.


"Harus, kamu harus panjang umur, kamu harus sembuh.Bukan nya mau punya keponakan, kalo kamu pergi siapa yang akan menjaga nya."Suara Yoga bergetar, lalu menitikan air mata.


"Aku cape."Bisik Hila.


"Sembuhlah, tidak usah bekerja, biar kaka aja yang kerja."Cicit Yoga dengan suara semakin pelan ketika tangis nya pecah.


"Kenapa kamu berbuat senekad ini? kamu tahu, akan kaka habisi pria yang membuat mu sakit hati Hila."Yoga menatap Hila.


Hila tersenyum.


"Tidak usah, biarkan dia hancur dengan sendiri nya."Ucap Hila.


"Siapa dia?"


"Aku lupa."Sergah nya sambil tersenyum.


"Ck,...dasar!"Yoga mencebik.

__ADS_1


...TBC🌻🌻🌻...


...Jangan lupa! like, vote dan komen.....


__ADS_2