
🍂
🍂
"Ka Yoga?"
TOK..TOK..TOK..
"Ka Yogaaa?!"
Hila terus mengetuk pintu kamar Yoga dan Agni yang sudah tertutup sedari tadi sore ketika Yoga pulang dari kantor, maklum saja, kaka dari Hila baru saja menikah dua bulan yang lalu, jadi mungkin saja mereka sedang,...ah sudahlah kalian lebih mengerti.
"Aku mau ke cafe depan yah?"Izin nya sedikit berteriak agar Yoga dan Agni mendengar nya.
Namun sama saja, sepasang pengantin baru itu tidak bergeming, sampai Hila memutus kan untuk segera keluar dan mencari angin segar tampa menunggu jawaban terlebih dulu.
Langkah kaki nya terus berjalan pelan, mata nya memandang ke atas, menatap pemandangan yang sangat indah.Hamparan langit hitam yang luas, di hiasi bintik-bintik putih kecil yang terus berkelip, seolah sedang menyapa Hila yang kini sedang berjalan sendirian.
Segarnya!
Kaki Hila terus berjalan pelan, sambil terus mengayun kan tangan nya yang tersembunyi di balik Hoodie besar milik Yoga.Sesekali ia menarik nafas dalam, kemudian menghembusakan nya perlahan dan tersenyum.
Berdamailah dengan ke adaan Hila, semua nya akan terasa lebih baik! ucap nya pelan sambil terus berjala.
Sekitar sepuluh menit Hila berjalan, akhir nya ia sampai di salah satu cafe yang berada di kawasan perumahan elit yang di huni kaka nya Yoga.
Baguslah, dia sekarang hidup lebih baik ketika mendapat bos yang sangat murah hati, pikir nya.
Hila mendorong pintu kaca besar itu perlahan dengan tangan kirinya, meneliti tempat yang sedikit lebih sepi, hanya ada beberapa orang yang juga tengah sibuk dengan laptop dan kopi di hadapan nya.
"Mbak? ice coffe capucino nya satu yah!"Pesan Hila sambil tersenyum.
Setelah beberapa menit memesan ice coffe dan beberapa cookies coklat kesukaan nya, Hila berjala ke arah ujung, mendekati kursi di dekat kaca besar yang menyuguhkan pemandangan lampu kuning berkelip yang terlihat sangat cantik.
Pandangan nya terus tertuju keluar, menatap indah nya lampu-lampu taman yang berjejer, hingga gadis itu tidak menyadari, bibir nya melukis senyum manis nya cukup lama.
__ADS_1
"Asam lambung, aku tahu ini musuh mu.Tapi berdamai lah sebentar! aku hanya ingin sedikit merasa tenang!"Ucap nya sambil tersenyum, lalu menyeruput ice coffe capucino milik nya.
"Mmmhp,...enak!"Tukas nya dengan tatapan meneliti gelas yang sedang dalam genggaman nya.
"Kamu minum kopi?"Seseorang datang menghampiri nya.
Suara bariton yang sangat Hila kenali kini terdengar sangat jelas berada di dekat nya, hingga membuat nya menoleh ke arah samping, di mana pria yang baru saja datang dengan minuman di tangan nya kemudian duduk.
Raut wajah Hila sesaat berubah menjadi datar, pandangan mata nya menatap kembali ke arah luar, berusaha tidak mempedulikan pria di samping nya.
Hila! jangan nangis, nggak boleh cengek, nggak boleh terlihat lemat dan bersikaplah seangkuh mungkin.
"Asam lambung mu nanti naik, perut mu akan terasa sakit dan mual, kamu nggak terbiasa meminum kopi bukan, kenapa sekarang kau meminum nya?"Aksa terus bertanya tampa memberi jeda.
Pria itu terus menatap lekat wajah Hila, wanita cantik dan kelihatan sedikit lebih kurus yang terus mengabaikan nya, seolah Aksa tidak berada di dekat nya saat ini.
"Ck! apa pedulimu dengan asam lambung ku."Hila berdecak, kemudia sudut bibir nya terlihat senyum miring.
"Aku peduli banyak hal tentang mu!"Sahut Aksa.
"Hah, lucu sekali!"Hila tersenyum getir.
"Bodoh bukan?"Hila menyeringai. "Sudah tahu asam lambung ku akan kambuh, perut ku akan terasa sangat perih dan mual, tapi aku tetap meminum nya."Hila menyeringai.
"Begitupun dengan cinta, sudah tahu akan sakit hati, namun masih nekad membuat hubungan.Kau tahu? rasa perih di lambungku masih lebih baik dan bisa ku atasi dengan baik walau sangat menyakitkan, tapi perih karena cinta mu, aku tidak bisa mengatasi nya, sampai aku kehilangan arah dan mulai seperti orang gila, yang terlihat baik-baik saja di hadapan ibu ku, namun sesungguh nya tidak."Cecar Hila dengan nada pelan, ekspresi wajah nya terlihat penuh ejekan.
Hila kembali meminum ice coffe milik nya, menyisakan nya sedikit lalu segera bangkit.
Tap..
Aksa menahan lengan kanan Hila, kemudia melihat pergelangan tangan nya yang terlilit perban.
Pandangan kedua nya saling beradu dalam diam, sebelum Hila kembali menarik nya kemudian pergi.
"Hila!"Aksa bangkit, mencoba menyusul Hila yang sudah berlari ke arah luar.
__ADS_1
Pikiran nya kalut, ada kata yang belum sempat terucap, sampai Aksa memilih pergi menyusul Hila di banding meminum kopi yang baru saja di pesan nya.
"Hila?"Panggil nya kembali dengan mata yang terus mencari keberadaan wanita yang sudah merubah penampilan nya itu.
Aksa mendengus, dengan telapak tangan yang mengusap wajah nya sedikit kasar.
"Mahila!"Aksa kembali berteriak, lalu berangsur pergi mendekat ke arah mobil milik nya dan segera pergi.
Merasa mobil Aksa sudah pergi meninggal kan tempat.Hila segera keluar dari tempat persembunyian nya di samping mobil putih yang terparkir di paling sudut.
Perlahan Hila bangkit, lalu segera berjalan dengan langkah sedikit cepat menuju rumah Yoga yang ia tempati saat ini.
^
^
—Klek..
Mahila menekan handle pintu, lalu ketika pintu rumah terbuka lebar, ada Yoga yang langsung berdiri dengan mata yang terus tertuju padanya dengan raut wajah yang terlihat sangat gelisah.
"Dari mana sih de?"Yoga langsung menghampiri Hila, kemudia memeluk untuk meleburkan rasa khawatir nya."Kenapa keluar rumah sendiri?"Tanya Yoga kembali.
"Jomblo nggak baik diem di rumah sejoli yang sedang memadu kasih."Hila mendorong tubuh Yoga agar bisa menatap wajah kaka nya dengan jelas."Udah beberapa kali di panggil, pintu di ketok-ketok, tapi jawaban nya uh-ah!"Sergah nya berbohong.
"Kamu denger?"Yoga gugup, mata nya membulat dengan wajah yang sudah memerah.
"Emmmm,.... ya gitu!"Tukas nya seraya tersenyum geli."Besok aku pulang aja deh, nggak nyaman serumah sama yang lagi hot-hot ternyata."Gumam nya kemudian berjalan ke arah kamar nya yang berada di belakang.
Padahal sudah ku pasang peredam suara, kenapa Hila masih bisa denger yah? pikir nya.
Yoga mengeleng kan kepala, menepis hal memalukan yang baru saja Hila ceritakan.Pria itu terus berusaha terlihat normal, lalu beranjak untuk segera memasuki kamar, dimana Agni kini terlap setelah pergumulan panas kedua nya sampai beberapa ronde.
—Ceklek..
Yoga menutup pintu kamar, berjalan mendekat ke arah tempat tidur, kemudian naik dan segera ikut berbaring.
__ADS_1
"Kamu berisik kalo lagi bercinta sayang!"Gumam nya mengusap kepala Agni, lalu mencium kening istrinya dan segera memejam kan mata.
...TBC🌿🌿🌿...